ILMU SOSIAL DAN BUDAYA DASAR (MKDU4109) ~ ADB


DAFTAR ISI

TINJAUAN MATA KULIAH
MODUL  1 : PENGANTAR ISBD : ISBD DALAM PERSPEKTIF PENDIDIKAN UMUM, SERTA LATAR BELAKANG DAN ARAH PENGEMBANGAN MBB-ISBD
MODUL  2 : MANUSIA SEBAGAI MAKHLUK BUDAYA
MODUL  3 : MANUSIA DAN PERADABAN
MODUL  4 : MANUSIA SEBAGAI INDIVIDU DAN MAKHLUK SOSIAL
MODUL  5 : MULTIKULTURALISME DAN KESEDERAJATAN
MODUL  6 : MORALITAS DAN HUKUM
MODUL  7 : MANUSIA DAN TEKNOLOGI
MODUL  8 : MANUSIA DAN LINGKUNGAN
MODUL  9 : ISBD DALAM TANTANGAN GLOBALISASI


TINJAUAN MATA KULIAH

Dalam rangka membentengi bangsa dari proses dekadensi moral, yang sering keterwujudannya tidak terasa, pemerintah merasa perlu untuk memberikan bekal kepada generasi muda bagaimana selayaknya berkehidupan bermasyarakat itu dilakukan.
Terkait ini diberikanlah mata kuliah Ilmu Sosial Dasar dan Budaya Dasar (ISBD) untuk tingkat perguruan tinggi.

Tujuan dari diberikannya mata kuliah iniadalah untuk memeprluas wawasan mahasiswa tentang fenomena sosial budaya yang ada di masyarakat dan memberikan bekal bagaimana mahasiswa seharusnya berkehidupan bermasyarakat.


MODUL  1 : 
PENGANTAR ISBD : ISBD DALAM PERSPEKTIF PENDIDIKAN UMUM, SERTA LATAR BELAKANG DAN ARAH PENGEMBANGAN MBB-ISBD

Pada tahun 2006, Bali Pos dalam suatu artikelnya melihat bahwa terpuruknya bangsa dan negara Indonesia dewasa ini tidak hanya disebabkan oleh krisis ekonomi melainkan juga oleh krisis akhlak.
Oleh karenanya, perekonomian bangsa menjadi ambruk, korupsi, kolusi, nepotisme, dan perbuatan-perbuatan yang merugikan bangsa (perkelahian, perusakan, perkosaan, minum-minuman keras, dan bahkan pembunuhan) merajalela.
Keadaan seperti ini terutama krisis akhlak, terjadi karena kesalahan dunia pendidikan, atau kurang berhasilnya dunia pendidikan dalam menyiapkan generasi muda bangsanya. Dunia pendidikan telah melupakan tujuan utama pendidikan yaitu mengembangkan pengetahuan, sikap, dan keterampilan secara simultan dan seimbang. Dunia pendidikan telah memberikan porsi yang sangat besar untuk pengetahuan, tetapi melupakan pengembangan sikap / nilai dan perilaku dalam pembelajarannya, Sangat meremehkan mata pelajaran yang berkaitan dengan pembentukan karakter.

Kasus di Amerika, Mc Connel melihat general education muncul sebagai suatu reaksi terhadap : 1). Spesialisasi keilmuan yang berlebihan, 2). Kepincangan penguasaan minat-minat khusus dengan perolehan peradaban yang lebih luas, 3). Pengkotak-kotakan kurikulum dan perpecahan pengalaman belajar siswa, 4). Formalisme dalam pendidikan liberal.
Lahirnya program general education di Amerika adalah sebagai suatu reaksi terhadap kecendrungan masyarakat modern yang mendewakan produk teknologi, dan mengabaikan nilai-nilai kemanusiaan. Kecendrungan ini adalah dampak dari perkembangan sistem pendidikan sekuler.

Sistem pendidikan sekuler selanjutnya tidak hanya berkembang di Amerika, akan tetapi juga di banyak negara lain di dunia. Di sisi lain kehidupan sosial akan terus mengalami perubahan yang semakin cepat, kompetitif, dan semakin kompleks. Untuk mengantisipasi dampak semakin buruk pada pembentukan diri manusia di masa yang akan datang, dalam era globalisasi yang semakin cepat, terbentuknya program pendidikan umum (general education) di banyak negara di dunia, termasuk Indonesia, menjadi suatu keharusan.

Implikasi dari berlangsungnya proses modernisasi dan lajunya arus globalisasi terhadap perubahan kehidupan sosial budaya yang cepat, kompetitif dan semakin kompleks tentunya menuntut manusia memiliki suatu nilai-nilai dan keterampilan sosial (the social values and skills) yang dapat dijadikan sebagai sarana beradaptasi dengan perubahan yang terjadi dalam masyarakatnya. Urgensi nilai-nilai dan keterampilan sosial tersebut tidak semata-mata terletak pada masa depan umat manusia dengan ssegala ketidaktentuannya, melainkan sepanjang hidup manusia memang memerlukan nilai-nilai dan keterampilan tersebut sebagai standar dan instrumen utama membentuk masyarakat yang demokratis dan harmonis.

Kebutuhan akan pentingnya nilai-nilai dan keterampilan sosial sebagai akibat dari perubahan situasi yang semakin mengglobal dan kompleks membawa implikasi imperatif bagi pengembangan strategi upaya pendidikan, utamanya pendidikan umum atau di perguruan tinggi yang dikenal dengan Mata Kuliah Umum (MKU).
MKU merupakan wadah pendidikan umum (general education), Keberadaan MKU ditujukan agar mahasiswa tidak berpikiran sempit seolah-olah keilmuan mereka itu segala-galanya demi karier di masa mendatang.
MKU memperluas wawasan dan mempersiapkan bekal nilai untuk kehidupan mahasiswa di masa yang  akan datang. Pada dasarnya, secara filosofi, pendidikan itu tidak sekadar untuk mendapatkan pekerjaan (careerism), tetapi untuk menegakkan humanisme demi terbentuknya insan kamil atau manusia seutuhnya.

Tidak sedikit ditemui adanya dosen dan mahasiswa yang memiliki kebanggaan luar biasa terhadap kekhususan ilmunya. Namun, kebanggaan yang keterlaluan akan membuat mahasiswa seperti kuda yang ditutup matanya, yaikni individu-individu yang menjalani kariernya dengan egois, merasa hebat sendiri, tidak perduli akan dunia sekitar, dan asosial. Memang kendala utama bagi suksesnya pendidikan umum adalah fragmantasi dan spesialisasi pengetahuan. Padahal, spesialisasi atau konsentrasi apa pun pada akhirnya akan dipajangkan pada bingkai sosial yang luas.

Ketidakpedulian beberapa dosen dan mahasiswa tersebutlah yang sering kali membawa dampak yang buruk bagi kehiduoan bermasyarakat dan berbangsa di negara kita. Dimana, dalam konteks kekinian Indonesia, kita menyaksikan banyak ilmuwan yang berprilaku asosial dan tidak bermoral, menjadi kriminal terdidik, bahkan ada yang masuk penjara. 
Banyak pemimpin dan politisi yang sadar atau tidak sadar berkhianat kepada bangsa dan negara demi ambisi pribadinya. Tidakkah ini semua, salah satunya adalah sebagai akibat dari pengultusan kepada keahlian, kepakaran, dan profesionalisme sempit dan menyepelekan nilai-nilai yang ditanamkan lewat mata kuliah-mata kuliah MKU? Padahal MKU ditujukan untuk mengembangkan aspek kepribadian mahasiswa sebagai individu dan warga masyarakat.

Untuk mengembangkan nilai-nilai dan keterampilan sosil harus menjadi salah satu tujuan dari mata kuliah MKU atau mata kuliah pendidikan umum. Lalu apa yang dimaksud dengan pendidikan umum (general education) itu sendiri? Lalu bagaimana hakikat Ilmu Sosial dan Budaya Dasar, sebagai salah satu mata kuliah umum (MKU) dalam persfektif pendidikan umum tersebut?


KEGIATAN BELAJAR 1 : HAKIKAT PENDIDIKAN

A. HAKIKAT PENDIDIKAN UMUM

Pendidikan secara sederhana didefinisikan sebagai suatu usaha yang dilakukan secara sadar dan terencana untuk membentuk dan mengembangkan potensi diri seseorang/sekelompok orang (peserta didik) untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia dan keterampilan yang diperlukan oleh dirinya sendiri, masyarakat, bangsa dan negaranya.
Dengan demikian, pendidikan diarahkan untuk mampu menghasilkan manusia yang unggul secara intelektual, anggun secara moral, kompeten dan menguasai iptek serta memiliki komitmen tinggi untuk berbagai peran sosial.

Membahas tentang pendidikan dalam lingkup sistem pendidikan nasional, haruslah dipahami bersma bahwa tujuan dari sitem pendidikan nasional di Indonesia adalah mencerdaskan kehidupan bangsa dan mengembangkan manusia Indonesia seutuhnya, yaitu manusia yang beriman dan bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa dan berbudi luhur, memiliki pengetahuan dan keterampilan, kesehatan jasmani dan rohani, kepribadian yang mantap dan mandiri, serta tanggung jawab kemasyarakatan dan kebangsaan.

Menurut Depdiknas RI pendidikan nasional adalah pendidikan yang berakar pada kebudayaan bangsa Indonesia dan berdasarkan pada Pancasila dan UUD 1945.
Selanjutnya, menurut UU Sistem Pendidikan Nasional No 2 Tahun 1989 Sistem pendidikan nasional berfungsi untuk mengembangkan kemampuan serta meningkatkan mutu kehidupan dan martabat manusia Indonesia dalam rangka upaya mewujudkan tujuan nasional. Dalam UU Pendidikan nasional tersebut juga dinyatakan bahwa sistem pendidikan nasional menempatkan jenis-jenis pendidikan atas beberapa kategori , yaitu satuan pendidikan, jalur pendidikan, jenis pendidikan dan jenjang pendidikan.

Satuan pendidikan melihat pada bagaimana kegiatan belajar mengajar dilaksanakan. Dengan demikian satuan pendidikan terdiri atas :
1. Pendidikan didalam sekolah; yaitu pendidikan yang diselenggarakan di sekolah melalui kegiatan belajar mengajar secara berjenjang dan berkesinambungan
2. Pendidikan luar sekolah; yaitu merupakan pendidikan yang diselenggarakan di luar sekolah melalui kegiatan belajar mengajar yang tidak harus berjenjang dan berkesinambungan. Pendidikan keluarga merupakan bagian dari jalur pendidikan luar sekolah yang diselenggarakan dalam keluarga yang memberikan keyakinan agama, nilai budaya, nilai moral dan keterampilan.

Berdasarkan jenisnya, pendidikan nasional terdiri dari atas tujuh jenis pendidikan yaitu :
1. Pendidikan Umum; merupakan pendidikan yang mengutamakan perluasan pengetahuan dan peningkatan keterampilan peserta didik dengan pengkhususan yang diwujudkan pada tingkat-tingkat akhir masa pendidikan.
2. Pendidikan Kejuruan; merupakan pendidikan yang mempersiapkan peserta didik untuk dapat bekerja dalam bidang tertentu
3. Pendidikan luar biasa; merupakan pendidikan  yang khusus diselenggarakan untuk peserta didik yang menyandang kelainan fisik dan/atau mental.
4. Pendidikan kedinasan; merupakan pendidikan yang berusaha meningkatkan kemampuan dalam pelaksanaan tugas kedinasan untuk pegawai atau calon pegawai suatu Departemen atau Lembaga Pemerintah Nondepartemen.
5. Pendidikan keagamaan; merupakan pendidikan yang mempersiapkan peserta didik untuk dapat menjalankan peranan yang menuntut penguasaan pengetahuan khusus tentang ajaran agama yang bersangkutan
6. Pendidikan akademik; merupakan pendidikan yang diarahkan terutama pada penguasaan ilmu pengetahuan
7. Pendidikan Profesional; merupakan pendidikan yang diarahkan terutama pada kesiapan penerapan keahlian tertentu

Berdasarkan jenjang pendidikannya, pendidikan nasional terdiri atas :
1. Pendidikan prasekolah
2. Pendidikan Dasar
3. Pendidikan Menengah
4. Pendidikan Tinggi

Sedangkan jenjang pendidikan untuk jalur pendidikan luar sekolah terkait dengan jenjang pendidikan yang diselenggarakan diluar sekolah baik di lembaga pemerintah, nonpemerintah, maupun sektor swasta dan masyarakat.

Merujuk pada definisi Depdiknas tentang pendidikan umum, maka pendidikan umum adalah pendidikan yang mengutamakan perluasan pengetahuan dan peningkatan keterampilan peserta didik dengan pengkhususan yang diwujudkan pada tingkat-tingkat akhir masa pendidikan.
Dalam dunia pendidikan di perguruan tinggi, definisi pendidikan umum sangat beragam dan terus berkembang. Secara sederhana, para pakar memaknai pendidikan umum sebagai pendidikan nilai (value education), sebagian lain menunjuk pendidikan umum sebagai pendidikan kepribadian (personality education), pendidikan karakter (character building), pendidikan kewarganegaraan, dan sebagainya.

Karena adanya unsur pendidikan nilai, pendidikan kepribadian, pendidikan karakter dan pendidikan kewarganegaraan maka pendidikan umum selanjutnya diletakkan sebagai pondasi bagi mahasiswa agar menjadi makhluk sosial dan budaya yang berilmu (memiliki ilmu pengetahuan) dan berwatak, berprilaku serta memiliki tanggung jawab sosial dan budaya yang baik di sepanjang hidupnya.

Untuk itulah, sistem pendidikan nasionalmenetapkan kewajiban yang harus dijalankan oleh semua perguruan tinggi di Indonesia, yang dikenal dengan sebutan Tridarma Perguruan Tinggi. Adapun isi dari Tridarma Perguruan Tinggi adalah bahwa setiap perguruan tinggi harus menjalankan misi pendidikan, penelitian dan pengabdian pada masyarakat. 

Untuk misi pendidikan, perguruan tinggi harus menghasilkan lulusan yang memiliki kemampuan personal, kemampuan akademis dan kemampuan profesional.

Kemampuan personal dimaksudkan agar lulusan suatu perguruan  tinggi harus:
1. memiliki komitmen yang tinggi pada nilai-nilai ketuhanan, kemasyarakatan dan kebangsaan
2. memiliki sikap, tingkah laku dan tindakan yang mencerminkan pribadi yang beriman dan bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa
3. memiliki pengetahuan, wawasan dan pandangan yang jauh ke depan
4. memiliki kepekaan dan tanggap terhadap masalah-masalah yang ada dalam kehidupan masyarakat.

Kemudian kemampuan akademis dimaksudkan agar lulusan suatu perguruan tinggi harus memiliki :
1. kemampuan berkomunikasi secara ilmiah, baik lisan maupun tulisan
2. penguasaan terhadap peralatan analisis maupun berpikir logis, kritis, sistematis dan analitis.
3. kemampuan konsepsional untuk mengidentifikasi dan merumuskan masalah yang dihadapi.
4. kemampuan menawarkan berbagai alternatif pemecahan masalah yang dihadapi dalam kehidupan masyarakat.

Sedangkan kemampuan profesional lebih mengharapkan agar mahasiswa lulusan perguruan tinggi mampu memiliki pengetahuan yang mendalam sebagai ahli dalam bidang profesinya dan memiliki keterampilan yang tinggi dalam bidang profesinya.

Dengan mengacu pada misi pendidikan pertama dan kedua, yaitu kemampuan personal dan akademik bagi mahasiswa dan lulusan perguruan tinggi, maka di perguruan tinggi wajib memberikan bekal pendidikan umum kepada mahasiswanya.
Hal ini karena konsep pendidikan umum diletakkan sebagai pondasi bagi mahasiswa agar dapat menjalani kehidupannya sebagai makhluk sosial dan budaya yang berilmu (memiliki ilmu pengetahuan) dan berwatak sosial yang lebih baik di sepanjang hidupnya. Terkait dengan urgensi pendidikan umum, simaklah tulisan dibawah ini :

" General education, the foundation of the undergraduate collegiate experience, encompasses the knowladge, skills, attitudes, and values that are obtained from studies in communication, mathematics, social and natural sciences, and humanities. 
General education is unbounded by academic disciplines and honors the relationships among bodies of knowledge. General education developsthe cognitive process of reasoning essential for effective functioning and self-directed learning. General education provides oppurtunities for the student :
1. to think logically, critically, and creatively
2. to communicate effectively both orally and in writing
3. to read extensively and perceptively
4. to explore moral and aesthetic values, social relationships, and critical thinking through the humanities
5. to understand the importance of key social institutions, ethics and values, and how individuals influence events and function with others in these institutions throughout the world
6. to appreciate creative and aesthetic expressions along with their impact on individuals and cultures
7. to express, define, and logically explore questions about the world through mathematics
8. to use computer technology to communicate and to solve problems
9. to use acquired facts, concepts, and principles of the physical and natural sciences in appling the scientific process to natural phenomena
10. to perceive the importance of welliness and values in human life
11. to manifest a commitment to life long learning

Pemahaman atas pendidikan diatas , secara sederahana dapat diartikan bahwa, pendidikan umum adalah pondasi dari segala sesuatu yang berkenaan dengan pendidikan dasar dan pengalaman di perguruan tinggi, meliputi; pengetahuan, keterampilan, perilaku, dan nilai-nilai yang didapatkan dari pelajaran komunikasi, matematika, ilmu pengetahuan sosial dan alam dan humanisme.
Pendidikan umum tidak dibatasi oleh disiplin ilmu dan ia (pendidikan umum) menghormati pertalian antar ilmu pengetahuan. Pendidikan umum mengembangkan proses kognitif dalam cara berpikir (pengalasan) yang sangat diperlukan dalam proses belajar efektif dan mandiri. 
Pendidikan umum menyediakan kesempatan bagi mahasiswa untuk :
1. dapat berpikir logis, kritis, dan kreatif
2. dapat berkomunikasi secara efektif baik oral maupun menulis
3. dapat membaca secara ekstensif dan berprespektif
4. dapat menelusuri nilai moral dan estetik, relasi sosial, dan berpikir kritis dalam hal kemanusiaan
5. dapat mengerti pentingnya institusi sosial, etika, dan norma/nilai, dan bagaimana individu-individu mempengaruhi kejadian dan fungsi dalam institusi-institusi tersebut di dunia
6. dapat menghargai ekspresi kreatif dan estetik dan juga pengaruhnya/implikasi pada individual dan budaya
7. dapat mengekpresikan, mendefinisikan, dan menelusurisecara logis pertanyaan-pertanyaan tentang segala sesuatu dalam/melalui matematika
8. dapat menggunakan teknologi komputer untuk berkomunikasi dan menyelesaikan masalah
9. dapat mendapatkan fakta, konsep, dan prinsip-prinsip ilmu pengetahuan alam dan sosial, dalam menerapkan proses ilmiah dalam fenomena alam
10. untuk dapat mengartikan pentingnya kesehatan dan nilai-nilai kehidupan manusia.
11. dapat memanifestasikan komitmen untuk belajar di sepanjang kehidupannya.

Dengan mempelajari pendidikan umum, mahasiswa diajak untuk dapat berpikir lebih luas dan mampu mengkaji setiap permasalahan di dalam kehidupannya dengan lebih bijaksana tanpa harus dibatasi dari suatu sudut pandang keilmuan saja. Kita perlu untuk mengerti sedikit banyak tentang berbagai aspek keilmuan, baik sosial, budaya, teknologi, ilmu alam dan sebagainya. Dengan begitu akan mampu untuk membawa pemahaman kritis dan kreatif dengan lebih bijak terutama melihat, memahami, menggali informasi/data, menganalisis dan membuat suatu usulan perbaikan untuk mengatasi masalah yang ada dengan tidak mengabaikan dampak atau akibatnya bagi kehidupan masyarakat dan lingkungan. Prinsipnya jangan memperbaiki yang A, tetapi merusak yang B.

Sejalan dengan urgensi pendidikan umum, Kama Abdul Hakam dalam tulisan yang disampaikan dalam penataran dosen ISBD se Indonesia, Batam 17-19 November 2006 mengatakan bahwa “pendidikan umum” merupakan pendidikan yang harus diberikan pada setiap orang untuk setiap level pembelajaran dengan memberikan makna-makna esensial agar nilai, sikap dan pemahaman serta keterampilan seseorang sebagai pribadi dan anggota masyarakat yang bertanggung jawab serta sebagai warga negara yang demokratis dan berkembang.


Makna-makan esensial yang diberikan dalam pendidikan umum (Phenix) adalah :
1. makna symbolic; meliputi kemampuan memaknai simbol-simbol bahasa dan matematika, termasuk juga simbol-simbol dalam bahasa isyarat, makna simbol dalam upacara-upacara, tanda-tanda kebesaran dan lainnya;
2. makna empirics; artinya kemampuan untuk memaknai benda-benda (alam, hayati dan manusia) dengan mengembangkan kemampuan teoritik, konseptual, analitik, generalisasi berdasarkan fakta-fakta dan kenyataan yang dapat diamati.
3. makna esthetics; meliputi kemampuan memaknai seni termasuk keindahan dan kehalusan serta keunikannya. Kemampuan memaknai ini juga termasuk kemampuan memilih mana seni (baik karya seni, kesenian maupun kesusastraan) yang indah, yang halus dan yang unik.
4. makna ethics; artinya kemampuan untuk membedakan dan memaknai yang baik dan buruk. Dengan kata lain, kemampuan mengembangkan aspek moral, akhlak, perilaku yang luhur, tanggung jawab dan lainnya.
5. makna synoptic; artinya kemampuan berpikir untuk membedakan mana yang benar dan yang salah, juga kemampuan untuk berempati, simpati dan lainnya
6. makna synoptic; artinya kemampuan untuk memaknai agama, filsafat hidup dan hal-hal yang bernuansa spiritual, serta kemampuan memaknai sejarah.

Dengan terinternalisasinya keenam makna esensial tersebut diatas dalam diri tiap-tiap mahasiswa, maka perguruan tinggi dapat menghasilkan para lulusan yang tidak saja terpelajar dan profesional tetapi juga lulusan yang memiliki kepekaan yang tinggi dan kemampuan sosial budaya yang baik untuk dapat memberikan yang terbaik untuk masyarakat dan bangsanya.

Sebagai suatu materi pendidikan, pendidikan umum tentunya dirancang dengan tujuan tertentu. Adapun tujuan pendidikan umum yang disampaikan oleh Higher Education Cooperation (Chaster W. Harris) adalah :

1. Mengembangkan pola tingkah laku seseorang untuk mengatur kehidupan pribadi dan bermasyarakat berdasarkan prinsip-prinsip etika yang sejalan dengan ide demokrasi
2. Berpartisipasi secara aktif selaku warga negara yang terdidik dan bertanggungjawab dalam memecahkan masalah sosial ekonomi dan politik yang terjadi dalam masyarakat, negara dan bangsa.
3. Menyadari untuk saling ketergantungan sebagai bagian dari masyarakat dunia dan bertanggungjawab sebagai pribadi untuk menggalang pengertian dan perdamaian antarbangsa.      
4. Memahami fenomena lingkungan alam dimana seseorang membiasakan berpikir ilmiah, baik dalam menghadapi masalah pribadi maupun masyarakat serta menghargai implikasi hasil penemuan ilmiah untuk kesejahteraan manusia.
5. Memahami ide-ide orang lain dan menyampaikan ide-ide sendiri secara efektif
6. Menjaga emosi secara serasi dan memuaskan untuk keseimbangan dalam masyarakat
7. Memelihara dan meningkatkan kesehatan sendiri dan bekerja sama secara efektif dan cerdas dalam memecahakan masalah-masalah kesehatan masyarakat
8. Memahami dan menikmati kesusasteraan, seni lukis, musik dan hasil hasil kebudayaan lainnya sebagai ekspresi pengalaman pribadi maupun masyarakat dan berperan serta dalam batas-batas tertentu dalam kegiatan kreatif
9. Mencari dan mengenali ilmu pengetahuan serta sikap sebagai dasar kehidupan keluarga yang lebih berbahagia dan memuaskan
10. Memilih pekerjaan yang lebih berguna secara sosial dan lebih memuaskan secara pribadi yang memungkinkan menyalurkannya dengan penuh minat sesuai denagan kemampuan
11. Mencari dan menggunakan keterampilan serta terbiasa menggunakan pikiran yang kritis dan konstruktif.

Reven, Bell, dan Conant telah menyebutkan salah satu tujuan pendidikan umum adalah untuk mengembangkan nilai-nilai dan keterampilan sosial.
Nilai-nilai sosial sangat penting karena berfungsi sebagai acuan bertingkah laku terhadap sesama, sehingga dapat diterima di masyarakat. 
Keterampilan sosial mempunyai fungsi sebagai sarana untuk memperoleh hubungan yang baik dalam berinteraksi dengan orang lain.
Pengembangan nilai-nilai dan keterampilan sosial merupakan hal yang harus dicapai pendidikan umum, sebab anak didik merupakan makhluk sosial yang akan hidup di masyarakat. 

Nilai-nilai sosial mempunyai manfaat yang strategis bagi pembangunan bangsa. Newman memberikan ilustrasi bahwa nilai-nilai sosial memberikan pedoman bagi warga masyarakat untuk hidup berkasih sayang dengan sesama manusia, hidup harmonis, hidup disiplin, hidup berdemokrasi, dan hidup bertanggungjawab.
Raven; bahwa tanpa nilai-nilai sosial suatu masyarakat dan negara tidak akan memperoleh kehidupan yang harmonis dan demokratis. Dengan demikian nilai-nilai tersebut mempunyai kedudukan yang sangat penting bagi masyarakat, bangsa dan negara.

Kedudukan nilai-nilai sosial tercermin dalam sub nilai. Raven memetahkan nilai-nilai sosial terdiri atas beberapa sub nilai, yaitu :
(1). Loves (kasih sayang) yang terdiri atas pengabdian, tolong menolong, kekeluargaan, kesetiaan, dan kepedulian 
(2). Responsibility (tanggung jawab) yang terdiri atas nilai rasa memiliki, disiplin, dan empati 
(3). Life harmony (keserasian hidup) yang terdiri atas nilai keadilan, toleransi, kerja sama, dan demokrasi.Dengan melihat sub nilai ini nampak jelas bahwa nilai-nilai sosial sangat penting.

 

B. HAKIKAT PENDIDIKAN NILAI

Salah satu tujuan dari pendidikan umum adalah untuk mengembangkan nilai-nilai dan keterampilan sosial peserta didik untuk dapat hidup bersama dalam suatu masyarakat. Sehingga nilai-nilai yang mendukung keterampilan sosial individu harus ditanamkan sedemikian rupa didalam pendidikan umum itu sendiri. Lalu bagaimana nilai-nilai itu harys ditanamkan dalam tiap diri individu peserta didik?


Sepanjang hidupnya seseorang anggota masyarakat akan terus mengalami proses penanaman nilai-nilai. Mulai dari bayi, anak-anak, remaja, dewasa, maupun pada saat seseorang berada pada usia lanjut hingga kahir masa hidupnya. Proses penanaman nilai-nilai yang terjadi pada diri seseorang itu disebut sosialisasi.
Sosialisasi didefinisikan sebagai suatu proses penanaman nilai-nilai pada seorang individu agar ia dapat siap dan mampu untuk berperan dalam masyarakatnya dengan baik. Nilai-nilai yang ditanamkan tadi meliputi nilai-nilai bersikap, bertindak, berprilaku, dan berperasaan yang sesuai dengan apa yang diharapkan masyarakat dimana ia hidup.
Dengan demikian ia diharapkan juga mampu untuk memiliki nilai-nilai sosial dnan budaya yang dapat menjaga keserasian, kebersamaan, dan keberlanjutan kehidupan sosial dan budayanya.

Sosialisasi dijalankan oleh apa yang disebut agen sosialisasi, seperti keluarga, sekolah, kelompok pertemanan, media massa, dll. Sosialisasi yang dijalankan didalam institusi sekolah secara akademik dituangkan dalam bentuk pendidikan nilai.

Pendidikan nilai mencakup kawasan budi pekerti, nilai, norma dan moral. Budi pekerti adalah buah dari budi nurani. Budi nurani bersumber pada moral. Moral bersumber pada kesadaran hidup yang berpusat pada alam pikiran. Sesuai dengan kodratnya sebagai Makhluk Tuhan yang bebas merdeka, didalam diri manusia terdapat kemerdekaan untuk memilih nilai dan norma yang dijadikan pedoman berbuat, bertingkahlaku dalam hidup bersama dengan manusia lain.

Nilai adalah gagasan atau konsep yang dipandang penting dalam hidup (ada pada dunia ide), dan dipandang sebagai pedoman hidup (ada dalam dunia psycho-spiritual). Nilai juga berhubungan erat dengan kegiatan manusia dalam memberikan makna terhadap sesuatu dalam kehidupannya, seperti pemaknaan atas segala sesuatu yang dianggap baik atau tidak baik, berguna atau tidak berguna, penting atau tidak penting, dan benar atau tidak benar.

Frondizi; bahwa nilai memiliki polaritas dan hierarki. Polaritas berarti menampilkan diri dalam dua aspek yaitu positif dan negatif.Dilain pihak hierarki tersusun secara bergradasi atau bertingkat dari nilai yang tertinggi (yaitu nilai yang paling diutamakan) sampai nilai yang terendah (yaitu nilai yang tidak diutamakan) dalam hidup seseorang atau sekelompok orang/masyarakat. Oleh karena itu dengan “pendidikan nilai” seseorang diajak untuk menemukan nilai tertinggi yang menjadi pegangan dirinya.

Beberapa contoh peng-hirarki-an nilai :

1. Menurut Max Scheller :
a. Nilai kenikmatan
b. Nilai kehidupan
c. Nilai kejiwaan
d. Nilai kerohanian
2. Menurut Notonagoro :
a. Nilai material
b. Nilai vital
c. Nilai kerohanian

Nilai terhadap sesuatu dapat dihierarkian atas nilai material yang memaknai sesuatu karena tingkat kenikmatan material, nilai kehidupan yang memaknai sesuatu karena pertimbangan pentingnya sesuatu dalam memenuhi standar kehidupan seseorang, dan nilai spiritual yang memaknai sesuatu atas keindahan, kebaikan, dan kebenaran yang dinyawai oleh pandangan tentang moral dan religiusitas.

Kemampuan seseorang dalam menentukan nilai mana yang paling penting dalam dirinya sangat berpengaruh pada pembentukan karakter dan keterampilan sosialnya untuk dapat berperan dalam kehidupan bersama di dalam masyarakat dan negara dimana dia berada. Seperti yang telah dikemukakan bahwa pendidikan nilai harus dapat mengajak seorang peserta didik untuk dapat menemukan nilai tertinggi yang menjadi pegangan hidupnya.

Manusia menganggap sesuatu bernilai, karena ia merasa memerlukannya atau menghargainya. Dengan akal dan budinya manusia menilai dunia dan alam sekitarnya untuk memperoleh kepuasan diri baik dalam arti memperoleh apa yang diperlukannya, apa yang menguntungkannya, atau apa yang menimbulkan kepuasan batinnya. Manusia sebagai subjek budaya, maka dengan cipta, rasa, karsa, iman, dan karyanya, menghasilkan di dalam masyarakat bentuk-bentuk budaya yang membuktikan keberadaan manusia dalam kebersamaan di mana semua bentuk budaya itu mengandung nilai.

Nilai yang menjadi pegangan hidup seseorang terdiri atas unsur etika, estetika, dan moral. Etika adalah suatu nilai yang mengatur seseorang atau sekelompok orang dalam bertingkahlaku dan bertindak sosial. Secara etimologis, etika adalah ajaran tentang baik buruk, yang diterima umum tentang sikap, perbuatan, kewajiban, dsb. Estetika adalah nilai yang menggambarkan keindahan. Kedua unsur itulah yang membawa seorang individu, sebagai makhluk sosial dan makhluk budaya, dapat hidup bersama dalam hubungan sosial yang berkualitas, bertanggungjawab dan memiliki kesadaran yang tinggi untuk dapat menghargai satu sama lain.

 

C. HAKIKAT PENDIDIKAN NILAI DALAM PENDIDIKAN UMUM

Raven, Bell, dan Conant telah menyebutkan bahwa salah satu tujuan pendidikan umum adalah untuk mengembangkan nilai-nilai dan keterampilan sosial. Nilai-nilai sosial sangat penting karena berfungsi sebagai acuan bertingkah laku terhadap sesama, sehingga anda dapat diterima di masyarakat.

Bahkan banyak pakar pendidikan memaknai pendidikan umum sebagai pendidikan nilai (value education), sebagian lain menunjuk pendidikan umum sebagai pendidikan kepribadian (personality education), pendidikan karakter (character building), pendidikan kewarganegaraan, dsb.

Pendidikan nilai itu sendiri mencakup kawasan budi pekerti, nilai, norma, dan moral. Nilai adalah gagasan atau konsep yang dipandang penting dalam hidup (ada pada dunia ide) dan dipandang sebagai pedoman hidup (ada dalam dunia psycho-spiritual). Nilai juga berhubungan erat dengan kegiatan manusia dalam memberikan makna terhadap sesuatu dalam kehidupannya, seperti pemaknaan atas segala sesuatu yang dianggap baik dan tidak baik, berguan atau tidak berguna, penting atau tidak penting, dan benar atau tidak benar.

Sehubungan dengan hal ini, dapat ditarik kesimpulan bahwa pendidikan nilai merupakan isi dari pendidikan umum. Dengan memberikan pendidikan tentang nilai-nilai makakeberhasilan tingkat penyampaiannya berpengaruh terhadap tingkat pencapaian tujuan pendidikan umum. Dapat juga dikatakan bahwa pendidikan nilai merupakan bagian dari tujuan pendidikan umum.


KEGIATAN BELAJAR 2 : HAKIKAT PENDIDIKAN ISBD

A. HAKIKAT ILMU SOSIAL BUDAYA DASAR

Ilmu pengetahuan berbeda dengan pengetahuan. Ilmu Pengetahuan (Science) berarti suatu proses untuk menemukan kebenaran pengetahuan. Karena itu ilmu pengetahuan harus mempunyai sifat ilmiah.
Poedjawijatna; sifat ilmiah ilmu pengetahuan adalah objektif, sedapat mungkin universal, bermetodis dan besistem. Ilmu pengetahuan dapat dikatakan objektif jika ada kesesuaian antara pengetahuan dan objeknya.
Sedangkan, Pengetahuan (knowledge) adalah suatu wacana yang berhubungan dengan konsep tahu, yaitu pemahaman terhadap sesuatu yang bersifat umum dan spontan tanpa perlu penyelidikan.

Secara umum para ahli membagi ilmu pengetahuan atas ilmu pengetahuan alam, ilmu pengetahuan sosial, dan ilmu pengetahuan budaya. Pengelompokkan inilah yang mendasari pengembangan mata kuliah Ilmu Alamiah Dasar, Ilmu Sosial Dasar, dan Ilmu Budaya Dasar.

Latar belakang munculnya mata kuliah Ilmu Sosial Dasar dan Ilmu Budaya Dasar sekitar tahun 1970-an adalah karena adanya pemikiran untuk mendekatkan berbagai disiplin ilmu, sehingga dapat mendorong mahasiswa untuk melihat permasalahan dala masyarakat secara interdisipliner. Kedua mata kuliah ini memiliki tingkat kompetensi yang sama, yaitu membentuk mahasiswa yang peka terhadap kondisi sosial dan budayanya, dan memiliki kearifan sosial dan kearifan budaya dalam menerapkan ilmunya di masyarakat.

Akan tetapi kedua mata kuliah ini sayangnya dihapuskan. Di sisi lain kondisi di Indonesia semakin menunjukkan kekhawatiran banyak pihak, dimana banyak ilmuwan yang berprilaku asosial menjadi kriminal terdidik, bahkan banyak yang mauk penjara. Banyak pemimpin dan politisi yang sadar atau tidak sadar berkhianat pada bangsa dan negara demi ambisi pribadinya. Sementara mata kuliah yang seharusnya diberikan untuk membangun nilai-nilai kearifan sosial dan budaya, sikap demokratis, kebersamaan, serta kepekaan terhadap kondisi sosial budaya masyarakat seperti ISD dan IBD justru dihapuskan.

Untuk itu dengan semangat memperbaiki kondisi dan membangun Indonesia yang lebih baik di tangan generasi penerus, seperti halnya mahasiswa, maka dikembangkanlah mata kuliah Ilmu Sosial dan Budaya Dasar. Ilmu Sosial dan Budaya Dasar ini dibnagun dengan visi, misi, dan tujuan dengan tingkat kompetensi yang sama dengan mata kuliah ISD dan IBD, yaitu mendorong mahasiswa untuk memiliki kepekaan dan kearifan dalam memandang dan mengatasi permasalahan sosial dan budaya yang terjadi di masyarakat.

Ilmu Sosial Budaya Dasar, yang lebih kita kenal dengan singkatan ISBD, adalah suatu ilmu yang memiliki kompetensi penguasaan pengetahuan tentang keagamaan, kesederajatan, dan kemartabatan manusia sebagai individu dan makhluk sosial dalam kehidupan bermasyarakat, serta memahami dan menghormati estetika, etika, dan nilai-nilai budaya yang menjadi pedoman bagi keteraturan dan kesejahteraan hidup dalam menata hidup kebersamaan dalam masyarakat.

ISBD memiliki peranan yang penting dalam sistem pendidikan di Indonesia. Keberadaan mata kuliah ini di tingkat perguruan tinggi menjadi suatu ilmu dasar yang wajib dimiliki setiap mahasiswa karena keilmuannnya yang diharapkan dapat menjadikan mahasiswa sebagai makhluk sosial dan budaya yang baik dalam kehidupan bermasyarakat dan bernegara.

Untuk melihat kedudukan ISBD dalam tataran keilmuan yang ada, penting bagi kita untuk memahami visi, misi dan tujuan dari ISBD itu sendiri.

Visi ISBD adalah membentuk mahasiswa sebagai manusia terpelajar yang kritis, peka, dan arif dalam memahami keragaman dan kesederajatan manusia yang dilandasi nilai-nilai estetika, etika dan moral dalam kehidupan bermasyarakat.

Misi ISBD adalah memberikan landasan wawasan yang luas, serta menumbuhkan sikap kritis, peka dan arif pada mahasiswa untuk memahami keragaman dan kesederajatan manusia dalam kehidupan bermasyarakat selaku individu dan makhluk sosial yang beradab serta bertanggungjawab terhadap sumber daya dan lingkungannya.

Tujuan ISBD adalah :

1. Mengembangkan kesadaran mahasiswa dalam menguasai pengetahuan tentang keanekaragaman dan kesederajatan manusia sebagai individu dan makhluk sosial dalam kehidupan bermasyarakat
2. Menumbuhkan sikap kritis, peka dan arif dalam mehami keragaman dan kesederajatan manusia dengan landasan nilai estetika, etika, dan moral dalam kehidupan bermasayarakat
3. Memberikan landasan pengetahuan dan wawasan yang luas serta keyakinan kepada mahasiswa sebagai bekal bagi hidup bermsyarakat selaku individu dan  makhluk sosial yang beradab dalam mempraktikkan pengetahuan akademik dan keahliannya.

 

B. HAKIKAT ISBD DALAM PENDIDIKAN UMUM DI PERGURUAN TINGGI

Disimpulkan ISBD sebagai suatu mata kuliah di perguruan tinggi yang mengupayakan pembentukan manusia yang memiliki sikap kritis, peka dan arif dalam melihat, memahami dan mengatasi berbagai masalah sosial budaya yang terjadi di dalam masyarakat.

Sedangkan pendidikan umum adalah bagian dari program pendidikan yang diperlukan oleh semua siswa pada tingkat dasar untuk mengembangkan nilai-nilai, perilaku, pengertian, dan keterampilan umum bagi semua warga negara, sehingga mampu menjadi individu dan makhluk sosial yang memiliki estetika, etika dan tanggung jawab moral dalam keilmuan yang dimilikinya.

Dengan kata lain ISBD memberikan sumbangan atas tercapainya tujuan pendidikan umum di perguruan tinggi. ISBD menjadi bagian dari pendidikan umum. Selain ISBD tentu saja terdapat mata kuliah-mata kuliah lain yang berperan dalam pencapaian tujuan pendidikan umum di perguruan tinggi, misalnya mata kuliah agama, bahasa indonesia, Pancasila dan kewarganegaraan, pendidikan lingkungan sosial, budaya, dan teknologi, olah raga, dan kuliah kerja nyata.

Dengan berbagai mata kuliah yang berisikan pendidikan nilai seperti juga ISBD, maka institusi perguruan tinggi diharapkan mampu menghasilkan manusia-manusia terdidik yang memiliki sikap kritis, peka dan arif dalam memandang, mengahadapi dan mengatasi berbagai masalah sosial budaya yang terjadi dalam kehidupan masyarakat dan negaranya.

Dengan demikian perguruan tinggi tidak saja menghasilkan manusia yang ahli, profesional dan pintar secara akademik, tetapi juga memiliki nilai-nilai, kepribadian dan karakter yang menjunjung tinggi keragaman, kesederajatan dan kemartabatan manusia sebagai individu dan makhluk sosial dalam kehidupan bermasyarakat serta memahami dan menghormati etika, estetika, dan nilai-nilai budaya yang menjadi pedoman bagi keterautran dan kesejahteraan hidup dalam menata hidup kebersamaan dalam masyarakat.

Dengan tingkat kompetensi tersebut, maka ISBD menjadi penting dalam proses pendidikan di perguruan tinggi. Karena pada hakikatnya ISBD tidak hanya memberikan pengetahuan akan tetapi juga memberikan tekanan yang lebih besar pada pemahaman dan melatih kepekaan serta menumbuhkan kearifan dan keterampilan sosial budaya pada mahasiswa.


KEGIATAN BELAJAR 3 : PENGERTIAN DAN ARAH PENGEMBANGAN MBB-ISBD

 

A. PENGERTIAN MBB-ISBD

Kita diajak untuk memahami pengertian tentang Mata Kuliah Berkehidupan Bermasyarakat-Ilmu Sosial Budaya Dasar (MBB-ISBD). Kita telah membahas sekilas tentang hakikat Ilmu Sosial Budaya Dasar dalam Pendidikan Umum. Pemahaman anda tentang Ilmu Sosial Budaya Dasar tentunya menjadi dasar yang baik untuk dapat selanjutnya memahami bagaimana pemahaman tentang Ilmu Sosial Budaya Dasar dalam mata kuliah Berkehidupan Bermasyarakat.

Mari kita lihat kembali ; dikatakan bahwa sebagai suatu mata kuliah ISBD memiliki tingkat kompetensi sendiri. Tingkat kompetisi suatu mata kuliah adalah suatu tingkatan pembelajaran yang harus dicapai oleh mata kuliah tersebut. Adapun untuk mata kuliah ISBD, tingkat kompetensi yang diharapkan adalah sebagai berikut :
1. Menguasai pengetahuan tentang keanekaragaman, kesederajatan dan kebermartabatan manusia sebagai individu dan makhluk sosial dalam berkehidupan bermasyarakat.
2. Memahami dan menghormati estetika, etika dan nilai-nilai budaya yang menjadi pedoman bagi keteraturan dan kesejahteraan hidup dalam menata hidup kebersamaan dalam masyarakat.

Dalam tingkat kompetensi tadi, maka materi pembelajaran mata kuliah ISBD sebagian besar merupakan materi yang berisikan tentang pengetahuan, pemahaman dan latihan-latihan tentang nilai-nilai berkehidupan bermasyarakat.

Sebagai makhluk sosial, tentunya mahasiswa kan dihadapkan pada berbagai permasalahan yang muncul sebagi implikasi dari interaksinya dengan orang lain, dengan institusidan masyarakatberkebudayaan yang lain. Akan tetapi ketidakmampuan manusia untuk hidup sendiri menuntut manusia untuk mampu hidup secara bersama-sama dalam suatu kelompok (masyarakat).

Disisi lain, sebagai makhluk budaya, manusia harus mampu mengembangkan budaya bersama yang diakui, dapat diterima, dan mampu mengatur tiap-tiap unsur anggota masyarakat dalam ikatan kebersamaan. Untuk itu, agar dapat hidup dalam suatu masyarakat, manusia (sebagai makhluk sosial dan makhluk budaya) tentunya harus mampu mengembangkan nilai-nilai yang diharapkan oleh anggota masyarakat yang lain.

Dalam masyarakat yang heterogen, seperti Indonesia, tentunya sikap individualistis dan diskriminatif bukanlah nilai-nilai berkehidupan yang diharapkan. Untuk itu perlu dikembangkan nilai-nilai yang mampu mendukung sikap, perilaku, dan pandangan hidup yang dapat menyelaraskan kehidupan masyarakat dengan segala keragamannya, seperti keanekaragaman, kesederajatan, dan kemartabatan setiap manusia sebagai individu dan makhluk sosial. Dengan demikian, individu-individu manusia yang hidup bersama dalam suatu ikatan kemasyarakatan dapat hidup bersama dengan saling menghargai dan menghormati segala perbedaan yang ada.

Nilai-nilai berkehidupan bersama seperti ini adalah nilai-nilai yang juga menjadi bagian dari isi mata kuliah ISBD. Untuk itu maka ISBD sering juga disebut sebagai MBB-ISBD, yaitu Mata Kuliah Berkehidupan Bermasyarakat-Imu Sosial Budaya Dasar.

Dengan Mata Kuliah Berkehidupan Bermasyarakat (MBB) ini mahasiswa diharapkan dapat mengembangkan potensinya sebagai manusia Indonesia yang :
1. Peka, berwawasan, berdaya nalar tentang lingkungan sosial dan alamnya
2. Sadar dan memahami hakikat hidup bersama sebagai anggota masyarakat yang bertanggung jawab terhadaplingkungan (lingkungan sosial maupun lingkungan alamnya)
3. Berkemampuan adaptasi secara aktif, membina hubungan dengan lingkungan, baik sosial maupun alam, secara berkelanjutan. 

Hal tersebut sesuai dengan visi dan misi MBB, seperti yang tercantum dalam Keputusan Dirjen Dikti Depdiknas RI No.38 Tahun 2002 Pasal 1. Mata kuliah berkehidupan Bermasyarakat (MBB) memiliki visi untuk : “Membentuk mahasiswa yang memiliki landasan pengetahuan, wawasan, dan keyakinan sebagai bekal hidup bermasyarakat selakuindividu dan makhluk sosial yang beradab serta bertanggung jawab terhadap sumber daya alam dan lingkungannya”

Selanjutnya dalam Pasal 2 dikatakan bahwa misi mata kuliah MBB adalah : “Memberikan dasar-dasar nilai estetika, etika, dan moral pada mahasiswa serta memberikan panduan bagi penyelenggaraan pendidikan dalam mengantar mahasiswa untuk mengembangkan pemahaman serta penguasaannya tentang keanekaragaman, kesetaraan dan martabat manusia sebagai individu dan makhluk sosial di dalam kehidupan bermasyarakat dengan berpedoman pada nilai budaya melalui pranata pendidikkan, serta tanggung jawab manusia terhadap sumber daya lam dan lingkungannya dalam kehidupan bermasyarakat baik nasional maupun global yang mengarah pada tindak kekaryaan seseorang sesuai dengan kompetensi keahliannya”

Dengan demikian jelas bahwa MBB-ISBD merupakan mata kuliah dasar yang menjadi landasan penting bagi mahasiswa di perguruan tinggi untuk kehidupannya kelak sebagai manusia Indonesia yang terdidik, profesional dan memiliki keahlian serta bertanggung jawab dan memiliki nilai-nilai dan moral yang luhur.

B. VISI, MISI, DAN TUJUAN ISBD

Setelah memahami pengertian tentang MBB-ISBD, maka sejalan dengan pemahaman tentang Mata Kuliah Berkehidupan Bermasyarakat-Ilmu Sosial Budaya Dasar (MBB-ISBD) tersebut, ISBD sendiri memiliki visi dan misinya selaras dengan misi dan visi MBB. Berikut ini akan dijelaskan visi dan misi ISBD.

1. Visi dan Misi ISBD

Visi mata kuliah ISBD adalah : “Membentuk mahasiswa selaku individu dan makhluk sosial yang beradab, memiliki landasan pengetahuan, wawasan, serta keyakinan untuk bersikap kritis, peka, dan arif dalam menghadapi persoalan sosial dan budaya yang berkembang di masyarakat”

Sedangkan misi mata kuliah ISBD adalah :

a. memberikan pengetahuan dan wawasan tentang keragaman, kesetaraan dan martabat manusia sebagai individu dan makhluk sosial dalam kehidupan masyarakat
b. memberikan dasar-dasar nilai estetika, etika, moral, hukum dan budaya sebagai landasan untuk menghormati dan menghargai antara sesama manusia sehingga akan terwujud masyarakat yang tertib, teratur, dan sejahtera.
c. memberikan dasar-dasar untuk memahami masalah sosial dan budaya serta mampu bersikap kritis, analitis dan responsif untuk memecahkan masalah tersebut secara arif di masyarakat.

2. Tujuan ISBD

Berdasarkan visi misinya tersebut, maka mata kuliah ISBD, secara umum memiliki tujuan untuk :

a. mengembangkan kesadaran mahasiswa dalam menguasai pengetahuan tentang keanekaragaman dan kesederajatan manusia sebagai individu dan makhluk sosial dalam kehidupan bermasyarakat 

b. menumbuhkan sikap kritis, peka dan arif pada mahasiswa dalam memahami dan memecahkan masalah sosial budayanya dengan landasan nilai estetika, etika, moral dan hukum dalam kehidupan bermasyarakat 
c. memberikan landasan pengetahuan dan wawasan yang luas serta keyakinan kepada mahasiswa sebagai bekal hidup bermasyarakat, selaku individu dan makhluk sosial yang beradab dalam mempraktikkan pengetahuan akademis dan keahliannya.

Prof. Abdulkadir Muhammad, SH. Secara umum tujuan ISBD adalah mengembangkan kepribadian manusia sebagai makhluk sosial (zoo politicon) dan sebagai makhluk budaya (homo humanus), sehingga mampu menanggapi secara kritis dan berwawasan luas masalah sosial budaya dan maslah lingkungan sosial budaya, serta mampu menyelesaikan secara halus, arif dan manusiawi maslah-maslah tersebut.

Secara rinci dijelaskan pula bahwa didalam tujuan umum ISBD tersebut diatas terkandung 3 (tiga) rumusan utama, yaitu :
a. pengembangan kepribadian manusia sebagai makhluk sosialdan makhluk budaya
b. kemampuan menanggapi secara kritis dan berwawasan luas masalah sosial budaya dan masalah lingkungan sosial budaya
c. kemampuan menyelesaikan secara halus, arif dan manusiawi masalah-masalah tersebut 

Konsep-Konsep dasar yang terdapat pada ketiga rumusan utama dari tujuan utama ISBD antara lain adalah :
a. manusia sebagai makhluk sosial
b. manusia sebagai makhluk budaya
c. tanggapan kritis
d. wawasan luas
e. masalah sosial budaya 
f. masalah lingkungan sosial budaya

Pengertian atas konsep manusia sebagai makhkluk sosial diartikan bahwa manusia sebagai individu tidak mampu hidup sendiri dan tidak juga dapat berkembang sempurna tanpa hidup bersama dengan manusia lainnya. Sedangkan manusia sebagai makhluk budaya diartikan sebagai makhluk ciptaan Tuhan yang paling sempurna, karena sejak lahir sudah dibekali dengan unsur akal, rasa, dan karsa yang membedakannya dengan hewan.

Dengan ketiga unsur lahiriah itu (akal, rasa dan karsa) manusia akan dapat membentuk budaya yang menjadi pedoman dan nilai-nilai hidupnya sebagai hasil dari interaksinya dengan manusia lain dengan mempertimbangkan mana yang benar dan mana yang salah, mana yang baik dan mana yang buruk, mana yang berguna dan mana yang merugikan.

Dengan akal, rasa dan karsanya, manusia dituntut pula untuk dapat berpikir secara kritis dan memberi tanggapan atas pemikirannya tersebut. Tanggapan kritis sebagai hasil dari pemikiran yang kritis adalah reaksi akal atau daya tangkap berdasarkan nalar yang tinggi terhadap sesuatu yang dilihat atau di dengar dari suatu kejadian tertentu.
Dalam konteksnya dengan sosial budaya, tanggapan kritis merupakan kemampuan memahami suatu masalah secara objektif, tepat sasaran dan mampu melihat suatu fakta yang tertutupi dengan fakta lain yang terjadi dalam masyarakat, sehingga tidak terjadi kesalahan dalam pengambilan langkah-langkah penanganan dan mampu menghindari konflik serta dapat mengatasi permasalahan dengan arif dan manusiawi.

Untuk dapat memberikan tanggapan yang kritis atas suatu permasalahan, seorang individu tentunya harus didukung dengan wawasannya yang luas. Wawasan luas adalah kemampuan memandang jauh ke depan berdasarkan pemikiran yang dalam dan mendasar serta mempertimbangkan keterkaitan dan dampaknya secara lebih luas.

Apa yang harus ditanggapi dengan kritis dan berwawasan luas? Dalam konteks ISBD, yang perlu ditanggapi dengan kritis dan berwawasan luas adalah masalah sosial budaya dan masalah lingkungan sosial budaya. Apa itu masalah sosial budaya? Lalau apa pula yang dimaksud masalah lingkungan sosial Budaya?

Masalah sosial budaya adalah peristiwa yang timbul akibat interaksi sosial dalam kelompok masyarakat dalam usaha memenuhi suatu kepentingan hidup, yang dianggap merugikan salah satu pihak atau masyarakat secara keseluruhan. Masalah tersebut bersumberpada “perbedaan sosial budaya” yang dianggap merugikan kepentingan pihak lain, sehingga dapat memicu terjadinya konflik. Contoh masalah sosial budaya adalah konflik antara pengusaha dengan buruh, konflik antar suku bangsa dan lain-lain.

Sedangkan masalah lingkungan sosial budaya adalah peristiwa atau kejadian yang timbul akibat perbuatan tidak manusiawi yang merugikan warga lingkungan sosial budaya. Lingkungan sisuak budaya adalah kelompok sosial budaya yang dalam batas-batas tertentu dan ditata berdasarkan norma sosial budaya, seperti keluarga, desa, marga, kota, lembaga swadaya masyarakat, dan kelompok profesi. Contoh masalah lingkungan sosial budaya dapat dipahami melalui konflik warga lingkungan sosial budya berupa pembunuhan dukun santet pada era pasca Orde Baru.


C. RUANG LINGKUP PEMBAHASAN ISBD

Ruang lingkup pembahasan ISBD terdiri dari beberapa pokok bahasan. Dalam ketentuan yang ditetapkan oleh Dikti, setidaknya ISBD terdiri atas pokok bahasan sebagai berikut :

1. Pendahuluan (Pengantar ISBD)
2. Manusia sebagai makhluk budaya
3. Manusia dan Peradaban
4. Manusia sebagai Individu dan Makhluk Sosial
5. Multikultural dan Kesederajatan
6. Manusia, Moralitas dan Hukum
7. Manusia, Sains dan Teknologi
8. Manusia dan Lingkungan

Akan tetapi dalam Modul ISBD ini, anda juga akan diberikan 1 pokok bahasan tambahan yang menjadi penutup dari keseluruhan isi modul yang juga akan membawa anda pada suatu pandangan yang lebih jauh kedepan untuk memahami pentingnya anda mempelajari, memahami dan menginternalisasikan nilai-nilai dalam mata kuliah ISBD ini dalam kehidupan anda kelak, baik sebagai warga negara maupun warga dunia. Paparan atas pokok-pokok bahasan ISBD diatas, akan dijelaskan lebih detail dan jelas didalam modul 2, 3, dan seterusnya.

Pada modul 1 and atelah dengan baik memahami pengantar ISBD, di mana anda telah mampu memahami bagaimana latar belakang keberadaan ISBD sebagai satu mata kuliah di perguruan tinggi, dan bagaimana pengertian atsa hakikat ISBD dalam kaitannya dengan pendidikan umum, pendidikan nilai dan mata kuliah MBB (Mata Kuliah Berkehidupan Bersama). Selain itu juga anda telah dijelaskan tentang bagaimana pengembangan ISBD. Pengembangan ISBD, dalam hal, mencakup pembahasan tentang metode pembelajaran dan sistem evaluasi yang diterapkan dalam ISBD.

Maka pada modul 2 dan seterusnya, anda akan mulai masuk pada pokok bahasan ISBD yang merupakan bagian dari ruang lingkup ISBD. Pada modul 2 anda akan diajak untuk dapat memahami bahwa anda, sebagai manusia, adalah juga merupakan makhluk budaya. Paparan tentang manusia sebagai makhluk budaya kan memberikan suatu gambaran tentang bagaimana manusia dalam keberadaan budaya itu memiliki nilai-nilai dan sikap kritis, serta memiliki kepekaan dan kearifan dalam menangani permaslahan budaya didalam kehidupan anda.

Modul 3 akan secara detail menjelaskan bagaimana keterkaitan antara manusia dan peradaban. Apa pengertian peradaban dan bagaimana kaitannya dengan manusia sebagai makhluk budaya yang beradab akan dijelaskan dengan baik pada modul 3. Karena pembahasan yang ada dalam Modul 3 akan berkaitan erat dengan Modul 2, maka sebaliknya anda memahami dengan baik paparan yang ada dalam Modul 2

Bila pada Modul 2 anda diberikan gambaran yang jelas tentang manusia sebagai makhluk budaya, maka pada Modul 4 anda akan diajak untuk memahami tentang manusia sebagai makhluk sosial. Sebagai makhluk sosial manusia dihadapkan pada realita kehidupan sosial, sehingga anda akan memiliki kemampuan untuk memahami bagaimana hakikat masyarakat dan makna manusia sebagai makhluk sosial.

Selanjutnya pada Modul 5 anda akan memperoleh pemahaman tentang multikultural dan kesederajatan. Bagaimana masyarakat terdiri atas beberapa macam suku bangsa, ras, agama dan keyakinan, ideologi dan kelas sosial serta unsur keragaman lainnya. Bagaimana keragaman tersebut mempengaruhi kondisi dan permasalahan multikultural dalam kehidupan bermasyarakat dan bernegara, serta bagaimana masyarakat membangun kesederajatan dalam kondisi masyrakat yang multikultural.

Pada Modul 6, Anda akan dijelaskan tentang moralitas dan hukum. Bagaimana pengertian tentang nilai moral, apa yang membentuknya, bagaimana proses terbentuknya nilai moral tersebut, dan bagaimana kebudayaan dan peradaban menjadi nilai dalam masyarakat. Bagaimana kaitan nilai moral dengan hukum, bagaimana dialektika dan pelaksanaan keduanya dalam kehidupan masyarakat dan negara. Bagaimana manusia sebagai makhluk sosial dan budaya mampu menjalankan dirinya sebagai masyarakat bermoral dan menaati hukum sehingga terwujud keadilan, ketertiban, dan kesejahteraan bersama.

Modul 7 akan dengan jelas memperlihatkan bagaimana manusia dalam kaitannya dengan keberadaan dan perkembangan sains dan teknologi. Bagaimana manusia berperan dalam penciptaan, pengembangan dan pemanfaatan iptek dalam kehidupan dan kesejahteraan manusia. Bagaimana dampak positif dan negatif yang dapat ditimbulkan dari penciptaan, pengembangan dan pemanfaatan iptek tersebut bagi keberlangsungan peradaban manusia.

Selanjutnya dalam Modul 8 akan dibahas lebih detail tentang manusia dan lingkungan, baik lingkungan alam maupun lingkungan sosial budaya. Bagaimana manusia memperngaruhi secara timbal balik, baik positif maupun negatif, dengan lingkungannya. Disamping itu juga akan dijelaskan bagaimana dampaknya bagi kelangsungan dan kesejahteraan hidup manusia.

Di akhir modul ISBD ini, yaitu pada Modul 9 akan digambarkan pada anda secara utuh bagaimana manusia sebagai makhluk sosial dan budaya akan dihadapkan pada perubahan yang besar akibat globalisasi yang terjadi di segala segi kehidupan manusia. Bagaimana ISBD dihadapkan pada satu tantangan utama, yaitu menjadi suatu sarana bagi pendidikan tinggi untuk membentuk manusia-manusia berpendidikan yang memiliki keahlian dan kearifan dalam menghadapi kondisi di masa yang akan datang dengan segala permasalahannya. Sehingga Modul 9 ini akan menjadi penutup dari keseluruhan pokok bahasan ISBD yang menjadi lingkup pembahasan ISBD.

D. METODE PEMBELAJARAN ISBD

Mata Kuliah Berkehidupan Bermasyarakat-Ilmu Sosial Budaya Dasar (MBB-ISBD) pada dasarnya dalah sebuah studi tentang fenomena sosial dan budaya yang tumbuh dan berkembang dalam masyarakat. Mata Kuliah ini bukan merupakan ilmu yang membahasa tentang teori-teori sosial dan budaya.Oleh karena ISBD lebih bersifat pembahasan tentang fenomena sosial budaya, maka metode pembelajarannya ditujukan untuk melatih kemampuan akan kepekaan, kritis dan kearifan dalam menangani dan menanggapi segala fenomena sosial budaya yang terjadi di dalam masyarakat.

Metode pembelajaran yang dapat digunakan untuk tujuan tersebut adalah dengan menerapkan pendekatan  student centre learning dengan metode problem based learning. Teknik pembelajaran dengan metode problem based learning dapat dilakukan dengan teknik yang paling sederhana sampai pada teknik yang agak kompleks.

Teknik yang sederhana, misalnya anda akan diberikan suatu kasus (problem) sosial budaya yang terjadi dalam masyarakat. Selanjutnya anda diharapkan untuk dapat berdiskusi untuk membahas permasalahan sosial budaya tadi sesuai dengan teori-teori yang telah anda kuasai. Mulai dengan menemukan akar permasalahannya, bagaimana permasalahan itu terjadi (proses berlangsungnya), hingga sampai pada solusi apa yang dapat anda ditawarkan untuk menyelesaikan masalah tersebut. Anda sebagai mahasiswa juga diminta untuk berdiskusi dengan teman-teman anda, baik dari disiplin ilmu yang sama maupun berbeda, untuk dapat mendekati masalah tersebut secara lebih arif dan tidak subjektif.

Di sisi lain, teknik yang agak kompleks, misalnya adalah riset sosial . Pengajar akan meminta anda, selaku mahasiswa untuk melakukan riset sosial. Dengan teknik ini, mahasiswa dilatih untuk memiliki keterampilan sosial dengan membangun kepekaan terhadap permasalahan sosial budaya yang terjadi di dalam masyarakat. Sikap kritis anda akan terlatih pada proses merencanakan langkah-langkah penelitian, pertanyaan-pertanyaan yang mahasiswa ajukan dalam proses pengumpulan data, dan cara anda melakukan observasi. Selanjutnya kemampuan kritis anda dapat dilihat dari bagaimana anda melakukan analisis atas semua data otentik yang anda peroleh.

Dalam setiap teknik yang diterapkan kepada mahasiswa ISBD, anda sebagai mahasiswa diharuskan untuk menghasilkan suatu detail rekomendasi dan solusi yang dapat diterapkan untuk menghadapi dan menangani masalah sosial budaya yang menjadi problem based-nya. Anda dituntut untuk memiliki kearifan dalam melihat permasalahan dan rumusan detail rekomendasi dan solusi yang anda ajukan. Anda juga dituntut untuk dapat menghasilkan suatu detail rekomendasi atau solusi yang memperhatikan harkat hidup orang banyak, dengan mempertimbangkan aspek keragaman dan kesederajatan, nilai moral dan hukum, dan mempertimbangkan aspek teknologi (iptek) yang memungkinkan, serta dampaknya bagi kelestarian lingkungan (baik alam maupun sosial budaya) untuk keberlangsungan hidup masyarakat dan negara. Semakin tinggi kemampuan anda, sebagai mahasiswa ISBD, untuk mempertimbangkan kesemua aspek tersebut di atas, maka maikn tinggi pula kemampuan anda untuk menggali sikap kearifan anda, sebagai makhluk sosial dan budaya, dalam menjalani kehidupan bermasyarakat dan bernegara.

Pada dasarnya berbagai teknik pembelajaran dapat dilakukan dalam ISBD. Akan tetapi teknik pembelajaran tersebut harus berpegang pada metode pembelajaran ISBD yang menuntut untuk :

1. menepatkan mahasiswa sebagai subjek-didik, mitra dalam proses pembelajaran, anggota masyarakat dan warga negara
2. mengupayakan peningkatan kemampuan pemahaman (verstehen) kepada mahasiswa yaitu para mahasiswa diajak untuk memahami berbagai gejala yang terjadi dalam kehidupan manusia dalam perspektif masayarakat, kebudayaan dan lingkungan alam
3. meningkatkan intensitas komunikasi interaktif, dialog kreatif bersifat partisipatoris, efek deministratif, diskusi, responsi, telaah kasus, panugasan mandiri, ketimbang ceramah monolog atau komunikasi satu arah yang bersifat paparan semata.

E. SISTEM EVALUASI PEMBELAJARAN ISBD

Sistem yang digunakan dalam mengevaluasi hasil pembelajaran ISBD disesuaikan dengan metode dan teknik pembelajaran yang diterapkan. Dengan metode dan teknik pembelajaran ISBD yang telah dipaparkan diatas, maka sistem evaluasi yang digunakan dapat mencakup penilaian atas :

1. Knowledge; untuk mengukur tingkat penegtahuan, wawasan dan kemampuan mahasiswa menjelaskan kembali materi yang telah disampaikan. 
2. Comprehension; untuk mengukur wawasan, kepekaan dan tingkat kritis mahasiswa dalam mengamati dan menelaah fenomena sosial budaya secara komprehensif
3. Application; untuk mengukur kemampuan mahasiswa dalam mengaplikasikan materi dari pokok-pokok bahasan yang diberikan dalam mengamati dan menganalisis fenomena sosial budaya, serta tingkat kemampuan mahasiswa dalam mengaplikasikan nilai-nilai berkehidupan Bermasayarakat (seperti: nilai-nilai toleransi, kebersamaan, keadilan, kesetaraan dan kearifan) dalam menghadapi dan mengatasi fenomena sosial budaya.
4. Analysis; untuk mengukur kemampuan kritis mahasiswa dalam melakukan analisis fenomena sosial budaya dengan berpegang pada data yang otentik.
5. Synthesis; untuk mengukur kemampuan kritis mahasiswa dalam mengambil suatu keputusan atas analisis yang dilakukannya
6. Evaluation; untuk mengukur tingkat kemampuan manusia dalam mengevaluasi dirinya sendiri selaku makhluk sosial dan malhluk budaya dalam melihat dan menghadapi fenomena sosial budaya di dalam masyarakatnya. Bagaimana tingkat kepekaannya, bagaimana kemampuan kritisnya, dan apakah ia selaku makhluk sosial dan budaya telah memiliki nilai-nilai Berkehidupan Bermasyarakat seperti : nilai-nilai toleransi, kebersamaan, keadilan, kesetaraan, dan kearifan.

Dari hasil evaluasi kemampuan mahasiswa (terutama dalam hal mengukur kemampuan untuk mengevaluasi diri) diharapkan nantinya manusia mampu secara terus menerus melakukan perbaikan diri untuk menjadi anggota masyarakat dan warga negara yang berwawasan luas, peka, kritis, arif dan memiliki nilai-nilai kebersamaan, kesetaraan dan keadilan untuk kesejahteraan dan keberlangsungan hidup bersama. Dengan demikian anda sebagai mahasiswa yang telah mengikuti mata kuliah ISBD ini berhasil mencapai tingkat kompetensi yang ditetapkan untuk mata kuliah ISBD.

 

 

MODUL 2 :

MANUSIA SEBAGAI MAKHLUK BUDAYA


Manusia dan Kebudayaan adalah dua kajian yang pada dasarnya tidak dapat dipisahkan. Mengapa? Karena ketika kita mempelajari manusia dari berbagai aspek maka kita akan berhadapan dengan masalah kebudayaan. Contoh, pada saat kita mempelajari kondisi lingkungan alam dari manusia maka kita akan berhadapan dengan teknologi yang dikembangkan serta kebiasaan-kebiasaan yang berbeda dengan manusiatersebut.
Manusia yang tinggal di wilayah dengan dua musim (panas dan hujan) memiliki teknologi serta kebiasaan-kebiasaan yang berbeda dengan manusia yang tinggal di wilayah dengan empat musim (panas, semi, gugur, dingin).
Manusia yang tinggal di wilayah empat musim diantaranya mengembangkan teknologi penghangat ruangan dan memiliki kebiasaan libur pada musim dingin, sedangkan teknologi dan kebiasaan tersebut tidak ada pada manusia yang tinggal di wilayah dengan dua musim.
Contoh lain ketika kita mempelajari masalah hubungan sosial yang dikembangkan antarmanusia maka kita akan berhadapan dengan gagasan-gagasan atau ide-ide yang melatarbelakangi terbentuknya hubungan sosial tersebut. Teknologi, kebiasaan hidup, dan gagasan-gagasan yang mendasari terbentuknya hubungan sosial itulah yang disebut kebudayaan. Manusia merupakan pencipta kebudayaan. Kebudayaan tidak akan ada tanpa manusia, sebaliknya manusia tidak akan menjadi manusia apabila belum dibudayakan. Jadi dapat dikatakan bahwa antara manusia dan kebudayaan seperti dua keping mata uang yang tidak dapat dipisahkan.


KEGIATAN BELAJAR 1 : KEBUDAYAAN

A. PENGERTIAN KEBUDAYAAN

Kita sering mendengar kata kebudayaan baik dalam pengertian yang sempit maupun dalam pengertian yang luas, baik dalam pengertian orang awam maupun dalam pengertian keilmuan. Dalam pengertian sempit kebudayaan sering diartikan sebagai adat tradisi atau kebiasaan sehingga sering kali di contohkan dengan upacara adat. Untuk pengertian lebih luas kebudayaan sering kali dipahami sebagai cara manusia mengelola kehidupannya, contohnya adalah adaptasi masyarakat terhadap lingkungan alam.
Kebudayaan juga sering dipahami secara awam, dimana ornag orang awam menyebutkan kesenian, rumah adat, upacara adat atau bangunan kuno sebagai kebudayaan. Namun bagi para ahli kebudayaan, mereka selalu berusaha memberikan rumusan dalam rangka menyajikan pengertian kebudayaan secara lebih menyeluruh.

Kebudayaan berasal dari kata buddhayah (sansekerta) yaitu bentuk jamak dari buddhi yang berarti budi atau akal. Kebudayaan dapat diaertikan sebagai hal-hal yang bersangkutan dengan budi dan akal. Kata kebudayaan memiliki padanan kata dari beberapa bahasa lain yaitu culture (inggris), cultuur (Belanda), tsaqafah (arab), dan colere (Latin) yang berarti mengolah, mengerjakan, menyuburkan dan mengembangkan,

Konsep kebudayaan pertama kali dikembangkan menjelang akhir abad ke-19, namun E. B. Taylor merupakan tokoh pertama yang memberikan definisi yang jelas dan menyeluruh pada tahun 1871. Sejak jaman itu banyak sekali muncul definisi tentang kebudayaan. Inventarisasi Kroeber dan Kluckhohn pada tahun 1950-an menunjukkan terdapat lebih dari seratus definisi kebudayaan. Supartono mencatat pada tahun 1992 terdapat 170 buah definisi kebudayaan dan catatan terakhir dari Manan menyebutkan terdapat 350 buah definisi. Beberapa definisi tersebut diantaranya :

Edward B. Taylor :
Kebudayaan adalah kompleks keseluruhan yang meliputi pengetahuan, kepercayaan, kesenian, hukum, moral, kebiasaan, serta lain-lain kecakapan dan kebiasaan yang diperoleh manusia sebagai anggota masyarakat.

Kluckhohn dan W.H. Kelly :
Kebudayaan adalah pola untuk hidup yang tercipta dalam sejarah, yang eksplisit, implisit, rasional, irrasional, yang terdapat pada setiap waktu sebagai pedoman-pedoman yang potensial bagi tingkah laku manusia.

Clifford Geertz :
Kebudayaan adalah sistem makna dan simbol yang diatur dalam rangka interaksi sosial.

Ralp. Linton :
Kebudayaan adalah sejumlah total pengetahuan, sikap dan pola-pola tingkah laku yang dibiasakan, yang dibagikan, dan ditransmisikan oleh anggota dari masyarakat tertentu

Kroeber :
Kebudayaan adalah reaksi motorik, kebiasaan, teknik, gagasan dan nilai yang dipelajari dan ditransmisikan secara massal serta tingkah laku yang dipengaruhinya.

Googenough :
Kebudayaan mengacu pada sistem pengetahuan dan kebudayaan yang diorganisasikan di mana orang-orang menstrukturkan pengalaman dan persepsi mereka, memformulasikan aktivitas-aktivitasnya, serta memilih di antara berbagai alternatif.

Keesing dan Keesing :
Kebudayaan adalah fenomena yang dapat diamati, yaitu pola-pola kehidupan di dalam komunitas yang berulang secara reguler serta pengaturan material dan sosial.

Eugene A. Nida :
Kebudayaan adalah perilaku manusia yang diajarkan terus menerus dari satu generasi ke generasi berikutnya.

J. Verkuyt :
Kebudayaan sebagai sesuatu yang diajarkan manusia dan segala sesuatu yang dibuat oleh manusia.

Ki Hajar Dewantoro :
Kebudayaan berarti buah budi manusia yaitu hasil perjuangan manusia terhadap pengaruh kuat dari alam dan zaman (Kodrat dan masyarakat), yang merupakan bukti kejayaan hidup manusia untuk mengatasi berbagai rintangan dan kesukaran di dalam hidup dan penghidupannya guna mencapai keselamatan dan kebahagiaan yang pada lahirnya bersifat tertib dan damai.

Robert H. Lowie :
Kebudayaan adalah segala sesuatu yang diperoleh individu dari masyarakat, mencakup kepercayaan, adat istiadat, norma-norma artistik, kebiasaan makan, serta keahlian yang diperoleh bukan dari kreativitasnya sendiri melainkan warisan masa lampau yang didapat melalui pendidikan formal atau informal.

Koentjaraningrat :
Kebudayaan adalah keseluruhan sistem gagasan, tindakan dan hasil karya manusia dalam rangka kehidupan masyarakat yang dijadikan milik dari manusia dengan belajar.

Rafael R. Maran : 
Kebudayaan adalah cara khsa manusia membangun alam guna memenuhi keinginan-keinginan serta tujuan hidupnya, yang dilihat sebagai proses humanisasi.

Terlihat diatas masing-masing definisi tidak mewakili pengertian kebudayaan secara menyeluruh. Masing-masing definisi hanya menyentuh sebagian dari pengertian kebudayaan. Apabila kita gabung pengertian-pengertian tersebut maka kita akan memiliki pengertian tentang kebudayaan secara lebih lengkap. 
Kita lihat memang tidak mudah mendefiniskan kebudayaan, namun tidak berarti kita tidak dapat menangkap essensinya. Pada dasarnya pengertian kebudayaan meliputi sistem gagasan, sistem kelakuan dari hasil karya. Berbagai definisi diatas juga menunjukkan bahwa terdapat kebudayaan yang dapat kita lihat dan amati maupun yang tidak.
Terkait dengan hal ini, Koentjaraningrat mengemukakan bahwa kebudayaan memiliki tiga wujud yaitu :

1. Wujud Kebudayaan sebagai suatu kompleks dari ide-ide, gagasan, nilai-nilai, norma-norma, peraturan dan sebagainya.
Wujud pertama ini merupakan wujud idela dari kebudayaan. Sifat abstrak, tidak dapat diraba atau difoto. Lokasinya ada di dalam kepala-kepala, atau dengan kata lain, dalam alam pikiran warga masyarakat di mana kebudayaan bersangkutan itu hidup. Kalau warga masyarakat tadi menyatakan gagasan mereka dalam tulisan, maka lokasi dari kebudayaan ideal sering berada dalam karangan dan buku-buku hasil karya para penulis warga masyarakat yang bersangkutan.
Sekarang kebudayaan-kebudayaan juga banyak tersimpan dalam disk, arsip, koleksi mikro film, kartu komputer, vcd, dsb. Ide-ide dan gagasan-gagasan manusia banyak yang hidup bersama dalam suatu masyarakat, dan memberi jiwa kepada masyarakat itu. Gagasan-gagasan itu tidak berada lepas satu dari yang lain, melainkan selalu berkaitan menjadi suatu sistem. Sistem ini disebut sistem budaya atau cultural system.

2. Wujud Kebudayaan sebagai suatu kompleks aktivitas serta tindakan berpola dari manusia dalam masyarakat.

Wujud kedua dari kebudayaan ini disebut sistem sosial atau social system. Sistem sosial ini terdiri dari aktivitas-aktivitas manusia-manusia yang berinteraksi, berhubungan, serta bergaul satu dengan lainnya dari detik ke detik, dari hari ke hari dan dari tahun ke tahun. 
Hubungan ini selalu menurut pola-pola tertentu yang berdasarkan adat tata kelakuan. Sebagai rangkaian aktivitas manusia-manusia dalam suatu masyarakat, sistem sosial ini bersifat konkret, terjadi di sekeliling kita sehari-hari, bisa di observasi, di foto dan di dokumentasi.

3. Wujud Kebudayaan sebagai benda-benda hasil karya manusia.
Wujud ketiga dari kebudayaan disebut kebudayaan fisik, dan tidak memerlukan banyak penjelasan karena merupakan seluruh hasil fisik dari aktivitas, perbuatan dan karya semua manusia dalam masyarakat. Sifatnya paling konkret dan berupa benda-benda atau hal-hal yang dapat di raba, dilihat, dan di foto.
Ada benda-benda yang sangat besar seperti pabrik baja, ada benda-benda yang sangat kompleks dan canggih seperti komputer berkapasitas tinggi, atau benda-benda yang besar dan bergerak seperti kapal tangki minyak, ada bangunan hasil seni arsitek seperti candi atau benda-benda kecil seperti kain batik atau kancing baju.


B. MANUSIA SEBAGAI PENCIPTA KEBUDAYAAN

Suatu kebudayaan tercipta atau terwujud sebagai hasil interaksi antara manusia dengan alam. Manusia adalah makhluk yang sangat kompleks dibandingkan makhluk hidup lain. Kekompleksan tersebut tidak hanya menyangkut masalah fisik, namun juga menyangkut kebutuhan, pola perilaku, daya nalar, bahkan kehidupan yang dihadapi manusia. Sehubungan dengan hal tersebut, manusia memiliki berbagai kemampuan dalam mengatasi kompleksitas kebutuhan hidupnya karena manusia mempunyai :

1. Akal, Intelegensia, dan Intuisi

Manusia memiliki otak sehingga mempunyai kemampuan berfikir. Dengan memilik otak yang sehat maka manusia mampu berbuat sesuatu yang bermanfaat bagi dirinya sendiri, orang lain maupun alam. Manusia mampu belajar sehingga menjadi cerdas, memiliki teknologi dan pengetahuan dengan kadar intelegensia yang dimilikinya. Intuisi adalah bentuk pikiran yang samar, semacam bisikan hati. Intuisi sering setengah disadari tanpa diikuti proses berpikir cermat sebelumnya, namun bisa menuntun pada suatu keyakinan.

2. Perasaan dan Emosi.
Perasaaan adalah kemampuan psikis yang dimiliki seseorang baik yang berasal dari rangsangan di dalam atau di luar dirinya. Ini berhubungan dengan aspek kejiwaan atau hati manusia. Hati adalah tempat perasaanmanusia itu timbul. Emosi adalah rasa hati atau rasa gerak. Emosi sering berbentuk perasaan yang kuatdapat menguasai seseorang, tetapi tidak berlangsung lama.

3. Kemauan
Kemauan adalah keinginan atau kehendak untuk berbuat atau tidak berbuat sesuatu. Kemauan baik adalah keinginan untuk berbuat baik. Kemauan zaman adalah berbuat sesuatu sesuai dengan zamannya. Kemauan adalah dorongan kehendak yang terarah pada tujuan-tujuan hidup tertentu yang dikendalikan oleh akal budi. Kemauan dapat dibedakan antara kemauan biologis dan psikologis.

4. Fantasi 
Secara harfiah Fantasi diartikan sebagai lamunan, khayalan atau angan-angan. Fantasi merupakan paduan unsur pemikiran dan perasaan yang ada pada manusia untuk menciptakan kreasi baru yang dapat dinikmati. Kemampuan menciptakan selalu ada hubungannya dengan kemampuan seseorang berfantasi, walaupun fantasi juga mempunyai sisi buruk dalam kehidupan manusia.

5. Perilaku
Perilaku adalah tabiat atau kelakuan. Perilaku merupakan jati diri seseorang yang berasal dari lahir sebagai faktor keturunan. Faktor lingkungan kemudian mewarnai jati diri seseorang ini.
Manusia dapat menciptakan kebudayaan dengan berbagai kemampuan yang telah dijelaskan di atas. Dalam hal ini terdapat hubungan antara manusia dan kebudayaan. Kebudayaan adalah produk manusia, namu manusia itu sendiri adalah produk kebudayaan. Terkait dengan pengertian ini, Peter L. Berger menyatakan bahwa di dalam masyarakat terdapat proses dialektika mendasar yang terdiri dari tiga langkah yaitu eksternalisasi, objektivitas dan Internalisasi.

6. Eksternalisasi
Manusia dapat dibandingkan dengan makhluk hidup lain merupakan makhluk yang secara biologis mempunyai kekuarangan karena dilahirkan sengan struktur naluri yang tidak lengkap, yaitu tidak terarah dan kurang terspesialisasi. Oleh karena adanya ketidaksempurnaan tersebut, maka manusia senantiasa harus menciptakan suatu dunia manusia yaitu kebudayaan.
Dengan cara membangun dunia (world building) ini, manusia tidak hanya menciptakan suatu dunia, melainkan juga menciptakan dirinya dalam suatu dunia. Oleh sebab itu, dapat dikatakan masyarakat adalah produk manusia.

7. Objektivasi
Inti dari proses objektivasi adalah bahwa kebudayaan yang diciptakan menusia kemudian menghadapi penciptanya sebagai suatu fakta di luar dirinya. Dunia yang diciptakan manusia tersebut menjadi sesuatu yang berada di luarnya (menjadi suatu realita objektif).

8. Internalisasi 
Pada langkah internalisasi ini, dunia yang telah di objektivasikan itu diserap kembali ke dalam struktur kesadaran subjektif manusia sehingga menentukan manusia tersebut. Manusiamempelajari makna yang telah di opbjektivasikan sehingga terbentuk olehnya dan mengidentifikasikan dirinya dengannya sehingga makna tersebut masuk ke dalam dirinya dan menjadi miliknya. Individu tidak hanya memiliki makna tersebut tetapi juga mewakili dan menyatakannya. Secara singkat, melalui internalisasi maka fakta objektif dari dunia sosial menjadi fakta subjektif dari individu. Pada tahap ini manusia merupakan produk masyarakat.

Manusia sebagai makhluk budaya adalah pencipta kebudayaan. Kebudayaan adalah ekspresi eksitensi manusia di dunia. Berbicara tentang kebudayaan nasional Indonesia, maka kebudayaan nasional adalah paduan seluruh lapisan kebudayaan Bangsa Indonesia yang mencerminkan semua aspek perilaku kehidupan bangsa, totalitas kepribadian bangsa dalam wujudnya berupa pandangan hidup, cara berpikir dan sikap.


C. PERUBAHAN KEBUDAYAAN DARI LOKAL MENUJU GLOBAL

Perubahan merupakan karakteristik semua kebudayaan, tetapi tingkat dan arah perubahan sangat berbeda-beda menurut kebudayaan dan waktunya. Perubahan kebudayaan dapat berjalan secara lambat, memakan waktu yang lama atau cepat, atau memakan waktu yang relatif singkat. Terdapat beberapa sebab yang dapat melatarbelakangi terjadinya perubahan kebudayaan, diantaranya yaitu :

1. Perubahan Lingkungan Alam
Perubahan lingkungan alam pada suatu wilayah dapat menyebabkan perubahan pada kebudayaan di wilayah tersebut. Contohnya, perubahan pada pola bercocok tanam di beberapa daerah luar Pulau Jawa. Semakin sempitnya lahan yang dapat dipergunakan untuk bercocok tanam membuat perubahan pada pola bercocok tanam yang dilakukan sekelompok masyarakat, yaitu dari pola bercocok tanam yang lokasinya berpindah-pindah, berubah ke pola bercocok tanam yang lokasinya menetap.

2. Perubahan yang disebabkan Adanya Kontak dengan Suatu Kelompok Lain.
Kontak dengan kelompok lain ini menyebabkan masuknya gagasan-gagasan dan cara-cara baru yang akhirnya menimbulkan perubahan pada nilai dan norma masyarakat setempat. Pada era globalisasi ini, kontak dengan kelompok lain menjadi sedemikian besar dan mudah, sehingga dapat dibayangkan betapa derasnya laju perubahan kebudayaan pada umat manusia.
Perubahan kebudayaan akibat kontak dengan sekelompok lain ada yang berbentuk difusi atau akulturasi. Difusi adalah perubahan kebudayaan akibat dimasukkannya unsur budaya lain ke dalam budayanya sendiri. Perubahan terjadi karena suatu masyarakat atau bangsa mengadopsi beberapa elemen kebudayaan material yang telah dikembangkan oleh bangsa lain di tempat lain. Di sini terjadi proses peniruan. Contohnya adalah adopsi cerita Mahabarata dan falsafahnya dari India pada cerita wayang Mahabarata dari Jawa dan falsafah hidup orang Jawa. Sedangkan akulturasi adalah perubahan kebudayaan akibat dua kelompok yang berbeda kebudayaannya saling bertemu di mana terjadi perubahan yang besar pada salah satu kelompok tersebut atau pada kedua-duanya.
Perubahan terjadi karena kelompok tersebut memodifikasi cara hidupnya dengan mengadopsi suatu pengetahuan atau kepercayaan baru, atau karena perubahan dalam pandangan hidup dan konsepsinya tentang realitas. Contohnya adalah pertemuan berbagai kebudayaan dari suku bangsa yang datang ke Batavia menghasilkan kebudayaan Betawi yang merupakan percampuran kebudayaan berbagai suku bangsa tersebut seperti kebudayaan Cina, Arab, Melayu, dsb.

3. Perubahan karena Adanya Penemuan (Discovery)
Penemuan ini dapat berupa cara kerja, alat, atau prinsip baru yang kemudian diterima oleh orang-orang lain sehingga menjadi milik masyarakat. Contohnya adalah penemuan internet menyebabkan perubahan pada berbagai aspek kebudayaan masyarakat, misalnya perubahan gaya hidup, hubungan sosial, dll.

Salah satu yang menarik, pada akhir abad XX adalah kecendrungan untuk menjadi global. Giddens mengemukakan bahwa kesalingketergantungan masyarakat dunia akan semakin meningkat. Proses peningkatan salingketergantungan masyarakat dunia ini dinamakan globalisasi. Tokoh lain Walters, berpandangan bahwa globalisasi berlangsung di tiga bidang kehidupan yaitu perekonomian, politik dan budaya. Globalisasi ekonomi berlangsung di bidang perdagangan, produksi, investasi, ideologi organisasi, pasar modal dan pasar tenaga kerja. Globalisasi politik terjadi di bidang kedaulatan negara, fokus kegiatan pemecahan masalah, organisasi internasional, hubungan internasional dan budaya politik. Globalisasi budaya terjadi dalam bidang apa yang dinamakan ide keagamaan (sacriscape), etnisitas (ethnoscape), pola petukaran benda berharga (econoscape), produksi dan distribusi gambaran yang sama ke seluruh dunia (mediascape), serta pariwisata (leisurescape)

Prof. Puad Hasan berpandangan bahwa peningkatan pertemuan kebudayan global akan saling mempengaruhi, tetapi pertemuan antarbudaya itu tidak berlangsung secara timbal balik, melainkan tetap cenderung berpihak satu arah. Pihak yang didukung oleh teknologi canggih akan lebih berfungsi sebagai pengalih (transmitter) nilai-nilai kebudayaan dan norma-norma kemasyarakatan.

Bila kita ingin kebudayaan Indonesia mengglobal, maka terlebih dahulu kita harus memperkuat ketahanan budaya. Karena jika hal tersebut tidak dilakukan maka bangsa Indonesia hanyalah menjadi penerima. Pencerahan kebudayaan nasional telah dimulai dengan melakukan antisipasi dari budaya daerah, yang dapat diharapkan memberikan sumbangan yang berarti pada perkembangan dan kelestarian budaya nasional. Jika kebudayaan daerah kuat maka kebudayaan nasional akan kuat. Jika kebudayaan nasional kuat maka budaya mampu menghadapi budaya global.


KEGIATAN BELAJAR 2 : MANUSIA SEBAGAI MAKHLUK BUDAYA

A. FUNGSI AKAL DAN BUDI BAGI MANUSIA

Salah satu hal yang membedakan manusia dengan makhluk Tuhan lainnya adalah akal dan budi. Kadar akal dan budi berbeda antara setiap orang, kelompok, masyarakat, serta suku bangsa.
Akal adalah kemampuan berpikir manusia sebagai kodrat alami yang dimiliki manusia. Berpikir adalah merupakan perbuatan operasional yang mendorong untuk aktif berbuat demi kepentingan dan peningkatan hidup manusia. Secara sederhana dikatakan bahwa fungsi akal adalah untuk berpikir. Kemampuan berpikir manusia mempunyai fungsi mengingat kembali apa yang telah diketahui sebagai tugas dasarnya, kemudian membentuk konsep-konsep untuk memecahkan masalah-masalah dan akhirnya membentuk tingkah laku.

Budi juga berarti akal yang berasal dari kata budhi (sansekerta). Budi adalah akal yang merupakan unsur rohani dalam kebudayaan. Budi diartikan sebagai batin manusia, serta paduan akal dan perasaan yang dapat menimbang baik buruk segala sesuatu. Sutan Takdir Alisyahbana menyebutkan bahwa budi menyebabkan manusia mengembangkan suatu hubungan yang bermakna dengan alam sekitarnya dengan jalan memberikan penilaian terhadap objek dan kejadian. Uraian di atas menggambarkan bahwa fungsi akal dan budi manusia adalah untuk menunjukkan martabat manusia dan kemanusiaan.

B. MEMANUSIAKAN MANUSIA

Pada saat seseorang anak manusia dilahirkan di dunia maka ia adalah makhluk yang sangat lemah. Keberlangsungan hidupnya sangat tergantung pada orang lain dan kebudayaan yang ada disekitarnya. Dengan cara ini anak tersebut berproses menjadi manusia.

Dalam memahami proses menjadi manusia tersebut, maka kita perlu mengetahui dan memahami konsep-konsep budaya dasar yang penting didalam kehidupan manusia. Konsep-Konsep tersebut di antaranya :

1. Cinta
Cinta merupakan salah satu kebutuhan hidup manusia yang sangat mendasar. Secara sederhana cinta dapat diktakan sebagai panduan rasa simpati antardua makhluk. Cinta milik semua orang. Rasa simpati ini tidak hanya berkembang diantara laki-laki dan perempuan, akan tetapi bisa juga berkembang diantara orang tua dan anak, saudara kandung ataupun cinta kita pada sesama manusia. Perasaan cinta yang kita tunjukkan pada korban bencana alam tidak sama persis dengan perasaan yang kita tunjukkan pada ibu atau saudara kandung. Tetapi pada kenyatannya, kita biasa menggunakan ungkapan yang sama untuk melukiskan perasaan cinta kita terhadap sesama manusia. Hal ini menunjukkan bahwa pada umumnya perasaan itu memiliki bagian atau unsur-unsur yang sama.
Cinta manusia ada untuk diungkapkan terhadap siapa pun (suami, isteri, orang yang dicintai, orang tua, anak-anak, dlsb). Pada saat kita mengatakan mencintai seseorang sebenarnya kita sedang mengatakan orang yang kita maksudkan itu memiliki tempat yang istimewa dan positif dalam perasaan kita. Makna dari perasaan cinta adalah kita merasakn bahwa orang-orang yang kita cintai itu secara objektif memang patut mendapatkan perlindungan khusus karena mereka mempunyai sifat-sifat istimewa yang dapat kita rasakan.

Cinta merupakanikatan yang kita bentuk dengan individu-individu diluar diri kita sebagai bagian dari usaha kita untuk menempatkan dan memberi makna terhadap kehidupan kita. Kebutuhan akan keterlibatan emosional dengan orang lain diluar diri kita begitu menekan sehingga jarang sekali dan hanya dalam pengertian terbatas sekali kita benar-benar dapat memilih secara aktif orang-orang yang akan terlibat secara emosional dengan diri kita.
Dari saat kita dilahirkan, kita setia dan menyayangi orang di sekitar kita dan tidak mebiarkan mereka lepas sampai kita meninggal dunia. Cinta merupakan sikap dasar ideal yang memungkinkan dimensi sosial manusia menemukan bentuknya yang khas manusiawi.

2. Keindahan
Pengertian keindahan berdasarkan cakupannya dibedakan antara keindahan sebagai suatu kualitas abstrak dan sebagai suatu benda tertentu yang indah. Selain itu, terdapat juga perbedaan menurut luasnya pengertian. Keindahan dalam arti terluas merupakan pengertian yang mengandung arti kebaikan. Keindahan dalam arti sempit atau terbatas yaitu hanya menyangkut benda-benda yang dapat diserap oleh penglihatan, yaitu keindahan bentuk dan warna. Misalnya Plato seorang filsuf dari Yunani menyebut watak yang indah dan hukum yang indah adalah yang mengandung pengertian ide kebaikan.
Aristoteles merumuskan keindahan sebagai sesuatu yang selain baik juga menyenangkan . Ada juga filsuf yang menulis tentang ilmu yang indah, kebajikan yang indah, buah pikiran yang indah dan adat kebiasaan yang indah. Bagi bangsa Yunani juga dikenal pengertian keindahan dalam arti estetis yang disebut symmetria atau keindahan berdasarkan penglihatan (karya pahat dan artisektur) dan harmonia untuk keindahan berdasarkan pendengaran (musik). Dari pembagian keindahan dapat disimpulkan bahwa keindahan adalah suatu kumpulan hubungan yang selaras dalam suatu benda dan diantara benda itu dengan si pengamat, atau sesuatu yang menyenangkan terhadap penglihatan atau pendengaran.

Teori objektif berpendapat bahwa keindahan atau ciri-ciri yang menciptakan seni estetis adalah sifat yang memang telah melekat pada benda indah yang bersangkutan, terlepas dari orang yang mengamatinya. Pengamatan seseorang hanyalah menemukan atau menyingkapkan sifat-sifat indah yang sudah ada pada suatu benda dan sama sekali tidak berpengaruh untuk mengubahnya. Teori mengenai keindahan ini mengungkapkan bahwa ciri-ciri khusus yang membuat suatu benda menjadi indah atau bernilai estetis adalah terpenuhinya asas-asas tertentu mengenai bentuk pada suatu benda (khususnya karya seni yang diciptakan seseorang).
Sebaliknya, teori subjektif tentang keindahan mengatakan bahwa ciri-ciri yang menciptakan keindahan pada suatu benda sesungguhnya tidak ada. Yang ada hanyalah tanggapan perasaan dalam diri seseorang yang mengamati suatu benda. Adanya keindahan semata-mata tergantung pada penyerapan dari si pengamat itu. 
Jika dinyatakan bahwa suatu benda mempunyai nilai estetis, hal itu diartikan bahwa seseorang pengamat memperoleh suatu pengalaman estetis sebagai tanggapan terhadap benda itu. Eksistensi manusia di dunia diliputi dan digairahkan oleh keindahan. Manusia tidak hanya penerima pasif tetapi juga pencipta keindahan bagi kehidupan.

3. Kegelisahan
Manusia pada dasarnya menyukai kenikmatan hidup. Jika ditanyakan pada setiap manusia apa yang diinginkannya bagi kehidupannya di dunia ini maka jawabnya adalah kebahagiaan dan kemudahan, artinya tidak ada hambatan, tidak ada malapetaka, dan tidak ada kesengsaraan di dalam kehidupan yang dijalaninya.
Apabila hal-hal tersebut tidak didapatkannya maka manusia biasanya akan gelisah, tidak tenang dan tudak nyaman. Kegelisahan adalah merupakan gambaran keadaan seseorang yang tidak tenteram hati maupun perbuatannya, merasa khawatir, maupun tidak tenang dalam tingkah laku. Kegelisahan adalah salah satu ekspresi kecemasan. Huijbers mengemukakan bahwa terdapat situasi-situasi hidup yang bisa mendatangkan kegelisahan, ketidaknyamanan dan ketidaktenangan, yaitu :

a. Keadaan jasmani yang kurang baik
Cacat jasmani menyebabkan manusia merasa tidak percaya diri, malu, bahkan berusaha mengingkari diri. Bagi orang yang tidak bisa menerima cacat jasmani yang dimilikinya maka hidupnya menjadi tidak tenang, karena dia kan selalu membayangkan andaikata badannya sempurna atau dia akan selalu berpikir dan berusaha bagaimana menghilangkan asas menyembunyikan cacat tubuhnya tersebut.

b. Kemiskinan
Manusia dapat mengalami kemiskinan karena kelaparn dan penyakit, maupun karena sama sekali tidak memiliki suatu proyek hidup yang cerah (tidak bisa hidup secara manusiawi). Kondisi ini dapat menyebabkan kegelisahan, ketidaknyamanan dan ketidaktenangan.

c. Situasi perempuan
Diberbagai belahan bumi, perempuan merasa belum diperlakukan secara adil. Aturan budaya, bahkan aturan agama, masih dianggap memperlakukan mereka secara diskriminatif. Hal ini dapat menyebabkan kegelisahan yang lebih lanjut dapat mereka anggap sebagai penderitaan.

d. Malapetaka
Manusia dpat ditimpa malapetaka yang memusnahkan nilai-nilai hidup yang diciptakan manusia tersebut. Malapetaka yang paling ditakuti orang adalah perang, dimana akibat dari perang itu menimbulkan kegelisahan yang pada akhirnya merupakan suatu penderitaan.

Tidak adanya masa depan bagi seseorang adalah sesuatu yang menggelisahkan. Faktanya dia harus hidup, harus bergerak dan harus maju, Namun kesempatan untuk hal ini tidak ada, tertutup baginya, atau tidak dibuka lebar-lebar baginya. 
Kegelisahan bisa dialami siapa saja, baik yang berada dalam kondisi kesempitan maupun kelonggaran. Hal ini berkaitan erat dengan watak pribadi manusia. Faktor ini berperan dalam menentukan penilaian hidup. Dua orang yang ada dalam situasi yang sama mungkin akan berbeda reaksinya terhadap situasi dunia.

4. Penderitaan
Penderitaan merupakan realitas dunia dan juga realitas manusia. Di dalam dunia pasti ada penderitaan dan penderitaan itu pasti akan terjadi pada manusia. Penderitaan disebabkan oleh beberapa hal. Ada penderitaan karena alasan fisik seperti bencana alam, penyakit, dan kematian. Ada pula penderitaan karena alasan moral seperti kekecewaan dalam hidup, kehilangan sahabat, kebencian kepada orang, dll. Penderitaan karena alasan fisik biasanya lebih mudah diobati (dinetralkan), tetapi penderitaan karena alasan moral sangat sukar dinetralkan. Penderitaan karena alasan moral ini akan selalu menghantui hidup seseorang sepanjang masa hidupnya.

Penderitaan pada dasarnya merupakan kelanjutan dari kegelisahan. Artinya kegelisahan yang tidak terkendali, yang terjadi terus menerus, akan mengakibatkan munculnya perasaan menderita. Selain karena kegelisahan, penderitaan juga muncul akibat dari kekecewaan. Apa yang diharapkan akan diperoleh atau terjadi ternyata tidak diperoleh atau tidak terjadi. Penderitaan ini muncul karena manusia tidak melihat adanya harapan . Fromm mengartikan bahwa sebagai siap setiap saat terhadap apa yang belum terjadi dan tidak menjadi sedih jika tidak ada yang terjadi dalam hidupnya .. Harapan bukan berarti menunggu secra psif, tetapi juga bukan berarti pemaksaan yang tidak realistis terhadp keadan yang tidak bisa dilakukan.

5. Keadilan
Keadilan merupakan salah satu moral dasar bagi kehidupan manusia. Keadilan menjadi relatif apabila dilihat dari kacamata mnusia, tetapi ia dipercaya menjadi bersifat mutlak dan absolut manakala keadilan dipandang dari sudut pandang Ke-Tuhan-an.
Keadilan dalam hidup dan kehidupan manusia menjadi hak yang harus diperoleh dan sekaligus menjadi kewajiban yang harus ditunaikan. Keadilan merupakan upaya manusia untuk menegakkan hak dan kewajiban secara seimbang. Pada hakikatnya, keadilan adalah implementasi anatara hak dan kewajiban secara seimbang dan harmonis di dalam hidup dn kehidupan manusia. Keadilan mengacu pada suatu tindakan baik yang harus dilakukan oleh setiap manusia.
Keadilan memberikan setiap orang harapan untuk memperoleh pengakuan dan penghargaan atas eksistensinya secara utuh. Artinya, dengan keadilan, setiap orang berharap dapat mewujudkan keinginan,  harapan atau cita-citanya untuk memperoleh kehidupan yang lebih baik.

Keadilan memiliki beberapa ciri atau karakteristik, antara lain :
a. Adil (jus)
b. Bersifat Hukum (Legal)
c. Sah Menurut Hukum (Lawful)
d. Tidak Memihak (Unpartial)
e. Sama Hak (Equal)
f. Layak (Fair)
g. Wajar secara moral (Equitable)
h. Benar secara moral (righteous).

Ketidakadilan kemudian menjadiunsur-unsur negasi atau pengingkaran dari karakteristik konsep keadilan di atas yang dalam kehidupan sehari-hari bentuknya dapat bermacam-macam, anatar lain pengkhianatan, pembunuhan. sifat atau sikap ingkar, pelecehan, penipuan, dlsb, yang secara hakiki merupakan implementasi dari hak dan kewajiban yang tidak harmonis dan tidak seimbang.

6. Pandangan Hidup
Pandangan hidup berada pada dunia ide, dunia angan-angan, dan dunia imajinasi, yaitu dunia yang ada dalam alam pikiran manusia. Pandangan hidup manusia akan terlihat pada perbuatan, perilaku atau sikap hidupnya. Contoh sederhana, seseorang yang mempunyai cita-cita untuk memiliki hidup yang berkecukupanmaka ia akan bekerja keras dan tekun agar dapat mewujudkan cita-citanya tersebut. Bekrja keras dan ketekunan itu merupakan pandangan hidup, dan hal tersebut dinyatakan kedalam perbuatan atau perilaku dengan cara bekerja dengan keras dan tekun. Sebaliknya, orang yang tidak mempunyai angan-angan, keinginan, atau cita-cita, dia tidak akan memiliki pandangan hidup yang kuat sebagai landasan dalam mewujudkan keinginan atau cita-citanya.

Seseorang yang mempunyai pandangan hidup akan menyadari bahwa dunia ini tidak sempurna. Dunia yang tidak sempurna berarti bahwa kesempurnaan itu selalu terikat kepada hukum kontradiksi. Kadang diatas, kadang dibawah. Tidak selamanya seseorang itu berhasil, adakalanya dia menghadapi kegagalan. Tetapi dengan bekal pandangan hidup yang kuat, setiap kesulitan dan kegagalan yang timbul merupakan suatu tantangan yang harus dihadapi dan diatasi. 
Dengan pandangan hidup yang baik, manusia diharapkan, bahkan diharuskan untuk berprilaku baik. Oleh karena itu, manusia harus menyadari bahwa berbuat baik merupakan suatu keharusan. Manusia harus berbuat baik kepada dirinya sendiri, kepada sesama, kepada lingkungannya, dan kepada Tuhan. Pandangan hidup berkaitan dengan eksistensi manusia di dunia dalam hubungannya dengan Tuhan, dengan sesama dan dengan alam tempat kita berdiam.

7. Tanggung Jawab
Tanggung Jawab adalah kewajiban untuk melakukan tugas tertentu. Dasar tanggung jawab adalah hakikat keberadaan manusia sebagai makhluk yang mau menjadi baik dalam memperoleh kebahagiaan. Tindakan atau perbuatan manusia yang mengacu kepada nilai-nilai etik dan nilai-nilai moral pada dasarnya merupakan perbuatan yang bertanggung jawab.
Di dalam klenyataannya, konsep tanggung jawab tidak dapat kita lihat dan terapkan sebagai suatu hal yang hitam atau putih. Hal ini dikarenakan, pada tindakan-rindakan manusia terdapat tindakan yang pada satu sisi dapat kita lihat sebagai tindakan yang bertanggung jawab> Contoh; seseorang yang mencuri obat untuk mengibati ibunya yang sedang sakit parah. Dari sudut pandang hukum, pencurian yang dilakukan tidak dapat dibenarkan, namun dari sudut pandang kriteria moral, tindakan mungkin dapat diterima karena sifatnya yang relatif dan situasional.

8. Pengabdian
Pengabdian berasal dari kata abdi. Abdi artinya hamba atau orang bawahan. Mengabdi berarti memperhambakan dirinya. Dengan kata lain, dalam arti yang positif, mengabdi mempunyai pengertian melayani dengan setia, tulus dan ikhlas. Dalam pengertian yang lebih luas, pengabdian merupakan perwujudan dari rasa setia yaitu melayani dengan penuh hormat, penuh kepercayaan, penuh kecintaan dan penuh ketulusan kepada orang lain kepada siapa dia mengabdi. Sisi negatif dari pengabdian ini adalah sikap atau perilaku mengagungkan yang cenderung mengkultuskan orang yang diagungkan tersebut. Pengabdian diartikan pula sebagai perihal mengabdi atau memperhamba diri kepada tugas-tugas yang (dianggap) mulia.

Pengabdian (yang positif) sudah seharusnya dilandasi dengan kesadaran moral. Pengabdian yang dilakukan dapat mencakup berbagai hal seperti pengabdian kepada kebaikan, keluarga, masyarakat, bangsa dan negara, serta kepada Tuhan.

Berbagai konsep dasar di atas menunjukkan bahwa kita dapat berproses menjadi manusia yang lebih beradab (berbudaya) apabila dapat menerapkan berbagai konsep di atas  di dalam kehidupan kita sehari-hari. Selain mempelajarinya dari kehidupan sehari-hari, berbagai konsep diatas juga dapat kita pelajari dari lembaga pendidikan. Perguruan Tinggi sebagai salah satu lembaga pendidikan juga telah mempersiapkan pengetahuan budaya yang bertujuan membuat manusia menjadi lebih manusia dalam artian lebih berbudaya. Pengetahuan tentang budaya ini memiliki sejumlah tujuan untuk mengembangkan mahasiswa yaitu :
a. lebih peka dan terbuka terhadap masalah kemanusiaan dan budaya, serta lebih bertanggung jawab terhadap masalah-masalah tersebut.
b. mengusahakan kepekaan terhadap nilai-nilai lain untuk lebih mudah menyesuaikan diri
c. menyadarkan mahasiswa terhadap nilai-nilai yang hidup dalam masyarakat, hormat-menghormati serta simpati pada nilai-nilai lain yang hidup dalam masyarakat
d. mengembangkan daya kritis terhadap persoalan kemanusiaan dan daya kebudayaan
e. memiliki latar belakang poengetahuan yang cukup luas tentang kebudayaan Indonesia
f. menimbulkan minat untuk mendalaminya
g. mendukung dan mengembangkan kebudayaan sendiri dengan kreatif
h. tidak terjerumus kepada sifat kedaerahan dan pengkotakkan disiplin ilmu
i. menambahkan kemampuan mahasiswa untuk menanggapi masalah nilai-nilai budaya dalam masyarakat dan dunia tanpa terikat oleh disiplin ilmu
j.  mempunayi kesamaan bahan pembicaraan, tempat berpijak mengenal masalah kemanusiaan dan kebudayaan
k. terjalin interrelasi antara cendekiawan yang berbeda keahlian agar lebih positif dan komunikatif
l. menjembatani para sarjana yang berbeda keahliannya dalam bertugas menghadapi masalah kemanusiaan dan budaya
m. memperlancar pelaksanaan pembangunan dalam berbagai bidang yang ditangani oleh berbagai cendekiawan yang berlatarbelakang pendidikan berbeda
n. agar mampu memenuhi tuntutan masyarakat yang sedang membangun
o. agar dapat memenuhi tuntutan dari Tri Dharma Perguruan Tinggi, khususnya dharma pendidikan.

B. PROSES PEMBUDAYAAN

Hubungan antara manusia dengan kebudayaan tidak dapat terpisahkan. Tidak akan ada kebudayaan tanpa ada manusia, dan manusia tidak akan pernah mencapai puncak potensinya sebagai manusia tanpa kebudayaan. Didalam kebudayaan itulah manusia dibentuk, tetapi kebudayaan juga merupakan cermin dari perkembangan manusia pemilik kebudayaan tersebut.

Proses perkembangan kebudayaan tidak akan pernah berhenti seiring dengan terus mengalirnya kebutuhan manusia sebagai pemilik kebudayaan tersebut yang juga tidak pernah berhenti. Manusia dengan kemampuan akal dan budinya, terus mengembangkan berbagai macam sistem tindakan demi memenuhi keperluan hidupnya, dan ini diperoleh dengan cara belajar. Dari proses belajar itu selanjutnya muncul apa yang dinamakan kebudayaan.

Hampir semua tindakan manusia adalah kebudayan, karena sangat sedikit tindakan manusia dalam rangka kehidupan bermasyarakat yang tidak perlu dibiasakan dengan belajar (tindakan naluriah). Bahkan berbagai tindakan manusia yang sifatnya naluriah pada akhirnya juga diubah menjadi tindakan kebudayaan. Contoh : manusia mempunyai tindakan naluriah untuk makan dan minum, namun cara-cara serta sopan santun dalam makan dan minum harus dipelajari terlebih dahulu.

Proses pembudayaan adalah tindakan-tindakan yang menimbulkan dan menjadikan sesuatu lebih bermakna untuk kemanusiaan. Ini merupakan suatu proses nilai tambah dalam arti yang sebenarnya secara berkelanjutan. 
Proses pembudayaan dapat diperoleh melalui proses belajar baik dalam bentuk formal maupun informal. Contoh proses belajar secara formal dapat dipelajari melalui keluarga. 

Lebih jauh, Proses belajar kebudayaan yang dilalui manusia diantaranya dapat dilihat sebagai berikut :

1. Proses Internalisasi
Pada proses internalisasi kebudayan diserap ke dalam struktur kesadaran subjektif manusia sehingga menentukan manusia tersebut. Manusia mempelajari kebudayaan tersebut sehingga terbentuk olehnya, mengidentifikasi diri dengannya, serta kebudayaan itu masuk ke dalam dirinya dan menjadi miliknya. Individutidak hanya memiliki kebudayan tersebut tetapi juga mewakili dan menyatakannya. Pada proses ini kita dapat melihat bagaimana fakta objektif dari dunia sosial menjadi fakta subjektif dari individu.

2. Proses Sosialisasi
Berger mengemukakan bahwa sosialisasi adalah proses melalui mana seorang anak belajar menjadi anggota yang berpartisipasi dalam masyarakat. Sosialisasi mengajarkan berbagai peran. Menurut Mead, setiap anggota baru masyarakat harus mempelajari peran-peran yang ada di dalam masyarakat. Proses ini dinamakan pengambilan peran.
Dalam proses ini seorang anak belajar untuk mengetahui peran yang harus dijalankan serta peran yang harus dijalankan orang lain. Melalui penguasaan peran yang ada dalam masyarakat seseorang dapat berhubungan (berinteraksi) dengan orang lain. Pada tahap awal, sosialisasi seorang anak biasanya terbatas pada sejumlah kecil orang lain yang biasanya adalah anggota keluarga (significant others) terutama ayah dan ibu. Namun pada tahap yang lebih jauh, sosialisasi seseorang menjadi lebih luas. Ia telah dianggap mampu mengambil peran-peran yang dijalankan orang lain di dalam masyarakat (generalized others). Seseorang yang tidak mengalami sosialisasi tidak akan dapat berhubungan dengan orang lain.

3. Proses Enkulturasi
 Enkulturasi adalah proses penerusan kebudayaan dari generasi yang satu kepada generasi berikutnya. Melalui enkulturasi manusia mengetahui cara yang secara sosial tepat untuk memenuhi kebutuhannya yang ditentukan secara biologis. Dalam hal ini penting untuk membedakan antara kebutuhan yang bukan hasil belajar (biologis) dengan cara-cara yang dipelajari untuk memenuhinya (kebudayaan). Proses ini dimulai segera sesudah kelahiran. 
Dalam semua masyarakat, pelaksana-pelaksana enkulturasi yang pertama adalah para anggota keluarga tempat seseorang dilahirkan. Setelah umur individu bertambah maka, orang-orang diluar keluarga dilibatkan dalam prosesnya. Pihak-pihak di luar keluarga dapat terlibat secara informal misalnya dalam bentuk kelompok-kelompok bermain atau secara formal misalnya dalam asosiasi-asosiasi usia.

4. Proses Akulturasi
Akulturasi terjadi bila kelompok-kelompok individu yang emiliki kebudayaan yang berbeda saling berhubungan secara langsung dengan intensif, sehingga timbullah kemudian perubahan-perubahan besar pada pola kebudayaan dari salah satu atau kedua kebudayan yang bersangkutan.
Akulturasi dapat terjadi antara kebudayaan dua masyarakat yang posisinya relatif sama, namun juga dapat terjadi antara dua masyarakat yang posisinya tidak sama. Contohnya; pada masa penjajahan, kita melihat bahwa kebudayaan orang Belanda di Indonesia menyerap berbagai unsur Kebudayaan Indonesia seperti cara berbusana, cara makan dan gaya berbahasa.

Penjelasan diatas menunjukkan bahwa kebudayaan mempunyai kemampuan berubah untuk menyesuaikan diri dengan keadaan yang selalu berubah. Fuad Hasan mengemukakan bahwa selama suatu kebudayaan masih memiliki masyarakat yang mengemban kebudayan tersebut, maka setiap tahap di dalam perkembangan kebudayan akan menjadi pijakan bagi perkembangan tahap-tahap selanjutnya. Setiap kebudayaan yang hidup memiliki dua daya yang saling berlawanan yaitu daya preservatif (melestarikan) dan daya progresif (pembaharuan).
Dalam rentang antara dua daya inilah kebudayaan menampilkan sifatnya yang dinamis. Dinamika kebudayaan dalam suatu masyarakat adalah interaksi antara daya preservatif dengan daya progresif, dimana pelestarian dan kemajuan kebudayaan adalah tanggung jawab masyarakat pendukung kebudayaan itu sendiri.



MODUL 3 :

MANUSIA DAN PERADABAN

Sebelumnya telah dipelajari mengenai kebudayaan dan bagaimana keterkaitannya dengan manusia. Sekarang akan dibahas pengertian mengenai peradaban (civilization) yang memiliki keterkaitan dengan kebudayan (culture), dengan manusia serta masyarakatnya, serta juga dengan perubahan yang terjadi dalam arti yang lebih luas. Uraian penjelasan tersebut akan melihat keterkaitan antara peradaban dengan evolusi kebudayaan sebagai salah satu bentuk perubahan, dan juga pengertian gejala perubahan lainnya, seperti modernisasi, globalisasi serta berbagai permasalahan yang muncul berkaitan dengan adanya perubahan-perubahan tersebut.

Materi yang dipelajari pada modulini ditelaah melalui dua disiplin dasar dalam ilmu-ilmu sosial yaitu disiplin ilmu antropologi dan disiplin ilmu sosiologi, karena keduanya digunakan untuk saling melengkapi pengertian dan pemahaman tentang topik pembahasan dalam modul ini. Kegiatan Belajar 1 berisi penjelasan tentang pengertian seperti peradaban, evolusi kebudayaan dan perubahan. Kegiatan Belajar 2 akan dibahas keterkaitan antara manusia dan peradaban.


KEGIATAN BELAJAR 1 :

PERADABAN

A. PENGERTIAN ADAB DAN PERADABAN

Adab dalam kamus Bahasa Indonesia berarti akhlak atau kesopanan dan kehalusan budi pekerti. Manusia yang beradab berarti manusia yang mempunyai akhlak, kesopanan dan budi pekerti. Hal-hal ini merupakan suatu ukuran untuk melihat apakah manusia itu beradab atau sebaliknya "tidak beradab". Tetapi yang menjadi pertanyaan adalah "Siapakah yang mengukur beradab atau tidaknya manusia tersebut?".

Mengenal kata "civilization" atau yang diterjemahkan dalam Bahasa Indonesia sebagai kata peradaban. Kata civilization berasal dari kata civis yang artinya ornag yang tinggal di sebuah kota, dan kata civitas berarti komunitas dimana orang-orang tinggal. Dengan demikian kata "civilization" yang berarti peradaban mengandung gagasan tentang "clification' atau "the coming to be of cities".

Akhlak kesopanan dan budi pekerti adalah suatu konsep yang bersifat normatif, artinya ada tolok ukur yang mengikuti norma-nomra tertentu yang ada didalam suatu masyarakat dan kebudayaan tertentu. Norma adalah sekumpulan gagasan dan juga sekaligus merupakan sekumpulan tingkah laku yang dianggap wajar, serta diterima oleh banyak orang di dalam suatu masyarakat tertentu.
Dengan demikian suatu norma tidak datang dengan sendirinya di dalam suatu masyarakat dan kebudayaan tertentu. Akan tetapi norma adalah produk yang berasal dari suatu masyarakat dan kebudayaan tertentu, yang digunakan oleh masyarakat dan kebudayaan tertentu tersebut untuk mempedomani hidup mereka dalam bermasyarakat dan dalam kehidupan sehari-hari.

Selain norma juga ada nilai-nilai, aturan dan peraturan yang sifatnya lebih jelas terlihat (konkret). Ke semua ini mempunyai fungsi yang sama, seperti halnya norma, dan juga merupakan hasil produk dari kebudayaan dari suatu masyarakat. 
Dengan demikian, setiap masyarakat dan kebudayaan dimanapun di dunia ini dapat menghasilkan produk yang disebut sebagai nilai, norma, aturan dan peraturan menurut kebudayaan mereka masing-masing. Jadi setiap produk dari tiap-tiap masyarakat dan kebudayaan ini dapat berbeda-beda. Hal ini disebabkan masing-masing masyarakat memiliki tingkat kebutuhan yang berbeda-beda sesuai dengan kebudayaan dan peradaban masing-masing masyarakat. Sehingga dapat dikatakan bahwa setiap kebudayaan dan peradaban bersifat sangat khas dan uni, serta tidak dapat dibandingkan satu sama lain.

Peradaban (civilization) didefinisikan Hutington sebagai berikut ; " ..... the highest social grouping of people and the broadest level of cultural Identity people have short of that which distinguish humans from other species ...." 
Dalam penjelasan Huntington tentang hal ini dapat dilihat adanya empat penjabaran :
Pertama, bahwa suatu peradaban berlawanan dengan istilah yang disebut sebagai "barbarisme". Biasanya suatu peradaban, berkaitan dengan ciri urban (kota), hidup menetap dan terpelajar.
Kedua, peradaban merupakan sebuah entitas kultural, di mana di dalamnya tercakup nilai-nilai, norma-norma, pola-pola pikir, institusi-institusi yang menjadi bagian penting dan diwariskan dari generasi ke generasi.
Ketiga, sebuah peradaban adalah suatu totalitas.
Keempat, peradaban adalah fakta kesejarahan yang membentang dalam kurun waktu yang sangat panjang dan memiliki sifat yang dinamis.
Kelima, karena peradaban bukan entitas politik, maka suatu peradaban tidak berpegang pada suatu tatanan, penegakan keadilan, kesejahteraan bersama,upaya perdamaian, mengadakan berbagai negosiasi atau menetapkan berbagai "kebijakan" yang biasa dilakukan oleh suatu pemerintahan. Komposisi politis peradaban yang sangat bervariasi menyajikan peradaban-peradaban di dalam peradaban itu sendiri. Suatu peradaban bisa mencakup satu atau beberapa kesatuan politis. Kesatuan tersebut dapat berupa negara-kota, kekaisaran-kekaisaran, federasi-federasi, konfederasi-konfederasi, negara-negara, atau negara-negara multinasional.

Sebagai contoh adalah Peradaban Islam.  Peradaban ini mulai berkembang dari abad VII M menyebar secara cepat hingga Afrika Utara, Semenanjung Iberia, Asia Tengah, Anak Benua, hingga Asia Tenggara. Sedangkan Peradaban Cina, telah berkembang sejak 1500 SM dan juga diperkirakan beribu-ribu tahun sebelumnya. Sebenarnya istilah/term peradaban Cina diterapkan untuk menggambarkan kebudayaan Cina dan komunitas-komunitas Cina yang tinggal di Asia Tenggara dan yang berada dimanapun di luar daratan Cina.
Kemudian, untuk Peradaban Barat yang muncul sekitar 700 - 800 M, memiliki tiga komponen utama yaitu Eropa, Amerika Utara dan Amerika Latin. Dengan demikian dari beberapa contoh sebelumnya, menurut Christopher Dawson, "......agama-agama besar adalah bangunan-bangunan bagi peradaban-peradaban besar ...." atau dengan kata lain agama adalah karakteristik utama yang mencirikan suatu peradaban.
Penjelasan diperkuat Weber yang menyatakan bahwa empat dari lima agama besar di dunia diasosiasikan dengan peradaban utama, seperti Kristen, Islam, Hindu, Confusianisme, Sedangkan Budhisme tidak termasuk didalamnya, karena terpecah menjadi dua, yang salah satunya adalah Budhisme Mahayana yang antara lain menyebar pada abad 1 M ke Cina, Korea, Vietnam dan Jepang. Di sana ajaran ini terasimilasi dengan kebudayaan setempat.

Sedangkan tokoh lainnya yang berbicara tentang peradaban adalah Ibnu Khaldun, sejarawan Arab; yang menjelaskan peradaban adalah suatu organisasi sosial manusia, kelanjutan dari suatu proses lewat ashbiyah (group feeling, esprit de corps). Dengan demikian peradaban didefinisikan sebagai keseluruhan kompleksitas produk pikiran kelompok manusia yang mengatasi negara, ras, suku atau agama yang membedakannya dari yang lain, tetapi tidak monolitik dengan sendirinya.

Bila kita mengaitkan kebutuhan manusia dan peradaban, maka kita harus melihat bahwa setiap masyarakat dan kebudayaan di dunia ini memiliki kebutuhan hidup yang berbeda-beda sesuai dengan cara hidup, organisasi sosial mereka masing-masing, yang kemudian membentuk kebudayaan dan peradaban Barat, manusia yang dianggap beradab adalah manusia yang berpendidikan, memiliki sopan santun dan berbudaya. 
Contoh kebiasaan makan dan makan malam bersama merupakan salah satu tradisi yang dianggap penting pada masyarakat Barat. Di dalam kesempatan ini seluruh anggota keluarga serta menggunakan Busana yang pantas dan baik. Kebiasaan makan malam bersama ini, diatur oleh sejumlah norma-norma kebiasaan setempat, seperti dalam hal penggunaan berbagai alat-alat makan. Selain itu, adanya hierarki dalam keluarga, dimana setiap anggota keluarga diberi kesempatan untuk mengambil makanan melalui urutan hierarki yang sudah ditetapkan menurut kebudayaan barat. Disamping itu adanya aturan cara makan dengan 'baik', contohnya tidak mengecap, tidak berbicara ketika sedang makan dan lainnya. Ke semua hal ini didalam masyarakat tersebut dianggap sebagai salah satu aspek dari peradaban kebudayaan barat yang dianggap penting dan seharusnya dilakukan dalam kehidupan sehari-hari mereka.

Peradaban barat dalam pengertian sebelumnya, tentunya berbeda dengan peradaban di wilayah-wilayah lain di dunia, seperti peradaban Maya di Tikal, Amerika Latin, peradaban Mesopotamia (Irak dan sekitarnya), Peradaban Cina atau Peradaban Mesir Kuno di masa lampau.
Peradaban Cina di masa lampau menganggap bahwa manusia yang beadab adalah mereka yang mempunyai kemampuan antara lain menguasai kesenian, menulis dan membaca. Serta melakukan tradisi harakiri (aksi membunuh diri), apabila seseorang atau dirinya telah melakukan suatu tindakan yang memalukan masyarakatnya, seperti kalah dalam perang dan kemudian menghunuspedangnya ke arah tubuhnya sendiri atau melakukan tradisi hukum pancung, bila ditemukan seseorang telah berbuat aib bagi masyarakatnya.

Sebaliknya, beberapa ratus tahun yang lalu ketika Columbus dan bangsa-bangsa Eropa menemukan wilayah-wilayah baru di luar daratan Eropa, seperti benua Amerika dan lainnya, maka pada waktu itu, bangsa Barat menganggap bahwa bangsa-bangsa di wilayah tersebut dianggap tidak beradab, antara lain seperti suku-suku bangsa Indian yang memilki cara hidup dan kebudayaan yang sangat berbeda dengan cara hidup dan kebudayaan di Eropa.
Bangsa Eropa pada waktu itu menyebut orang-orang diluar Eropa sebagai bangsa yang buas (barbar) dan tidak memiliki peradaban (uncivilized). Hal ini dikarenakan bangsa Barat mempunyai tolak ukuran penilaian yang sangat berbeda dengan tolak ukr penilaian bangsa Indian dalam konteks kehidupan sehari-hari pada masa itu. Tingkah laku dan cara hidup Orang Indian ini dianggap bertentangan dengan norma-norma kesopanan dan kehalusan budi did alam peradaban Barat. Sehingga pada saat koloni-koloni Barat di bangun di wilayah Amerika, bangsa-bangsa Indian dipaksa untuk mengikuti norma-norma yang ada dalam peradaban bangsa Eropa tersebut, dengan maksud agar mereka lebih beradab. Misalnya orang-orang Indian tidak dapat lagi berpindah-pindah tempat tinggal, tidak mengikuti tradisi mengupas kulit kepala musuh mereka yang kalah perang (scalp), dlsb.

Hal penting dalam suatu peradaban yang perlu dikaji adalah adanya tradisi tulis dan baca (lettered-melek huruf) pada masyarakat tersebut, selain manusia mempunyai akhlak, sopan santun dan memilki budi pekerti. Sedang hal lainnya adalah aspek mitos, religi, bahasa, seni dan ilmu pengetahuan merupakan faktor-faktor penting pembentuk sebuah peradaban. Sebenarnya hal-hal ini sejalan dengan yang pernah diuraikan oleh Koentjaraningrat tentang peradaban (civilization) sebagai berikut :

"... Istilah peradaban dapat kita sejajarkan dengan kata asing 'civilization'. Istilah itu biasanya dipakai untuk bagian-bagian dan unsur-unsur dari kebudayaan yang halus dan indah, seperti kesenian, ilmu pengetahuan, sopan santun dan sistem pergaulan yang kompleks ... Sering juga istilah peradaban dipakai untuk menyebut suatu kebudayaan yang mempunyai sistim teknologi, seni bangunan, seni rupa, sistem kenegaraan dan ilmu pengetahuan yang maju dan kompleks ..."

Dengan demikian, dari penjelasan diatas dapat dipahami bahwa peradaban adalah bagian dari suatu kebudayaan yang memiliki unsur-unsur kebudayaan yang khas yaitu halus, indah, dan kompleks seperti dalam seni, sistem teknologi, ilmu pengetahuan yang maju dan kompleks dan lainnya.


B. PERUBAHAN SOSIAL BUDAYA, EVOLUSI KEBUDAYAAN, DAN PERADABAN

Berbeda dengan uraian sebelumnya, maka menurut Fairchild; peradaban sebagai suatu perkembangan kebudayaan telah mencapai tingkat tertentu yang diperoleh manusia pendukungnya. Dalam uraian Firchild ini tersirat bahwa tingkat tertentu dari suatu peradaban tercermin dari para pendukung suatu kebudayaan, apakah masyarakatnya dapat dikatakan masyarakat yang beradab, tidak beradab (uncivilized) atau kurang beradab. Hal ini sejalan dengan pendapat Lewis Henry Morgan; tentang adanya suatu proses evolusi yang akan dan sudah terjadi di seluruh masyarakat dan kebudayaan di dunia yang terdiri dari beberapa tingkatan :

1. Perubahan
Berdasarkan penjelasan sebelumnya terlihat, bahwa setiap kebudayaan pada masyarakat maupun di dunia ini selalu mengalami proses perubahan dan perkembangan secara sekaligus. Perubahan disini dapat menyangkut tentang berbagai hal, baik perubahan fisik oleh proses alami dan proses perubahan yang ada dalam kehidupan manusia oleh dinamika kehidupan itu sendiri.
Perubahan yang menyangkut kehidupan manusia ini atau terkait dengan lingkungan kehidupannya yang berupa fisik, alam dan sosial disebut perubahan sosial. Perubahan sosial tidak dapat dipelajari terlepas dari lingkupnya, yaitu masyarakat. Tetapi suatu perubahan sosial, tidak selalu merupakan suatu perubahan kebudayaan, walaupun kedua jenis perubahan itu mungkin berjalan bersama.

Robert H Lauer mengutip Moore; terkait dengan perubahan sosial, menyatakan bahwa " ... change as the significant alteration of social structures ...". Disini yang dimaksud dengan social structure atau struktur sosial adalah " ... the patterns of social action and interaction ...". Dengan demikian, perubahan sosial menurutnya adalah perubahan penting dari struktur sosial yang berupa pola-pola perilaku dan interaksi sosial. Tercakup didalamnya berbagai pernyataan tentang struktur seperti norma, nilai dan gejala budaya lainnya. Selain itu, Lauer mengutip Fairchild mengenai gejala yang sama, menyatakan bahwa "... variations of modifications in any aspect of social process, patterns or form ...". Jadi perubahan sosial yang dimaksud adalah "... as an inclusive concept that refers to alterations in social phenomena at various levels of human life from from the individual to the global...". Terjemahannya adalah suatu konsep inklusif yang menunjuk kepada perubahan gejala sosial di berbagai tingkat kehidupan manusia dari mulai tingkat individual sampai global. Dengan demikian, menurut Lauer perubahan sosial dapat dipelajari pada satu atau lebih tahapan dengan menggunakan berbagai bidang studi dan satuan analis.

Sedangkan yang dimaksud sebagai perubahan kebudayaan adalah suatu perubahan yang terjadi pada sistem budaya, bahasa, kesenian dan cita rasa pada suatu masyarakat. Perubahan sistem budaya yang dimaksud adalah perubahan pada sejumlah nilai-nilai, norma-norma yang penting di suatu masyarakat. Proses perubahan kebudayan ini biasanya memakan waktu cukup lama dan biasanya merupakan kelanjutan dari perubahan sosial.

Kehidupan manusia adalah proses dari satu tahap hidup ke tahap hidup lainnya. Karena itu, perubahan sebagai proses dapat menunjukkan perubahan sosial dan perubahan kebudayaan atau keduanya pada satu runtunan proses tersebut. Dengan demikian, secara singkat perubahan dapat dinyatakan sebagai, "...means simply the process of becoming different in any sense...". 

Proses perubahan pada tiap kebudayaan di dunia dapat berjalan secara cepat ataupun lambat. Perubahan yang berjalan secara perlahan dan gradual ini sering tidak dirasakan oleh masyarakat dan perubahan seperti ini disebut sebagai evolusi.
Sedangkan perubahan bentuk lainnya adalah proses perubahan yang berjalan secara cepat, yang sering disebut sebagai revolusi, sehingga mengubah tatanan yang ada sebelumnya. Selain itu perubahan dapat berupa suatu proses involusi seperti temuan Clifford Geertz tentang kasus pertanian dan penduduk di Jawa. Involusi kebudayaan adalah "...a form of innovation that attemps to preserve an extant structure, solving its new problem by "fixing it up" ...The initial survival value of a favorable innovation is conservative in that it tenders possible the maintanance of a traditional way of life in the face of changed circumstances. Thus the likelihoad is that involution wilbe a prevalent form of cultural change ..."
Jadi menurut Geertz, penetrasi kapitalisme Barat terhadap sistem sawah di Jawa membawa kemakmuran di Barat, tetapi mengakibatkan suatu proses tinggal landas, yang berupa peningkatan jumlah penduduk pedesaan.
Kelebihan penduduk ini dapat diserap sawah melalui proses involusi, yaitu suatu kerumitan berlebihan yang semakin rinci yang memungkinkan tiap orang tetap, menerima bagian dari panen, meskipun bagiannya menjadi semakin kecil.

Evolusi adalah suatu proses perubahan dan perkembangan yang berjalan secara lambat dari sesuatu yang sederhana menuju ke arah yang lebih kompleks, memakan waktu yang panjang dan biasanya melalui berbagai tahapan diferensiasi yang sambung menyambung. 
Proses evolusi ini dapat bersifat lancar, seperti suatu pergerakan dari suatu titik ke titik lainnya dalam satu garis saja. Jadi arah perkembangan mengikuti suatu pola yang pasti. Tetapi, proses ini dapat pula bersifat multilinear, yaitu suatu proses perubahan yang mengikuti suatu garis, yang kemudian pada suatu titik tertentu, garis tersebut pecah menjadi cabang-cabang dan kemudian begitu seterusnya. Proses ini seperti evolusi manusia yang terjadi ribuan tahun yang lalu, dari makhluk primata menjadi manusia (homo spiens)

Dengan demikian, evolusi menurut Elman R. Service adalah "... sequences of related forms also basically opposed it to kinds of changes that are chaotic or cataclysmic. This is to say evolutionary change is orderly, which means that it can be analyzed scientifically in terms of cause and effect; and further, that characteristics of any given phenomenon cannot be fully understood, or explained, without knowing something about its ancestry-the antecedent sequence of related forms from which it "unfolded" ...".
Terjemahannya adalah bahwa bentuk tahapan-tahapan yang berkaitan, yang juga macam perubahannya secara mendasar bertentangan, chaos / cataclysmic. Dengan demikian, perubahan evolusi memiliki keteraturan, yang artinya gejalanya dapat dianalisis secara ilmiah dan dalam konteks sebab dan akibat, serta lebih jauh lagi, ciri-ciri gejalanya tidak dapat dipahami dan dijelaskan tanpa mengetahui asal muasalnya - kejadian yang muncul sebelumnya yang berkaitan dengan sesuatu yang sudah ada.


2. Evolusi Kebudayaan dan Peradaban, serta Tahapannya.
Pendapat Elman R. Service, sebagaimana diarahkan diatas. sejalan dengan pendapat Herbert Spencer, seorang ahli filsafat Inggris yang menjelaskan bahwa seluruh alam itu, baik yang berwujud monoorganis, organis maupun yang superorganis akan berevolusi karena didorong oleh kekuatan mutlak yang ia sebut sebagai evolusi universal.
Hal ini terjadi juga pada tiap kebudayaan dan masyarakat yang ada di dunia, dimana spencer melihat perkembangan masyarakat dan kebudayaan dari tiap bangsa di dunia ini telah atau akan melalui tingkatan-tingkatan evolusi yang sama. Disini pemikiran Spencer dapat diklasifikasikan sebagai pemikiran yang bersifat unilinear dengan salah satu karyanya yang menjelaskan bahwa struktur sosial berkembang secara evolusioner dari struktur yang homogen menjadi heterogen. Perubahn struktur ini, kemudian diikuti dengan perubayhan fungsi.
Kelompok suku-suku yang sederhana hidupnya bergerak maju secara evolusioner ke arah ukuran yang lebih besar, keterpaduan, kemajemukan dan kepastian sehingga tejelma suatu bangsa yang beradab. Tetapi menurutnya secara khusus, tiap bagian masyarakat atau sub-sub kebudayaan bisa mengalami proses evolusi pula melalui tingkat-tingkat yang berbeda.

Contoh masyarakat Papua-Irian Jaya mengalami proses perubahan sosial dan budaya yang dapat dikatakan sangat lambat. Ketika di tahun 1960an, sebagian besar masyarakat Papua Irian Jaya masih hidup dengan menggunkan teknologi batu, sedangkan di wilayah lain Indonesia, seperti di Pulau Jawa, temuan artefak yang berupa sisa-sisa teknologi yang hampir sama, sudah ada beberapa ribu tahun yang lampau. 
Hal ini diketahui dengan adanya temuan artefak dan fossil manusia purba di daerah lembah sungai Bengawan Solo dan desa Trinil, Jawa Timur lebih kurang 800.000 - 200.000 tahun yang lampau oleh para arkeolog dan para pakar paleontropologi. Tetapi, pada saat ini setelah lebih kurang 46 tahun, kondisi sosial budaya masyarakat-masyarakat suku-suku bangsa di Papua-irian Jaya sudah banyak berubah, terkecuali di wilayah-wilayah tertentu yang amasih tetap mempertahankan adat dan tradisi masyarakat setempat, seperti pada masyarakat Suku Dani, di distrik Kurulu, wilayah pegunungan Tengah Jayawijaya, Papua Irian Jaya, yang masih tetap mempertahankan holim (koteka) sebagai busana sehari-hari mereka.

Peradaban dapat diartikan sebagai perkembangan budaya yang menjadi ciri khas dan milik manusia sesuatu masyarakat. Peradaban juga dapat berarti tahapan yang tinggi dalam skala evolusi kebudayaan, yang mengacu kepada perbedaan antara manusia yang beradab terhadap mereka yang biadab.
Bila bicara penggunaan istilah peradaban yang lebih akurat, acuannya pada perbandingan antara manusia atau yang lebih beradab terhadap mereka yang kurang beradab. Karakteristik utama acuan tersebutadalah pada perbedaan tingkat intelektual, cita rasa keindahan, penguasaan teknologi dan tingkat spiritual yang dimiliki. Peradaban merupakan tahapan dari evolusi kebudayaan yang tyelah berjalan bertahap dan berkesinambungan yang memperlihatkan karakter yang khas pda tahap tersebut, yang dicirikan oleh kualitas tertentu dari unsur budaya yang menonjol, yang meliputi tingkat ilmu pengetahuan, seni, teknologi dan spiritual yang bersangkutan.
Contoh dalam peradaban Mesir Kuno tercermin tahap hasil budaya yang tinggi dari sosok bangunan (pyramid, sphinx) yang terkait dengan ilmu bangunan, tulisan serta gambar yang memperlihatkan tahap budaya. Dengan demikian, dari uraian sebelumnya dapat dipahami bahwa evolusi kebudayaan dan peradaban merupakan jalur yang sejalan yang dilalui oleh proses perkembangan budaya yang bersangkutan.

Buku The Third Wave karya Alvin Toffler, mengatakan bahwa evolusi kebudayaan terjadi dalam tiga gelombang dalam kehidupan umat manusia.
Pertama, adalah gelombang yang merupakan tahap peradaban pertanian. Kedua, adalah gelombang yang merupakan tahap peradaban industri. Ketiga, adalah gelombang yang merupakan tahap peradaban informasi. 
Pendapat Toffler hampir menyerupai temuan L.H. Morgan yang muncul beberapa dekade sebelumnya, bahwa proses evolusi masyarakat dan kebudayaan apapun di dunia akan atau telah mengalami 8 tahapan, dimulai dari tahapan yang paling sederhana sampai ke tahapan masyarakat dan kebudayaan yang terkompleks.
Dalam melihat proses evolusi tersebut, Morgan tidak mengabaikan kekhususan dan keistimewaan dari perkembangan tiap masyarakat ataupun pengaruh-pengaruh dari luar masyarakat, yang akan mempengaruhi proses evolusi tersebut di dalam tiap masyarakat dan kebudayaannya.

Kedelapan tahapan dalam proses evolusi tersebut adalah :
a. Zaman Liar Tua
Di zaman ini  manusia hidup dari meramu dan mulai ditemukannya api.
b. Zaman Liar Madya
Di zaman ini, manusia sudah menemukan alat untuk menangkap hewan buruan, seperti busur panah, api dan mulai melakukan kegiatan mata pencaharian yang baru yaitu berburu dan menangkap ikan.
c. Zaman Liar Muda
Mulai memiliki kepandaian membuat tembikar
d. Zaman Barbar Tua
Mulai beternak dan bercocok tanam
e. Zaman Barbar Madya
Sudah memiliki kepandaian membuat benda-benda dari logam
f. Zaman Barbar Muda
Mulai mengenal tulisan
g. Zaman Peradaban Purba
Di zaman ini kota-kota mulai berdiri, seperti kota Harrapa dan Mohenjo Daro
h. Zaman Peradaban Masa Kini
Di zaman ini di mulainya industrialisasi.

Pada tahapan-tahapan peradaban menurut L. H. Morgan ini terlihat bahwa setiap kemunculan tahapan ditandai dengan munculnya berbagai teknologi yang baru pada saat itu, misalnya adanya temuan api, tembikar, logam, dan tulisan. Berikut saya sajikan temuan-temuan yang menandai suatu peradaban.

Toynbee mecoba mendeskripsikan sebab-sebab muncul, tumbuh dan gulung tikarnya suatu kebudayaan dan/peradaban dari kesejarahan. Terkait dengan hal ini maka ia menekan sisi "intelligence" (semacam penalaran) studi sejarah, dimana peradaban muncul bila manusia menghadapi situasi sulit yang menantang hingga bertumbuh kegiatan-kegiatan kreatif untuk melakukan usaha-usaha yang tidak terdugadalam proses "challenge and response".
Melalui tantangan itu muncullah peradaban. selnjutnya, bila proses kreatif terus berlanjut, maka akan menumbuhkan tanggapan yang makin canggih dengan kreativitas yang makin optimal. Rangsangan kebudayaan terus diasah dan dipertajamsecara lahiriah dan bathiniah yang progresif.
Selanjutnya suatu peradaban akan mengalami keruntuhan, bila gagal memunculkan kreativitas dalam menghadapitantangan. Puncak keruntuhan terjadi bila ada disintegrasi peradaban, dimana kesatuan sosial pecah dan terjadi ketidakmampuan kebudayaan serta peradaban yang bersangkutan untuk memberi tanggapan kreatif pada tantangan zaman.


3. Peradaban dan Wujudnya.
Peradaban merupakan tahapan yang tertinggi dalam skala evolusi kebudayaan yang telah berjalan bertahap dan berkesinambungan, serta memperlihatkan karakter yang khas pada tahap tersebut, yang dicirikan oleh kualitas tertentu dari unsur-unsur budaya yang menonjol, yang meliputi tingkat ilmu pengetahuan, seni, penguasaan teknologi dan tingkat spiritual yang bersangkutan.
Hal ini telah diungkapan sebelumnya oleh Koentjaraningrat, dimana peradaban dipakai untuk menyebut suatu kebudayaan yang memiliki unsur dan ciri, antara lain memiliki sistem teknologi yang tinggi, memiliki seni rupa, seni bangunan dn aspek seni lainnya yang berkualitas tinggi, serta sistem kenegaraan dan ulmu pengetahuan yang maju dan kompleks. Dengan kata lain, bahwa tidak semua kebudayaan di dunia memiliki kualitas unsur-unsur kebudayaan tertentu untuk menjadi sutu peradaban.
Akan tetapi, karena suatu peradaban adalah suatu kebudayaan pula, maka kebudayaan memiliki tiga wujud kebudayan, yaitu adanya sistem gagasan atau sering disebut sebagai sistem budaya, sistem sosial dan kebudayaan material. 
Selain itu, juga mempunyai tujuh unsur kebudayaan yang bersifat universal, seperti bahasa, sistem pengetahuan, sistem teknologi dan peralatan hidup, sistem organisasi sosial, sistem ekonomi, serta agama dan kepercayaan.
Dalam hal ini beberapa unsur kebudayaan dalam suatu peradaban memiliki kualitas tertentu yang lebih, yang tidak dapat ditemukan pada banyak kebudayaan lain di dunia ini, yang bukan suatu peradaban, seperti telah dijelaskan Koentjaraningrat sebelumnya, 



KEGIATAN BELAJAR 2 :

MANUSIA DAN PERADABAN

A. PENGERTIAN MANUSIA SEBAGAI MAKHLUK BERADAB DAN MASYARAKAT ADAB

Manusia yang beradab berarti manusia yang mempunyai akhlak, kesopanan dan budi pekerti. Ketiga elemen ini tentunya tidak datang dengan sendirinya ketika seorang individu manusia baru lahir, atau dengan kata lain bahwa ketiga elemen tersebut tidak terlahirkan bersama-sama dengan bayi manusia. 
Akan tetapi ketiga elemen ini merupakan bagian dari sistem nilai, norma dan aturan, atau dengan kata lain merupakan bagian dari suatu kebudayaan dari suatu kelompok atau suatu masyarakat, yang kemudian diperkenalkan, diinternalisasikan dan disosialisasikan sejak awal dalam kehidupan seorang individu oleh keluarga, komunitas dan masyarakatnya.
Dengan demikian konsep manusia yang beradab hampir sama dan sebangun dengan konsep manusia yang berbudaya atau dengan kata lain adalah manusia yang memiliki kebudayaan. 

Manusia pada hakikatnya memilki beberapa sifat yang sama seperti beberapa makhluk hidup lainnya yang terbiasa hidup secara kolektif, seperti serigala, singa, primat dan lainnya. Beberapa ciri makhluk hidup yang biasa hidup secara kolektif ini, antara lain, adalah memiliki pembagian kerja yang tetap, tergantung dengan individu lainnya, berkomunikasi, bekerja sama dan memiliki sifat diskriminatif terhadap individu lain di luar kelompoknya.
Sifat-sifat khas hidup secara kolektif inilah yang berperan untuk membentuk suatu masyarakat dan bentuk-bentuk pengelompokkan lebih kecil lainnya, seperti keluarga, kelompok, dan komunitas individu manusia itu sendiri.

Berbicara mengenai masyarakat yang beradab, yaitu tentang pengertian adab. Adab memiliki pengertian akhlak atau kesopanan dan kehalusan budi pekerti. Sedangkan, Apabila kita berbicara tentang masyarakat beradab maka ketiga sifat penting yang menjadi elemen pembentuk manusia yang beradab (akhlak, kesopanan, dan kehalusan budi pekerti) adalah sesuatu yang dengan sendirinya terkandung didalamnya.

Koentjaraningrat mendefinisikan massyarakat sebagai "... kesatuan hidup manusia yang berinteraksimenurut suatu sistem adat istiadat tertentu yang bersifat kontinu dan yang terikat oleh suatu rasa identitas bersama ...". Elemen yang penting untuk membentuk suatu masyarakat antara lain adalah kumpulan-kumpulan individu manusia, interaksi sosial, sistem norma yang berkelanjutan, serta adanya identitas sosial.

Pengertian adab itu sendiri sebenarnya ada di dalam sistem norma atau di dalam kebudayaansuatu masyarakat, yaitu didalam sistem gagasan atau sistem budaya suatu masyarakat. Ketiga elemen dalam pengertian adab sebenarnya merupakan suatu bentuk tolak ukur yang sarat dengan penilaian bagaimana sebaiknya manusia itu harus hidup.

Adab juga ada di dalam konsep identitas suatu masyarakat. Hal ini dikarenakan identitas sosial adalah suatu kumpulan atribut atau simbol bagaimana seseorang individu harus bertindak dan bertingkah laku sebagai bagian dari suatu keluarga, kelompok, komunitas atau bagian dari suatu masyarakat dan kebudayaan tertentu. Misalnya sebagai warga masyarakat Indonesia, maka para individu diharapkan mampu memerankan dirinya khususnya kepada bangsa lain, sebagai manusia yang menjalankan kehidupankeagamaaan dan mempunyai sifat toleransi kepada agama yang berbeda sesuai dengan salah satu falsafah bangsa.
Tetapi dalam hal yang lebih sederhana misalnya kita adalah seorang bapak, maka dengan sendirinya kita harus menjalankan semua kewajiban kita sebagai seorang ayah, yaitu bekerja mencari nafkah, dan mendidik anak. Dengan demikian, nampak bahwa aturan dan norma dalam hidup untuk bagaimana berperan, bertindak dan menjalankan sejumlah kewajibandi masyarakat, keluarga dan kelompok sebenarnya sudah tertanam dalam sistem budaya dan implemantasinya ketika seseorang menjalankan perannya sehari-hari sebagai ayah, WNI, dsb.

Kemudian, bila kita berbicara tentang masyarakat, maka pembicaraan tentang masyarakat selalu terkait dengan istilah kebudayaan itu senidri. Istilah masyarakat tidak dapat dilepaskan dari kebudayaan. Karena itu apabila kita melihat konsep masyarakat dan elemen pembentuknya, maka elemen-elelmen pembentuknya merupakan elemen penting dari konsep kebudayaan itu sendiri.

Pembicaraan tentang kebudayaan perlu "refreshing" kembali, mengingat pentingnya hubungan antara konsep kebudayaan dengan konsep peradaban. Bila kita berbicara tentang kebudayaan, maka konsep ini dapat dipilah menjadi tiga wujud :
Pertama, adalah wujud yang paling abstrak yaitu sistem budaya, yang merupakan gagasan, nilai-nilai, norma, aturan, pandangan hidup dan lainnya; 
Kedua, Sistem sosial adalah kumpulan aktivitas dan tindakan yang berpola dari manusia dalam suatu masyarakat
Ketiga, adalah kebudayaan materi, yaitu benda-benda hasil karya manusia.
Ketiga wujud kebudayaan ini, tentunya juga ada dalam suatu peradaban. Karena peradaban adalah suatu kebudayaan yang memiliki karakter tertentu, yang tidak dimiliki oleh kebudayaan lainnya.

Yang membedakan peradaban dengan kebudayaan hanyalah ciri khasnya, sehingga yang dimaksud dengan masyarakat adab adalah masyarakat dari suatu peradaban tertentu, yang memiliki beberapa unsur kebudayaan yang bersifat halus, kompleks dan memiliki kemampuan yang tinggi.

Setiap masyarakat di dunia ini mempunyai harapan untuk hidup tenteram, nyaman serta sejahtera. Hal ini adalah suatu kebutuhan hidup manusia yang tidak dapat ditawar dan diharapkan dapat terpenuhi. Dengan demikian, biasanya peradaban-peradaban besar di dunia memilki suatu mekanisme untuk mendapatkan hidup yang lebih baik, salah satunya adalah pemimpin yang mereka pilih harus adil, setia, bijaksana dan bertanggung jawab. 
Tetapi, kebutuhan ini bersifat universal. Hal ini dapat terlihat dari pola kepemimpinan dari berbagai tahapan masyarakat, di mana pada sebagian besar masyarakat dunia memiliki pandangan yang sama tentang ciri-ciri ideal dari para pemimpin mereka. Dengan demikian, harapannya adalah bahwa dengan memilki pimpinan yang memilki ciri-ciri ideal tersebut, maka diharapkan masyarakat akan memperoleh hidup yang lebih baik dan lebih berkualitas, yaitu damai, tenteram, tenang dan nyaman.


B. MASYARAKAT MADANI

Kata masyarakat madani muncul dari terjemahan "civil society", yang awalnya diterjemahkan sebagai masyarakat sipil, kemudian disebut masyarakat madani atau masyarakat adab. Sebenarnya konsep itu sudah lama ada dan berasal dari kata Societies Civilize atau Political Society. Konsep ini sebenarnya menekankan adanya hubungan antara pemerintah dan rakyat, kemudian negara dan masyarakat.

Di masa lalu, politik selalu dikaitkan dengan negara, sehingga kemudian muncul konsep Civil Society sebagai arena bagi warga negara yang aktif dalam politik. Tetapi dalam kenyatannya, konsep ini digunakan lebih luas lagi yaitu dikaitkan dengan konsep civilization - peradaban, yang disini berkaitan dengan kualitas suatu masyarakat dan suatu kebudayaan yang ditandai dengan adanya supremasi hukum.
Konsep ini menyangkut suatu ruang gerak masyarakat yang berada di luar negara. Di sini, warga negara dapat secara terus menerus mengembangkan kemandirian di luar institusi negara, yang kemudian merupakan landasan bagi terwujudnya pranata politik formal, seperti partai politik.


C. KETENTRAMAN, KETENANGAN, DAN KENYAMANAN

Berbicara tentang tentram, damai dan tenang pada suatu masyarakat dan kebudayaan atau suatu peradaban tertentu, maka sebenarnya terkait dengan istilah yang disebut sebagai tertib. Salah satu kebutuhan mendasar dari makhluk hidup, termasuk manusia, adalah keamanan. Kondisi aman dapat tercipta apabila tidak terjadi bahaya apapun, baik yang bersumber dari manusia atau makhluk hidup lainnya ataupun dari kondisi alam.
Seperti peperangan dapat dihindari dengan jalan perdamaian. Sesama manusia selalu mengusahakan upaya tertib dan aman, misal tidak menempati dan mengambil tanah orang lain. Selain itu, istilah ini berkaitan dengan istilah lainnya yaitu damai, tenteram dan tenang. Sebenarnya, ketiga istilah ini berkaitan dengan konsep dan mekanisme sistem pengendalian sosial (social control) di dalam masyarakat.

Sistem pengendalian sosial di masyarakat sebenarnya sangat erat terkait dengan kebudayaan di masing-masing masyarakat. Sistem pengendalian sosial di masyarakat bersifat internal dan eksternal. Bentuk mekanisme pengendalian sosial yang bersifat internal biasanya sudah terinternalisasi dan tersosialisasi di dalam masyarakat dalam bentuk pola pencegahan, seperti rasa malu atau rasa takut pada hukuman supernatural.
Sebaliknya sistem pengendalian sosial yang bersifat eksternal berbetuk sistem sanksi yang didasarkan pada tindakan yang diambil oleh anggota masyarakat lain terhadap perilaku yang disetujui atau tidak disetujui oleh masyarakat. Selain itu ada pula sanksi yang berbentuk formal dan dilaksanakan oleh badan politik yang berwenang, yang disebut sebagai hukum.
Dengan demikian dalam menjalankan mekanisme sistem pengendalian sosial diberbagai masyarakat, maka pemeliharaan tata tertib tidak hanya melulu melalui mekanisme hukum saja tetapi juga melalui mekanisme lainnya, yaitu dalam bentuk kepercayaan dan keyakinan setempat, seperti santet dan lainnya. 
Dengan demikian individu didalam masyarakat menjadi takut untuk berbuat salah, misalnya mengambil isteri orang lain, mengambil barang bukan miliknya dan lainnya. Dari contoh ini dapat dilihat bahwa ada mekanisme lain di dalam masyarakat yang dapat bekerja tanpa sistem hukum formal yang ada. Ke semua mekanisme pengendalian sosial ini membuat anggota masyarakat "dipaksa" untuk menjalankan hidup sesuai dengan norma dan aturan yang ada, baik secara tertulis maupun tidak tertulis, sehingga warga menjadi tertib dan memperoleh rasa aman. Dengan demikian, adanya mekanisme pengendalian sosial di masyarakat sebenarnya membawa dampak positif bagi kehidupan bermasyarakat yaitu keadaan yang tertib, tercipta rasa aman, damai, tenang, dan tentram di masyarakat.

Keadaan dan kondisi nyaman sebenarnya berkorelasi dengan perasaan yang aman, damai, tenteram dan tenang dari individu atau suatu komunitas dalam kehidupan sehari-hari mereka di masyarakat. Warga suatu masyarakat dapat melaksanakan kegiatan keseharian mereka dengan baik, tanpa ada tekanan dari perasaan sesuatu yang menghalangi, seperti perasaan was-was, takut dan lainnya.
Disamping itu juga dapat menjalankan kegiatan keseharian mereka dengan perasaan puas. Dengan demikian, kenyamanan mungkin dapat diperoleh apabila keadaan sebelumnya diperoleh, yaitu perasaan aman, tenteram dan tenang. Misal para penumpang pesawat maskapai di Indonesia tidak pernah akan merasa nyaman, apabila mereka tidak merasa yakin mengenai keamanan pesawat yang mereka tumpangi, baik karena teknologi pesawat yang dianggap sudah cukup tua atau karena penumpang mempunyai pengetahuan bahwa maskapai penerbangan sering kali lengah merawat pesawat mereka. 
Walaupun didalam pesawat penumpang diberikan kemewahan sebagai penumpang VIP, misal dengan menu makan yang lengkap dan enak, kualitas tempat duduk penumpang yang sangat baik, pelayanan lainnya yang prima, dengan maksud memberi rasa nyaman ke penumpang, tetapi dalam kasus ini maksud tersebut sulit untuk tercapai, karena permasalahan mendasar yaitu aman tenteram dan tenang belum dapat diperoleh dengan nyata.

Dengan demikian, kondisi kondusif atau kondisi yang tertib, aman dan damai di dalam masyarakat dapat terjadi apabila mekanisme pengendalian sosial di masyarakat berjalan sesuai dengan yang diharapkan oleh masyarakat. Disini maksudnya, mekanisme pengendalian sosial bekerja secara proporsional, baik sistem sanksi yang formal, dalam hal ini hukum, maupun sistem pengendalian sosial yang bersifat internal yang mampu memberhentikan individu untuk bertindak "semau gue".

D. MODERNISASI DN GLOBALISASI

1. Modernisasi
Modernisasi; Koentjaraningrat; mempunyai arti "...usaha untuk hidup sesuai dengan zaman dan kontelasi dunia sekarang ...". Berdasarkan penjelasan tersebut, maka sebenarnya modernisasi tidak akan datang dan terjadi begitu saja, melainkan harus diusahakan dan diupayakan. Modernisasi merupakan usaha sesuai denganzaman konstelasi hidup yang berlangsung sekarang atau kehidupan aktual, bahkan antisipasi terhadap perkembangan serta arus kemajuan yang terus berlangsung.
Perbuatan dan tindakan yang demikian itu bukan suatu kinerja yang spontan, tanpa kemampuan dan tidak bermutu, melainkan merupakan suatu penampilan yang penuh keyakinan dan percaya diri akan kemajuan dan pembaruan yang wajib dilakukan. OLeh karena itu, hal-hal baru dan sedang mengarus dalam kehidupan merupakan masukan yang wajib diolah sesuai dengan kondisi serta tantangan yang menjadi ciri kehidupan dewasa ini. 

Modernisasi; Anthony D. Smith; tidak berbeda dengan apa yang diungkapkan Koentjaraningrat; bahwa modernisasi bukan semata-mata proses yang spontan tanpa perencanaan. Modernisasi ini merupakan proses yang dilandasi oleh seperangkat rencana dan kebijakan yang bertujuan untuk mengubah masyarakat ke arah kehidupan masyarakat yang kontemporer, yang menurut pemikiran para pemimpin lebih maju dalam derajat kehormatan tertentu. Selain itu, modernisasi merupakan proses yang mengangkat kehidupan suasana batin yang lebih baik dan maju daripada kehidupan sebelumnya dan suasana kehidupan yang serasi dengan kemajuan zaman. Oleh karen aitu, pada kehidupan modern tercermin alam pikiran yang rasional, ekonomis, efektif, efisien menuju ke kehidupan yang makin produktif.

Modernisasi adalah suatu bentuk perubahan sosial yang biasanya terarah serta didasarkan atas perencanaan (social planning). Modernisasi merupakan suatu persoalan yang harus dihadapi masyarakat yang bersangkutan. Hal ini berbeda dengan istilah lainnya yang sering dikaitkan, yaitu istilah westernisasi.
Westernisasi adalah suatu usaha untuk meiru gaya dan cara hidup orang Barat. dengan demikian, kedua istilah (modernisasi dan westernisasi) ini sangatlah berbeda dan tidak dapat disamakan.

Tetapi, bila melihat pendapat Keller Light dan Calhoun tentang modernisasi, maka negara-negara terbelakang akan menempuh jalan yang sama dengan negara industri maju di Barat, sehingga kemudian akan menjadi negara berkembang melalui proses modernisasi. Di sini, masyarakat yang belum berkembang perlu mengatasi berbagai kekurangan dan permasalahannya, sehingga dapat mencapai tahap tinggal landas ke arah perkembangan ekonomi.

Proses transisi ini, dari keadaan yang tradisional ke modernitas, melibatkan revolusi demografi, maksudnya di sini antara lain adalah usaha untuk menurunkan angka kematian dan kelahiran, kemudian terbukanya sistem stratifikasi, beralihnya dari struktur feodal ke birokrasi, menurunya pengaruh agama, beralihnya fungsi pendidikan dari keluarga dan komunitas ke sistem pendidikan yang formal, munculnya kebudayaan massa dan munculnya perekonomian pasar serta industrialisasi.


2. Globalisasi
Kemdian, proses perubahan yang sekarang sedang terjadi adalah adanya proses globalisasi. Bila berbicara mengenai proses globalisasi, maka globalisasi dijelaskan sebagai arus informasi dan kemudian tanpa batas terhadap kehidupan masyarakat di dunia.Arus informasi yang berkembang cepat menumbuhkan cakrawala pandangan manusia yang semakin terbuka menembus batas daratan, perairan dan udara di bumi ini 30.
Sedangkan menurut Anthony Giddens; Globalisasi merupakan proses saling ketergantungan masyarakat dunia yang semakin meningkat. Proses peningkatan salingketergantungan masyarakat di dunia ini, ditandai adanya kesenjangan yang besar antara kekayaan dan tingkat hidup masyarakat-masyarakat industri dan masyarakat-masyarakat dunia ketiga. Menurutnya tiap tahun jutaan penduduk akan mati kelaparan, meskipun produksi makanan di seluruh dunia mencukupi. 
Hal ini karena ada sejumlah besar bahan makanan tersimpan atau yang dimusnahkan di negara-negara maju. Gejala perubahan sosial lainnya, menurut Giddens adalah tumbuh dan berkembangnya negara-negara industri baru dan semakin meningkatnya komunikasi antar negara sebagai dampak teknologi komunikasi yang semakin canggih.

Dalam hal ini, teknologi yang sebenarnya merupakan alat bantu kemampuan diri manusia telah menjadi sebuah kekuatan yang otonom yang membelenggu tingkah laku dan gaya hidup manusia pada masa kini. Hal ini dimungkinkan, karena pengaruhnya yang sangat besar serta ditopang sistem sosial yang kuat, atau dengan kata lain oleh masyarakat.
Dalam kecepatan yang semakin tinggi, teknologi telah menjadi pengaruh hidup manusia. Dalam kondisi ini, masyarakat-masyarakat yang tidak mempunyai kemampuan untuk membangun teknologi, cenderung akan menjadi tergantung dan hanya mampu bereaksi terhadap dampak yang ditimbulkan oleh kecanggihan teknologi yang dimiliki oleh masyarakat yang lebih maju.

Globalisasi yang semakin kita rasakan pada saat ini memang makin jelas pengaruhnya, karena didukung kemajuan teknologi yang semakin pesat, khususnya dalam bidang komunikasi dan informasi. Secara tidak disadari hal ini menimbulkan kekacauan yang bersifat normatif.

Norma-norma yang ada dalam masyarakat menjadi simpang siur (anomie) dan manusia mengalami disorientasi, karena ketidakpastian. Dalam kondisi semacam ini, memungkinkan timbulnya respons dalam bentuk "pengaturan-pengaturan" baru yang mengubah tingkah laku budaya manusia tanpa menghilangkan esensi nilai yang dimiliki, misalnya pola tradisi bersilaturahmi dari rumah ke rumah berubah menjadi hubungan jarak jauh melalui telepon.
Namun adopsi norma-norma yang tidak  selaras dengan nilai-nilaiyang dianut, karena ketidakmampuan untuk menolak, menimbulkan kecanggungan dalam tingkah laku sehari-hari dan menimbulkan aliensi-keterasingan, akibat dari tingkah laku yang diadopsi tersebut.

Keadaan yang menggejala di seluruh dunia adalah akibat dari pesatnya teknologi yang secara tidak disadari menimbulkan dampak secara global. Dampak ini, seperti telah dijelaskan sebelumnya, membuat tekonologi mempunyai kekuatan yang otonom dan mampu mempengaruhi gaya hidup manusia, seperti ketergantungan manusia terhadap mobile phone, internet, dan lainnya. Disini, ada dua unsur dimensi dari kemajuan teknologi yang dampaknya besar yaitu power dan speed. Hal ini terlihat dari contoh diatas dimanapun manusia berada, manusia memiliki kemampuan berkomunikasi dengan cepat.

Salah satudampak globalisasi yang terlihat adalah bahwa masyarakat mengalami anomie-dalam hal ini adalah adanya kebingungan pada masyarakat untuk menggunakan norma yang mana, karena banyaknya norma yang ada (heteronomie). Hal inilah yang kemudian memunculkan kompromi sosial, seperti teknologi celana jeans yang awalnya dibuat untuk para pekerja dan sekarang ini digunakan untuk segala lapisan masyarakat di dunia di segala occasion - waktu dan kesempatan.
Contoh lainnya adalah tradisi pola bersilaturrahmi yang dimodifikasi oleh adanya mobile phone - hp, dengan tidak berkunjung atau mengirimkan kartu ucapan, tetapi cukup mengirimkan surat melalui teknologi sms dan hp secara cepat dan ringkas ataupun dengan cara mengirimkan surat email dengan teknologi internet.

Globalisasi menurut Waters; berlangsung di tiga bidang kehidupan yaitu perekonomian, politik dan budaya. Globalisasi ekonomi berlangsung di bidang perdagangan, produksi, investasi, ideologi oraganisasi, pasar modal dan pasar kerja. Sedangkan globalisasi politik terjadi dibidang kedaulatan negara, yang fokus pada pemecahanmasalah, organisasi internasional dan budaya politik. Kemudian, globalisasi budaya terjadi dalam bidang sacriscape (ide keagamaan), ethnoscape (etnisitas), econoscape (pola pertukaran benda berharga), mediascape (produksi dan distribusi gambaran sama ke seluruh dunia) dan leisurescape (pariwisata).
Sebebnarnya yang dijelaskan oleh Waters ini, dapat dilihat gejalanya antara lain dalam bidang perdagangan. Kita melihat maraknya perdagangan antar negara baik yang bersifat "legal", mupun perdagangan yang sifatnya "ilegal". Misalnya perdagangan illegal yang marak disekitar kita adalah apa yang disebur dengan iilegal logging, yaitu perdagangan kayu-kayu yang sebenarnya dilindungi oleh Pemerintah Indonesia karena makin terbatas dan langkanya jenis-jenis kayu-kayu tertentu dikawasan hutan-hutan di Indonesia, seperti kayu besi atau juga disebut sebagai kayu hitam. Tetapi jenis kayu ini tetap diambil secara kasat mata dan diperjualbelikan ke luar Indonesia, walaupun dengan jalan "kucing-kucingan" dengan para petugas. Kemudian, maraknya perdagangan obat dan narkoba yang berasal