KEWIRAUSAHAAN (ADBI4440)

 


DAFTAR ISI

TINJAUAN MATA KULIAH
MODUL 1   : DASAR POLA PIKIR KEWIRAUSAHAAN DAN WIRAUSAHA 
MODUL 2   : USAHA MIKRO, KECIL, DAN MENENGAH
MODUL 3   : STRATEGI MEMBANGUN KEUNGGULAN KOMPETITIF 
MODUL 4   : MERINTIS USAHA BARU DAN PENGEMBANGANNYA 
MODUL 5   : MENENTUKAN BENTUK KEPEMILIKAN BISNIS
MODUL 6   : WARALABA (FRANCHISING)
MODUL 7   : STRATEGI PEMASARAN DAN MANAJEMEN ORGANISASI BISNIS
MODUL 8   : MANAJEMEN OPERASIONAL DAN STRATEGI PENGELOLAAN KEUANGAN
MODUL 9   : PERENCANAAN BISNIS

TINJAUAN MATA KULIAH

Mata kuliah Kewirausahaan lahir karena secara akademik sangat diperlukan. Dalam kerangka perkembangan Ilmu Pengetahuan, Kewirausahaan termasuk dalam kelompok ilmu terapan sebab prinsip-prinsip dari Kewirausahaan sangat bermanfaat dalam meningkatkan kesejahteraan hidup manusia.

Mata kuliah ini memberikan pemahaman yang mendalam dan keterampilan tentang konsep dasar kewirausahaan dan wirausaha serta model proses kewirausahaan; usaha mikro, kecil, dan menengah, strategi pengembangan usaha mikro, kecil, dan menengah, strategi membangun keunggulan kompetitif dan proses manajemen strategis; merintis usaha baru dan pengembangannya; bentuk-bentuk kepemilikan bisnis dan bentuk  kepemilikan usaha lainnya; waralaba; strategi pemasaran, E-Commerce dan kiat pemasaran usaha baru serta manajemen organisasi bisnis dan MSDM; manajemen produksi dan strategi pengelolaan keuangan; penyusunan rencana bisnis dan pengelolaan arus kas


MODUL 1 : DASAR POLA PIKIR KEWIRAUSAHAAN DAN WIRAUSAHA

Dalam banyak literatur, pembahasan mengenai kewirausahaan sudah lama muncul yaitu pada awal abad ke-18. Berdasarkan Soeharto Prawirokusumo dalam Suryana; Istilah Wirausaha pertama kali digunakan oleh Richard Catillon (Irlandia) yang berdiam di Perancis dalam bukunya essai sur la nature du commerce en generale. Dalam buku tersebut  Wirausaha adalah; seorang yang menanggung resiko. Awalnya istilah Wirausaha merupakan sebutan bagi para pedagang yang membeli barang di daerah-daerah yang kemudian menjualnya dengan harga yang tidak pasti. Istilah maupun isu kewirausahaan menjadi populer dalam dunia perdagangan atau bisnis modern di hampir seluruh dunia pada tahun 1980.

Pembicaraan tentang Kewirausahaan sebagai suatu fokus perhatian dan ketertarikan kembali ditekankan; Sebagai suatu kajian yang sangat penting bagi para mahasiswa  bisnis dan manajemen, para pelaku bisnis, akademis, dan pemerintah di berbagai tingkat di seluruh dunia.
Hal ini disebabkan karena dianggap dan diyakini bahwa kemajuan dan kekuatan perekonomian suatu bangsa sangat tergantung pada kemajuan perdagangan dan bisnis. Perdagangan dan bisnis tersebut dapat muncul, maju dan meluas karena peran yang dimainkan oleh faktor kewirausahaan.

KEGIATAN BELAJAR 1 :
KONSEP DASAR KEWIRAUSAHAAN DAN WIRAUSAHA

A. DISIPLIN ILMU KEWIRAUSAHAAN

Ada banyak alasan, mengapa pada akhirnya kewirausahaan dijadikan sebuah ilmu yang diajarkan dalam dunia pendidikan. Prawirokusumo; pendidikan kewirausahaan telah diajarkan sebagai suatu disiplin ilmu yang independen , karena kewirausahaan :
1. berisi bidang pengetahuan yang utuh dan nyata, yaitu terdapat teori, konsep, dan metode ilmiah yang lengkap.
2. memiliki dua konsep, yaitu posisi permulaan dan perkembangan usaha
3. merupakan disiplin ilmu yang memiliki objek tersendiri, yaitu kemampuan  menciptakan sesuatu yang baru dan berbeda.
4. merupakan alat untuk menciptakan pemerataan usaha dan pendapatan, atau kesejahteraan rakyat yang adil dan makmur.

Jika diamatai dari proses perkembangannya, sejak awal abad ke-20, kewirausahaan sudah dikenal di beberapa negara. Di Belanda kewirausahaan dikenal dengan sebutan "ondernemer", sedangkan di Jerman dikenal dengan sebutan "unternehmer". Secara umum, dalam mempelajari ilmu kewirausahaan, kita akan memahami bahwa dalam kewirausahaan banyak tanggung jawab yang harus ditangani, antara lain : tanggung jawab dalam mengambil keputusan yang menyangkut kepentingan teknis, kepemimpinan organisasi dan komersial, penyediaan modal, penerimaan dan penanganan tenaga kerja, pembelian, penjualan, pemasangan iklan, dll.

Pada tahun 1950-an, pendidikan kewirausahaan mulai dirintis di beberapa negara seperti di Eropa, Amerika, Kanada. Bahkan, sejak tahun 1970-an, banyak universitas yang mengajarkan kewirausahaan, manajemen usaha kecil, atau manajemen usaha baru. Pada tahun 1980-an, hampir 500 sekolah di AS memberikan pendidikan kewirausahaan. Di Indonesia, pendidikan kewirausahaan masih terbatas pada beberapa sekolah atau perguruan tinggi tertentu.

B. KEWIRAUSAHAAN DARI BERBAGAI SUDUT PANDANG DAN KONTEKS

Untuk dapat memahami kewirausahaan secara utuh, penting bagi kita untuk meninjau berbagai perspektif bidang ilmu lainnya terhadap kewirausahaan. Ada beberapa pandangan dari berbagai sudut pandang dan konteks mengenai kewirausahaan adalah sebagai berikut :

1. Pandangan ahli ekonomi
Suryana; Menurut ahli ekonomi, wirausaha adalah orang yang mengkombinasikan faktor-faktor produks seperti sumber daya alam, tenaga kerja, material, dan peralatan lainnya untuk meningkatkan nilai yang lebih tinggi dari sebelumnya.
Gunadarma dalam Wiarsih Febriani; Dalam teori ekonomi, studi mengenai kewirausahaan ditekankan pada identifikasi peluang yang terdapat pada peran serta membahas fungsi inovasi dari kewirausahaan dalam menciptakan kombinasi sumber daya ekonomis sehingga memengaruhi ekonomi agregat.

2. Pandangan ahli manajemen
Wirausaha adalah seseorang yang memiliki kemampuan dalam menggunakan dan mengombinasikan sumber daya seperti keuangan, material, tenaga kerja, dan keterampilan untuk menghasilkan produk, proses produksi, bisnis, dan organisasi usaha baru.
Fungsi wirausaha adalah memperkenalkan produk, melaksanakan metode produksi, membuka pasar, membuka bahan/sumber-sumber, dan melaksanakan organisasi baru. Unsur-unsur kewirausahaan meliputi motivasi, visi, komunikasi, optimisme, dorongan semangat, dan kemampuan memanfaatkan peluang.

3. Pandangan pelaku bisnis
Dalam konteks bisnis Sri Edi Swasno dalam Suryana; wirausaha adalah pengusaha, tetapi tidak semua pengusaha adalah wirausaha. 
Wirausaha adalah pelopor dalam bisnis, inovator, penanggung resiko yang mempunyai visi ke depan dan memiliki keunggulan dalam prestasi di bidang usaha.

4. Pandangan psikologi.
Surayana; wirausaha adalah orang yang memiliki dorongan kekuatan dari dalam dirinya untuk memperoleh suatu tujuan serta suka bereksperimen untuk menampilkan kebebasan dirinya di luar kekuasaan orang lain.
Gunadarma dalam Wiarsih Febriani; menjelaskan bahwa dalam bidang ilmu psikologi, studi kewirausahaan meneliti karakteristik kepribadian wirausaha.

5. Pandangan pemodal
Wirausaha adalah orang yang menciptakan kesejahteraan untuk orang lain, menemukan cara-cara baru untuk menggunakan sumber daya, mengurangi pemborosan, dan membuka lapangan kerja yang disenangi masyarakat.


C. OBJEK STUDI KEWIRAUSAHAAN

Objek studi kewirausahaan adalah nilai-nilai dan kemampuan seseorang yang diwujudkan dalam bentuk prilaku. Menurut Soeparman Soemahamidjaja dalam Suryana; kemampuan seseorang yang menjadi objek kewirausahaan meliputi kemampuan :
1. merumuskan tujuan hidup/usaha;
2. memotivasi diri;
3. berinisiatif;
4. berinovasi;
5. membentuk modal material, sosial, dan intelektual;
6. mengatur waktu dan membiasakan diri;
7. mental yang dilandasi agama;
8. membiasakan diri dalam mengambil hikmah dari pengalaman yang baik maupun menyakitkan.

D. BISAKAH KITA MEMPELAJARI KEWIRAUSAHAAN?

Pertanyaan ini tentunya muncul di benak kita semua, dapatkah kewirausahaan dipelajari? Bagaimana peran pendidikan dalam proses pembentukan kewirausahaan?.
Suryana; beberapa puluh tahun yang lalu ada pendapat bahwa kewirausahaan tidak dapat dipelajari dalam arti seseorang akan menjadi wirausaha hanya faktor bawaan atau keturunan. Namun dalam perkembanagan selanjutnya, hasil penelitian menunjuukhan wirausaha.
Di negara maju pertumbuhan wirausaha membawa peningkatan ekonomi yang luar biasa. Para wirausaha baru ini telah memperkaya pasar dengan produk-produk yang inovatif dan memiliki daya saing tinggi.

Sebagai suatu disiplin ilmu, ilmu kewirausahaan dapat dipelajari dan diajarkan sehingga setiap individu memiliki peluang untuk tampil sebagai seorang wirausahawan (entrepreneur). Untuk menjadi wirausaha sukses, memiliki bakat saja tidak cukup, tetapi juga harus memiliki pengetahaun mengenai segala aspek usaha yang akan ditekuninya. Sebagaimanan yang telah dijelaskan sebelumnya, tugas dari wirausaha sangat banyak, antara lain tugas mengambil keputusan, kepemimpinan teknis, dll.

Hal ini didukung oleh pendapat Churchill dalam Gunadarma; masalah pendidikan sangatlah penting bagi kberhasilan wirausaha. Bahkan dia mengatakan bahwa kegagalan pertama dari seorang wirausaha adalah karena dia lebih mengandalkan pengalaman daripada pendidikan. Namun pengalaman juga sangat penting bagi seorang wirausaha, karena sumber kegagalan kedua adalah jika seorang wirausaha hanya bermodalkan pendidikan tapi miskin pengalaman lapangan. Oleh karena itu, perpaduan antara pendidikan dan pengalaman adalah faktor utama yang menentukan keberhailan wirausaha.

Transformasi pengetahuan kewirausahaan terus berkembang. Seiring dengan perkembangan zaman, semakin banyak dilakukan penelitian mengenai teori maupun praktik kewirausahaan. Di Indonesia pun pengetahuan kewirausahaan telah diajarkan baik di sekolah menengah, perguruan tinggi dan berbagai tempat pelatihan maupun kursus bisnis. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa kewirausahaan baik secara keilmuan maupun praktik dapat diajarkan.

Pada akhirnya dapat disimpulkan bahwa seorang wirausaha yang memiliki potensi sukses adalah mereka yang mengerti kegunaan pendidikan untuk menunjang kegiatan serta mau belajar untuk meningkatkan pengetahuan. Lingkungan pendidikan dimanfaatkan oleh wirausaha sebagai sarana untuk mencapai tujuan, pendidikan disini berarti pemahaman suatu masalah yang dilihat dari sudut keilmuan atau teori sebagai landasan berpikir .

Renungan 1 :
"Jika dahulu kewirausahaan dianggap bakat bawaan sejak lahir dan diasah melalui pengalaman langsung di lapangan, maka sekarang ini paradigma tersebut telah bergeser. Kewirausahaan telah menjadi suatu disiplin ilmu yang mempelajari tentang nilai, kemampuan (ability) dan perilaku seseorang dalam menghadapi tantangan hidup untuk memperoleh peluang dengan berbagai resiko yang mungkin dihadapinya".


E. PENGERTIAN KEWIRAUSAHAAN DAN WIRAUSAHA

Menurut Drucker dan Suryana; Kewirausahaan adalah kemampuan menciptakan sesuatu yang baru dan berbeda. Secara epitemologi, kewirausahaan merupakan nilai yang diperlukan untuk memulai suatu usaha atau proses dalam mengerjakan sesuatu yang baru dan berbeda.

Kewirausahaan atau entrepreurship adalah bentuk usaha menciptakan nilai lewat pengakuan terhadap peluang bisnis, manajemen pengambilan risiko yang sesuai dengan peluang yang ada, dan lewat keterampilan komunikasi dan memobilisasi manusia, keuangan, dan sumber daya yang diperlukan untuk membawa sebuah proyek sampai berhasil.

Menurut Zimmerer dalam Suryana; Kewirausahaan adalah penerapan kreativitas dan inovasi untuk memecahkan masalah dan upaya memanfaatkan peluang yang dihadapi setiap hari. Kewirausahaan merupakan gabungan dari kreativitas, inovasi dan keberanian untuk menghadapi risiko yang dilakukan dengan cara kerja keras untuk membentuk dan memelihara usaha baru.

Di bawah ini merupakan pengertian dan definisi wirausaha menurut para ahli :
1. Penrose "Kegiatan kewirausahaan mencakup identifikasi peluang-peluang dalam sistem ekonomi. Kapasitas atau kemampuan manajerial berbeda dengan kapasitas kewirausahaan".
2. Israel Kirzner "Kewirausahaan mengenali dan bertindak terhadap peluang pasar. Entrepreneurship Center at Miami University of Ohio: Kewirausahaan sebagai proses mengidentifikasi, mengembangkan, dan membawa visi ke dalam kehidupan. Visi tersebut bisa berupa ide inovatif, peluang, cara yang lebih baik dalam menjalankan sesuatu".
3. Raymond "Wirausaha adalah orang yang kreatif dan inovatif serta mampu mewujudkannya untuk meningkatkan kesejahteraan diri masyarakat dan lingkungan.
4. Kasmir "Wirausha adalah orang yang berjiwa berani mengambil risiko untuk membuka usaha dalam berbagai kesempatan"
5. Arif H. Hadipranata "Wirausaha adalah sosok pengambil risiko yang diperlukan untuk mengatur dan mengelola bisnis serta menerima keuntungan finansial ataupun non uang"
6. Kathleen "Wirausaha adalah ornag yang mengatur, menjalankan, dan menanggung risiko bagi pekerjaan-pekerjaan yang dilakukannya dalam dunia usaha"
7. Andrew J Dubrin "Wirausaha adalah seseorang yang mendirikan dan menjalankan sebuah usaha yang inovatif (Entrepreneurship is a person who founds and operates an innovative business)"
8. Robbin & Coulter "Kewirausahaan adalah proses di mana seorang individu atau kelompok individu menggunakan upaya terorganisir dan sarana untuk mencari peluang untuk menciptakan nilai dan tumbuh dengan memenuhi keinginan dan kebutuhan melalui inovasi dan keunikan, tidak peduli apa sumber daya yang saat ini dikendalikan" (Entrepreneurship is the process whereby an individual or a group of individuals uses organized efforts and means to pursue opportunities to create value and grow by bulfilling wants and need through innovation and uniqueness, no matter what resources are currently controlled).
9. Soeharto Prawiro "Kewirausahaan adalah suatu nilai yang diperlukan untuk memulai suatu usaha (start-up phase) dan perkembangan usaha (venture growth)"
10. Ahmad Sanusi "Kewirausahaan adalah suatu nilai yang diwujudkan dalam perilaku yang dijadikan sumber daya, tenaga penggerak, tujuan, siasat, kiat, proses, dan hasil bisnis".
11. Jan Baptista Say "Seorang wirausahawan adalah agen yang menyatukan berbagai alat-alat produksi dan menemukan nilai dari produksinya". Frank Knight "Wirausahawan mencoba untuk memprediksi dan menyikapi perubahan pasar. Definisi ini menekankan pada peranan wirausahawan dalam menghadapi ketidakpastian pada dinamika pasar. Seorang wirausahawan disyaratkan untuk melaksanakan fungsi-fungsi manajerial mendasar seperti pengarhan dan pengawasan".
12. Joseph Schumpeter "Wirausahawan adalah seorang inovator yang mengimplementasikan perubahan-perubahan di dalam pasar melalui kombinasi-kombinasi baru. Kombinasi baru tersebut bisa dalam bentuk :
a. memperkenalkan produk baru atau dengan kualitas baru;
b. memperkenalkan metode produksi baru;
c. membuka pasar yang baru (new market);
d. memperoleh sumber pasokan baru dari bahan atau komponen baru;




HUKUM KETENAGAKERJAAN (ADBI4336)

 




DAFTAR ISI

TINJAUAN MATA KULIAH
MODUL 1 : PERKEMBANGAN HUKUM KETENAGAKERJAAN DI INDONESIA
MODUL 2 : HAK-HAK PEKERJA DAN SERIKAT PEKERJA
MODUL 3 : HUBUNGAN KERJA DAN PERJANJIAN
MODUL 4 : PEMUTUSAN HUBUNGAN KERJA
MODUL 5 : KEBIJAKAN PENGUPAHAN
MODUL 6 : KEBIJAKAN OUTSOURCING
MODUL 7 : PERSELISIHAN HUBUNGAN INDUSTRIAL
MODUL 8 : JAMINAN SOSIAL TENAGA KERJA DAN K3
MODUL 9 : PELAKSANAAN UNDANG-UNDANG KETENAGAKERJAAN PASCAPUTUSAN MAHKAMAH KONSTITUSI


MODUL 1 : 
PERKEMBANGAN HUKUM KETENAGAKERJAAN DI INDONESIA

KEGIATAN BELAJAR 1 :
MASALAH PERBURUHAN SEBELUM KEMERDEKAAN

A. MASALAH PERBURUHAN ZAMAN KERAJAAN NUSANTARA

Jika diteliti ke belakang, masalah perburuhan sebelum era kemerdekaan bisa dipelajari sejak berlakunya masa kerajaan di Indonesia dan pada masa penjajahan Belanda serta pendudukan Jepang sebelum berakhirnya Perang Dunia ke 2.

1. Kerajaan Hindu-Budha
Pada permulaan Tarikh Masehi, di wilayah Asia terdapat dua buah negara besar yaitu China dan India. Kedua negara ini memiliki pengaruh besar di kawasan Asia, Indonesia pada saat itu lebih banyak dipengaruhi oleh masuknya kebudayaan India.
Sekitar tahun 400 M bermunculan kerajaan Hindu seperti Kerajaan Hindu Kutai di Kalimantan Timur, Kerajaan Purnawarman dan Kerajaan Padjajaran. Sementara Kerajaan Budha bermunculan seperti Kerajaan Sriwijaya, Syailendra dan beberapa kerajaan lainnya. Peristiwa penting pada era kerajaan Hindu dan Budha adalah terbangunnya candi-candi besar seperti Borobudur dan Prambanan yang dikerjakan oleh masyarakat secara sukarela dan bergotongroyong. Sistem sosial pada saat itu telah terstruktur dalam bentuk kasta, meliputi kasta brahmana sebagai kasta atau golongan masyarakat tertinggi, Kemudian kasta Ksatria, Kasta Waisa, dan Kasta Sudra. Sedangkan kelompok masyarakat pinggiran yang tidak termasuk dalam struktur sosial disebut kelompok paria.
Kasta Brahmana merupakan kasta tertinggi terdiri atas tokoh-tokoh rohaniawan yang terdiri atas para pendeta. Kasta Ksatria terdiri atas kelompok Bangsawan dan tentara  yang dipandang sebagai lapisan kedua tertinggi. Kasta waisa merupakan kasta pedagang yang dianggap sebagai lapisan ketiga. Sementara itu, kasta sudra adalah kasta orang-orang biasa atau rakyat jelata. Orang yang tidak berkasta adalah golongan Paria.

Dengan terbentuknya sistem kasta, maka terbentuk pula hubungan kerja antara kasta tertinggi dan kasta terendah. Bagi kasta brahmana dianggap tabu jika melakukan pekerjaan kasar. Pekerjaan kasar seperti mengangkat batu membangun candi atau pekerjaan pertukangan merupakan pekerjaan yang dianggap pekerjaan rendah dan itu menjadi bagian dari pekerjaan kasta sudra dan golongan paria.
Dengan demikian kelompok masyarakat dalam kasta sudra dan golongan paria yang tidak berkasta melakukan pekerjaan pada orang yang berkasta. Pola hubungan kerja yang berlaku pada saat itu masuk dalam kategori perbudakan. Pada saat itu kasta sudra dan pria berkewajiban melakukan segala pekerjaan dan perintah dari kasta diatasnya tanpa punya hak untuk kepentingan pribadinya. Sementara itu, kasta tertinggi memiliki hak penuh pada penguasaan ekonomi serta memiliki kewenangan untuk menentukan terhadap nasib para budak termasuk hidup dan matinya para budak.

2. Kerajaan Islam
Setelah Islam masuk ke Indonesia, maka berdiri kerajaan-kerajaan Islam seperti Malaka, Demak, Banten, Cirebon, Aceh, Mataram, Makasar, dan kerajaan islam lainnya di kepulauan Maluku. Pada saat itu pengaruh agama Hindu dan Budha masih kuat di masyarakat. Di tanah Jawa misalnya terdapat kelas sosial yang disebutnya trah biru atau garis keturunan bangsawan. Kelompok ini mengidentifikasi dirinya dengan gelar pangeran atau raden yang menunjukkan trah biru. Bagi mereka yang bukan keturunan bangsawan atau raja umumnya merupakan masyarakat biasa yang bekerja sebagai tukang atau petani yang mengabdi kepada majikannya.
Dalam Buku Kaweruh Kalang yang digubah oleh ahli pertukangan Jawa Kuno, bahkan menegaskan betapa bentuk rumah untuk kalangan bangsawan memiliki pola arsitektur dan simbolik yang bersifat khusus dan tidak boleh dibangun oleh kelompok masyarakat biasa. Rumah Joglo, Limasan, serta rumah kampung memiliki bentuk yang khas dan mengidentifikasi derajat penghuninya. Misalnya bentuk umpak, bentuk ukiran, dan bentuk atap itu memiliki ketentuan yang berbeda dan pemakaiannya disesuaikan dengan derajat sosial si penghuninya. Rumah Joglo misalnya untuk kelas bangsawan, rumah limasan untuk kelas menengah dan rumah bentuk panggung P atau rumah kampung itu untuk rakyat biasa. Pola hubungan kerja pada waktu itu meskipun sebutannya bukan budak tetapi praktiknya mirip perbudakan. Karakter para hamba atau abdi raja ini begitu santun dan sangat menghormati majikannya. Mereka lebih banyak melaksanakan kewajiban dari pada menuntut haknya sebagai pekerja.

Konsep Islam sebagai agama yang mengajarkan persamaan hak hidup antar sesama manusia saat itu belum bisa dilaksanakan sepenuhnya karena terhalang oleh budaya sistem kelas sosial yang sudah berlaku berabad-abad lamanya.

3. Zaman Verenigde Ootindische Compagnie (VOC)
Pada abad ke 17 dan 18 Indonesia tidak dikuasai secara langsung oleh pemerintah Belanda, namun oleh perusahaan dagang bernama perusahaan Hindia Timur Belanda, yaitu Verenigde Oostindische Compagnie (VOC). Parlemen Belanda pada tahun 1602 memberi hak monopoli perdagangan dan aktivitas di wilayah kolonial Hindia Belanda pada VOC. Markas VOC berada di Batavia, yang kini bernama Jakarta.

VOC bertujuan mempertahankan monopolinya terhadap perdagangan rempah-rempah di Nusantara. Cara yang ditempuh adalah dengan memberi ancaman kekerasan pada penduduk penghasil rempah-rempah dan terhadap orang-orang non Belanda yang mencoba berdagang dengan para penduduk tersebut. Peristiwa penting pernah terjadi saat penduduk kepulauan Banda menjual biji pala kepada pedagang Inggris, pasukan Belanda membunuh dan mendeportasi hampir seluruh populasi kepulauan Banda. Setelah Pulau Banda di deportasi, kemudian Belanda mendatangkan pekerja dari luar Pulau Banda yang diperlakukan sebagai budak untuk bekerja di perkebunan pala. 
Mereka dituntut untuk menghasilkan rempah-rempah dalam jumlah besar untuk di bawa ke negeri Belanda. Pola hubungan kerja saat itu belum banyak berubah yakni berlaku sistem perbudakan. Hak-hak pekerja sama sekali tidak dihormati karena filosofi kerja yang dianut  VOC saat itu adalah bagaimana melakukan eksploitasi besar-besaran di wilayah kolonial Hindia Belanda.

4. Zaman Hindia Belanda dan Jepang
Pada masa Hindia Belanda, kelompok masyarakat berdasarkan Pasal 163 IS (Indische Staaregeling) di bagi ke dalam 3 golongan, meliputi golongan Eropa, golongan Bumiputera, dan golongan Timur Asing.
a. Golongan Eropa terdidi dari atas :
1) semua orang Belanda
2) semua orang Eropa lainnya
3) Semua orang Jepang yang berasal dari tempat lain yang di negaranya tunduk pada hukum keluarga yang pada pokoknya berdasarkan asas yang sama seperti hukum Belanda.
4) Anak sah dan diakui menurut UU dan yang dimaksud sub 2) dan 3) yang lahir di Hindia Belanda.

b. Golongan Bumiputera;
Semua orang yang termasuk rakyat Indonesia  asli yang tidak beralih pada golongan lain dan yang semula termasuk golongan lain yang telah membaurkan dirinya dengan rakyat Indonesia asli

c. Golongan Timur Asing;
Golongan Timur Asing adalah semua orang yang bukan golongan Eropa dan golongan Bumiputera. Menurut Pasal 131 IS dinyatakan bahwa bagi golongan Eropa berlaku hukum di negara Belanda, yaitu hukum Eropa dan Eropa Barat. Bagi golongan lainnya yaitu Bumiputera dan Timur Asing berlaku hukum adat masing-masing.
Apabila kepentingan umum serta kepentingan sosial mereka menghendaki, hukum golongan Eropa Barat dapat dinyatakan berlaku bagi mereka, baik seutuhnya maupun dengan perubahan-perubahan dan juga diperbolehkan membuat suatu peraturan baru bersama yakni dengan cara penundukan diri.


B. MASALAH-MASALAH POKOK PERBURUHAN SEBELUM INDONESIA MERDEKA

Dalam lapangan hukum ketenagakerjaan pada periode masa penjajahan terdapat berbagai macam masalah antara lain :

1. Perbudakan
Pada masa kerajaan Hindu, Budha, dan Islam di Indonesia meskipun pola hubungan kerja masuk dalam kategori perbudakan namun para pekerja oleh majikannya umumnya disediakan pemondokan, makanan dan lainnya. 
Sedangkan pada masa Hindia Belanda, perbudakan sangat keji dan tidak berprikemanusiaan. Zaman perbudakan adalah zaman dimana orang melakukan pekerjaan di bawah pimpinan orang lain. Ciri yang menonjol adalah buruh/tenaga kerja tidak mempunyai hak apapun, bahkan hak atas hidupnya juga ditentukan oleh tuannya. Hal yang dipunya hanya kewajiban bekerja dan mengikuti perintah dan petunjuk tuannya. Yang sangat menyedihkan pada saat itu adalah belum ada peraturan dari pemerintah yang menetapkan bahwa pemeliharaan budak menjadi kewajiban pemiliknya.
Baru pada Tahun 1817 Pemerintah Hindia Belanda mengatur mengenai perbudakan dengan menetapkan peraturan-peraturan sebagai berikut :
a. Mengadakan larangan memasukkan budak-budak ke pulau Jawa
b. Harus diadakan pendaftaran budak
c. Mengadakan pajak atas pemilikan budak
d. Melarang pengangkutan budak yang masih anak-anak
e. Mengadakan peraturan tentang pendaftaran anak budak.

Kenyataannya, kelima peraturan tersebut di atas belum dapat merubah nasib para budak. Pada tahun 1825 diadakan perbaikan peraturan yang diharapkan dapat merubah nasib para budak tersebut yang intinya adalah bahwa hubungan pemilik dan budak tidak terletak pada baik buruknya perlakuan pemilik budak, tetapi terletak pada hakekat hukum perburuhan iotu sendiri, yaitu mendudukan mereka pada kedudukan yang merdeka secara yuridis, sosiologis, dan ekonomis. 
Secara Yuridis berarti budak menjalankan kewajiban dan diberi haknya sesuai dengan ketentuan peraturan yang ada. Sedangkan secara sosiologis berarti hak dan kewajiban yang diterapkan tersebut diakui dalam masyarakat. Secara ekonomis beraarti hak yang diberikan pada budak tersebut mendapatkan imbalan yang cukup baginya.

Mengenai perbudakan ini menggugah Sir Thomas Stampord Raffles, Gubernur Jenderal Inggris (1811-1816 M) mendirikan The Java Benevolen Institution pada tahun 1816. Lembaga ini bertujuan untuk menghapuskan perbudakan. Maksud baik Raffles ini ditentang pemilik budak yang berpendirian bahwa penghapusan perbudakan merupakan pelanggaran terhadap hak para pemilik budak. Pendapat ini dapat mengesampingkan pendapat pihak lain, yang berbunyi perbudakan adalah kezaliman yang besar terhadap kemanusiaan, merendahkan manusia menjadi barang milik.

Setelah Indonesia kembali diserahkan kepada Belanda, usaha penghapusan perbudak yang dirintis oleh Raffles itu mendapat perhatian dari pemerintah Hindia Belanda. Produknya berupa Staatblad 1817 nomor 42 yang berisikan larangan untuk memasukkan budak-budak ke Pulau Jawa dan tahun 1818 ditetapkan pula UUD Hindia Belanda, yaitu Regeling Reglement (RR) 1818. Berdasarkan pasal 115 RR, menetapkan bahwa paling lambat tanggal 1 Januari 1860, perbudakan di seluruh Hindia Belanda dihapus. Namun niat baik itu tidak sepenuhnya terwujud.

2. Peruluran
Peruluran mulai terjadi setelah Jan Pieterszoon Coen pada tahun 1621 dan 1622 memporakporandakan Pulau Banda, semua penduduk dibunuh atau diangkut keluar sebagai budak. Tanah yang menjadi kosong dibagi dalam kebun-kebun dan diberikan kepada bekas pegawai kompeni dan orang lain. Orang yang diberi kebun (perk) disebut parkenir atau ulur. Mereka itu,dengan dibantu oleh orang-orang Cina dan para budak diharuskan menanam pala yang harus dijual kepada kompeni dengan harga yang ditetapkan oleh kompeni secara sepihak. Wajib menanam dan menjual tanaman tertentu ini kemudian menjadi bagian dari cultur stelsel yang berlangsung sampai dengan tahun 1863.

3. Perhambaan
Perhambaan/pandelingschap yaitu memberikan piutang/gadai pada seseorang dan bila tidak dapat mengembalikan, maka si penerima gadai harus bekerja pada pemberi gadai sampai hutang dan bunganya terlunasi. Orang yang diberi gadai tadi diperlakukan sebagai hamba maka terwujudlah perhambaan.
Saat itu, untuk menebus hal yang digadaikan sebagai jaminan selama belum dilunasi bisa diganti dengan penghambaan pada si pemberi gadai. Perhambaan ini bisa dilakukan langsung oleh si penerima gadai atau orang lain yang  diserahkan untuk melakukan kerja sebagai hamba pada si pemberi gadai. Sepanjang gadai belum dilunasi maka penghambaan akan terus dilakukan karena bersifat sebagai jaminan.
Pekerjaan yang dilakukan oleh seorang hamba untuk kepentingan orang yang meminjamkan uang itu, bisa juga berfungsi untuk melunasi utangnya ataupun untuk mencicil utangnya dan ada juga yang hanya untuk membayar bunganya saja.
Pola perhambaan ini sesungguhnya sama dengan perbudakan. Seorang hamba semacam ini tetap berada dalam kekuasaan pemberi pinjaman. Penghapusan penghambaan ini juga memerlukan waktu yang cukup lama, yaitu kira-kira satu abad. Di beberapa daerah di Tapanuli dan Sulawesi pola perhambaan masih berlaku hingga tahun 1920-an.

4. Rodi (Kerja Paksa)
Kerja Paksa atau Rodi mula-mula bentuknya adalah merupakan pekerjaan secara bersama-sama antara budak-budak atau anggota masyarakat desa. Namun, karena berbagai alasan dan keadaan, kerja bersama tersebut berubah menjadi kerja paksa untuk kepentingan seseorang dengan menerima upah. Kemudian, kepentingan tersebut beralih lagi yakni untuk Gubernemen. Misalnya, pekerjaan untuk mendirikan benteng, pabrik gula, jalan raya seperti antara Anyer sampai Panarukan yang biasa disebut Jalan Daendels. Guna melakukan kepentingan tersebut banyak pekerja yang mati.

Pada Tahun 1813 Raffles berusaha menghapuskan rodi namun usahanya menemui kegagalan. Setelah Indonesia dikembalikan pada Nederlands, kerja rodi bahkan makin diperhebat dan digolongkan menjadi beberapa kelompok yakni :
a. Rodi Gubernemen, yakni budak yang bekerja pada Pemerintah Hindia Belanda tanpa bayaran
b. Rodi perorangan, yakni budak yang bekerja pada pembesar-pembesar Belanda/Raja-Raja di Indonesia
c. Rodi Desa untuk pekerjaan di desa.

Proses hapusnya rodi ini memakan waktu yang lama dan pada tahun 1938 rodi baru dapat dihapuskan. Kerja rodi ini sesungguhnya bertentangan dengan ketentuan Staatblad Nomor 10 Tahun 1819 yang sesungguhnya sudah mengatur masalah hubungan kerja. Syarat-syarat kerja waktu itu menetapkan :
a. Setiap perjanjian kerja harus dibuat secara tertulis dan harus didaftar dikator keresidenan
b. Pendaftaran baru akan diterima apabila ternyata dalam perjanjian kerja tersebut tidak terdapat unsur-unsur pemaksaan, ancaman pemerasan, dan lain sebagainya dan dengan demikian berarti semua persyaratan kerja harus mempunyai kelayakan.
c. Pengawasan terhadap pelaksanaan perjanjian kerja itu harus dilakukan oleh residen dan para pengawas pajak terutama mengenai atau untuk mencegah timbulnya tindakan-tindakan yang bertentangan dengan perjanjian-perjanjian kerja tersebut.
d. Jangka waktu perjanjian paling lama 5 tahun

Perusahaan-perusahaan perkebunan yang ada pada waktu itu sulit untuk mendapatkan buruh disebabkan adanya kerja rodi maka pemerintah terpaksa mencabut peraturan di atas dan menggantikannya dengan Staatblad 1838. Berdasarkan peraturan ini pengusaha dberikan kekuasaan untuk mengadakan perjanjian kerja dengan penguasaan Kepala Desa. Para kepala desa diberikan hak untuk mengerahkan penduduk agar mau bekerja diperusahaan-perusahaan perkebunan.




KEGIATAN BELAJAR 2 :
PERKEMBANGAN HUKUM PERBURUHAN SETELAH KEMERDEKAAN     

Setelah Indonesia merdeka secara bertahap masalah perburuhan/ketenagakerjaan mulai mendapatkan perhatian khusus


KEGIATAN BELAJAR 3 :
ISU-ISU POKOK KETENAGAKERJAAN 

Sejumlah isu penting terkait dengan masalah perburuhan di Indonesia saat ini sekurang-kurangnya ada enam masalah /isu penting
METODE PENELITIAN SOSIAL (ISIP4216)

METODE PENELITIAN SOSIAL (ISIP4216)

Hasil gambar untuk ISIP4216 UNIVERSITAS TERBUKA


MODUL  1 : KAIDAH DASAR ILMU PENGETAHUAN DAN PENELITIAN
(Landasan Koneptual tentang Ilmu Pengetahuan dan penelitian, dan etika penelitian Sosial)
MODUL 2 : RAGAM PENDEKATAN PENELITIAN
(Orientasi dan Objek metode penelitian, dan ragam pendekatan dalam penelitian Sosial)
MODUL 3 : LANGKAH LANGKAH DALAM PENELITIAN
(Langkah-Langkah dalam melakukan penelitian sosial, mulai dari identifikasi masalah penelitian, Klarifikasi variabel penelitian, dan penyusunan kerangka teori)
MODUL 4 : DESAIN PENELITIAN
(Desain penelitian dalam ragam-ragam pendekatan penelitian)
MODUL 5 : POPULASI DAN SAMPEL
(Populasi dan Sampel, dan cara-cara atau teknik –teknik pengambilan sampel)
MODUL 6 : PENGUMPULAN DATA
(Masalah validitasi dan realibitas, macam-macam validitas dan realibitas, dan teknik-teknik mengukurnya)
MODUL 7 : PENGOLAHAN DATA
(Cara mengumpulkan data penelitian)
MODUL 8 : INTERPRESTASI DATA
(Teknik atau cara menganalisa dan menginterprestasikan data penelitian)
MODUL 9 : PENYUSUNAN LAPORAN
(Cara menulis laporan penelitian)

TINJAUAN MATA KULIAH :
Salah satu Karunia Tuhan yang diberikan Kepada Manusia adalah rasa ingin tahu.
Untuk Memenuhi rasa ingin tahunya, manusia memiliki berbagai pilihan cara; filosof berpikir mendalam; Pertapa mencari ilham dan berbagai kekuatan ghaib; ada yang menggunakan istuisinya untukmengira-ngira.
Metode Penelitian (Ilmiah) slah satu cara manusia untuk mencari jawaban dari pertanyaan yang diajukan. Metode penelitian (ilmiah) memiliki kelbihan yang tidak di miliki oleh cara-cara lain.
Penelitian merupakan kegiatan intelektual yang menjadi dasar pengembangan ilmu pengetahuan yang perlu dilakukan secara berkesinambungan.



MODUL 1
KAIDAH DASAR ILMU PENGETAHUAN DAN PENELITIAN.

KEGIATAN BELAJAR 1 : KONSEP DASAR ILMU PENGETAHUAN
A.   HAKIKAT PENGETAHUAN
Orang yang tidak tahu disebut disebut orang yang tidak berpengetahuan, dan orang yang tahu disebut orang yang berpengetahuan. Objeknya disebut pengetahuan (Knowledge).

Pengetahuan adalah jawaban terhadap raa keingintahuan manusia tentang kejadian atau gejala yang terjadi di alam semesta, baik dalam bentuk fakta (abstraksi dari kejadian atau gejala), konsep (kumpulan dari fakta), atau prinsip (rangkaian dari konsep)
Konsep adalah abstraksi yang lebih tinggi dari fakta, berupa tafsiran atau deskripsi keterkaitan (korelasi) antara fakta-fakta.
Pengetahuan berbeda dengan Ilmu Pengetahuan ; Ilmu Pengetaguan pasti berasal dari pengetahuan, tetapi pengetahuan belum tentu bisa menjadi ilmu pengetahuan.

B.    HAKIKAT ILMU PENGETAHUAN
Ilmu Pengetahuan atau Sains (science) adalah pengetahuan yang diperoleh dengan cara tertentu yaitu dengan cara atau metode ilmiah.

Jika pengetahuan didapat dari cara non-ilmiah maka pengetahuan tersebut belum layak disebut sebagai ilmu pengetahuan, contohnya betapa untuk mendapatkan wangsit.

Ilmu pengetahuan dapat juga dilihat sebagai sistem, yaitu bahwa ilmu pengetahuan melibatkan berbagai abstraksi dari kejadian atau gejala yang terjadi dialam semesta dan diatur dalam tatanan yang logis dan sistematik.

Ciri Khusus dari ilmu pengetahuan; didirikan diatas dua pilar utama;
-       Struktur logis sains (the logic structure of science); urutan atau tahapan yang harus dilakukan oleh seorang ilmuwan (scientist) dalam mencari ilmu pengetahuan; urutan itu dikenal sebagai metode ilmiah atau scientific method yang terdiri dari :
1.       Formulasi permasalahan (dalam bentuk hipotesis atau pertanyaan)
2.       Pengumpulan data
3.       Analisis data
4.       Pengambilan keputusan
-       Pengujian terhadap pernyataan; artinya setiap pernyataan dalam sains (dalam bentuk prinsip, teori, hukum, dan lain-lain) harus diuji secara terbuka.

Lima Norma dalam ilmu pengetahuan (Roberto Merton) :
1.    Orisinalitas ; Ilmuwan yang ketahuan mencuri ide orang lain maka akan kehilangan kredibilitasnya sebagai  ilmuwan.
2.    Detachment (Tanpa pamrih / Pemisahan) ; Memiliki arti ketiadaan pamrih, bias, atau prasangka dalam diri seorang ilmuwan dalam melakukan studi atau penelitian. Seorang ilmuwan harus bersifat netral, impersonal, tidak memiliki komitmen psikologis dalam usahanya mengembangkan bidang ilmunya.
3.    Universalitas ; Dalam mempertahankan kebenaran ilmiah seorang ilmuwan :
Tidak boleh berdiri diatas pijakan lain (agama, etnis, ras, faktor sosial maupun personal) selain tradisi ilmiah
Menilai Teori Darwin, Maurice Bucaille menjadi lebih kredibel di kalangan scientis karena membuktikan ilmiah yang menjungkirbalik teori Darwin meskipun juga memberikan bukti supranaturalis dari Kitab Al Qur’an; Ada beda yang tajam antara agama dan sains atau ilmu pengetahuan, baik dari segi terminologi , realitas, paradigma, maupun metode mencari dan mempertahankan kebeanaran.
4.    Skeptisme ; atau ketidakpercayaan/kritis, setiap klaim tentang kebenaran tidak boleh diterima hanya berdasarkan kepercayaan, tetapi harus diuji.
5.    Public accessibility (Terbuka untuk umum) ; Semua temuan dan pengetahuan ilmiah harus terbuka untuk umum.


C.    KESALAHPAHAMAN TENTANG ILMU PENGETAHUAN
Ada Empat Kesalahpahaman tentang Ilmu Pengetahuan :
1.    Tujuan Sains adalah mengumpulkan (mengakumulasikan) fakta.
Fakta memang bahan baku sains paling essensial, tetapi fakta saja tanpa perngorganisasian tidak berguna.
2.    Sains tidak pernah mampu menjelaskan kejadian atau gejala alam secara utuh dan menyeluruh.
Tidak Realistis seorang Ilmuwan berusaha menemukan suatu produk ilmu penegatahuan yang ‘sekali tepuk’ mampu menjelaskan suatu fenomena alam secara utuh dan tuntas.
3.    Kebenaran Ilmu Pengetahuan dianggap (diharapkan) absolut dan abadi.
Adalah tidak benar. Kebenaran dalam sains selalu siap untuk dipertanyakan, diuji, direvisi, atau ditukar sama sekali dengan kebenaran yang baru.
Sains berangkat dari ketidakpercayaan (skpetisisme), sedangkan agama berangkat dari sikap percaya (iman).
4.    Sains harus mempunyai manfaat praktis
Ini tidak benar. Tugas Ilmuwan adalah mencari Ilmu Pengetahuan dan menjelaskan fenomena alam. Ilmu pengetahuan harus dibedakan dengan tehnologi, karena tehnologi memiliki tujuan mencari alternatif praktis terhadap permasalahan manusia.

D.   ILMU PENGETAHUAN SEMU (PSEUDOSCIENCE)
Ada beberapa ciri yang bisa menunjukan bahwa sesuatu itu termasuk pseudoscience, atau seorang itu pseudosaintist bukan saintist.
1.    Dalam pseudoscience digiring berpikir anakronistis
Artinya digiring untuk memeprcayai bahwa apa yang sudah lama ditinggalkan oleh para saintis tulen pada dasarnya masih berlaku atau benar.
2.    Pseudosaintist biasanya cenderung mencari-cari misteri dalam hidup ini
Ada banyak hal di alam ini yang tak akan dipahami.
3.    Pseudoscience juga akrab dengan berbagai mitos.
Psudosaintist gemar menggunkan mitos sebagai pijakan pembenaran (justification) terhadap penomena alam yang ada saat ini.
4.    Pseudosaintist selalu melecehkan bukti-bukti ilmiah.
Jika ada bukti maka diterima, jika ada bukti lain yang memperlemah maka bukti tersebut dicampakan dan menyimpulkan kebenaran tidk bisa dibuktikan secara ilmiah.
Pseudoscience tidak pernah mempunyai suatu hipotesa yang terbuka terhadap kritik apapun, Pseudoscience tidak pernah mengenal hipotesis, sebab apa yang disebut dengan hipotesis harus terbuka untuk diuji kebenarannya atau kesalahannya oleh siapapun
5.    Pseudosaintist suka mencari-cari persamaan antara apa yang dikaji dalam sainstulen dengan hal-hal yang sebenarnya tidak bisa disebut sebagai objek kajian ilmiah.
6.    Dalam pseudoscience juga bisa kita temui usaha untuk mempertahankan kebenaran dengan dalih-dalih apologis penuh bunga-bunga kata.

E.    METODE ILMIAH
Metode Ilmiah (scientific method) adalah cara atau jalan untuk mencari ilmu pengetahuan dengan mengikuti suatu struktur logis ilmiah:
1.    Perumusan masalah
2.    Pengumpulan data yang relevan
3.    Analisis data
4.    Interprestasi temuan
5.    Penarikan kesimpulan temuan

Perbedaan antara Metode Ilmiah dan Metode Non Ilmiah :
1.    Rumusan pertanyaan yang diajukan.
Metode Ilmiah ilmuwan dituntut dan wajib merumuskan pertanyaan-pertanyaan yang ingin dijawab secara jelas.
Metode Non Ilmiah Tidak perlu merumuskan dengan jelas apa sebenarnya yang akan diranyakan.
2.    Ada tidaknya data yang mendukung keabsahan jawaban yang diberikan.
Metode Ilmiah Jawaban apapun yang diberikan harus didukung oleh data yang valid dan dapat dipercaya
Metode Non Ilmiah Tidak perlu mengumpulkan data untuk mendukung jawaban.

KEGIATAN BELAJAR 2 : ETIKA DALAM PENELITIAN SOSIAL
Penyimpangan terhadap Kaidah-kaidah Etika dalam penelitian menyebabkan :
1.    Anggota masyarakat yang berpartisipasi dirugikan baik secara materiil, moril maupun fisik.
2.    Penelitian disangsikan vliditasnya.

A.   ETIKA DAN ETIKET
Etiket adalah : Menyangkut Cara manusia melakukan perbuatan
Etika adalah : Sebuah sitem norma atau kriteria boleh atau tidak boleh suatu tindakan dilakukan.

Pengertian Etiket yang membedakan dengan Etika adalah :
1.    Bersifat Relatif
2.    Hanya berlaku pada pergaulan
3.    Memandang manusia dari sisi lahiriah saja

B.    PERMASALAHAN ETIKA DALAM PENELITIAN SOSIAL
1.    Diskusi – Renungan
2.    Etika Penelitian Sosial
DIENER dan CRANDALL ; adalah sekumpulan kaidah yang membantu peneliti untuk menjunjung tinggi nilai-nilai, dan yang memberi petunjuk mengenai tujuan penelitian mana yang penting serta untuk menyelesaikan pertentangan dalam nilai-nilai dan tujuan penelitian.
3.    Fungsi Etika Penelitian :
1.       Untuk memberikan perlindungan kepada anggota masyarakat yang menjadi objek penelitian.
2.       Memberi petunjuk bagi peneliti dalam melaksanakan tanggungjawabnya.
4.    Etika dalam Penentuan Masalah dan Tujuan Penelitian
Sekalipun Tujuan Awal Penelitian adalah untuk pengembangan Ilmu, kenyataannya tidak semua penelitian dilaksanakan dengan tujuan murni semata-mata untuk mengembangkan ilmu pengetahuan (ada biaya untuk melaksanakn penelitian).
Masalah Etika sudah masuk sejak awal penentuan masalah yang akan diteliti dan Tujuan Penelitiannya.
5.    Etika dalam Pengumpulan Data
BABBIE : empat etika dalam pengumpulan data : Partisipasi Sukarela, Anonimitas, Kerhasaiaan, dan Identitas Penelitian.
BORG dan GALL : Sepuluh Petunjuk etika yang dikeluarkan oleh APA (American Psychological Association) :
1.       Peneliti bertanggungjawab menguji kelayakan penelitian dari segi etika
2.       Mempertimbangkan apakah seorang partisipan dalam penelitian memiliki  resiko tinggi atau rendah
3.       Menjamin pelaksanaan penelitian yang etis.
4.       Kecuali dalam penelitian tidak beresiko , peneliti harus membuat persetujuan yang jelas dan adil yang menerangkan hak dan kewajiban masing-masing pihak.
5.       Mungkin saja metode penelitian memerlukan teknik penyembunyiannya informasi yang seolah-olah membohongi pasrtisipan (deception)
6.       Menghormati hak dan keinginan partisipan untuk mengundurkan diri dari penelitian kapan saja.
7.       Berkewajiabn melindungi partisipan dari ancaman ketidakenakan, luka atau bahaya fisik dan mental yang mungkin timbul dari prosedur-prosedur penelitian.
8.       Setelah data terkumpul, peneliti wajib menjelaskan hal-hal yang belum dijelaskan kepada partisipan mengenai penelitiannya dan menghilangkan salah pengertian yang timbul selama pengumpulan data
9.       Apabila prosedur penelitian menyebabkan hal-hal yang tidak diinginkan, peneliti berkewajiban untuk mendeteksi dan menghilangkan akibat yang tidak diinginkan termsuk untuk jangka panjang.
10.   Informasi yang dikumpulkan dari partisipan adalah rahasia, kecuali jika partisipan memperbolehkan informasinya diungkap.

6.    Etika dalam Analisis Data dan Pelaporan Hasil Penelitian
1.       Merahasiakan identitas partisan penelitian
2.       Cenderung untuk tidak melaporkan hasil penelitian yang tidak sesuai dengan teori yang melatarbelakangi pelaksanaan penelitian.

7.    Kode Etik Survei Opini Publik.
Rambu-Rambu penelitian survei pendapat umum Publik belum ada di Indonesia, Tetapi Asosiasi Penelitian Opini Publik di Amerika telah mempunyai Kode etik penelitian survei pendapat publik.
Di Indonesia dengan tiadanya aturan formal tentang etika penelitian sosial, maka tuntutan keperkaan masalah etika dalam penelitian sosial bagi para peneliti di Indonesia menjadi semakin besar.



MODUL 2
RAGAM PENDEKATAN PENELITIAN.
Ilmu pengetahuan adalah usaha yang bersifat multideminsional, yang karenanya dapat diefinisikan dalam berbagai cara, yang masing-masing definisi  tidak merupakan definisi yang tuntas.

KEGIATAN BELAJAR 1 : ORIENTASI DALAM METODE PENELITIAN DAN OBJEK PENELITIAN SOSIAL
A.   ORIENTASI DALAM METODE PENELITIAN
Untuk memahami Ilmu pengetahuan ada beberapa cara yang dianggap penting :
-       Penekanan pada cara berpikir (sikap ilmiah)
-       Pentingnya cara untuk melakukan sesuatu (metode ilmiah)
-       Pentingnya hasil-hasil penerapan metode-metode ilmiah (kumpulan pengetahuan yang tersusun secara sistematis dan runut)
Ketiga penekanan/yang dianggap tersebut diatas adalah materi yang biasa dibahas dalam Filsfat Ilmu Pengetahuan; merupakan jawaban dari maslah pokok mengenai pengetahuan yang bernar :
1.    Apakah pengetahuan yang benar itu?; untuk memperoleh kebenaran
2.    Dapatkah manusia mencapai pengetahuan yang benar, jika dapat bagaimana caranya?; cara mencapai kebenaran

Sejarah perkembangan ilmu-ilmu; mula-mula semua ilmu pengetahuan berada satu atap; yaitu philosophia.

Proses menjadi dewasa dan mandirinya ilmu pengetahuan berlangsung sedikit demi sedikit.
Ilmu-ilmu pengetahuan yang tidak secara langsung mempersoalkan hidup dan kehidupan manusia seperti matematika, fisika, astronomi, dapat melepaskan diri terlebih dahulu ; disebut ilmu-ilmu yang lebih tua
Ilmu-ilmu pengetahuan yang langsung mempersoalkan hidup dan kehidupan manusia seperti ilmu hukum, sosiologi, psikologi, sejarah, sastra dan sebagainya baru lepas belakangan dan menjadi ilmu pengetahuan yang mandiri; disebut ilmu-ilmu yang lebih muda

Ilmu-Ilmu yang lebih tua sering mempengaruhi perkembangan ilmu-ilmu yang lebih muda. Secara garis besar pengaruhnya :
1.    Pengaruh Langsung; bila ilmu yang lebih muda mengambil meniru konsep-konsep yang lebih tua contoh penggunaan : individu, stimulus, respon, atau reaksi, dsb.
2.    Pengaruh tidak langsung; bila ilmu yang lebih muda meniru dan menggunakan metode yang digunakan ilmu yang lebih tua.
Contoh penggunaan metode observasi, eksperimen, analisis kuantitatif, analisis kualitatif.
Bridgman; Pemikir dalam ilmu fisika yang banyak berpengaruh dalam metode penelitian.
Operasionisme; Pandangan Bridgman; Perubahan cara berpikir (Newton ke Einstein) menimbulkan banyak kejutan pada ahli fisika.
Definisi Operasional; Definisi Model Bridgman; bertujuan adalah untuk membuat jelas semua konsep yaitu memastikan bahwa konsep-konsep tersebut telah mempunyai acuan operasi yang jelas.

Aspek Penting dalam Metode Penelitian :
1.    Konsep yang akan digunakan harus didefinisikan secara operasional (operasionalisasi konsep)
2.    Kuiantifikasi (Kuantitatif)

Stevens; menggolonkan skala pengukuran menjadi :
1.    Skala Nominal
2.    Skala Ordinal
3.    Skala Interval
4.    Skala Nisbah (rasio)

B.    OBJEK PENELITIAN ILMU SOSIAL
Konsep umum yang mendasari studi ilmu sosial adalah perilaku manusia.
Objek yang menjadi perhatian dalam mempelajari perilaku manusia adalah cara manusia berkembang secara psikologis, bagaimana mereka berpikir, berinteraksi dengan lingkungannya, mengorganisasikan masyarakatnya memenuhi kebutuhan hidupnya dan menyelesaikan pertentangan atau konflik.
Ringkasnya; Konsep umum yang mendasari studi ilmu sosial adalah proses dan perilaku manusia dalam kehidupan sosial, budaya, ekonomi dan politiknya.

Karena penelitian ini adalah penelitian ilmu sosial, maka objeknya adalah perilaku manusia.

Pokok-Pokok masalah yang diteliti oleh beberapa disiplin ilmu sosial :
1.    Ilmu Politik
Mengkaji salah satu aspek dari kehidupan masyarakat yang berhubungan dengan kekuasaan (power), kekuatan atau wibawa, kewenangan (authority), dominasi dan penaklukan (sub-ordination) dikalangan anggota masyarakat.
2.    Antropologi
Mengkaji manusia dan kebudayaan. Antropologi mempelajari segala jenis manusia dari segala tempat dan zaman secara holistik dan menyeluruh.
3.    Sosiologi
Mengkaji faktor-faktor yang mempertahankan stabilitas dalam suatu masyarakat dan faktor-faktor yang membawa perubahan bahkan kehancuran suatu masyarakat.
Penekanan kajian sosiologi adalah perilaku pada unit kolektif atau masyarakat, bukan individu.
4.    Psikologi
Brhubungan dengan perilaku tapi dalam penekannan individu. Perilaku yang muncul dari dalam diri manusia sendiri, bukan paksaan dari luar.
5.    Ilmu Komunikasi
Berhubungan dengan perilaku individu dalam berkomunikasi

KEGIATAN BELAJAR 2 : PENDEKATAN DALAM PENELITIAN
Pendekatan dalam penelitian adalah salah satu bagian dari keseluruhan proses penelitian.
Pendekatan penelitian menjadi dasar penetapan desain penelitian; harus dipilih secara cermat.
Pendekatan Penelitian yang tidak pas, akan mengakibatkan hasil penelitian melenceng dari tujuan yang diharapkan.

A.   PENGERTIAN PENDEKATAN
Pendekatan berbeda dengan metode.
Pendekatan Penelitian adalah Refleksi struktur berpikir yang tersistematis dalam suatu bentuk atau jenis penelitian yang akan dilakukan, yang dipandang paling tepat untuk menjawab keingintahuan terhadap suatu hal.
Pendekatan Penelitian berhubungan dengan :
-          Jenis informasi apa yang diperlukan
-          Dari siapa informasi dikumpulkan
-          Bagaimana informasi dikumpulkan.
Pendekatan penelitian bisa berbeda antara dua penliti dalam satu disiplin ilmu.

B.    PENDEKATAN DAN METODE PENELITIAN
Pendekatan Penelitian dipilih bergantung jenis informasi yang diperlukan.
Metode apa yang dipakai tergantung cara dipilih untuk mengumpulkan informasi.
Meneliti semua penduduk suatu negara berarti melakukan sensus.
Meneliti sejumlah penduduk suatu negara berarti melakukan survei.
Sensus dan Suevei adalah contoh pendekatan penelitian.

C.    MEMILIH PENDEKATAN PENELITIAN
Tergantung pada jawaban atas pertanyaan berikut;
1.       APAKAH INFORMASI YANG KITA PERLUKAN SUDAH TERSEDIA ?
Informasi dari data statistik yang tersedia, laporan tahunan, dan dokumen penting sangat diperlukan karena merupakan sumber data sekunder.
Jika informasi belum tersedia maka memerlukan pengumpulan data. Informasi belum tersedia tersebut disebut data primer.
2.       MENGAPA KITA MEMERLUKAN INFORMASI ?
Ingin tahu, memahami, menerangkan, dan jika mungkin mencari sebab manusia bersikap, berpendapat, dan berperilaku tertentu maka untuk menjawab semua itu informasi diperlukan.
3.       POPULASI SEPERTI APA YANG HENDAK KITA TERANGKAN ?
Dengan mempetimbangkan :
a.       Apakah penelitian untuk individu, sekelompok orang saja, atau digeneralisasikan pada populasi tertentu
b.      Apakah kesimpulan ditarik, diberlakukan untuk sejumlah individu, lembaga, atau masyarakat.

4.       SUMBER DAYA APA YANG KITA MILKI DAN DAPAT KITA KERAHKAN ?

D.   RAGAM PENDEKATAN PENELITIAN
1.       PENDEKATAN PENELITIAN HISTORIS
Jika penelitian bertujuan untuk membuat rekonstruksi masa lampau secara sistematik dan objektif
2.       PENDEKATAN PENELITIAN DESKRIPTIF
(Penelitian survey): Untuk membuat deskripsi mengenai situasi-situasi atau kejadian-kejadian.
3.       PENDEKATAN PENELITIAN PERKEMBANGAN
Penelitian bertujuan untuk menyelidiki pola dan perurutan pertumbuhan dan atau perubahan (faktor-faktor yang diteliti)
4.       PENDEKATAN PENELITIAN KASUS DAN PENELITIAN LAPANGAN
Penelitian bertujuan mempelajari secara intensif latar belakang keadaan sekarang, dan interaksi lingkungan suatu unit sosial, individu, kelompok, lembaga atau masyarakat
5.       PENDEKATAN PENELITIAN KORELASIONAL
Penelitian bermaksud mendeteksi sejauh mana variasi-variasi pada satu atau lebih variabel penelitian lain
6.       PENDEKATAN PENELITIAN KAUSAL KOMPARATIF
Meneliti kemungkinan saling hubungan sebab akibat antara variabel penelitian dengan variabel penelitian lainnya, dengan cara meneliti akibat yang ada dan mencariu kembali faktor-faktor yang menjadi penyebabnya.
7.       PENDEKATAN PENELITIAN EKSPERIMENTAL SUNGGUHAN (TRUE EXPERIMENTAL RESEARCH)
Meneliti kemungkinan saling hubungan sebab akibat antara variabel penelitian dengan variabel penelitian lainnya, dengan cara mengenakan kepada satu atau lebih kelompok ekperimental dengan satu atau lebih kondisi perlakukan dan membandingkan hasilnya dengan satu atau lebih kelompok kontrol yang tidak disertai kondisi perlakuan.
8.       PENDEKATAN PENELITIAN EKSPERIMENTAL SEMU (QUASI EXPERIMENTAL RESEARCH)
(Mirip dengan eksperimental), dilakukan karena keadaan yang tidak memungkinkan untuk mengontrol dan atau memanipulasi semua variabel yang relevan
9.       PENDEKATAN PENELITIAN KAJI TINDAK (ACTION RESEARCH)
Penelitian bertujuan mengembangkan keterampilan-keterampilan baru atau cara pendekatan baru dan untuk ememcahkan masalah dengan penerapan langsung pada dunia kerja atau dunia aktual lainnya


E.    TUGAS-TUGAS ILMU DAN PENELITIAN
Tugas Ilmu dan Penelitian adalah Identik, secara singkat sebagai berikut.
1.       Tugas Mendeskripsikan
Menggambarkan secara jelas dan cermat hal-hal yang dipersoalkannya.
2.       Tugas Menerangkan
Menerangkan kondisi-kondisi yang mendasari terjadinya peristiwa-peristiwa.
3.       Tugas Menyusun Teori
Mencari dan merumuskan hukum-hukum atau aturan-aturan mengenai hubungan antara kondisi yang satu dengan kondisi yang lain ayau hubungan antara satu perisitiwa dengan peristiwa lainnya.
4.       Tugas Memprediksi
Membuat prediksi, estimasi, dan proyeksi mengenai peristiwa-peristiwa yang bakal terjadi atau gejala-gejala yang bakal muncul.
5.       Tugas Mengendalikan
Melakukan tindakan guna mengendalikan peristiwa-peristiwa atau gejala-gejala
Kelima tugas dari ilmu dan penelitian tersebut digunakan sebagai kreteria untuk menentukan bobot suatu karya keilmuan.

MODUL 3
LANGKAH-LANGKAH DALAM  PENELITIAN.
Langkah-langkah penelitian perlu dipelajari karena penelitian adalah suatu proses; yaitu suatu rangkaian langkah-langkah yang dilakukan secara terencana dan sistematis guna mendapatkan pemecahan masalah atau mendapatkan jawaban atas pertanyaan-pertanyaan penelitian.

KEGIATAN BELAJAR 1 : PREPOSISI PENELITIAN
A.   PREPOSISI
Preposisi adalah ; Suatu pernyataan yang tediri dari satu atau lebih konsep atau variabel.
-          Terdiri satu Konsep/Variabel disebut Preposisi Univariat
-          Terdiri dua Konsep/Variabel disebut Preposisi Bivariat
-          Terdiri satu Konsep/Variabel disebut Preposisi Univariat
-           Terdiri lebih dari dua  Konsep/Variabel disebut Preposisi Multivariat

Contoh :
Univariat     : 80% mahasiswa UT sudah bekerja
Bivariat       : Mahasiswa UT yang sudah bekerja
                                         cenderung  lebih sering lupa
                                         melakukan registrasi ulang
Multivariat   ; Mahasiswa UT yang sudah bekerja cenderung  lebih sering lupa melakukan registrasi ulang, sehingga masa studinya lebih lama dibanding Mahasiswa UT yang tidak bekerja.

JENIS PREPOSISI YANG LAZIM DAN DIKENAL :
1.         AKSIOMA
Pernyataan yang sudah diterima sebagai kebenaran dan berlaku dan tidka memerlukan pengujian.  Konotasi lebih matematis (Ilmu eksakta)
2.         POSTULAT
Sama dengan aksioma. Lebih sering digunakan untuk pernyataan yang kebenaran (Berlakunya) terbukti secara empirik
3.         TEOREM
Pernyataan yang dideduksikan dari sejumlah aksioma atau postulat.
4.         HOPOTESIS
Pernyataan yang bentuknya dapat diuji dan memprediksi suatu hubungan tertentu antara dua variabel atau lebih. Kebenarannya harus diuji secara empirik.
5.         GENERALIST EMPIRIK
Pernyataan yang disimpulkan secara induktif dari sejumlah data yang diperoleh dari suatu hasil penelitian.

B.    TEORI DAN PEMBENTUKANNYA
Teori adalah Serangkaian Konsep dalam bentuk preposisi-preposisi yang saling berkaitan, bertujuan untuk memberikan gambaran yang sistematik tentang suatu gejala.

Sumber Teori  dari teori-teori lain yang ada, pengamatan dan penelitian, akal sehat (common sense) mengenai suatu gejala.

Pembentukan suatu Teori melalui dua proses berpikir:
1.         Proses Berpikir Induksi
Proses pembentukan teori melalui penarikan kesimpulan secara umum dari gejala khusus.
2.         Proses Berpikir Deduksi
Proses pembentukan teori melalui penarikan kesimpulan secara khusu dari gejala umum.
Dikenal juga dengan Silogisme yaitu suatu argumentasi yang terdiri dari tiga buah preposisi
-          Preposisi pertama (premis mayor); pernyataan bersifat umum
-          Preposisi kedua (premis minor); pernyataan bersifat khusus
-          Preposisi ketiga (konklusi); kesimpulan
Agar konklusi benar, premis major dan minor harus benar.
Salah Satu ayat Silogisme ; premis minor harus merupakan bagian dari premis major.
Premis Major  : Semua S adalah P
Premis Minor  : S1 adalah bagian dari S
Konklusi             : S1 adalah juga bagian dari P

TUJUH JENIS PENJELASAN :
1.         GENETIK
Penjelasan mengapa suatu gejala ada, dan bagaimana bentuknya saat ini.
2.         INTENSIONAL
Penjelasanmengenai apa yang mendasari atau menjadi tujuan perilaku seseorang
3.         DISPOSISIONAL
Biasanya dilakukan untuk meneliti perilaku individual, yaitu dengan cara menjelaskan mengapa seseorang memiliki kecendrungan berprilaku tertentu
4.         FUNGSIONAL
Suatau gejala yang dijelaskan dianggap nerupakan bagian dari suatu gejala lainyang lebih luas.
5.         MELALUI GENERALISASI EMPIRIK
Penjelasan yang dibuat dengan cara menyimpulkan hubungan diantara sejumlah gejala melaui pengamatan hubungan gejala-gejala tersebut dari beberapa keadaan atau kasus yang lebih kecil atau terbatas, kemudian meningkat ke sejumlah keadaan atau kasus yang lebih nesar atau lebih luas.
6.         MELALUI ALASAN
Mirip intensional dan disposisional, yaitu memberikan penjelasan mengenai perilaku seseorang dengan cara menanyakan yang bersangkutan alasan melakukannya.
7.         TEORI FORMAL
Teori yang dibentuk secara deduksi, menekankan kepada adanya aturan hukum seperti halnya pada ilmu eksakta. Teori formal mencakup :
a.       Aksioma
b.      Teorem


C.    KONSEP DAN VARIABEL
1.    KONSEP
Konsep Adalah sebagai ide, penggambaran atau deskripsi dari hal-hal atau benda-benda atau gejala-gejala sosial, yang dinyatakan dalam kata atau istilah. Konsep terbentuk melalui proses abstraksi dan generalisasi.
Abstraksi adalah suatu proses menarik intisari dari ide-ide, hal-hal, benda-benda, atau gejala-gejala sosial.
Generalisasi adalah suatu aktivitas menarik kesimpulan umum dari sejumlah ide-ide, hal-hal, benda-benda, atau gejala-gejala sosial.
Ciri Konsep adalah bersifat umum; sehingga memungkinkan terjadi perubahan-perubahan tanpa harus membuat konsep baru.
Definisi adalah pernyataan yang dapat mengartikan atau memberi makna suatu istilah atau makna tertentu.

Untuk membuat definisi yang baik, jal perlu diperhatikan adalah bahwa definisi :
1.    Tidak mengandung istilah atau konsep yang didefinisikan, atau mengandung istilah yang sinonim, atau isitlah yang berhubungan erat dengan apa yng didefinisikan
2.    Tidak dirumuskan dalam bentuk kalimat negatif
3.    Dinyatakan dalam bahasa yang sederhana, jelas dan rinci agar mudah dimengerti oleh orang lain.

2.    VARIABEL
Konsep yang sudah didefinisikan harus dapat diamati dan diukur, maka untuk itu lebih dahulu diubah menjadi Konsep yang Kongkret yang dapat dioperasionalkan (Operasionalisasi Konsep).
Konsep yang sudah konkret ini dikenal dengan nama Variabel ; yaitu Konsep yang mempunyai Variasi Nilai.

Variabel memiliki simbol atau lambang yang kita letakan yang berbentuk bilangan atau nilai.

Selain memiliki nilai, variabel dapat berbentuk :
VARIABEL DIKOTOMI : adalah varibael-variabel yang hanya memiliki 2 nilai.
VARIABEL POLITOMI : adalah variabel yang memiliki satu sifat (nilai)
VARIABEL KONTINYU : adalah variabel yang memilki nilaio kontinyu. Misalnya variabel kecerdasan; kecerdasan tinddi, sedang, rendah.

KEGIATAN BELAJAR 2 : LANGKAH-LANGKAH PENELITIAN

LANGKAH 1 : IDENTIFIKASI, PEMILIHAN, DAN PERUMUSAN MASALAH
Masalah akan muncul jika ada kesenjangan antara das sollen (apa yang seharusnya/harapan/diperlukan) dengan das sein (apa yang ada dalam kenyataan/kenyataan/tersedia)

IDENTIFIKASI MASALAH
Dari banyaknya masalah yang tersedia tinggal peneliti mengindentifikasinya.
Hal-Hal yang dapat menjadi Sumber masalah :
1.         Bacaan
Terutama Hasil Laporan Penelitian
2.         Seminar, Diskusi, dan pertemuan ilmiah
3.         Pernyataan pemegang otoritas
Baik otoritas pemerintahan, maupun pemegang otoritas dalam ilmu tertentu
4.         Pengamatan sepintas
5.         Pengalaman Pribadi
6.         Perasaan intuitif
Muncul dalam pemikiran peneliti ketika bangun tidur, atau ketika sedang istirahat.

PEMILIHAN MASALAH
Pertimbangan untuk menentukan apakah suatu masalah layak dan sesuai untuk diteliti atau tidak, pada dasarnya dilakukan dari dua sisi :
1.         Dari sisi masalahnya
Sejauh mana penelitian masalah memberi sumbangan kepada :
a.       Pengembangan teori dalam bidang berkaitan dengan dasar teoritik penelitian
b.      Pemecahan masalah-masalah praktis
2.         Dari sisi calon peneliti
Manageabel atau tidak dengan calon peneliti. Manageability terutama terlihat dari lima segi :
a.       Biaya yang tersedia
b.      Waktu yang digunakan
c.       Alat dan pelengkapan tersedia
d.      Bekal kemampuan teoretik
e.      Penggunaan metode yang diperlukan.

A.   PERUMUSAN MASALAH
1.         Maslah hendaknya dirumuskan dalam bentuk kalimat tanya
2.         Rumusan masalah padat dan jelas
3.         Memberi petunjuk tentang kemungkinan mengumpulkan data guna menjawab pertanyaan yang terkadnung di rumusan.

LANGKAH 2 : PENELAAHAN PUSTAKA ATAU LANDASAN TEORI
Landasan Teori diperlukan agar penelitian dilakukan memiliki dasar yang kokoh dan bukan sekedar coba-coba (trial and error). Untuk memperoleh informasi tentang berbagai hal maka perlu melakukan telaah pustaka.
Pengelompokan Sumber bacaan; Sumber acuan umum dan sumber acuan khusus
Dua Kriteria dalam memilih Sumber Bacaan; prinsip kemutakhiran (recency) dan prinsip relevan.
LANGKAH 3 : PENYUSUNAN HIPOTESIS
Hipotesis adalah jawaban sementara terhadap permasalahan penelitian, yang kebenarannya masih harus diuji secara empirik
Perumusan Hipotesa sebaiknya :
1.         Menyatakan pertautan antar variabel
2.         Dinyatakan dalam kalimat deklaratif atau pernyataan
3.         Dirumuskan secara jelas dan padat
4.         Dapat diuji

LANGKAH 4 : IDENTIFIKASI, KLASIFIKASI, DAN PENENTUAN DEFINISI OPERASIONAL VARIABEL-VARIABEL
Definisi Operasional adalah didasarkan atas sifat-siafat variabel yang didefinisikan yang dapat diamati atau di observasi.
Cara Menyusun Definisi Operasional :
1.         Definisi POLA I ; disusun berdasarkan atas kegiatan-kegiatan yang perlu dilakukan agar hal yang didefinisikan itu terjadi.
2.         Definisi POLA II : disusun atas dasar bagaimana variabel yang didefinisikan itu beroperasi
3.         Definisi POLA III : dibuat berdasarkan atas bagaimana variabel yang didefinisikan itu nampaknya.

LANGKAH 5 : PENYUSUNAN DESAIN PENELITIAN
Desain penelitian ditentukan oleh variabel penelitian yang sudah diidentifikasi, dan hipotesa yang akan diuji kebenarannya,
Desain penelitian sekaligus juga merupakan desain analisis data.

LANGKAH 6 : PEMILIHAN ATAU PENGEMBANGAN ALAT PENGAMBIL DATA
Agar penelitian dapat menghasilkan kualitas yang bagus, maka alat pengumpul datanya harus memenuhi syarat-syarat sebagai alat pengumpul data yang baik yaitu Reliabel dan Valid Realibilitas (Validitas).

Pemilihan Alat Pengumpul Data; yang akan digunakan ditentukan oleh variabel yang akan diambil datanya.
Pengembangan Alat Pengumpul Data; Dalam penelitian ilmu sosial sering alat pengumpul data belum tersedia, karenanya seringkali harus mengembangkan atau setidak-tidaknya mengadaptasi yang telah pernah digunakan.

LANGKAH 7 : PENENTUAN POPULASI DAN SAMPEL PENELITIAN
LANGKAH 8 : PENGUMPULAN DATA
LANGKAH 9 : PENGOLAHAN DAN ASLISIS DATA
LANGKAH 10 : INTERPRETASI HASIL ANALISIS DATA
LANGKAH 11 : PENYUSUNAN LAPORAN
LANGKAH-LANGKAH PENELITIAN DALAM BERBAGAI RAGAM PENELITIAN
1.         PENELITIAN HISTORIS (HISTORICAL RESEARCH)
a.       Definisi Masalah
b.      Rumuskan Tujuan penelitian
c.       Kumpulkan Data
d.      Evaluasi Data
e.      Susun Laporan
2.         PENELITIAN DESKRIPTIF (DESCRIPTIVE RESEARCH)
a.       Definisikan Masalah
b.      Rancang Cara Pendekatan
c.       Kumpulkan Data
d.      Olah dan Interprestasi Data
e.      Susun Laporan
3.         PENELITIAN PERKEMBANGAN (DEVELOPMENTAL RESEARCH)
a.       Definisikan masalah
b.      Penelaahan Kepustakaan
c.       Susun Desain Penelitian
d.      Kumpulkan Data
e.      Evaluasi Data
f.        Susun Laporan
4.         PENELITIAN KASUS DAN PENELITIAN LAPANGAN (CASE STUDY AND FIELD RESEARCH)
a.       Rumuskan Tujuan
b.      Rancang cara pendekatan
c.       Kumpulkan data
d.      Organisasikan data
e.      Susun Laporan
5.         PENELITIAN KORELASIONAL (CORRELATIONAL RESEARCH)
a.       Definisikan Masalah
b.      Penelaahan Kepustakaan
c.       Rancang Cara Pendekatan
d.      Kumpulkan Data
e.      Analisis data
f.        Tulis Laporan
6.         PENELITIAN KASUS KOMPARATIF (CAUSAL COMPARATIVE RESEARCH)
a.       Definisi masalah
b.      Penelaahan Pustaka
c.       Rumuskan Hipotesa
d.      Merumuskan asumsi-asumsi
e.      Rancang cara pendekatan
7.         PENELITIAN EKSPERIMENTAL SUNGGUHAN (TRUE EXPERIMENTAL RESEARCH)
a.       Telaah Kepustakaan
b.      Identifikasi dan definisi masalah
c.       Rumusan Hipotesa
d.      Definisikan pengertian dasar dan variabel utama
e.      Susun rencana eksperimen
f.        Laksanakan eksperimen
g.       Mengatur data kasar untuk dianalisis data
h.      Tes Signifikasi
i.         Interprestasi
j.        Tulis Laporan
8.         PENELITIAN EKSPERIMENTAL SEMU (QUASI-EXPERIMENTAL RESEARCH)
Sama dengan langkah-langkah eksperimental sungguhan, hanya diperlukan juga pengakuan yang hati-hati dan teliti terhadap keterbatasan validitas internal dan eksternal
9.         PENELITIAN TINDAKAN (ACTION RESEARCH)
a.       Definisi
b.      Penelaahan Kepustakaan
c.       Rumusan Hipotesa
d.      Research setting (Prosedur)
e.      Kriteria evaluasi, teknik pengukuran, dll
f.        Analisis Data
g.       Menulis Laporan

MODUL 4
DESAIN PENELITIAN.
Desain Penelitian adalah sebuah rencana, garis besar tentang bagaimana peneliti akan memahami bentuk hubungan antara variabel yang ditelitinya; menjawab pertanyaan dan menguji hipotesa; pedoman ’do and don’t list’ dalam kegiatan penelitian.

KEGIATAN BELAJAR 1 : VARIABEL PENELITIAN
MENGIDENTIFIKASI VARIABEL
Variabel yang ada dalam penelitian ditentukan oleh landasan teorinya dan ditegaskan oleh hipotesa penelitiannya.
Jumlah variabel penelitian ditentukan oleh sofistikasi desain penelitian, makin sederhana semakin sedikit variabel sebaliknya makin kompleks semakin banyak variabel.

MENGKLASIFIKASI VARIABEL
1.         BERDASARKAN JENIS DATA
Pada dasarnya berkaitan dengan proses kuantifikasi, yang digolongkan menjadi:
a.       Variabel Nominal; ditetapkan berdasarkan proses pengklasifikasian
b.      Variabel Ordinal; berdasarkan jenjang atribut tertentu
c.       Variabel Interval; yang dihasilkan dari suatu pengukuran yang didalamya terdapat satuan (unit) pengukuran yang sama
d.      Variabel Ratio; mempunyai nilai nol mutlak.

2.         BERDASARKAN FUNGSINYA DALAM PENELITIAN
a.       Variabel Tergantung (dependent variabel); dipikirkan sebagai akibat
b.      Variabel Bebas (independent variabel); dipikirkan sebagai sebab.
Termasuk dalam variabel bebas adalah Variabel kendali (kontrol), moderator, dan variabel rambang.
Variabel antara (intervening variable); variabel yang mungkin muncul diantara variabel bebas (sebab) dan variabel tergantung (akibat).
Variabel moderator; variabel yang memperngaruhi tetapi tidak langsung
Variabel Kendali (Kontrol); Variabel yang berpengaruh, tetapi peneliti ingin menetralisir variabel ini
Variabel Rambang; Variabel-variabel yang jumlahnya masih banyak mungkin dianggap pengaruhnya tidak signifikan karena itu diabaikan.

3.         BERDASARKAN POSISI VARIABEL DALAM PENELITIAN
a.       Variabel aktif (active variabels); variabel yang dimanipulasi
b.      Variabel atribut ; variabel yang diukur

4.         BERDASARKAN NILAI YANG DILEKATKAN PADA VARIABEL
a.      Variabel Kontinu (continuous variabels); variabel yang dpat dilekatkan nilai yang tersusun berurutan
b.      Variabel kategorical atau variabel nominal (categorical variabels); variabel yang dilekatkan kategori yang didasarkan pada definisi yang sudah dibuat atas variabel tersebut.

KEGIATAN BELAJAR 2 : DESAIN PENELITIAN
A.        TUJUAN PENELITIAN
Adalah alat pemandu kegiatan penelitian.

B.        SIFAT MASALAH
Sifat masalah akan memainkan peranan utama dalam menentukan cara-cara pendekatan yang cocok, dan akan menentukan desain penelitian yang akan digunakan.

KEGIATAN BELAJAR 3 : DESAIN PENELITIAN EKSPERIMENTAL
A.        DESAIN-DESAIN PENELITIAN PRA-EKSPERIMENTAL (PRE-EXPERIMENTAL RESEARCH DESIGNS)
1.         The One – mShot case study
Suatu kelompok dikenakan perlakuan atau treatmen atau perlakuan tertentu, kemudian dilakukan pengukuran terhadap variabel tergantung, yaitu efek atau pengaruh dari perlakuan yang diberikan tersebut (post-test)
2.         One-Group Pretest-Posttest Design
digunakan satu kelompok subjek. Pertama-tama dilakukan pengukuran, lalu dikenakan perlakuan untuk jangka waktu tertentu, kemudian dilakukan pengukuran untuk keduakalinya.
3.         The static Group Comparison; Randomized Control Group only Design
Sekelompok subjek yang diambil dari populasi tertentu dikelompokan secara acak (random) menjadi dua kelompok, yaitu kelompok eksperimen dan kelompok kontrol.

B.        DESAIN-DESAIN EKSPERIMENTAL SUNGGUHAN (TRUE EXPERIMENTAL RESEARCH DESAIGNS)
1.         Randomized Control-Group Pretest-Posttest Desaign
Sekelompok subjek yang diambil dari populasi tertentu dikelompokan secara acak (random) menjadi dua kelompok (eksperimen dan kontrol)
2.         Randomized Solomon  Four-Group Design (RSFG)
Subjek ditempatkan kedalam empat kelompok secara random, sehingga memungkinkan membuat asumsi kelompok 3 dan 4 adalah pretest, kelompok 1 dan 2 adalah pretest.

C.        DESAIN-DESAIN EKSPERIMENTAL SEMU (QUASI EXPERIMENTAL DESIGN)
Desain experimental Semu adalah desain yang disusun menurut model desain eksperimental, tetapi belum dapat memiliki ciri-ciri desain eksperimental sesungguhnya karena variabel yang harus dikontrol atau dimanipulasi tidak dapat dikontrol sehingga validitas penelitian tidak cukup memadai untuk disebut eksperimen yang sebenarnya.
1.         The non-equivalent control-Group design
Dalam desain ini kelompok tidak diambil secara random dan tidak diwajibkan untuk mengikuti tes awal
2.         The time series experiment
Pengukuran dilakukan berulang-ulang sebelum dan sesudah treatmen
3.         Correlation design
Data diambil dari survai atau hasil observasi
4.         Bahaya Invaliditas
Terhadap validitas internal maupun validitas eksternal

MODUL 5
POPULASI DAN SAMPEL
KEGIATAN BELAJAR 1 : KONSEP KONSEP DI DALAM POPULASI DAN SAMPEL
A.        DEFINISI POPULASI DAN SAMPEL
Populasi; adalah keseluruhan elemen atau satuan yang ingin diteliti.
Batasan Populasi penelitian; mencakup tiga unsur; isi,cakupan dan waktu.

Merumuskan Definisi Populasi Penelitian, ada dua tahapan yang dilalui :
1.         Menentukan batas populasi target; sesuai dengan tujuan penelitian; harus memperhitungkan :
a.       Sejauhmana generalisasi yang ingin dicapai oleh peneliti.

UNIT ANALISIS ; Satuan yang akan diteliti, bisa berupa individu, kelompok, organisasi, kata-kata, simbol, dokumen, surat kabar, dsb.
UNIT OBSERVASI ; Satuan darimana informasi berasal / kita peroleh.

b.      Persyaratan teknis yang harus dipenuhi peneliti untuk dapat menarik sampel
2.         Setelah Populasi target diketahui; membuat kerangka sampel berdasarkan populasi target dan populasi survei

KERANGKA SAMPEL : Sebagai Operasionalisasi populasi dalam bentuk daftar seluruh elemen populasi yang menggambarkan sedekat mungkin karakter populasi
SAMPLING UNIT : Satuan yang digunakan peneliti untuk menarik sampel
SAMPLING ELEMENT : Satuan yang menjadi target akhir dalam proses penarikan sampel.


B.        ALASAN PENELITIAN HARUS MENARIK SAMPEL
Total sampling atau Complete Enumeration ; adalah kondisi ideal dimana peneliti harus meneliti seluruh elemen yang ada, atau meneliti seluruh populasi yang ada.

Argumen mengapa peneliti harus menarik Sampel :
1.         Adanya keterbatasan yang dimiliki peneliti untuk melakukan penelitian terhadap keseluruhan elemen yang akan diteliti
2.         Berkaitan dengan kualitas data
3.         Ketersediaan dana

C.        DESAIN SAMPEL
Desain Sampel berfungsi; untuk menguraikan bagaimana sampel itu dipilih dari populasi yang ada.
Ketersediaan kerangka sampel menjadi syarat utama untuk bisa menarik sampel secara probabilitas.
Ketiadaan kerngka sampel maka sampel ditarik secara non-probabilitas.
Desain sampel menjadi bagian yang sangat penting dalam menjembatani jarak antara populasi dan sampel.

Faktor dipertimbangkan daalm membuat desain sampel :
1.         Akurasi data
2.         Ketersediaan Sumber Daya
3.         Teknik Pengumpulan Data

D.        BESARAN SAMPEL DAN FAKTOR YANG MEMPENGARUHI
Rumus Slovin; rumus yang digunakan untuk menentukan besaran sampel yang akan diambil dalam penelitian :

n =  N / 1+N ฮฑ ²
n = besaran sampel
N = besaran populasi
ฮฑ (alpha) = nilai kritis (batas ketelitian) yang digunakan

Faktor-faktor yang harus dipertimbangkan dalam menentukan sampel dari populasi :
1.         Heterogenitas populasi penelitian
2.         Keakuratan data yang diinginkan
3.         Jumlah variabel penelitian
4.         Petimbangkan praktis; dana, waktu, dan sumber daya


KEGIATAN BELAJAR 2 : TEKNIK PENARIKAN SAMPEL
Macam penarikan sampel :
1.         Teknik Penarikan sampel probabilitas; Teknik Penarikan sampel yang mendasarkan pada prinsip bahwa setiap elemen dalam populasi memiliki kesempatan yang sama untuk terpilih sebagai sampel.
2.         Teknik Penarikan sampel non-probabilitas; Teknik Penarikan sampel yang mendasarkan pada prinsip bahwa setiap elemen dalam populasi tidak memiliki kesempatan yang sama untuk terpilih sebagai sampel.

A.        TEKNIK PENARIKAN SAMPEL SECARA PROBABILITAS
1.       Teknik Pengambilan Sampel secara acak sederhana (Simple Random Sampling)
Teknik yang termudah; jika jumlah sampelnya tidak terlalu besar; prinsipnya seperti melakukan undian dalam arisan/pengambilan hadiah.
2.       Teknik Penarikan Sampel Sistematis (Systematical Sampling)
Mudah digunakan jika jumlah populasi sangat banyak dan sifatnya homoge. Tahapannya:
a.      Susun kerangka sampel dengan cara membagi jumlah populasi dan jumlah sampel diinginkan
b.      Pilih salah satu kelompok dengan cara acak.
3.       Teknik Penarikan Sampel secara Stratifikasi (Stratified Sampling)
Jika dalam penelitian yang dilakukan, peneliti beranggapan bahwa populasinya sangat heterogen.
a.      Penarikan sampel proporsional
b.      Penarikan sampel secara non-proporsional
4.       Teknik Penarikan Sampel Cluster (Cluster Sampling)
Jika kita memiliki keterbatasan dalam menyusun kerangka sampel, mengingat populasi yang ada sangat besar dan tersebar dalam wilayah yang luas.

B.        TEKNIK PENARIKAN SAMPEL SECARA NON-PROBABILITAS
1.       Teknik Penarikan Sampel Aksidental
Jika populasi penelitian relatif homogen dan peneliti sulit untuk menyusun kerangka sampel.
2.       Teknik Penarikan Sampel Purposive
Dengan menentukan kriteria khusus terhadap sampel,dan dilakukan berdasar pilihan langsung peneliti
3.       Teknik Penarikan Sampel secara Kuota
Jika populasinya cenderung heterogen dan tersebar luas.
4.       Teknik Penarikan Sampel Snowball
Jika ingin mendalami suatu kasus yang sifatnya sensitifsehingga peneliti sulit untuk membuat kerangka sampel.

C.        PENARIKAN SAMPEL DALAM PENELITIAN KUALITATIF
Dalam penelitian Kualitatif tidak dikenal istilah Sampel dan populasi, Populasi Penelitian disebut dengan Subjek Penelitian.
Sampel penelitian jumlah pastinya tidak bisa ditentukan sebelum terjun  langsung ke lapangan.
Peneliti terus melakukan pencarian sampel hingga data bersifat jenuh.
Pengertian jenuh ;  Jika sampel-sampel yang dipilih tidak ada variasi dta yang ditemukan, sampel dinyatakan cukup, pengumpulan sampel dihentikan.

MODUL 6
PENGUMPULAN DATA
KEGIATAN BELAJAR 1 : VALIDITAS DAN RELIABILITAS
A.        VALIDITAS
1.         Pengertian Validitas
2.         Jenis-Jenis Validitas
a.         Validitas permukaan (face validity)
Merupakan jenis validitas yang paling mudah karena tingkat konsep yang hendak diukur kurang abstrak dan sederhana, sehingga tidak memerlukan penjabaran yang rumit untuk dioperasionalkan.
b.        Validitas Kriteria (Criterium Validity)
Valid dan tidaknya alat ukur terletak pada penggunaan kriteria sebagai landasan penilaian.
c.         Validitas Konstruk (Construct Validity)
Validitas yang paling tinggi tingkatannya karena diperlukan indikator dan penilaiannya lebih rumit.

3.         Menilai Validitas Alat Ukur
Adalah dengan mencari variabel utama penelitian, kemudian mengamati definisi operasionalnya.
Jika tingkat abstraksi konsepnya sederhana dan tidak rumit maka penilaian validitas didasarkan pada validitas permukaan.
Jika tingkat abstraksi konsepnya sangat  rumit maka penilaian validitas didasarkan pada validitas konstruk.


B.        RELIABILITAS
1.         Pengertian Reliabitias
Pengeritan Reliabilitas (Realibility) merujuk kepada masalah ke-ajegan (tetap) atau kemantapan alat ukuryang dipakai; Apakah alat ukur yang anda gunakan tepat untuk mengukur variabel yang hendak anda ukur.
Jika suatu alat ukur dikatakan Reliabel jika dia menghasilkan ukuran yang sama antara pengukuran pertama, kedua, ketiga dan seterusnya.
Tiga Aspek Penting dalam Reliabilitas:
-            Dapat diandalkan (dependability)
-            Dapat diramalkan (predictability)
-            Menunjukan Ketetapan

2.         Hubungan Validitas dan Reliabilitas
Validitas langsung mempermasalahkan kesesuaian antara konsep dengan kenyataan empirik, sedangkan reliabilitas mempermasalahkan kesesuaian beberapa hasil pengukuran pada tingkat empirik.
Jika penilaian validitas cenderung bersifat kualitatif karena bersifat abstrak, Maka Penilaian Reliabilitas lebih bersifat nyata karena dapat menggunakan perhitungan kuantitatif.

3.         Menilai Reliabilitas alat ukur
a.        Metode Ulang
Dilakukan dengan cara alat ukur yang sama diberikan kepada responden yang sama tetapi dalam situasi yang berbeda.
b.        Metode paralel
Cara pertama; dilakukan oleh dua orang dengan menggunakan satu alat ukur yang sama
Cara kedua; dilakukan oleh satu orang peneliti tetapi menggunak alat ukur yang berbeda
c.         Metode belah dua
Dalam metode ini alat ukur dibagi menjadi dua bagian; mengukur satu konsep yang sama; setiap bagian terdiri dari pertanyaan yang homogen.
Beberapa cara membelah alat ukur :
1.         Dibelah menjadi dua secara random
2.         Dibelah menjadi dua; bagian atas dan bagian bawah
3.         Dikelompokan menjadi kelompok nomor genap dan nomor ganjil.


KEGIATAN BELAJAR 2 : TEKNIK PENGUMPULAN DATA DALAM PENELITIAN KUANTITATIF
A.        PENELITIAN SURVEI
Merupakan suatu ragam penelitian didalam penelitian kuantitatif yang mengandalkan pada jawaban responden atas pertanyaan yang sudah disusun berdasarkan kerangka teori yang digunakan oleh peneliti.
1.         Operasional Konsep
Dengan dibuatnya Operasionalisasi konsep, maka peneliti dengan mudah menyusun instrumen penelitian
2.         Jenis-Jenis Instrumen Penelitian Survei
a.      Mail and self-administered questionnaire
b.      Telephone Interview
c.       Seperti halnya dalam mail and self-administered questionnaire, dengan menggunakan telepon pun terdapat beberapa kelemahan yaitu :
d.      Face-to-face interview; Peneliti secara langsung bertemu dengan responden, dan menanyakan secara langsung pertanyaan yang ada dalam kuesioner

KEUNTUNGAN WAWANCARA SECARA LANGSUNG :
1)      Response Rate tinggi; karena saat itu juga daftar pertanyaan penelitian bisa langsung ditanyakan kepada responden
2)      Peneliti dapat langsung melihat reaksi responden terhadap pertanyaan
3)      Bisa menggunakan komunikasi yang non verbal dan bantuan visual
4)      Peneliti dapat melakukan Probing

KERUGIAN WAWANCARA SECARA LANGSUNG :
1)      Biaya relatif tinggi
2)      Kemungkinan terjadi bias pewawancara

3.         Teknik Melakukan Wawancara
a.        Peranan dari pewawancara; Tugas Pewawancara:
1)      Harus bisa bekerjasama dan berhubungan baik dengan rsponden (rapport)
2)      Harus bisa mengurangi rasa malu, takut dan curiga dialami responden
3)      Harus bisa mengamati reaksi yang diberikan responden saat menjawab pertanyaan
4)      Tidak memberikan penilaian benar atau salah jawaban responden
b.        Tahapan yang harus dilalui pewawancara
1)      Perkenalan
2)      Menunjukan tanda indentitas
3)      Mengajukan  pertanyaan dengan memberikan kesempatan bagi responden untuk menjawab
4)      Mencatat berbagai informasi yang penting
5)      Memberikan probing jika responden kesulitan memahami pertanyaan

B.        PENELITIAN EKSPERIMENTAL
Dalam penelitian eksperimental  peneliti dapat melakukan manipulasi kondisi dengan memberikan treatmen atau menciptakan suatu kondisi yang mampu merangsang subjek yang diteliti.

Konsep yang harus diketahui sebelum melakukan penelitian eksperimen :
a.         Subjek Penelitian; orang-orang yabg akan diteliti
b.        Random asignment; cara membagi subjek-subjek penelitian kedalam beberapa kelompok secara acak
c.         Matching; membagi subjek-subjek penelitian kedalam beberapa kelompok berdasarkan kesamaan karakteristik
d.        Treatmen; merupakan variabel bebas atau sering disebut juga dengan perlakuan atau kondisi yang dimanipulasi peneliti
e.         Respon; variabel terikat
f.          Pre-test; pengukuran atau observasi terhadap variabel akibat sebelum dilakukan treatmen
g.        Post-test; pengukuran atau observasi terhadap variabel akibat setelah dilakukan treatmen
h.        Kelompok eksperimen; kelompok subjek penelitian yang diberikan treatmen
i.          Kelompok pembanding; kelompok subjek penelitian yang tidak diberi treatmen

Langkah-Langkah Penelitian Eksperimen :
1.         Kelompok Membagi subjek kedalam dua kelompok atau lebih; kelompok eksperimen dan kelompok pembanding
2.         eksperimen diberikan treatmern atau perlakukan, kelompok pembanding tidak
3.         Dilakukan pengujian atau observasi terhadap kedua kelompok, kemudian dibandingkan hasilnya.


C.        PENELITIAN ANALISIS ISI
Biasa berbentuk teks, gambar, ide, pesan, arti, dsb.
Perbedaannya dengan survei dan eksperimental adaalh tidak adanya objek penelitian. Karena objek penelitian ini berupa benda mati, maka peneliti lebih mudah untuk membandingkan antyara objek yang satu dengan objek yang lain.

KEGIATAN BELAJAR 3 : TEKNIK PENGUMPULAN DATA DALAM PENELITIAN KUALITATIF
Penelitian Kualitatif memiliki sifat fleksibel; diartikan peneliti bisa saja memulai mengumpulkan data dilapangan baru kemudian membuat proposal; Setelah menganalisa data yang didapat dilapangan, peneliti bisa memutuskan kembali kelapangan mengumpulkan data; Kondisi disebut dengan logic in practice.
A.        MELAKUKAN PERSIAPAN
DEFOCUSING, mengandung arti :
-          Tindakan peneliti untuk memperhatikan keseluruhan situasi, masyarakat dan setting, sebelum memutuskan mana yang akan masuk kedalam wilayah penelitiannya mana yang bukan.
-          Tindakan peneliti untuk tidak terlalu memfokuskan perhatian pada peran yang dijalankannya sebagai peneliti.
B.        MEMILIH SITE
Site atau Setting; diartikan sebagai konteks tempat terjadinya suatu fenomena atau aktivitas.

C.        MENENTUKAN STRATEGI UNTUK MASUK KEDALAM SITE
Untuk menentukan strategi masuk kedalam site yang sudah dipilih ketika peneliti sudah menentukan site yang akan dijadikan lapangan penelitian, peneliti harus membenagun legitimasi keberadaannya di lapangan.
Peneliti harus menentukan sebuah strategi yang tepat, negosiasi dengan gate keepers, serta hubungan personal dengan masyarakat.

Gate Keepers; adaalh seorang atau sekelompok orang yang memiliki akses terhadap subjek penelitian.

D.        MENDAPATKAN AKSES
Pengertian akses tidak terbatas pada kehadiran peneliti secara fisik, namun juga meliputi izin yang dimiliki peneliti untuk melakukan penelitian.

E.         MEMBANGUN RAPPORT
Dilakukan dengan menjalin hubungan baik dengan masyarakat yang sedang diteliti. Dibangun peneliti dengan membentuk kepribadian dan kepercayaan, serta empati. Membangun rapport tidak dalam waktu singkat.

F.         MENGUMPULKAN DATA
Hal yang harus dilakukan oleh peneliti saat mengumpulkan data :
1.         Membuat catatan hasil pengamatan berdasarkan observasi yang dilakukan
2.         Membuat catatan atas wawancara yang dilakukan
3.         Mengumpulkan surat-surat yang berkaitan
4.         Membuat dokumentasi berupa gambar
5.         Merekam berbagai suara yang mungkin saja berpengaruh terhadap analisis data
Bentuk Catatan Lapangan Peneliti :
1.         Jotted Notes; catatan yang dibuat ringkas pada saat wawancara berlangsung
2.         Catatan Pengamatan Langsung; catatan yang langusng dibuat peneliti pada saat ia menyelesaikan wawancara
3.         Catatan Interpretasi Peneliti; interpretasi peneliti tentang jalannya wawancara dan berbagai kejadian selama wawancara
4.         Catatan Analitis; analitis mengenai kejadian yang dialami saat wawancaraatau pengamatan berlangsung
5.         Catatan Pribadi; tentang kejadian-kejadian personal dan perasaan yang dialami oleh peneliti pada saat wawancara atau pengamatan sedang berlangsung


MODUL 7
PENGOLAHAN  DATA
Dalam Penelitian Kuantitatif; Kode selalu berbentuk angka-angka
Dalam Penelitian Kualitatif; Kode bisa berbentuk angka dan bisa berbentuk kata-kata.

KEGIATAN BELAJAR 1 : MENGOLAH DATA KUANTITATIF
Sebelum Mengelolah data menggunakan Program Komputer, ada beberapa langkah-langkah sebagai berikut :
A.        DATA CODING (PEMBERI KODE TERHADAP DATA)
Peneliti menyusun secara sistematis data mentah (Jawaban yang ada didalam Kuesioner) kedalam bentuk yang bisa dibaca oleh Program SPSS (dalam bentuk angka)
Format Pertanyaan dalam kuesioner diubah menjadi pernyataan.
Kode Huruf yang ada dalam kategori jawaban diubah kedalam bentuk angk.
Skala Ordinal; Jawaban sangat buruk memiliki nilai yang lebih rendah dibandingkan jawaban sangat baik.

Setelah proses invetarisir jawaban responden selelsai kemudian baru diberi kode, Peneliti menggunakan alat bantu ayng disebut Buku Kode; sebuah buku yang berisi panduan tentang variabel-variabel yang ada didalm kuesioner.

FORMAT BUKU KODE :
1.         Nomor Pertanyaan
2.         Nama Pertanyaan
3.         Kategori Jawaban
4.         Nomor Variabel
5.         Nama Variabel
6.         Kode dan arti Kode

B.        DATA ENTRY
Peneliti memindahkan data yang telah diubah menjadi kode-kode berupa angka sesuai dengan yang ada didalam buku Kode, kedalam program SPSS.
C.        DATA CLEANING
Peneliti memastikan bahwa data yang sudah di entry kedalam program SPSS merupakan data yang sebenarnya, Untuk melakukan data cleaning peneliti bisa melihat:
-            Possibele code cleaning; Upaya peneliti untuk membersihkan data dari berbagai angka yang tidak mungkin ada didalam program.
-            Contingency code cleaning; Upaya peneliti untuk melihat keterkaitan antara satu variabel dengan variabel lain.
D.        DATA OUTPUT
Dalam langkah ini peneliti bisa mengeluarkan hasil olahan data; diyakini data yang ada sudah benar-benar bersih; Data outpuit disajikan dalam tabel frekuensi, grafik, atau diagram

Untuk membuat rencana analisis data, ada beberapa format yang harus dibuat peneliti, yaitu :
1.         Menjabarkan Variabel yang akan Dideskripsikan
Peneliti merencanakan variabel apa saja yang akan disajikan atau dideskripsikan kedalam laporan.
2.         Pembentukan Kategori Baru
Peneliti merencanakan variabel apa saja yang akan dianalisa, yang didasarkan pada variabel utama yang ada didalam penelitian.
3.         Pembentukan Variabel Baru
Peneliti merencanakan Penggabungan variabel-variabel kedalam sebuah variabel utama.

KEGIATAN BELAJAR 2 : MENGOLAH DATA KUALITATIF

MEMBUAT KODE UNTUK HASIL PENGAMATAN
Salah satu teknik mengumpulkan data dalam penelitian kualitatif adalah pengamatan.

1.         Pengamatan Berstruktur
Kategorisasi yang akan dibuat didasarkan pada teori tau pengetahuan yang dimiliki oleh peneliti sebelum ia turun ke lapangan.
2.         Pengamatan tidak Berstruktur
Kategorisasi yang akan dibuat didasarkan pada variasi jawaban yang ada di lapangan.

MODUL 8
INTERPRETASI DATA
Interprestasi data merupakan kegiatan yang dilakukan peneliti untuk MEMBAHASAKAN DATA yang ada.
Data-data tersedia umumnya dalm bentuk angka-angka, diartikan atau diterjemahkan oleh peneliti, sehingga orang yang tidak mengerti statistika tetap dapat memahami data yang ada karena sudah diinterprestasikan.
Analisis Data merupakan usaha peneliti untuk menarik simpulan dari data yang ada.
Peneliti mencoba mencari keterkaitan antara data yang ada dengan teori yang digunakan.

Dengan melakukan interprestasi data dan menganalisa data peneliti sesungguhnya telah melakukan pembuatan laporan penelitian.

KEGIATAN BELAJAR 1 : ANALISIS DATA KUANTITATIF
A.        ANALISIS UNIVARIAT
Merupakan Analisis yang dilakukan terhadap satu variabel; digunakan untuk kepentingan mendeskripsikan data; tidak ada perbedaan signifikan antara interprestasi terhadap grafik maupun tabel frekuensi

B.        ANALISIS BIVARIAT
Merupakan analisis mengenai hubungan antara dua variabel; bisa menggunakan tabel silang; berbentuk simetris atau asimetris; dibutuhkan untuk menghitung prosentase.
Prosentase baris; digunakan jika variabel independen (bebas) diletakkan pada sisi baris.
Prosentase kolom; digunakan jika variabel independen (bebas) diletakkan pada sisi kolom.
Prosentase total; digunakan jika hubungan antara dua variabel simetris.

Untuk Hubungan antara variabel yang berskala nominal, bisa digunakan uji statistik : Lambda, Crammers, contingency coeficient.
Untuk Hubungan antara variabel yang berskala ordinal, bisa digunakan uji statistik : Sommers’d, Gamma, dan Tau Kendall.
Untuk Hubungan antara variabel yang berskala interval/rasio, bisa digunakan uji statistik : Pearson.

Ukuran asosiasi dan korelasi antara lain :
CHI SQUARE; Ukuran asosiasi yang berusaha untuk menguji hipotesa bahwa antara variabel independen dan dependen terdapat hubungan yang signifikan.
LAMBDA; Uji Statistik yang memperhitungkan pengurangan proporsional pada kesalahan (PRE-Proportional Reduction in Error)
TAU KENDALL; Merupakan ukuran korelasi non-parametrik yang digunakan untuk variabel berskala ordional
SOMMER’D; digunakan untuk mengukur kekuatan hubungan berskala ordinal
KOEFISIEN KORELASI SPEARMAN; digunakan untuk mengukur korelasi abtara dua variabel ordinal
KOEFISIEN KORELASI PRODUCT MOMEN PEARSON; mengukur kekuatan hubungan linear antara data berskala interval/rasio.
REGRESI LINEAR; untuk menguji apakah ada hubungan antara sebuah variabel dengan satu atau beberapa variabel independen.

C.        ANALISIS MULTIVARIAT
Merupakan analisis yang melihat pola hubungan lebih dua variabel; pola hubungan terdiri dari variabel independen, variabel dependen, dan variabel kontrol.
Selain menggunakan tabel miltivariat hubungan bisa menggunakan pola elaborasi.

Lima Bentuk elaborasi :
1.         REPLIKASI
Jika hubungan multivariat sama dengan hubungan bivariat.
2.         SPESIFIKASI
Jika hubungan multivariat hanya menunjukan pada salah satu kategori, atau hubungan bivariat menjadi lebih spesifik didalam salah satu kategori variabel kontrol yang digunakan.
3.         INTERPRETASI
Jika hubungan bivariat menjadi semakin lemah atau hilang pada hasil elaborasi.Kondisi ini berlaku jia variabel kontrol merupakan variabel antara.
4.         EKSPLANASI
Jika hubungan bivariat menjadi semakin lemah atau hilang pada hasil elaborasi. Kondisi ini berlaku jia variabel kontrol merupakan variabel antesedent.
5.         SUPPRESOR
Jika tidak terliohat adanya hubungan didalam analisabivariat, namun ketika dielaborasi, terlihat adanya hubungan antara kedua variabel.

KEGIATAN BELAJAR 2 : ANALISIS DATA KUALITATIF
Penelitian Kualitatif menempatkan data sebagai titik sentral didalam penelitian; mengandalkan pada dinamika dan variasi data; menyediakan banyak kesempatan untuk melakukan revisi dalam setiap tahapan yang dilalui; memiliki pola cyclical (berulang).


MODUL 9
PENYUSUNAN LAPORAN
Laporan penelitian merupakan langkah yang sangat penting karena dengan laporan itu syarat keterbukaan ilmu pengetahuan dan penelitian dapat dipenuhi.

KEGIATAN BELAJAR 1 : FUNGSI DAN JENIS LAPORAN PENELITIAN
FUNGSI LAPORAN PENELITIAN
Fungsi utama Laporan penelitian adalah sebagai media atau dokumen komunikasi antara peneliti dengan masyarakat dan ilmuwan yang ditargetkan dengan penelitian tersebut.

JENIS-JENIS LAPORAN PENELITIAN
1.         BERDASARKAN TUJUAN
Dikelompokan empat jenis laporan :
a.       Ditulis untuk memenuhi persyaratan penyelesaian studi (skripsi, tesis, disertasi)
b.      Ditulis untuk keperluan perlombaan (lomba karya ilmiah)
c.       Penelitian Pesanan (Penelitian dipesan oleh lembaga atau institusi tertentu)
d.      Dibuat oleh peneliti yang melakukan penelitian rutin
2.         BERDASARKAN PANJANG LAPORAN
Dikelompokan kedalam dua jenis :
a.       Laporan Lengkap; ditulis lengkap dan biasanya tebal
b.      Laporan Eksekutif; Laporan singkat untuk disampaikan kepada pengambil keputusan yang terbatas waktu membaca secara lengkap; mengandung butir-butir penting perlu diketahui
3.         BERDAARKAN TARGET PEMBACA
a.       Laporan bersifat akademik; untuk kalangan akademisi , banyak mengandung istilah profesi dan terminologi
b.      Laporan bersifat Popular; untuk kalangan umum.

KEGIATAN BELAJAR 2 : SISTEMATIKA PENULISAN LAPORAN PENELITIAN
Terdiri dari Bagian Muka dan Bagian Isi
BAGIAN MUKA
-            Halaman Judul
-            Halaman Pengesahan
-            Abstrak
-            Kata Pengantar
-            Daftar Isi
-            Daftar Tabel (jika ada)
-            Daftar Gambar (jika ada)

BAGIAN ISI
BAB   I      PENDAHULUAN
A.      Latar Belakang Masalah
B.      Perumusan Masalah
C.      Tujuan Penelitian
D.      Manfaat Penelitian
BAB  II      TELAAH KEPUSTAKAAN
                   Adalah nagian tentang perumusan Hipotesa.
Telaah Kepustakaan ada yang menuliskannya dengan Landasan Teori atau Dasar Teori.
BAB III      METODOLOGI
A.      Desain Penelitian
B.      Populasi dan Sampel
C.      Pengumpulan Data
D.      Analisis Data
BAB IV     HASIL atau TEMUAN
BAB  V      PEMBAHASAN, SIMPULAN DAN SARAN
DAFTAR PUSTAKA
LAMPIRAN (jika ada)

 

MODUL SEMESTER SATU

More »

MODUL SEMESTER DUA

More »

MODUL SEMESTER TIGA

More »

MODUL SEMESTER EMPAT

More »

MODUL SEMESTER LIMA

More »

MODUL SEMESTER ENAM

More »

MODUL SEMESTER TUJUH

More »

MODUL SEMESTER DELAPAN

More »

ILMU ADMINISTRASI BISNIS

More »

PROFESI ADVOKAT

More »

SEMESTER SATU ADMINISTRASI BISNIS

More »

SEMESTER DUA ADMINISTRASI BISNIS

More »

SEMESTER TIGA ADMINISTRASI BISNIS

More »

SEMESTER EMPAT ADMINISTRASI BISNIS

More »

SEMESTER LIMA ADMINISTRASI BISNIS

More »

SEMESTER ENAM ADMINISTRASI BISNIS

More »

SEMESTER TUJUH ADMINISTRASI BISNIS

More »

SEMESTER DELAPAN ADMINISTRASI BISNIS

More »

NGOMPOL

More »

OPINI

More »