AKUTANSI MENENGAH (ADBI4335) - ADB

  


DAFTAR ISI

TINJAUAN MATA KULIAH
MODUL   1 : KAS, REKONSILIASI BANK, DAN LAPORAN ARUS KAS
MODUL   2 : PIUTANG
MODUL   3 : PERSEDIAAN
MODUL   4 : INVESTASI
MODUL   5 : AKTIVA TETAP
MODUL   6 : AKTIVA TIDAK BERWUJUD
MODUL   7 : KEWAJIBAN
MODUL   8 : EKUITAS
MODUL   9 : PERUBAHAN AKUNTANSI DAN KOREKSI KESALAHAN

TINJAUAN MATA KULIAH

Laporan Keuangan (financial statement) sebagai hasil akhir silus akuntansi merupakan personifikasi bentuk akuntabilitas perusahaan terhadap para stake holder. Kendati sarat dengan angka, namun informasi yang terkandung di dalamnya mampu mengungkap kondisi finansial yang sebenarnya.
Apakah perusahaan dalam kondisi tumbuh kembang, stagnant (hanya sekedar survive) atau justru mengalami kemundurn (declining) bisa terungkap dalam laporan keuangan. Kemampuan mengungkap ini dimungkinkan lantaran laporan keuangan disusun berdasar kaidah-kaidah baku, atau sesuai dengan prinsip-prinsip akuntansi yang bersifat universal atau diterima secara umum.

Telah dipelajari pada mata kuliah Akuntansi Dasar bahwa laporan keuangan terdiri atas neraca (balance sheet), laporan laba rugi (loss and income statement) dan Laporan perubahan modal.
Ketiga komponen ini kendati berdiri secara terpisah tetapi merupakan kesatuan bagian yang terintegrasi. Artinya setiap komponen memiliki keterkaitan yang sangat dalam satu dengan lainnya. Untuk menggali informasi mengenai tingkat rentabilitas perusahaan misalnya, data yang dibutuhkan merupakan kolaborasi antara neraca dan laporan laba rugi.
Demikian halnya ketika kita ingin menggali informasi yang lain, seperti untuk mengetahui tingkat solvabilitas atau tingkat pengembalian modal (return on investment) atau bahkan untuk menilai kinerja perusahaan data yang digunakan merupakan perpaduan data yang berasal dari ketiga komponen laporan keuangan tersebut.

Lantaran dalam penyusunannya selalu mengedepankan kaidah atau prinsip-prinsip akuntansi yang bersifat universal, maka data yang terdapat dalam laporan keuangan memiliki tingkat akurasi yang andal.
Keterandalan ini sudah diakui para penggunanya (stakeholders). Bahkan banyak pebisnis (investor) ketika ingin membeli perusahaan merasa tidak perlu mendatangi atau melihat secara fisik perusahaan yang ingin dibelinya. Cukup dengan prospectus yang berisi company profile dan data laporan keuangan beberapa dekade terakhir mereka berani menanamkan modalnya dalam jumlah yang tidak sedikit, tentu saja setelah mereka melakukan analisis yang mendalam.

Mata Kuliah Akuntansi Menengah merupakan salah satu sekuel dari trilogy akuntansi yang ada dalam Program Studi Administrasi Niaga (Bisnis) yakni Akuntansi Dasar, Akuntansi Menengah, dan Akuntansi Lanjutan.

Jika dalam Akuntansi Dasar fokus yang dikaji adalah berhubungan dengan konsep dasar ilmu akuntansi termasuk didalamnya bagaimana melakukan pencatatan atas transaksi perusahaan (penjurnalan), posting ke buku besar (ledger), pengikhtisaran (neraca saldo), interprestasi dan penyusunan laporan keuangan, atau disebut siklus akuntansi.
Dalam Akuntansi Menengah materi yang dibahas lebih ditekankan pada pendalaman pemahaman tentang pos-pos yang ada didalam laporan keuangan ini penting sebagai prsyarat untuk menghasilkan laporan keuangan yang wajar atau sesuai dengan kondisi yang sebenarnya. 


MODUL 1 :
KAS, REKONSILIASI BANK, DAN LAPORAN ARUS KAS

Kas atau yang biasa disebut dengan istilah populer di masyarakat sebagai uang merupakan harta yang paling cepat berubah, karna hamoir semua transaksi di masyarakat selalu berkaitan dengan uang atau kas.

Demikian juga halnya di perusahaan,  peranan kas sangat aktif sekali, karena tanpa adanya kas, perusahaan tidak bisa melakukan kegiatannya dengan efektif, seperti memberi peralatan mesin, kendaraan serta membayar utang yang sudah jatuh tempo dll.
                                                                                                                                                                      Meskipun demikian, kas menjawab tidak produktif apabila jumlahnya menumpuk terlalu besar di perusahaan (idle cash), yang tentunya tidak bisa mendatangkan keuntungan bagi perusahaan karena kas tersebut tidak berputar.  
Kas merupakan aktiva yang sangat mudah diselewengkan, karena sifatnya yang mudah untuk dipindahtangankan dan tidak dapat dibuktikan oleh pemiliknya. Oleh karena itu, perlu diadakan pengendalian yang ketat terhadap kas. Salah satu cara pengendalian terhadap kas adalah menyimpan kas tersebut di bank, sehingga terjalin hubungan antara perusahaan dengan bank dalam hal penyimpanan kas perusahaan. Kas yang disimpan di bank tersebut sering disebut sebagai kas di bank (cash in bank).            


KEGIATAN BELAJAR 1 :
KAS DAN KAS KECIL

A. KAS

1. Pengertian Kas
Semua orang tentu mengetahui apa yang dimaksud dengan kas, yaitu suatu jenis benda yang dapat dipakai sebagai alat pembayaran untuk memperoleh barang maupun jasa yang diperlukan.                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                            

KEWIRAUSAHAAN (ADBI4440) - ADB

  


DAFTAR ISI

TINJAUAN MATA KULIAH
MODUL 1   : DASAR POLA PIKIR KEWIRAUSAHAAN DAN WIRAUSAHA 
MODUL 2   : USAHA MIKRO, KECIL, DAN MENENGAH
MODUL 3   : STRATEGI MEMBANGUN KEUNGGULAN KOMPETITIF 
MODUL 4   : MERINTIS USAHA BARU DAN PENGEMBANGANNYA 
MODUL 5   : MENENTUKAN BENTUK KEPEMILIKAN BISNIS
MODUL 6   : WARALABA (FRANCHISING)
MODUL 7   : STRATEGI PEMASARAN DAN MANAJEMEN ORGANISASI BISNIS
MODUL 8   : MANAJEMEN OPERASIONAL DAN STRATEGI PENGELOLAAN KEUANGAN
MODUL 9   : PERENCANAAN BISNIS

TINJAUAN MATA KULIAH

Mata kuliah Kewirausahaan lahir karena secara akademik sangat diperlukan. Dalam kerangka perkembangan Ilmu Pengetahuan, Kewirausahaan termasuk dalam kelompok ilmu terapan sebab prinsip-prinsip dari Kewirausahaan sangat bermanfaat dalam meningkatkan kesejahteraan hidup manusia.

Mata kuliah ini memberikan pemahaman yang mendalam dan keterampilan tentang konsep dasar kewirausahaan dan wirausaha serta model proses kewirausahaan; usaha mikro, kecil, dan menengah, strategi pengembangan usaha mikro, kecil, dan menengah, strategi membangun keunggulan kompetitif dan proses manajemen strategis; merintis usaha baru dan pengembangannya; bentuk-bentuk kepemilikan bisnis dan bentuk  kepemilikan usaha lainnya; waralaba; strategi pemasaran, E-Commerce dan kiat pemasaran usaha baru serta manajemen organisasi bisnis dan MSDM; manajemen produksi dan strategi pengelolaan keuangan; penyusunan rencana bisnis dan pengelolaan arus kas


MODUL 1 : DASAR POLA PIKIR KEWIRAUSAHAAN DAN WIRAUSAHA

Dalam banyak literatur, pembahasan mengenai kewirausahaan sudah lama muncul yaitu pada awal abad ke-18. Berdasarkan Soeharto Prawirokusumo dalam Suryana; Istilah Wirausaha pertama kali digunakan oleh Richard Catillon (Irlandia) yang berdiam di Perancis dalam bukunya essai sur la nature du commerce en generale. Dalam buku tersebut  Wirausaha adalah; seorang yang menanggung resiko. Awalnya istilah Wirausaha merupakan sebutan bagi para pedagang yang membeli barang di daerah-daerah yang kemudian menjualnya dengan harga yang tidak pasti. Istilah maupun isu kewirausahaan menjadi populer dalam dunia perdagangan atau bisnis modern di hampir seluruh dunia pada tahun 1980.

Pembicaraan tentang Kewirausahaan sebagai suatu fokus perhatian dan ketertarikan kembali ditekankan; Sebagai suatu kajian yang sangat penting bagi para mahasiswa  bisnis dan manajemen, para pelaku bisnis, akademis, dan pemerintah di berbagai tingkat di seluruh dunia.
Hal ini disebabkan karena dianggap dan diyakini bahwa kemajuan dan kekuatan perekonomian suatu bangsa sangat tergantung pada kemajuan perdagangan dan bisnis. Perdagangan dan bisnis tersebut dapat muncul, maju dan meluas karena peran yang dimainkan oleh faktor kewirausahaan.

KEGIATAN BELAJAR 1 :
KONSEP DASAR KEWIRAUSAHAAN DAN WIRAUSAHA

A. DISIPLIN ILMU KEWIRAUSAHAAN

Ada banyak alasan, mengapa pada akhirnya kewirausahaan dijadikan sebuah ilmu yang diajarkan dalam dunia pendidikan. Prawirokusumo; pendidikan kewirausahaan telah diajarkan sebagai suatu disiplin ilmu yang independen , karena kewirausahaan :
1. berisi bidang pengetahuan yang utuh dan nyata, yaitu terdapat teori, konsep, dan metode ilmiah yang lengkap.
2. memiliki dua konsep, yaitu posisi permulaan dan perkembangan usaha
3. merupakan disiplin ilmu yang memiliki objek tersendiri, yaitu kemampuan  menciptakan sesuatu yang baru dan berbeda.
4. merupakan alat untuk menciptakan pemerataan usaha dan pendapatan, atau kesejahteraan rakyat yang adil dan makmur.

Jika diamatai dari proses perkembangannya, sejak awal abad ke-20, kewirausahaan sudah dikenal di beberapa negara. Di Belanda kewirausahaan dikenal dengan sebutan "ondernemer", sedangkan di Jerman dikenal dengan sebutan "unternehmer". Secara umum, dalam mempelajari ilmu kewirausahaan, kita akan memahami bahwa dalam kewirausahaan banyak tanggung jawab yang harus ditangani, antara lain : tanggung jawab dalam mengambil keputusan yang menyangkut kepentingan teknis, kepemimpinan organisasi dan komersial, penyediaan modal, penerimaan dan penanganan tenaga kerja, pembelian, penjualan, pemasangan iklan, dll.

Pada tahun 1950-an, pendidikan kewirausahaan mulai dirintis di beberapa negara seperti di Eropa, Amerika, Kanada. Bahkan, sejak tahun 1970-an, banyak universitas yang mengajarkan kewirausahaan, manajemen usaha kecil, atau manajemen usaha baru. Pada tahun 1980-an, hampir 500 sekolah di AS memberikan pendidikan kewirausahaan. Di Indonesia, pendidikan kewirausahaan masih terbatas pada beberapa sekolah atau perguruan tinggi tertentu.

B. KEWIRAUSAHAAN DARI BERBAGAI SUDUT PANDANG DAN KONTEKS

Untuk dapat memahami kewirausahaan secara utuh, penting bagi kita untuk meninjau berbagai perspektif bidang ilmu lainnya terhadap kewirausahaan. Ada beberapa pandangan dari berbagai sudut pandang dan konteks mengenai kewirausahaan adalah sebagai berikut :

1. Pandangan ahli ekonomi
Suryana; Menurut ahli ekonomi, wirausaha adalah orang yang mengkombinasikan faktor-faktor produks seperti sumber daya alam, tenaga kerja, material, dan peralatan lainnya untuk meningkatkan nilai yang lebih tinggi dari sebelumnya.
Gunadarma dalam Wiarsih Febriani; Dalam teori ekonomi, studi mengenai kewirausahaan ditekankan pada identifikasi peluang yang terdapat pada peran serta membahas fungsi inovasi dari kewirausahaan dalam menciptakan kombinasi sumber daya ekonomis sehingga memengaruhi ekonomi agregat.

2. Pandangan ahli manajemen
Wirausaha adalah seseorang yang memiliki kemampuan dalam menggunakan dan mengombinasikan sumber daya seperti keuangan, material, tenaga kerja, dan keterampilan untuk menghasilkan produk, proses produksi, bisnis, dan organisasi usaha baru.
Fungsi wirausaha adalah memperkenalkan produk, melaksanakan metode produksi, membuka pasar, membuka bahan/sumber-sumber, dan melaksanakan organisasi baru. Unsur-unsur kewirausahaan meliputi motivasi, visi, komunikasi, optimisme, dorongan semangat, dan kemampuan memanfaatkan peluang.

3. Pandangan pelaku bisnis
Dalam konteks bisnis Sri Edi Swasno dalam Suryana; wirausaha adalah pengusaha, tetapi tidak semua pengusaha adalah wirausaha. 
Wirausaha adalah pelopor dalam bisnis, inovator, penanggung resiko yang mempunyai visi ke depan dan memiliki keunggulan dalam prestasi di bidang usaha.

4. Pandangan psikologi.
Surayana; wirausaha adalah orang yang memiliki dorongan kekuatan dari dalam dirinya untuk memperoleh suatu tujuan serta suka bereksperimen untuk menampilkan kebebasan dirinya di luar kekuasaan orang lain.
Gunadarma dalam Wiarsih Febriani; menjelaskan bahwa dalam bidang ilmu psikologi, studi kewirausahaan meneliti karakteristik kepribadian wirausaha.

5. Pandangan pemodal
Wirausaha adalah orang yang menciptakan kesejahteraan untuk orang lain, menemukan cara-cara baru untuk menggunakan sumber daya, mengurangi pemborosan, dan membuka lapangan kerja yang disenangi masyarakat.


C. OBJEK STUDI KEWIRAUSAHAAN

Objek studi kewirausahaan adalah nilai-nilai dan kemampuan seseorang yang diwujudkan dalam bentuk prilaku. Menurut Soeparman Soemahamidjaja dalam Suryana; kemampuan seseorang yang menjadi objek kewirausahaan meliputi kemampuan :
1. merumuskan tujuan hidup/usaha;
2. memotivasi diri;
3. berinisiatif;
4. berinovasi;
5. membentuk modal material, sosial, dan intelektual;
6. mengatur waktu dan membiasakan diri;
7. mental yang dilandasi agama;
8. membiasakan diri dalam mengambil hikmah dari pengalaman yang baik maupun menyakitkan.

D. BISAKAH KITA MEMPELAJARI KEWIRAUSAHAAN?

Pertanyaan ini tentunya muncul di benak kita semua, dapatkah kewirausahaan dipelajari? Bagaimana peran pendidikan dalam proses pembentukan kewirausahaan?.
Suryana; beberapa puluh tahun yang lalu ada pendapat bahwa kewirausahaan tidak dapat dipelajari dalam arti seseorang akan menjadi wirausaha hanya faktor bawaan atau keturunan. Namun dalam perkembanagan selanjutnya, hasil penelitian menunjuukhan wirausaha.
Di negara maju pertumbuhan wirausaha membawa peningkatan ekonomi yang luar biasa. Para wirausaha baru ini telah memperkaya pasar dengan produk-produk yang inovatif dan memiliki daya saing tinggi.

Sebagai suatu disiplin ilmu, ilmu kewirausahaan dapat dipelajari dan diajarkan sehingga setiap individu memiliki peluang untuk tampil sebagai seorang wirausahawan (entrepreneur). Untuk menjadi wirausaha sukses, memiliki bakat saja tidak cukup, tetapi juga harus memiliki pengetahaun mengenai segala aspek usaha yang akan ditekuninya. Sebagaimanan yang telah dijelaskan sebelumnya, tugas dari wirausaha sangat banyak, antara lain tugas mengambil keputusan, kepemimpinan teknis, dll.






PENGANTAR STATISTIK SOSIAL (ISIP4215) - ADB

 

DAFTAR ISI

TINJAUAN MATA KULIAH
MODUL 1 : KONSEP DASAR STATISTIKA
MODUL 2 : PENYAJIAN DATA
MODUL 3 : UKURAN PEMUSATAN DAN UKURAN PENYEBARAN
MODUL 4 : PROBABILITA
MODUL 5 : PENARIKAN SAMPEL
MODUL 6 : ESTIMASI DAN UJI HIPOTESIS
MODUL 7 : PENGUJIAN HIPOTESIS SATU SAMPEL
MODUL 8 : PENGUJIAN HIPOTESIS DUA SAMPEL
MODUL 9 : PENGUJIAN HIPOTESIS LEBIH DARI DUA SAMPEL DAN DUA RATA-RATA POPULASI.


TINJAUAN MATA KULIAH

Pengantar Statistik Sosial merupakan mata kuliah yang mempelajari dasar-dasar statistik dalam ilmu sosial. Mata kuliah ini bermanfaat karena akan memberikan bekal dasar untuk memahami mata kuliah lainnya, seperti mata kuliah metode penelitian sosial.

Setelah mempelajari mata kuliah ini, diharapkan mampu menerapkan statistika deskriptif dan inferensia. Secara khusus anda diharapkan mampu : 
1. menerapkan konsep-konsep dasar statistika
2. menerapkan penyajian data
3. menerapkan ukuran pemusatan dan ukuran penyebaran
4. menghitung probabilita
5. menerapkan metode penarikan sampel
6. melakukan estimasi dan uji hipotesis

MODUL 1 :
KONSEP DASAR STATISTIKA

Apakah anda penggemar Piala Dunia? Jika ya, pernakah anda mencoba untuk menerka siapakah yang akan menjadi juara dunia, pada saat penyelenggaraan piala dunia?. Pada saat anda mencoba untuk menerka, tentunya anda akan mencoba mencari tahu bagaimana kelemahan dan kelebihan dari setiap tim yang akan berlaga, dan tentunya anda membutuhkan bermacam informasi. Setelah anda memiliki bermacam informasi, mulailah anda berhitung sehingga anda sampai pada kesimpulan bahwa Tim A akan memenangkan seluruh pertandingan dan menjadi juara . Proses ini pada dasarnya merupakan salah satu gambaran tetang statistika.

Apa sebenarnya statistika? Apakah sama dengan Statistik? Mengapa kita harus mempelajari Statistik? Pada Modul 1 ini akan mempelajari tentang berbagai konsep dasar yang ada di dalam statistik. Mengetahui apa saja kegunaan mempelajari statistika, dan dasar yang harus dikenali sebelum mempelajri materi lebih lanjut.

Untuk bisa memahami statistika, dibutuhkan banyak praktik yang dapat dilakukan dengan mencoba mengerjakan berbagai latihan yang ada, dan juga mencoba mengerjakan berbagai latihan yang ada. Setelah mempelajari modul 1 ini diharapkan dapat memahami :
1. Pengertian Statistika
2. Manfaat mempelajari statistika
3. Klasifikasi statistika
4. Skala Pengukuran.

KEGIATAN BELAJAR 1 :
PENGERTIAN DAN KLASIFIKASI STATISTIKA

A. PENGERTIAN STATISTIKA

Apakah anda pernah mendengar kata Statistika? Mungkin anda akan menjawab "kalau statistik, ya, saya sering mendengar". Lalu, apakah ada perbedaan antara statistik dan statistika? Kita akan mencoba mencari tahu apa perbedaan antara statistik dan statistika.
Kita akan mulai dari konsep yang lebih sering didengar yaitu kata statistik. seperti telah disampaikan anda sering mendengar, melihat, dan bahkan memanfaatkan berbagai informasi yang ada di sekitar kita. Kita mungkin pernah menggunakan informasi tentang berbagai kebijakan politik yang dibuat oleh partai politik sehingga kita bisa memutuskan apakah kita akan memilih partai politik tersebut atau partai politik yang lain.
Atau kita pernah mendengar tenrtang kemungkinan pemerintah menaikkan pajak kendaraan sehingga kita bisa mengantisipasi, apakah akan membeli kendaraan atau tidak. Nah, berbagai informasi itulah sesungguhnya yang dimaksudkan dengan statistik. Dengan demikian, kita bisa juga mengatakan bahwa statistik adalah suatu kumpulan yang tersusun lebih dari satu angka.

Kita coba lihat beberapa contoh statistik :
1. Lingkar Survei Indonesia (LSI) mendapati hampir 54 persen responden tidak puas dengan pemerintahan Joko Widodo (Jokowi), sedangkan 42 persen menyatakan puas. Survei melalui ponsel itu, dilakukan terhadap 1.200 orang di 34 provinsi pada 26 dan 27 Januari lalu.
2. Pada tahun 2008, misalnya jumlah mahasiswa berusia 18-24 tahun di universitas berstatus negeri ini baru 2.200 orang per semester. Namun, pada tahun 2011 jumlah mahasiswa baru usia 18-24 tahun hampir 12.500 orang.
3. "Jumlah penduduk Indonesia tahun 2012 sekitar 230 juta jiwa. Untuk mengetahui pengaruh pertumbuhan penduduk bukan hanya berdasarkan faktor jumlah, tetapi juga struktur dan persebaran,"Jelas Sudibyo. Struktur ini dipengaruhi oleh Triple Burden, yaitu jumlah usia sekolah dan balita sebesar 28,87 %, angkatan kerja 63,54 %, dan lansia mencpai 7,59 %. Sudibyo menilai kalau jumlah ini akan terus meningkat terutama lansia yang saat ini sudah menembus angka 17 juta jiwa.

Jika pengertian statistik lebih mengarah kepada informasi, pengertian statistika mengarah ke pengertian yang lebih luas. Statistika adalah suatu metode yang digunakan dalam pengumpulan dan analisis data sehingga dapat diperoleh informasi yang berguna.
Pada dasarnya statistika menyediakan prinsip dan metodologi untuk merancang proses pengumpulan data, meringkas data, menyajikan data, serta melakukan interprestasi data, analisis data, serta mengambil kesimpulan.
Dengan kata lain, Statistika adalah ilmu yang mengumpulkan, menata, menyajikan, menganalisis, serta menginterprestasikan data angka, dengan tujuan membantu pengambilan keputusan yang efektif. Dengan demikian, didalam statistika terkandung konsep statistik.

Dalam Statistika, kita akan banyak mempelajari tentang berbagai teknik yang bisa digunakan dalam berbagai hal, seperti dalam penyajian data, analisis data, pengelompokkan data, dsb yang akan dipelajari lebih lanjut dalam modul selanjutnya.

1. Alasan Mempelajari Statistika
Perlukah kita mempelajari statistika? Anda tentunya pernah mempertanyakan hal ini, apalagi kita ketahui bersama bahwa saat ini sudah banyak program yang bisa kita gunakan untuk membantu kita dalam menangani statistika. Program Excel yang ada di seluruh komputer, merupakan salah satu program yang banyak membantu kita dalam statistika. 
Dalam penelitian sosial, SPSS dan berbagai macam model sejenis, juga sudah banyak digunakan oleh berbagai kalangan dalam statistika. Jadi, kembali ke pertanyaan awal kita, apakah kita masih perlu mempelajari statistika? Jawabannya tentu saja "Ya". Ingat bahwa berbagai program yang ada hanyalah merupakan alat yang bisa kita gunakan untuk mempermudah pekerjaan kita. Namun, seperti juga alat yang lain maka rumus itu, hanya alat yang bisa kita gunakan secara benar maupun secara tidak benar. Sebuah pisau bisa kita gunakan secara benar, dengan memanfaatkan pisau itu untuk memotong buah. namun pisau yang sama bisa kita gunakan secara salah untuk melukai sesama manusia. Dengan demikian, sekalipun kita menggunakan program SPSS, namun jika pemakaiannya salah maka hasilnya juga akan salah, dan pada akhirnya keputusan yang akan kita ambil juga salah.

Kembali pada pertanyaan apakah masih perlu kita mempelajari statistika? Untuk menjawab pertanyaan tersebut, kita perlu memahami terlebih dahulu, bahwa statistika merupakan sebuah alat, yang bisa berguna jika kita gunakan secara benar dan bisa tidak berguna jika kita gunakan secara salah.
Sering kita mendengar adanya manipulasi data yang salah satunya adalah melalui statistika. Kita coba ambil contoh berikut ini; Pemerintah mengklaim bahwa selama pemerintahan berjalan dua tahun, kesejahteraan masyarakat mengalami peningkatan tajam, hal ini berdasarkan data bahwa masyarakat yang berada di garis kemiskinan hanya sejumlah 5% dari seluruh penduduk yang ada.
Apakah ada yang salah dengan klaim pemerintah tersebut? Jika kita tidak memahami statistika, kita tentunya akan percaya saja pada klaim pemerintah, apalagi data yang menunjukkan bahwa masyarakat yang berada di garis kemiskinan memang menunjukkan data yang demikian. 
Namun demikian, jika kita memahami tentang statistika, kita tidak akan percaya. Kita perlu melihat lebih jauh sehingga kita akan melihat bahwa ada data yang disembunyikan dalam laporan tersebut. Jika data yang berada pada garis kemiskinan hanya 5% dan data itu benar, namun demikian ternyata data lain menunjukkan bahwa 35% penduduk yang justru berada di bawah garis kemiskinan. Klaim pemerintah tidak salah, namun ada manipulasi dengan tidak menampilkan data tentang penduduk yang berada di bawah garis kemiskinan. Nah kondisi inilah yang menunjukkan bahwa kita tetap harus mempelajari statistika.

Contoh lain, mengenai pentingnya mempelajari statistika adalah berikut ini. Anda adalah seorang pimpinan pada sebuah perusahaan besar yang memiliki banyak cabang di daerah, termasuk di perdalaman.
Sebagai pimpinan, anda perlu mendengar laporan dari bawahan anda. Salah satu bawahan anda yang ada di pedalaman, suatu ketika memberikan laporan yang mengejutkan. Isi laporannya sebagai berikut. Telah terjadi tindakan yang memalukan karena seratus persen wanita yang ada di perusahaan melakukan seks bebas hanya kepada 1 orang laki-laki. 
Apa reaksi anda sebagai pimpinan? Sebagai pimpinan yang memahami statistika, Anda tentunya tidak akan percaya begitu saja dan mencoba menggali informasi lebih jauh. Ternyata laporan yang disampaikan memang benar, bahwa 100% wanita yang ada di perusahaan melakukan seks bebas hanya kepada satu orang laki-laki. Data yang benar, namun dimanfaatkan secara salah. Setelah diteliti, ternyata jumlah wanita yang bekerja di perusahaan di pedalaman itu haya berjumlah 1 orang sehingga secara persentase, data tersebut memang menunjuk jumlah 100%.
Dari kedua contoh yang ada, kita akhirnya menjadi sadar, bahwa banyak ruang untuk memanipulasi data, dan agar kita tidak mudah terjebak, kita perlu mempelajari statistika.

2. Pemanfaatan Statistika
Apakah anda mengikuti proses pelaksanaan jajak pendapt pada saat pemilihan presiden tahun 2014? Berbagai lembaga berlomba melakukan suatu proses hitug cepat untuk memprediksi siapakah yang akan menjadi presiden berikutnya.
Gambaran ini menunjukkan salah satu pemanfaatan statistika. Betapa kuatnya statistika dalam memengaruhi kehidupan manusia sehingga ketika terjadi perbedaan maka masing-masing berusaha mempertahankan kredibilitasnya. Kondisi ini menunjukkan bagaimana statistika dapat memberikan dampak yang luas pada manusia. Selain menggambarkan manfaat statistika, proses hasil hitung cepat ini juga menunjukkan bagaimana statistika dimanipulasi untuk kepentingan tertentu. Kita coba lihat kejadian yang ada dalam proses hasil hitung cepat dalam pemilihan presiden tahun 2014.

Bisa dilihat hasil survei 12 lembaga survei, ada 8 lembaga survei yang menghasilkan perhitungan cepat yang relatif sama, sekitar 52% untuk Jokowi dan 48% untuk Prabowo. Sementara 4 lembaga survei memenangkan Prabowo. Dari 4 lembaga survei, hanya satu yang hasil hitung cepatnya menunjukkan perbedaan signifikan antara suara Jokowi dan Prabowo, yaitu hasil perhitungan cepat PUSKAPTIS. hasil perhitungan cepat PUSKAPTIS menunjukkan Prabowo mendapat 52% suara dan Jokowi mendapat 48%. Selisih persentase jumlah suara sekitar 4%, dengan margin error +/- 1% maka selisih terendah antara suara Prabowo dan Jokowi adalah (52%-1%=51%) - (48%+1%=49%) = 2%. Sementara hasil perhitungan cepat 3 lembaga lain, selisih persentase suara masih berada di dalam margin error sehingga dengan metode uji statistik, tidak bisa disimpulkan bahwa ada perbedaaan yang signifikan jumlah suara antara kedua kubu.

Selain banyak dimanfaatkan di kalangan politik, di kalangan bisnis statistika juga memegang peranan yang sangat penting. Perusahaan di manapun selalu mengandalkan pada statistika dalam proses pengambilan keputusan. Baik perushaan berskala besar maupun perusahaan berskala kecil mengandalkan pada statistika. Dan bukan hanya sektor ekonomi dan politik, dalam setiap segi kehidupan manusia, semua mengandalkan pada statistika. Bahkan dalam kehidupan manusia yang sedrhana pun, baik secara sadar maupun tidak sadar mengandalkan pada  statistika.
Pernakah anda ragu-ragu, apakah hari ini akan hujan atau tidak? Ketika anda sampai pada kesimpulan, hari ini akan hujan, Anda akan membawa payung maka anda juga sudah menerapkan statistika. Dengan kata lain, semua orang secara sadar atau tidak sadar sudah memanfaatkan statistika, dari hal yang sangat sederhana sampai hal yang sangat kompleks.

B. KLASIFIKASI STATISTIKA

Untuk mempermudah kita dalam memakai statistika, kita perlu membuat beberapa klasifikasi statistika. Ada dua klasifikasi yang kita gunakan, yaitu pertama berdasarkan pada kativitas yang dilakukan, kedua berdasar pada metodenya.
1. Berdasarkan aktivitas yang dilakukan.
a. Statistika deskriptif; membahas tentang cara-cara pengumpulan data, penyederhanaan angka pengamatan yang diperoleh, serta melakukan ukuran pemusatan dan penyebaran untuk memperoleh informasi yang menarik, berguna, dan mudah dipahami. 
Dengan kata lain, statisti deskrptif adalah penggambaran data yang telah dikumpulkan. Banyak cara yang bisa digunakan untuk menggambarkan data, bisa menggunakan tabel distribusi, grafik, diagram, atau dalam bentuk narasi. 
Contoh statistika deskriptif :
b. Statistika Inferensia; Cara menganalisis data serta mengambil kesimpulan (terkait dengan estimasi parameter dan pengujian hipotesis). Statistika inferensia berkaitan dengan analisis sebagian data sampai ke peramalan atau penarikan kesimpulan mengenai kesleuruhan data. Berikut Contoh statsitika inferensia :

Meski dianggap gagal menciptakan perubahan dalam meningkatkan kesejahteraan rakyat, otonomi daerah masih tetap didukung oleh mayoritas masyarakat Indonesia (73%), hanya 27% yang menyatakan menolak otonomi daerah. Jumlah sampel 1240, dengan margin of error +/- = 3,0% pada tingkat kepercayaan 95%. Responden tersebar di 33 provinsi dengan jumlah responden yang proporsional sesuai dengan jumlah penduduk di masing-masing provinsi.

2. Berdasarkan Metodenya
a. Statistika parametrik; bagian dari statistika inferensia yang mempertimbangkan nilai dari satu atau lebih parameter populasi, seperti rata-rata hitung, standar deviasi, dan korelasi. Karakteristik dari parametrik antara lain memperhitungkan nilai yang ada di populasi, datanta berskala minimal interval, bentuk variabelnya kontinu, serta datanya terdistribusi secara normal. Contoh dari statistika parametrik antara lain : uji t, uji z, serta korelasi pearson.

a. Statistika nonparametrik; bagian dari statistika inferensia yang tidak memperhatikan nilai dari satu atau lebih parameter  populasi. Karakteristik dari nonparametrik antara lain datanya berskala ukur nominal atau ordinal, variabelnya diskret, dan biasanya untuk menguji sampel yang relatif kecil (kurang dari 30). Contoh dari statistika non-parametrik anatara lain uji chi square, uji wilcoxon, serta uji spearmen.


KEGIATAN BELAJAR 2 :
KONSEP DASAR STATISTIKA DAN SKALA PENGUKURAN

A. KONSEP DASAR STATISTIKA

Ketika anda mempelajari KB 1, tentunya anda membaca beberapa konsep yang muncul dalam penjelasan materi statistika. Agar kita memiliki pemahaman yang sama tentang konsep tersebut, ada baiknya dalam KB 2 ini, kita bersama-sama mempelajari beberapa konsep dasar yang ada dalam statistika,

1. Variabel
Variabel bisa kita artikan sebagai atribut dari kelompok objek yang diteliti dengan variasi dari masing-masing objeknya. Dengan kata lain, variabel merupakan sebuah konsep yang memiliki variasi nilai. Variasi nilai dari sebuah variabel, kita sebut sebagai kategori. Kita ambil contoh berikut; Pendidikan merupakan sebuah variabel yang memiliki variasi nilai (kategori) tinggi, sedang, dan rendah. Contoh lain; misalnya jenis kelamin, dengan kategori laki-laki dan perempuan. Masih banyak contoh variabel yang ada di sekitar kita, mulai dari sederhana hingga yang sangat kompleks.

Seperti halnya ketika kita mencoba mengklasifikasi statistika maka variabel bisa kita klasifikasi berdasar beberapa bentuk klasifikasi
a. Klasifikasi yang pertama adalah berdasarkan bulat atau tidaknya nilai yang diperoleh. Variabel kita bedakan menjadi variabel diskret dan variabel kontinu.
1). Varibel Kontinu ; adalah variabel yang besar nilainya dapat menempati semua nilai yang berada diantara dua titik. Nilai yang berada diantara dua titik bisa berbentuk nilai bulat atau nilai pecahan. Contoh berat gula pasir, dengan variasi nilai 2 kg, 2,5 kg., 3,7 kg. dan seterusnya. Contoh lain indeks prestasi kumulatif (IPK) dengan variasi nilai 2; 2,5; 3,75; dan seterusnya.
2). Variabel diskret ; adalah variabel yang besarnya tidak dapat menempati semua nilai. Nilai bilangan diskret selalu berupa bilangan bulat. Contoh: jumlah mahasiswa yang terdaftar dalam tutorial online, variasi nilainya 15, 20, 50, dst. Contoh lain jumlah kendaraan yang diparkir pada hari Minggu, variasi nilainya 12, 24, 40, dst. Jika kita cermati, dalam variabel diskret tidak mungkin mengandung pecahan, misalnya tidak mungkin kita akan menemukan 4,5 mahasiswa, atau kita akan menemukan 20,3 mobil.

b. Kalsifikasi yang kedua berdasarkan bentuk angka atau tidaknya nilai yang diperoleh. Dalam klasifikasi ini, variabel kita bedakan menjadi variabel kuantitatif dan variabel kualitatif.
1). Variabel kuantitatif adalah variabel yang variasi nilainya dalam bentuk angka. Contoh dari variabel kuantitatif antara lain usia dengan variasi nilai 15 tahun, 20 tahun, dst. Contoh lain adalah jumlah konsumsi buah dalam seminggu dengan variasi nilai 3 buah, 5 buah, dst.
2). Variabel Kualitatif adalah variabel yang variasi nilainya tidak dalam bentuk angka. Contoh dari variabel kualitatif antara lain jenis kelamin dengan variasi nilai laki-laki dan perempuan. Contoh lain lokasi tempat tinggal mahasiswa, dengan variasi nilai Jawa, Sumatera, Kalimantan, dst.

Pengklasifikasian variabel bisa kita buat dalam bentuk bagan berikut :


2. Data
Merupakan sejumlah informasi yang dapat memberikan gambaran tentang suatu keadaan. Syarat data antara lain :
a. harus sesuai dengan kenyataan yang sebenarnya (memiliki akurasi yang tinggi)
b. harus bisa mewakili parameter yang diukur dengan variasi yang kecil
c. harus relevan untuk menjawab suatu persoalan yang menjadi pokok bahasan
d. harus tepat waktu.

Informasi yang ada pada umumnya diperoleh melalui observasi (pengamatan) yang dilakukan terhadap sekumpulan individu, sekelompok orang, dan berbagai objek lainnya. Informasi yang diperoleh dapat memberikan keterangan, gambaran, atau fakta mengenai suatu persoalan baik dalam bentuk kategori, maupun huruf atau bilangan. Seperti halnya variabel, Data juga sebaliknya kita buat dalam beberapa klasifikasi sebagai berikut :

a. Berdasarkan metode pengumpulan, data dibedakan menjadi :
1). Data Primer ; data yang didapat dari sumber pertama, biasanya melalui wawancara langsung atau melalui pengisian kuesioner;
2). Data Sekunder ; data yang didapat dari sumber kedua dan seterusnya, biasanya data ini merupakan data yang sudah diolah lebih lanjut. Contohnya data BPS, data yang ada dalam jurnal, buku, serta majalah.

b. Berdasarkan sifatnya, data dibedakan menjadi :
1). Data Kualitatif ; data yang sifatnya hanya menggolongkan saja, atau dengan kata yang lain data yang ada hanya bisa digunakan untuk membedakan saja antara data satudengan data lainnya. Biasanya data ini memiliki skala ukur nominal dan ordinal. Contoh data tentang jenis kendaraan, persepsi mahasiswa, serta lokasi tempat tinggal.
2). Data Kuantitatif ; data yang sifatnya tidak hanya menggolongkan saja, namun juga bisa menunjukkan bobot perbedaan antara data satu dengan data lainnya. Data ini berbentuk angka. Contoh data tentang besaran penghasilan, usia, serta jumlah kekayaan.

c. Berdasarkan sumbernya, data dibedakan menjadi :
1). Data Internal ; data yang didapat didalam kelompok atau organisasi dan menggambarkan keadaan yang ada dalam kelompok atau organisasi tersebut. Contoh data tentang jumlah dosen yang ada di FISIP UT.
2). Data Eksternal ; data yang didapat dari luar kelompok atau organisasi dan menggambarkan keadaan yang ada di luar kelompok atau organisasi tersebut. Contoh data tentang jumlah perguruan tinggi terakreditasi yang ada di DIKTI.

d. Berdasarkan waktu pengumpulan, data dibedakan menjadi :
1). Data time series ; data yang dikumpulkan dari beberapa tahapan waktu yang terjadi secara kronologis. Contoh data jumlah mahasiswa yang registrasi dari tahun 2009 hingga tahun 2014
2). Data cross section ; data yang dikumpulkan pada waktu tertentu saja. Contoh data jumlah mahasiswa yang registrasi pada semester 2014.1.

Pengklasifikasian data dapat dibuat dalam bentuk bagai sebagai berikut :


B. SKALA PENGUKURAN

Skala bisa kita artikan sebagai perbandingan antarkategori dari sebuah objek yang memiliki nilai berbeda. Dengan demikian, skala yang dimaksud di sini merujuk pada variabel. Jika kita cermati pengertian tentang skala maka kita harus memastikan bahwa ketika kita menentukan skala dari sebuah variabel, harus didasarkan pada kategori yang melekat dalam variabel tersebut.
Dengan kata lain, sebuah variabel bisa memiliki skala yang berbeda-beda bergantung pada kategori yang melekat didalamnya. Contoh variabel penghasilan, kita bisa kategorikan penghasilan kedalam kategori tinggi, sedang dan rendah. Dan kita bisa kategorikan penghasilan ke dalam 5 juta, 7 juta, atau 10 juta. Dengan kategori yang berbeda sekalipun variabelnya sama, membuat variabel tersebut bisa kita klasifikasikan dalam skala yang berbeda.

Sementara itu, pengukuran bisa kita artikan sebagai dasar yang digunakan dalam setiap metode ilmiah. Dari kedua pengertian skala dan pengukuran tersebut, kita bisa artikan skala pengukuran semacam kesepakatan yang digunakan sebagai acuan untuk mennentukan nilai yang ada pada alat ukur sehingga ketika kita menggunakan alat ukur tersebut, akan menghasilkan data yang sama dalam setiap kesempatan.
Dalam statistika dikenal adanya empat skala; yaitu skala nominal, skala ordinal, skala interval, dan skala rasio. Skala pengukuran ini menjadi penting karena skala yang berbeda akan menentukan uji statistik yang akan digunakan.

1. Skala Nominal
Skala nominal merupakan skala yang melekat pada variabel yang kategorinya hanya bisa digunakan untuk membedakan antara satu kategori dengan kategori lainnya. Kita tidak bisa mengatakan bahwa kategori yang satu lebih baik dari kategori yang lain, atau kategori yang satu lebih tinggi dari kategori yang lain. Dengan demikian, skala nominal ini biasanya berupa variabel dengan data kualitatif.

Dalam kegiatan penelitian, kita bisa saja memberikan angka pada kategori dalam variabel berskala nominal, namun angka yang ada tidak bisa dijadikan dasar untuk menentukan bobot dari kategori karena angka yang ada hanya bisa digunakan untuk membedakan antarkategori. Tidak adanya bobot yang bisa ditunjukkan angka yang digunakan, membuat kita bisa saja mengganti anka yang ada dengan sembarang angka. Contoh yang paling umum adalah variabel jenis kelamin dengan kategori laki-laki dan perempuan. Kita hanya bisa membedakan bahwa yang satu adalah laki-laki dan yang lain adalah perempuan dan tidak bisa mengatakan bahwa laki-laki lebih baik dari perempuan atau sebaliknya.
Kita bisa memberikan angka untuk setiap kategori yang ada, misalnya angka 1 untuk laki-laki dan angka 2 untuk perempuan, namun demikian sekali lagi bahwa angka 2 tidak bisa diartikan memiliki bobot  yang lebih baik dibanding angka 1 sehingga tidak menjadi masalah ketika ingin mengubah angka tersebut, misalnya angka 1 untuk perempuan dan angka 2 untuk laki-laki.
Contoh lainnya adalah variabel agama dengan kategori Islam, Katolik, Hindu, Budha, Kristen, serta Aliran Kepercayaan. Angka yang digunakan dalam skala nominal hanya berfungsi sebagai kode yang memiliki arti berbeda dengan angka tersebut.

2. Skala Ordinal
Skala ordinal merupakan skala yang melekat pada variabel yang kategorinya selain menunjukkan adanya perbedaan, juga menunjukkan adanya tingkatan yang berbeda. Dengan demikian, dalam skala ordinal kita bisa menunjukkan bahwa kategori yang satu lebih baik dari kategori yang lain, atau kategori yang satu lebih tinggi dari kategori yang lain, dan tentunya termasuk didalamnya, yaitu kategori yang satu berbeda dengan kategori yang lain. Dengan kata lain, skala ordinal mencakup pula karakteristik yang ada dalam skala nominal. 
Contoh variabel yang berskala ordinal adalah penghasilan dengan kategori tinggi, sedang, dan rendah. Contoh variabel lain adalah jabatan dengan kategori direktur, manajer, dan staf. Kategori yang ada dalam kedua variabel tersebut, jelas menunjukkan adanya bobot yang berbeda sehingga kita bisa katakan bahwa orang yang penghasilannya tinggi memiliki tingkatan yang lebih baik dibanding orang yang memiliki penghasilan rendah, demikian pula jabatan direktur, tentunya memiliki tingkatan yang lebih baik dibandingkan jabatan staf.

Seperti halnya dalam skala nominal, dalam skala ordinal kita juga memanfaatkan angka-angka untuk menggambarkan kategori yang ada. Dalam skala ordinal, angka yang digunakan selain untuk membedakan juga untuk menunjukkan bobot yang berbeda sehingga jika dalam skala ordinal kita harus memperhatikan bobotnya.
Contoh penghasilan dengan kategori tinggi, sedang, dan rendah, kita beri kode 1 rendah, 2 sedang, 3 tinggi. Kode itu tidak bisa kita ubah menjadi 1 tinggi, 2 rendah, 3 sedang. Angka yang tidak bisa sembarang diubah terjadi karena angka tersebut juga menunjukkan adanya tingkatan yang berbeda, bahwa 2 tentunya lebih besar dari 1, dan 3 lebih besar dari 2. Persamaan adalah baik skala nominal maupun di skala ordinal, angka yang digunakan berfungsi sebagai kode yang memiliki arti yang berbeda dengan angka tersebut.

3. Skala Interval
Skala Interval merupakan skala yang melekat pada variabel yang kategorinya selain menunjukkan adanya perbedaan, juga menunjukkan adanya perbedaan, juga menunjukkan adanya tingkatan yang berbeda, dan juga menunjukkan adanya rentang nilai.
Dengan demikian, dalam skala interval kita bisa menunjukkan bahwa kategori yang satu lebih baik dari kategori yang lain, atau kategori yang satu lebih tinggi dari kategori yang lain, dan kategori yang satu berbeda dengan kategori yang lain, namun juga kita bisa menunjukkan bahwakategori yang satu memiliki rentang nilai dari sekian sampai sekian, dan kategori lainnya memiliki rentang nilai dari sekian sampai sekian.

Dengan kata lain, skala interval mencakup pula karakteristik yang ada dalam skala nominal dan skala ordinal. Contoh variabel yang berskala interval adalah jarak tempuh dengan kategori 0 sampai 25 km, 25 km sampai 50 km, dan 50 km sampai 75 km. Contoh variabel lain adalah lamanya penerbangan dengan kategori 1 sampai 2 jam, kategori 2 sampai 3 jam. Kategori yang ada dalam kedua variabel tersebut, jelas menunjukkan adanya bobot yang berbeda sehingga kita bisa katakan bahwa kendaraan yang memiliki jarak tempuh 0 sampai 25 km memiliki jarak tempuh yang lebih sedikit, dibandingkan kendaraan dengan jarak tempuh 25 sampai 50 km. Namun demikian, kita tidak bisa mengatakan bahwa kendaraan dengan jarak tempuh 25 sampai 50 km memiliki jarak tempuh dua kali dibanding kendaraan dengan jarak tempuh 0 sampai 25 km.

4. Skala Rasio
Skala rasio merupakan skala yang melekat pada variabel yang kategorinya selain menunjukkan adanya perbedaan, juga menunjukkan adanya tingkatan yang berbeda, menunjukkan adanya rentang nilai, serta bisa diperbandingkan.
Nilai yang ada bisa diperbandingkan karena adanya nol mutlak, yang bisa diartikan bahwa setiap angka memulai dari titik nol yang sama. Dengan demikian, dalam skala rasio kita bisa menunjukkan bahwa kategori yang satu lebih baik dari kategori yang lain, atau kategori yang satu lebih tinggi dari kategori yang lain, dan kategori yang satu berbeda dengan kategori yang lain, namun juga kita bisa menunjukkan bahwa kategori yang satu memiliki rentang nilai dari sekian sampai sekian, dan kategori lainnya memiliki rentang nilai dari sekian sampai sekian.
Kita bisa juga mengatakan bahwa 8 adalah dua kalinya 4, atau 10 adalah lima kalinya 2. Dengan kata lain, skala rasio mencakup pula karakteristik yang ada dalam skala nominal, skala ordinal, dan skala interval.
Contoh variabel yang berskala rasio adalah penghasilan, dengan kategori 5 juta, 10 juta, dan 15 juta. Contoh lain berat badan dengan kategori 32 kg, 64 kg, dan 75 kg. Jika kita perhatikan kategori dari variabel berskala rasio, kita bisa perbandingkan antara kategori satu dengan yang lain. Orang yang berat badannya 64 adalah dua kali berat badan orang yang beratnya 32 kg. Demikian pula orang yang penghasilannya 10 juta adalah dua kalinya dari orang yang penghasilannya 5 juta. Kita bisa memperbandingkan nilai yang ada karena kedua kategori tersebut dimulai dari titik nol yang sama. Kita coba lihat ilustrasi berikut :



Kalau kita bandingkan antara skala rasio dan skala nominal maupun ordinal, mereka memiliki kesamaan, yaitu menggunakan angka-angka. Bedanya angka yang digunakan dalam skala nominal dan ordinal hanya merupakan kode, bukan arti dari angka itu sendiri, misalnya 1 bukan berarti "satu", tetapi artinya "laki-laki" atau 2 bukan berarti "dua" tetapi artinya "perempuan". sedangkan dalam skala rasio, angka yang ada merupakan arti dari angka itu sendiri, jadi kalau ditunjukkan angka 15 diartikan sebagai "lima belas". 
Secara skematis, skala dan karakteristiknya terlihat dalam skema berikut :



MODUL 2 :
PENYAJIAN DATA

Data yang telah dikumpulkan dalam suatu penelitian harus disusun dan disajikan dalam bentuk mudah untuk dipahami. Penyusunan dan penyajian data ini, akan membantu pihak-pihak yang terkait dengan hasil penelitian yang kita lakukan. Hal ini menjadi penting terutama apabila jumlah data yang kita kumpulkan sangat banyak. Selain untuk kepentingan analisis, penyusunan dan penyajian data ini juga untuk memudahkan orang lain melihat hasil penelitian kita.

Penyajian data dapat dikelompokkan menjadi penyajian data untuk data kualitatif dan penyajian data untuk data kuantitatif. Pembagian ini didasarkan pada penentuan dari skala variabel. Ada empat macam skala yaitu nominal, ordinal, interval, dan rasio. Penyajian data dengan skala nominal dan ordinal lebih bersifat kualitatif, sedangkan penyajian data dengan skala interval dan rasio bersifat kuantitatif.

Data yang kita kumpulkan dalam suatu penelitian dapat berupa nagka-angka ataupun informasi-informasi tertentu. Angka-angka atau informasi-infornasi tersebut, harus kita sederhanakan terlebih dahulu. Angka-angka kita masukkan dalam kategori kelas-kelas interval, misalnya usia responden kita susun dalam interval  kelas 21-30, 31-40, dan 41 - 50. Sementara itu, informasi yang kita peroleh kita klasifikasikan dalam kategori-kategori tertentu, misalnya jenis kelamin responden kita kategorikan ke dalam laki-laki dan perempuan. Data tersebut kemudian kita sususn berdasarkan klategori-kategori tersebut. Susunan tersebut dikenal dengan istilah tabel frekuensi. Tabel Frekuensi memiliki komponen-komponen sebagai berikut :
Seperti terlihat dalam contoh tabel diatas, suatu tabel harus ada hal seperti berikut ini :
1. No. tabel; Nomor tabel ini untuk mempermudah pengidentifikasian jumlah tabel yang ada dalam suatu karya ilmiah. Untuk setiap bab bisa dimulai dengan angka awal sehingga untuk bab satu, nomor tabel yang digunakan I.1, I.2, I.3, dst. Untuk Bab dua digunakan II.1, II.2, II.3, dst.
2. Judul tabel; Pemebrian judul dimaksudkan untuk mempermudah pembaca membandingkan antara satu tabel dengan tabel lain.
3. Jumlah Data; Dalam tabel biasanya digunakan notasi  N = .....  . Jumlah data ini juga ditampilkan untuk mempermudah pembaca mengetahui secara cepat beberapa jumlah data, atau biasanya dalam hal ini jumlah responden.
4. Kolom pertama dari suatu tabel umumnya berisikan Kategori; Kategori ini dapat berupa angka, dapat pula berisikan informasi penggolonggan. Kategori yang bukan berupa angka merupakan ciri penyajian data kualitatif, sedangkan kategori yang berupa angka merupakan ciri penyajian data kuantitatif. Kategori pada setiap kelas tidak boleh tumpang tindih. Hal ini dimaksudkan agar setiap informasi yang ada dapat dimasukkan ke dalam salah satu kelas.
5. Kolom kedua dari suatu tabel adalah frekuensi; Frekuensi menunjukkan berapa banyak kategori yang ada dipilih oleh responden. Frekuensi ini yang digunakan untuk menentukan persentase dari setiap kategori.
6. Kolom selanjutnya adalah kolom persentase; Persentase ini menunjukkan proporsi dari frekuensi setiap kelas. Cara mendapatkannya adalah frekuensi setiap kelas dibagi banyak data, kemudian dikali 100%.
7. Sumber data dan Keterangan harus dicantumkan; Sumeber data ini berguna untuk membetulkan kembali, jika terjadi kesalahan data. Selain itu, untuk menghindari penggunaaan data kepunyaaan orang lain.

Selain menggunakan tabel frekuensi, data dapat juga disajikan dengan menggunakan diagram. Diagram membuat penyajian data menjadi lebih menarik dan perbandingan setiap kategori lebih mudah terlihat. Diagram ini dapat dibuat dari data yang belum tersusun maupun dari data yang sudah  tersusun dalam tabel frekuensi.

Untuk membuat sebuah diagram, kita harus memperhatikan hal-hal berikut ini :
1. Suatu diagram seharusnya berisi mengenai keseluruhan informasi data yang disajikan sehingga pembaca tidak perlu lagi mencari informasi untuk memahami diagram di dalam teks.
2. Seperti halnya tabel frekuensi, diagram juga harus memiliki nomor diagram, judul, serta jumlah data. Bedanya, nomor dan judul diagram diletakkan dibawah diagram.
3. Untuk data interval rasio angka dari setiap kategori harus jelas terlihat. Bila data disederhanakan maka ukuran yang digunakan harus jelas terlihat. Data disajikan dalam ukuran jutaan maka 10 juta harus tertulis 10, sedangkan 500 ribu harus tertulis 0,5 juta. Keterangan ukuran ini biasanya ditampilkan di bagian bawah diagram.

Penyajian data yang dilakukan dengan menggunakan diagram atau grafik memiliki kelebihan dibanding dengan menggunakan tabel frekuensi, namun juga da kelemahannya. Kelebihan dan kelemahan penggunaaan grafik dapat kita lihat dalam tabel berikut  :


KEGIATAN BELAJAR 1 :
PENYAJIAN DATA KUALITATIF

Data Kualitatif umumnya dihasilkan dari pertanyaan-pertanyaan terbuka. Pertanyaan Terbuka adalah pertanyaan yang kategori jawabannya tidak dibatasi oleh si peneliti. Karena jawabannya tidak dibatasi maka akan banyak sekali alternatif jawaban. Sebagai contoh, "Mengapa anda mencri kerja di kota?" Jawaban dari pertanyaan ini bisa bermacam-macam di antaranya berikut ini.
1. Di kota lebih mudah mencari pekerjaan
2, Kota lebih menjanjikan karier tinggi
3. Kota lebih banyak peluang
4. Pekerjaan apapun dapat menghasilkan uang
5. Di desa terjadi kekeringan
6. Di desa terjadi gagal panen karena serangan hama
7. Di desa tidak ada pekerjaan yang sesuai dengan pendidikan.

Jawaban-jawaban di atas tentunya masih bisa bertambah. Apabila disajikan langsung maka akan ada jawaban yang sebenarnya sama, misalnya "di kota lebih mudah mencari pekerjaan", sama dengan jawaban "kota lebih banyak peluang", dan sama juga dengan jawaban "pekerjaan apa pun menghasilkan uang". Untuk itulah, semua alternatif jawaban yang sama perlu dikumpulkan kemudian dibuat suatu kategori baru seperti berikut ini :

1. Di kota lebih mudah mencari pekerjaan.
2. Kota lebih banyak peluang.                                        di kota mudah
3. Pekerjaan apapun dapat menghasilkan                       mendapatkan pekerjaaan  (1,2,3)
4. Kota lebih menjanjikan karier tinggi,
5. Di desa terjadi kekeringan
6. Di desa terjadi gagal panen                                        keadaan alam di desa (5,6)
7. Di desa tidak ada pekerjaan.

Dari pengelompokan diatas maka kategori data menjadi lebih sedikit. Dari 7 kategori yang ada dapat kita sederhanakan menjadi 4 kategori, yaitu sebagai berikut :
1. Di kota mudah mendapatkan pekerjaan
2. Kota lebih menjanjikan karier tinggi
3. Keadaan alam di desa
4. Di desa tidak ada pekerjaan yang sesuai dengan pendidikan.

Pengurangan kategori ini tentunya akan  mempermudah kita dalam menginterpretasikan data yang ada. Satu hal yang perlu diperhatikan dalam penyederhanaan data ini adalah dalam proses penggabungan yang dilakukan, tidak boleh menghilangkan informasi yang ada seperti sebelum proses penggabungan dilakukan.

A. PENYAJIAN DAN INTERPRETASI DATA

Data kualitatif merupakan data yang memperhatikan karakteristik-karakteristik dari suatu objek penelitian. Oleh karena itu, data kualitatif tidak menampilkan kategori dalam bentuk angka. Penampilan dalam bentuk angka justru akan menghilangkan informasi yang dimiliki oleh data kualitatif.
Tingkatan pengukuran yang bisa diberikan untuk data kualitatif adalah skala nominal dan ordinal. Skala nominal akan mengklasifikasikan setiap data ke dalam kategori-kategori tertentu, sedangkan dengan skala ordinal akan didapatkan peringkat dari setiap kategori . Data kualitatif dapat disajikan dalam bentuk tabel dan diagram.

1. Penyajian dan Interpretasi Data dalam Bentuk Tabel frekuensi
Tabel yang digunakan untuk data kualitatif disebut dengan tabel distribusi frekuensi kualitatif. Ciri dari tabel untuk data kualitatif ini diperlihatkan pada pembagian kelas yang didasarkan oleh kategori-kategori tertentu. Sebagai contoh, kita akan coba melihat variabel Alasan Pemilihan Perguruan Tinggi.













ASAS-ASAS MANAJEMEN (ISIP4111) - ADB


DAFTAR ISI

TINJAUAN MATA KULIAH
MODUL 1   : KONSEP DASAR DAN PERKEMBANGAN PEMIKIRAN MANAJEMEN
MODUL 2   : LINGKUNGAN MANAJEMEN DAN ORGANISASI
MODUL 3   : FUNGSI - FUNGSI MANAJEMEN
MODUL 4   : PERENCANAAN "THOSE WHO FAIL TO PLAN, PLAN TO FAIL"
MODUL 5   : PENGORGANISASIAN "IF YOU FAILED TO PREPARE, YOU PREPARE FOR FAILED"
MODUL 6   : PENGGERAKKAN "THOUSANDS OF STEPS NEVER ACHIEVED WITHOUT THE PRESENCE OF ONE OF THE FIRST SMALL STEP" 
MODUL 7   : PENGAWASAN "TIRED OF IT FOR SURE, BUT GIVING UP IS AN OPTION. INDEED MANY PEOPLE DO NOT KNOW HOW CLOSE THEY WERE TO SUCCESS WHEN THEY DECIDED TO GIVE UP"
MODUL 8   : LEVEL DAN KETERAMPILAN MANAJERIAL SERTA PERAN MANAJER
MODUL 9   : MANAJEMEN KONTEMPORER


TINJAUAN MATA KULIAH

Mata kuliah Asas - Asas Manajemen lahir sebagai jawaban atas fenomena kegiatan di bidang bisnis maupun pemerintahan untuk mencari prinsip-prinsip umum yang dapat diberlakukan secara universal dalam pengelolaan organisasi.

Mata kuliah ini memberikan pengetahuan dasar tentang manajemen, fungsi-fungsi manajemen; perencanaan, pengorganisasian, poenggerakkan dan kepemimpinan, pengawasan dan pengendalian, keahlian manajerial dan peran manajerial, serta manajemen kontemporer.
Kemampuan ini dapat diperoleh dengan menguasai kompetensi-kompetensi, mengidentifikasi, menjelaskan konsep dan teori sebagai berikut :
1. pengertian manajemen dan evolusi perkembangan pemikiran manajemen; 
Mahasiswa diharapkan mampu mendefiniskan manajemen dan mengidentifikasi perkembangan pemikiran manajemen
2. Lingkungan Manajemen dan Organisasi;
Mahasiswa mampu mengidentifikasi dan menjelaskan tentang pengaruh lingkungan terhadap manajemen, termasuk tanggung jawab organisasi terhadap lingkungannya 
3. Fungsi-Fungsi Manajemen;
Mahasiswa dapat mengidentifikasi dan menjelaskan berbagai fungsi manajemen yang berbeda-beda bedasarkan sudut pandang para ahli dan faktor-faktor yang mempengaruhi perbedaan
4. pengertian Perencanaan, Penyusunan Tujuan Organisasi dan Penetapan Produk Perencanaan dan Pengambilan Keputusan;
Mahasiswa mampu mengidentifikasi fungsi perencanaan, penetapan tujuan, produk perencanaan dan pengambilan keputusan.
5. Pengertian Pengorganisasian, faktor-faktor dalam Penyusunan Rancangan Desain, Berbagai rancang bangun dan desain organisasi;
Mahasiswa mampu mengidentifikasi dan menjelaskan pengertian pengorganisasian, dan menyusun desain organisasi dan struktur organisasi yang sesuai dengan kebutuhan (fit structure)
6. Pengertian Penggerakkan, Kepemimpinan, Motivasi dan Kepemimpinan super;
Mahasiswa mampu mengidentifikasi dan menjelaskan pengertian penggerakkan dan kepemimpinan, Motovasi, kepemimpinan super dan pengelolaan tim.
7. Pengertian Pengawasan dan Pengendalian;
Mahasiswa mampu mengidentifikasi dan menjelaskan perbedaan pengawasan dan pengendalian, prinsip pengawasan, dan pengelolaan kinerja
8. Tingkatan dan Level Manajerial; Mahasiswa mampu mengidentifikasi Keahlian dan Peran Manajerial berdasarkan Level Manajerial
9. Manajemen Kontemporer;
Mahasiswa mampu mengidentifikasi Manajemen Kontemporer  dan Perubahan.


MODUL 1 : KONSEP DASAR DAN PERKEMBANGAN PEMIKIRAN MANAJEMEN.

Wacana tentang Manajemen telah menjadi kosakata yang sangat memasyarakat hampir di seluruh masyarakat. Segala kegiatan baik di bidang pemerintahan, perusahaan maupun organisasi lembaga swadaya masyarakat selalu dikaitkan dengan manajemen.
Bahkan kegagalan suatu organisasi juga sering dikatakan sebagai mis-management. Manajemen telah menjadi nama jurusan atau program studi, menjadi gelar akademik magister dan pelbagai penggunaan lainnya.

Manajemen dalam bahasan ini akan diuraikan sebagai konsep dasar manajemen yaitu konsep manajemen yang bersifat ilmiah (sebagai lawan dari manajemen tradisional), dan sejarah perkembangan pemikiran manajemen sampai dengan saat ini.

KEGIATAN BELAJAR 1 : KONSEP DASAR, URGENSI FITUR, DAN RUANG LINGKUP MANAJEMEN

A. KONSEP DASAR MANAJEMEN

Istilah Manajemen berasal dari kata kerja "manage" Menurut Kamus The Random House Dictionary of the English Language, perkataan manage berasal dari bahasa Itali manegg(iare) yang bersumber dari perkataan Latin "manus", yang berarti "tangan".  secara leksikal, maneggiare berarti seni melatih atau menunggang kuda. Secara gramatikal berarti mengelola, memimpin, atau mengatur.

Perkembangan selanjutnya menunjukkan Manajemen mengandung pengertian yang lebih luas dari sekedar memimpin, membimbing, atau mengatur. Para ahli telah berupaya membuat definisi sebagai batasan dan pengertian hakiki apa itu manajemen, apa itu fungsi dan tujuan.
Pada kenyataannya, tidak satupun definisi manajemen yang diterima secara universal. Tiap ahli memberikan pengertian manajemen dengan tekanan yang berbeda-beda. Walaupun demikian, adagium tentang definisi manajemen ibarat seekor gajah yang sedang ditebak atau diterka oleh sekumpulan orang buta sebagai pembenaran terhadap berbagai definisi baik definisi manajemen maupun definisi lainnya, tidaklah terlalu tepat. Hal ini karena manajemen bukan seekor gajah dan para ahli bukan orang buta.

Terry (1977:4) mengemukakan definisi manajemen sebagai berikut :
" management is a distinct process consisting of planning, organizing, actuating, and controlling, performed to determine and accomplish stated objective by the use of human beings and other resources "

Dalam buku yang dialihbahasakan oleh Winardi, pengertian manajemen sebagai berikut :
" Manajemen merupakan proses yang khas, yang terdiri dari tindakan-tindakan perencanaan, pengorganisasian, penggerakkan dan pengawasan, yang dilakukan untuk menentukan serta mencapai sasaran-sasaran yang telah ditetapkanmelalui pemanfaatan sumber daya manusia dan sumber daya lain "

Daft, menyatakan : 
" management is the attainment of organizational goals in an effective and efficient manner through planning, organizing, leading and controlling organizational resources "

Weichrich and Koontz, mengemukakan pengertian manajemen sebagai berikut :
" management is the process of designing and maintaining an environment in which individuals, working together in groups, efficiently accomplish selected aims "

Berdasarkan berbagai definisi tersebut dapat diambil beberapa hal penting berkaitan dengan manajemen, yaitu : 
(a). manajemen merupakan suatu proses
(b). manajemen berkaitan dengan mendesain dan mengelola lingkungan organisasi baik internal maupun eksternal
(c). berkaitan dengan pencapaian tujuan organisasi yang telah dipilih dan ditetapkan, dilakukan secara efektif dan efisien.
(d) tujuan organisasi dicapai melalui kerja sama individual dalam kelompok
(e). tujuan dicapai melalui serangkaian proses mulai dari perencanaan sampai dengan pengawasan sebagai suatu kesatuan yang utuh dan timbal balik yang kemudian dikenal sebagai fungsi-fungsi manajemen.

Untuk mencapai tujuan organisasi tersebut diperlukan sumber daya inti yang dinyatakan oleh Terry, yaitu : men and women, materials, machines, methods, money and market. Keenam hal tersebut dikenal dengan istilah the six M's, yaitu :
1. Man and Women 
Manusia merupakan unsur terpenting dalam organisasi dan merupakan roh bagi berjalannya organisasi. Pada hakikatnya, pencapaian tujuan organisasi melalui dan ditujukan untuk kepentingan manusia.
2. Money
Dalam penegrtian yang lebih luas, uang dapat mencakup saham yang beredar, saham portofolio, otoritas organisasi atas sumber-sumber keuangan untuk menarik pungutan atau bayaran atas jasa dalam bentuk antara lain : retribusi dan iuran.
3. Materials
Ciri dari material adalah secara langsung berhubungan dengan proses produksi dan habis sekali pakai. Dalam dunia perkantoran yang tidak memproduksi barang dikenal dengan office supplies, seperti ATK.
4. Machines
Material yang sudah ada diolah dengan memanfaatkan mesin, peralatan, perlengkapan untuk menghasilkan suatu produk yang dinginkan. Termasuk ke dalam mesin adalah mesin itu sendiri, gedung kantor, pabrik alat-alat kantor yang dikenal dengan office equipment.
5. Methods (Prosedur atau Tata Cara)
Metode digunakan untuk menghasilkan barang atau jasa secara efektif dan efisien. Jika pekerjaan dilakukan tanpa prosedur yang jelas maka akan menimbulkan suatu pekerjaan yang salah arah (tidak efektif) atau arah benar tetapi boros (tidak efisien).
Dalam kegiatan sebuah pabrik atau kantor biasanya ada petunjuk manual yang sengaja disusun dan diterbitkan oleh organisasi atau perusahaan. Perlu dibedakan dengan uraian pekerjaan (job description) metode merupakan buku pintar organisasi.
6. Market
Pasar merupakan tempat dimana produk atau jasa yang dihasilkan organisasi di uji dan di evaluasi secara langsung maupun tidak langsung Apakah sesuai dengan kebutuhan masyarakat? Apakah memenuhi bauran pemasaran yang diinginkan, apakah pelayanannya memuaskan dan lain lain.

Keterkaitan antara sumber daya inti organisasi, fungsi manajemen dan tujuan akhir yang diinginkan organisasi dapat dilihat pada gambar berikut :

1. Manajemen Sebagai Ilmu, Seni, dan Proses.
Manajemen adalah ilmu dan juga seni. Disebut ilmu karena manajemen memiliki body of knowledge yang didalamnya terkjandung kebenaran universal.
Disebut seni karena mensyaratkan keterampilan tertentu yang dimiliki secara pribadi oleh pimpinan. Ilmu menyediakan pengetahuan dan seni berkaitan dengan penerapan pengetahuan dan keterampilan.

Dalam manajemen terkandung dua karakteristik dasar yaitu seni dan ilmu. Aspek yang sudah cukup jelas adalah ilmu, sementara aspek lainnya terkait penerapan yang menggunakan keterampilan sehingga menjelma menjadi suatu seni.
Sementara dalam mempelajari seni, juga selalu membutuhkan dukungan ilmu sebagai pengetahuan dasar seni tersebut. Sejalan dengan itu setiap disiplin ilmu akan lengkap apabila ilmu itu digunakan dalam praktik untuk memecahkan berbagai masalah.
Dalam manajemen ilmu dan seni adalah dua sisi dari satu mata uang yang sama. Ilmu dan seni tidak salig meniadakan tetapi saling melengkapi satu sama lain. Ilmu mengajarkan bagaimana mengetahui sesuatu, seni mengajarkan bagaimana menerapkan sesuatu (yang sudah diketahui tersebut).

Manajemen sebagai seni berkembang di awal-awal perkembangan pengetahuan manajemen yang dianggapnya sebagai seni, disini pengetahuan manajemen masih berupa "pengetahuan yang berserakan di hutan rimba".
Setiap orang menggunakan pengetahuannya atas dasar apa yang mereka miliki. Namun setelah di kodifikasi dan di sistematisasi, pengetahuan tersebut menjadi ilmu juga seni. Dalam konteks tumbuhan; manajemen adalah akar atau pohon , seni adalah buahnya.

a. Manajemen Sebagai Ilmu : Ilmu Lunak
Ilmu adalah seperangkat pengetahuan yang tersusun secara sistematik berkaitan dengan suatu bidang kajian khusus yang didalamnya terkandung atau berisi fakta-fakta umum yang menjelaskan suatu gejala. 
Kajian tersebut menetapkan sebab dan akibat hubungan antara dua atau lebih variabel dan mendasari asas-asas yang mengatur hubungan tersebut. Prinsip tersebut dikembangkan melalui metode ilmiah berdasarkan pengamatan dan pembuktian melalui pengujian.

Terkait dengan manajemen sebagai ilmu, dapat merujuk kepada pendapat Gulick yang menyatakan bahwa manajemen merupakan bidang ilmu pengetahaun yang mencoba mencari dan memahami secara sistematik mengapa dan bagaimana orang-orang bekerja sama untuk mencapai tujuan dan menjadikan kerja sama itu berguna bagi kemanusiaan.

Manajemen memenuhi syarat untuk disebut bidang ilmu pengetahuan karena telah lama dipelajari dan telah disusun dalam serangkaian teori. Terdapat tiga syarak untuk menyatakan sebuah pengetahuan menjadi bidang ilmu yaitu : to explain, to predict, dan to control. 
Teori ilmu manajemen dapat memberikan arahan bagi seorang pemimpin bagaimana menjalankan organisasi melalui fungsi-fungsi manajemen dan tentang apa yang harus dikerjakan oleh seorang pemimpin. Dalam hal ini unusr explain sudah terpenuhi. Selanjutnya berdasarkan fungsi yang sudah dijalankannya, maka hasil-hasil akibat tindakan tersebut dapat diperkirakan, jadi unsur predict juga terpenuhi. Terakhir dengan menerapkan fungsi pengawasan, maka pengendalian atas segala akibat aktivitas dapat dirumuskan dalam berbagai bentuk ukuran dan kriteria tertentu seperti kinerja dan efektivitas. Dengan demikian unsur control juga terpenuhi.

Terry; menyatakan bahwa manajemen sebagai ilmu dimana didalamnya terdapat "body of knowledge" yang objektif, bebas prasangka dan mencerminkan apa yang diyakini sebagai hasil pemikiran tyerbaik atas pokok persoalan tentang manajemen.

Manajemen sendiri secara generik termasuk ke dalam terminologi ilmu sosial. Dalam proses pembentukan manajemen sebagai ilmu dinyatakan oleh Terry bahwa "management science is a body of systematized knowledge accumulated and accepted with reference to understanding of general truths concerning management".
Pernyataan Terry ini ingin menunjukkan bahwa manajemen sebagai ilmu merupakan suatu bangunan yang disusun secara sistematik yang berasal dari sekumpulan pengetahuan yang terakumulasi dan diterima sebagai rujukan segala hal yang berkaitan dan dipahami sebagai kebenaran secara umum tentang manajemen.

Manajemen sebagai ilmu memiliki beberapa karakteristik sebagai berikut :
1). Prinsip-prinsip, generalisasi dan konsep-konsep manajemen terusun secara sistematis. Berdasarkan hal itu seorang pemimpin dapat mengelola organisasi dengan cara-cara sistematik dan ilmiah.
2). Prinsip-prinsip, generalisasi dan konsep-konsep manajemen disusun atas dasar pengamatan , penelitian, analisis dan uji coba, sebagaimana juga prinsip-prinsip ilmu lain.
3). Prinsip-prinsip manajemen telah dikodifikasikan, disistematisasikan, sehingga dapat dialihkan dari satu orang ke orang lain serta dapat dipelajari.
4). Prinsip-prinsip organisasi dapat diterapkan secara universal untuk semua jenis organisasi. Prinsip-prinsip manajemen memiliki dan memenuhi syarat penerimaan secara universal sebagimana karakteristik ilmu lain. Salah satu contoh prinsip kesatuan komando yang diterapkan pada organisasi bisnis maupun organisasi lainnya.
5). Prinsip ilmu adalah dapat diujicoba dan diamati yang diperoleh melalui penelitian ilmiah yang didasarkan atas logika. Prinsip manajemen didasarkan atas kajian dan obeservasi. Sebagaimana sudah menjadi pengetahuan bersama prinsip manajemen ilmiah Taylor merupakan hasil secara ilmiah.
6). Prinsip ilmu menetapkan adanya hubungan sebab akibat antar berbagai variabel. Atas dasar ini dalam manajemen terdapat prinsip yang dianut adanya hubungan sebab akibat antar gaya kepemimpinan dengan produktivitas kerja.
7). Prinsip ilmu menetapkan adanya uji validitas dan prediktabilitas di mana dapat di uji setiap waktu atau berbagai waktu secara serial yang menghasilkan keluaran atau akibat yang sama. Dalam manajemen hal tersebut dapat diberlakukan dengan eksperimen.

Namun demikian, manajemen bukanlah ilmu yang bersifat eksakta seperti biologi. Hal ini karena manajemen berklaitan dengan perilaku manusia yang memang pada kenyataannya sulit diramalkan secara akurat. 
Manajemen berkaitan dengan proses sosial dan karenanya masuk pada area ilmu sosial. Hal ini tidak mengherankan mengaoa teori dan prinsip-prinsip yang dihasilkan berbeda untuk waktu dan tempat yang berbeda, karena manajemen juga masuk pada ilmu perilaku. Ernest Dale menyebut manajemen sebagai Ilmu Lunak.

b. Manajemen Sebagai Seni : Keterampilan
Mengacu pada apa yang sudah dikemukakan pada paparan terdahulu manajemen adalah seni menunggang kuda. Salah satu sifat seni berhubungan langsung dengan karakter kehidupan masyarakat atau dalam skala yang lebih kecil dengan lingkungan organisasi yang berbeda satu dengan yang lain.
Dengan demikian, sebagai praktik, manajemen terkait dengan kebiasaan, selera, budaya, adat istiadat dan tradisi suatu masyarakat. Sehingga praktik manajemen berbeda antara suatu masyarakat, organisasi, perusahaan atau negara dengan yang lainnya. Ini berarti manajemen adalah seni mengurus, mengelola, mengarahkan segenap potensi organisasi ke dalam satu tujuan tertentu yang diinginkan oleh pengelola atau pemilik organisasi.

Terry; mengatakan "the meaning of arts is a personal creative power plus skill in performance", Maksud pernyataan tersebut adalah bahwa seni itu muncul dari kreasi yang sifatnya dan berasal dari kemampuan individual dabn diwujudkan dalam bentuk kemampuan untuk mewujudkanya dalam bentuk nyata.
Kekuatan kreatif muncul dari renungan atau penghayatan seorang inidividu atas berbagai peristiwa, masalah yang ditemui dan berbagai kemungkinan yang terjadi dalam proses perjalanan seseorang atau seorang pemimpin organisasi.

Disamping perenungan dan penghayatan, pengalaman, pengamatan dan pembelajaran dapat menjadi sumber untuk menjalankan praktik-praktik manajerial seseorang dalam organisasi. Praktik-praktik ini tentu saja berbeda nuansa bagi setiap orang. Hal ini dapat dilihat dari perbedaan setiap orang dalam kemampuan mendekati, kemampuan komunikasi, kemampuan memotivasi, kemampuan menggerakkan, kemampuan lobby dan kemampuan mengorganisasikan dan mendayagunakan bakat-bakat terpendam anggota organisasi. Ketika kemampuan menjalankan hal-hal tersebut dalam praktik yang berbeda, sangat tergantung kepada apa yang dikatakan oleh Terry sebagai skill in performance with effective skills or craft.














MODUL SEMESTER SATU

More »

MODUL SEMESTER DUA

More »

MODUL SEMESTER TIGA

More »

MODUL SEMESTER EMPAT

More »

MODUL SEMESTER LIMA

More »

MODUL SEMESTER ENAM

More »

MODUL SEMESTER TUJUH

More »

MODUL SEMESTER DELAPAN

More »

ILMU ADMINISTRASI BISNIS

More »

PROFESI ADVOKAT

More »

SEMESTER SATU ADMINISTRASI BISNIS

More »

SEMESTER DUA ADMINISTRASI BISNIS

More »

SEMESTER TIGA ADMINISTRASI BISNIS

More »

SEMESTER EMPAT ADMINISTRASI BISNIS

More »

SEMESTER LIMA ADMINISTRASI BISNIS

More »

SEMESTER ENAM ADMINISTRASI BISNIS

More »

SEMESTER TUJUH ADMINISTRASI BISNIS

More »

SEMESTER DELAPAN ADMINISTRASI BISNIS

More »

NGOMPOL

More »

OPINI

More »