RESUME MODUL 8 HUKUM PIDANA



MODUL 8
SISTEM PEMIDANAAN

PIDANA POKOK, PIDANA TAMBAHAN, SINGLE TRACK SYSTEM DAN DOUBLE TRACK SYSTEM
Pidana merupakan nestapa/derita yang sengaja dijatuhkan oleh negara (melalui pengadilan) kepada seseorang yang secara sah telah melanggar hukum pidana, dimana derita itu dijatuhkan melalui proses peradilan pidana. ------> Hukuman.
Proses Peradilan Pidana (The Criminal Justice Process) merupakan struktur, fungsi, dan proses pengambilan keputusan oleh sejumlah lembaga (kepolisian, kejaksaan, pengadilan dan lembaga permasyarakatan) yang berkenaan dengan penanganan dan pengadilan kejahatan dan pelaku kejahatan,
Pemidanaan merupakan penjatuhan pidana (sentencing) sebagai upaya yanh sah yang dilandasi oleh hukum untuk mengenakan nestapa penderitaan pada seseorang yang melalui proses peradilan pidana terbukti secara sah dan meyakinkan bersalah melakukan suatu tindakan pidana. ------> Proses Penjatuhan Hukuman.
Pidana juga berfungsi sebagai Pranata Sosial (Reaksi Sosial) adalah manakala terjadi pelanggaran terhadap norma-norma berlaku di masyarakat merupakan reafirmasi simbolis (Simbol Penegasan) atas pelanggaran terhadap “Hati nurani bersama” sebagai bentuk ketidaksetujuan terhdap perilaku tertentu, bentuknya berupa konsekuensi yang menderitakan atau setidaknya tidak menyenangkan.
Ilmu yang mempelajari pidana dan pemidanaan dinamakan Hukum Penitensier / Hukum Sanksi.
Hukum Penitensier adalah segala peraturan positif mengenai Sistem Hukum (strafstelsel) dan Sistem tindakan (matregelstelsel). Menurut Utrecht, adalah merupakan sebagian dari hukum pidana positif yang menentukan :
1.     Jenis Sanksi terhadap suatu pelanggaran (KUHP, UU Pidana, UU Nonpidana)
2.     Beratnya Sanksi
3.     Lamanya Sanksi
4.     Cara Sanksi
5.     Tempat Sanksi

ISTILAH
Istilah yang biasa dipakai Hukum Penitensier, Hukum sanksi, Straf, Hukuman, Punishment, dan Jinayah.
Ada beberapa pendapat ahli memaknai Hukuman :
Moeljatno dan Sudarto ; Lebih tepat “pidana” menerjemahkan straf.
R Soesilo ; definisi pidana sebagai perasaan tidak enak/sengsara.
Muladi dan Barda Nawawi Arief ; Unsur-unsur pidana meliputi :
1.     Pengenaan penderitaan/nestapa atau akibat-akibat lain yang tidak menyenangkan
2.     Diberikan sengaja oleh badan yang memiliki kekuasaan (berwenang)
3.     Dikenakan pada seseorang penanggungjawab peristiwa pidana menurut UU (orang memenuhi rumusan delik/pasal)


SEJARAH PIDANA DAN PEMIDANAAN DI INDONESIA
Dimulai sejak Wetboek van Strafrecht (WvS) diundangkan tahun 1915 dan berlaku di Indonesia berdasarkan UU No.1/1946 tentang KUHP (berdasarkan atas konkordinasi)
Jenis-jenis Hukuman yang dapat dijatuhkan oleh Pengadilan berdasarkan plakat tgl 22 April 1808, antara lain :
1.     Dibakar hidup, terikat pada satu tiang (pelaku pembakar/pembunuh)
2.     Dimatikan dengan suatu keris
3.     Dicap bakar
4.     Dipukul dengan rantai (pidana badan / corporal punishment)
5.     Ditahan/dimasukan dalam penjara
6.     Kerja Paksa pada pekerjaan-pekerjaan umum.

Utrecht dan R Soesilo ; Hukum pidana bersifat istimewa terkadang dikatakan melanggar HAM karena Merampas Kekayaan (Pidana denda), Memabatasi bergerak/kemerdekaan (Pidana Penjara), Perampasan Nyawa (Pidana mati). Hukum Pidana merupakan Ultimum remedium (Jalan terkahir/pamungkas).

Ultrecht mengutip dari Beysens, yang berhak menuntut, menjatuhkan dan memaksa pelaku menjalankan pidana adalah negara , mengingat :
1.     Negara sebagai organisasi sosial tertinggi (Menjaga ketertiban).
2.     Negara satu-satunya alat dapat menjamin kepastian hukum.

Hezewinkel-Suringa berpendapat Hak menjatuhkan pidana sepenuhnya menjadi hak mutlak dari Tuhan. Pendapat ini dapat digolongkan sebagai bentuk negativisme dari pendapat bahwa negara adalah yang berhak untuk itu.

TUJUAN PEMIDANAAN
Tujuan pemidanaan adalah Penghukuman  yang berkaitan dengan penjatuhan pidana dan alasan-alasan pembenar (justification) dijatuhkannya pidana terhadap seseorang yang dengan putusan pengadilan yang telah berkekuatan hukum tetap (incracht van gewijsde) dinyatakan secara sah dan meyakinkan terbukti melakukan tindak pidana.

Menurut Doktrin (Hukuman) :
1.     Teori Absolut/Retributif/Pembalasan (lex talionis)
Hukum adalah harus ada sebagai kosekuensi dilakukannya kejahatan, orang salah harus dihukum. Penganutnya E Kant, Hegel dan Leo Polak. Menurut Polak tiga sayarat hukuman :
a.    Perbuatan tersebut dapat dicela (melanggar etika)
b.    Tidak boleh dengan maksud prevensi (melanggar etika)
c.    Beratnya hukuman seimbang dengan beratnya delik
2.     Teori Relatif/Tujuan (Utilitarian)
Bahwa penjatuhan hukuman harus memiliki tujuan tertentu, bukan hanya sekedar pembalasan. Tujuan hukuman bersifat memperbaiki/merehabilitasi, Juga bertujuan prevensi yaitu sebagai pencegahan.
3.     Teori Gabungan
Gabungan dua teori lain, sehingga pidana/hukuman bertujuan :
a.    Pembalasan, membuat pelaku menderita
b.    Upaya Prevensi, mencegah terjadinya tindak pidana
c.    Merehabilitasi pelaku
d.    Melindungi masyarakat




PIDANA POKOK
Terdiri dari :
1.     Pidana Penjara
2.     Pidana Mati
3.     Pidana Kurungan
4.     Pidana Tutupan
5.     Pidana Denda

PIDANA PENJARA
Pidana penjara mirip dengan Pidana Kurungan. Satochid Kartanegara menyatakan keduanya dilakukan dengan cara merampas kemerdekaan orang-orang yang melanggar undang-undang. Perbedaan Keduanya :

PIDANA MATI
Pidana ini dilaksanakan dengan merampas jiwa seseorang yang melanggar ketentuan Undang-undang. Pelaksanaan eksekusi terhadap terpidana mati haruslah dilaksanakan setelah putusan pengadilan yang dijatuhkan berkekuatan hukum tetap dan telah pernah diberikan mengajukan grasi kepada Presiden.

Pelaksanaan eksekusi dengan digantung (Pasal 10 KUHP), kemudian dengan Staatsblad 1945 No 123 diperkuat dengan Penetapan Presiden No 2 Tahun 1964 (lembaran Negara 1964 No 38 kemudian menjadi UU No 5 Tahun 1969 yang menetapkan pidana mati dengan cara menembak mati terpidana.

Pro Kontra Pidana Mati
Alasan yang pro adalah pidana mati sangat dibutuhkan guna menghilangkan orang-orang yang dianggap membahayakan kepentingan umum atau negara dan dirasa tidak dapat diperbaiki lagi.
Alasan yang Kontra adalah pidana mati bertentangan dengan hak asasi manusia dan merupakan bentuk pidana yang tidak dapat lagi diperbaiki apabila setelah di eksekusi dilakukan, ditemukan kesalahan atas vonis yang dijatuhkan hakim.

PIDANA KURUNGAN
Seperti halnya pidana penjara dilakukan di penjara, tetapi lebih bebas dan memiliki hak pistole yaitu tersedia fasilitas yang lebih dari terpidana penjara.

Persamaan Pidana Kurungan dan Pidana Penjara :
1.    Sama menghilangkan kemerdekaan bergerak
2.    Mengenal maksimum umum, maksimum khusus, dan minimum umum dan tidak mengenal minimum khusus.
3.    Terpidana wajib untuk menjalankan pekerjaan tertentu walaupun narapidana kurungan lebih ringan.
4.    Tempat yang sama walaupun sedikit perbedaan, yaitu harus dipisah (Pasal 28)
5.    Mulai berlaku apabila sebelumnya tidak ditahan adalah pada hari putusan hakim (Kekuatan Hukum tetap) , dijalankan/dieksekusi pejabat kejaksaan dengan cara tindakan paksa memasukan terpidana ke Lembaga Permasyarakatan.

PIDANA TUTUPAN (UU No. 20/1946)
Pidana Tutupan ini ditambahkan kedalam Pasal 10 KUHP melalui UU No.20/1946 yang maksudnya sebagaimana tertuang dalam :
Pasal 2 ayat 1 yang menyatakan bahwa dalam mengadili orang yang melakukan kejahatan yang diancam dengan penjara karena terdorong oleh maksud yang patut dihormati, hakim boleh menjatuhkan Pidana Tutupan.
Pasal 2 ayat 2 dinyatakan bahwa pidana tutupan tidak dijatuhkan apabila perbuatan yang merupakan kejahatan itu, cara melakukan perbuatan itu, atau akibat dari perbuatan itu sehingga hakim berpendapat pidana penjara lebih tetap.
Dalam PP No.8 Tahun 1948 tentang Rumah Tutupan, Tempat menjalani pidana tutupan adalah Rumah Tutupan dengan fasilitas dan makanan yang lebih baik dari Pidana Penjara.

PIDANA DENDA
Didalam KUHP tidak dikenal batas maksimum tetapi dikenal batas minimum yaitu sesuai dengan Pasal 30 ayat (1) sebesar 25 sen. Berhubungan dengan nilai tukar uang yang tidak lagi bersesuaian dengan keadaan sekarang pada denda yang harus dibayar maka diatur lebih lanjut melalui Peraturan Pemerintah Pengganti Undang Undang No 18 Tahun 1960 besarnya nilai rupiah denda minimum dalam dalam KUHP dikalikan sebesar  lima belas kali menjadi sebesar 3,75 sen.

Kelemahan dan Keuntungan Pidana Denda
Kelemahan :
1.     Dapat dibayarkan oleh pihak ketiga sehingga pidana ini tidak secara langsung dirasakan oleh terpidana.
2.     Dapat membebani pihak ketiga yang tidak bersalah.
3.     Lebih menguntungkan bagi orang-orang yang mampu
4.     Kesulitan penagihan  bagi Jaksa eksekutor terutama terhadap terpidana yang tidak ditahan.
Keuntungan :
1.     Anomitas terpidana akan tetap terjaga (Menyembunyikan identitas atau anonim/tidak dikenal)
2.     Tidak menimbulkan stigma atau cap jahat
3.     Negara akan mendapatkan pemasukan dan proses pelaksanaan hukumannya lebih mudah dan murah.


PIDANA TAMBAHAN
Pidana Tambahan (Pasal 10 KUHP) Terdiri dari :
1.     Pencabutan beberapa Hak tertentu
2.     Perampasan Barang tertentu
3.     Pengumuman keputusan hakim

Dalam WvS Belanda ada satu lagi Pidana Tambahan yaitu Penempatan di satu latihan kerja negara, diberlakukan untuk pidana tertentu (pengemis. Gelandangan, mucikari, mabuk secara terusmenerus)

Menurut R-KUHP Pasal 67, Pidana Tambahan :
1.     Terdiri dari :
a.    Pencabutan Hak Tertentu
b.    Perampasan barang tertentu dan/atau tagihan
c.    Pengumuman putusan hakim
d.    Pembayaran ganti kerugian
e.    Memenuhi kewajiban adat setempat dan/atau kewajiban menurut hukum yang hidup dalam masyarakat.
2.     Dapat dijatuhkan bersama-sama dengan pidana pokok, baik berdiri sendiri atau bersama dengan pidana tambahan lain
3.     Dapat dijatuhkan bersama-sama dengan pidana pokok, baik berdiri sendiri atau dapat dijatuhkan walaupun tidak tercantum dalam perumusan tindak pidana (penuntutan).
4.     Pidana tambahan untuk percobaan dan pembantuan adalah sama dengan pidana tambahan untuk pidananya.

PIDANA PENCABUTAN HAK-HAK TERTENTU
Hak-hak yang dapat dicabut tersebut (chazawi, 2007: 4-49) adalah :
1.     Hak memegang Jabatan pada umumnya atau jabatan yang tertentu
2.     Hak menjalankan jabatan dalam Angkatan Bersenjata / TNI
3.     Hak memilih dan dipilih dalam pemilihan yang diadakan berdasarkan aturan-aturan umum
4.     Hak menjadi penasihat Hukum atau pengurus atas penetapan pengadilan, hak menjadi wali, wali pengawas, pengampu atau pengampu pengawas atas anak yang bukan anak sendiri
5.     Hak menjalankan kekuasaan bapak, menjalankan perwalian atau pengampuan atas anak sendiri
6.     Hak menjalankan mata pencaharian
PIDANA PERAMPASAN BARANG TERTENTU
Ada dua jenis barang yang dapat dirampas melaui putusan hakim pidana (Pasal 39) yaitu :
1.     Barang yang berasal/diperoleh dari suatu kejahatan (bukan dari pelanggaran) yang disebut dengan corpora delictie, misal uang dan cek palsu.
2.     Barang-barang yang digunakan dalam melakukan kejahatan, yang disebur dengan Instrumenta delictie, misalnya pisau yang digunakan untuk membunuh.

PIDANA PENGUMUMAN PUTUSAN HAKIM
Yaitu suatu publikasi extra dari suatu putusan pemidanaan seseorang dari pengadilan pidana, misalnya melalui media cetak atau elektronik.

SINGLE TRACK SYSTEM DAN DOUBLE TRACK SYSTEM

PENGERTIAN SISTEM SATU JALUR DAN SISTEM DUA JALUR
Dalam Konsep perundang-undangan yang masih menganut system satu jalur (single track system) penjatuhan (stelsel) sanksinya hanya meliputi pidana (straf, punishment) yang bersifat penderitaan saja sebagai bentuk penghukuman.
Sedangkan dalam Konsep menganut sistem dua jalur (Double track system) stelsel sanksinya menganut dua hal sekaligus, yaitu sanksi pidana dan sanksi tindakan.  

PENGERTIAN SANKSI PIDANA DAN SANKSI TINDAKAN
Sanksi Pidana sesungguhnya bersifat reaktif terhadap suatu perbuatan (pembalasan), sedangkan sanksi Tindkan lebih bersifat antisipatif terhadap pelaku perbuatan tersebut.
Fokus sanksi pidana ditujukan pada perbuatan salah yang telah dilakukan seseorang melalui pengenaan penderitaan agar yang bersangkutan menjadi jera, sementara fokus sanksi tindakan lebih terarah pada upaya memberi pertolongan pada pelaku agar ia berubah (Muladi dan Arief, 1992:4)


DEFINITE SENTENCE, INDEFINITE SENTENCE, DAN INDETERMINATE SENTENCE
DEFINITE SENTENCE
Sistem Pemidanaan ditetapkan secara pasti (the definite sentence) artinay penetapan sanksi dalam undang-undang tidak dipakai sitem peringatan atau pemberatan yang berhubungan dengan faktor usia, keadaan jiwa si pelaku, kejahatan-kejahatan yang dilakukannya terdahulu, maupun keadaan-keadaan khusus dari perbuatan/kejahatan yang dilakukan (Arief,2005 : 25-26 dan 62)

INDEFINITE SENTENCE
Dalam pemidanaan memberikan kewenangan kepada hakim untuk menetapkan pidana penjara antara minimum dan maksimum yang telah ditetapkan (the indefinite sentence).

INDETERMINATE SENTENCE

Pidana tidak ditentukan secara pasti (indeterminate sentence)  ; motivasi seseorang melakukan tindakan kriminal dilatarbelakangi hal-hal yang berbeda, sehingga hukuman yang dijatuhkanpun berbeda pula (Cesare Lombroso : “different criminal have different needs”)

METODE PENELITIAN SOSIAL


DISKUSI 1





INISIASI 2


DISKUSI 2




INISIASI 3


TEKNIK PENARIKAN SAMPEL


Saudara mahasiswa minggu yang lalu kita telah mendisukusikan tentang populasi dan sample. Dalam minggu ini kita akan melanjutkan diskusi tentang teknik penarikan sampel. Untuk menambah pemahaman Anda tentang materi ini, Anda dapat juga mempelajari dan memanfaatkan “Program Komputer Penuntun Buku Materi Pokok CD ROM, yang telah Anda terima pada saat memperoleh Buku Materi Pokok  (BMP) ISIP4216.

Sebagaimana telah kita pelajari pada modul 5 KB 1, sebenarnya dalam suatu penelitian kondisi yang ideal adalah peneliti harus meneliti seluruh populasi atau yang kita sebut dengan “total sampling”. Kondisi seperti ini dapat dilakukan jika jumlah populasi yang akan diteliti terbatas atau sedikit.

Ambil saja contoh berikut: Rektor UT ingin mengetahui bagaimana tanggapan pegawai UPBJJ-UT Surabaya terhadap rencana perubahan Organisasi dan Pengelolaan UT menjadi BHPP UT. Di UPBJJ-UT Surabaya terdapat 50 orang pegawai. Dalam hal ini, Rektor bisa melakukan penelitian terhadap seluruh pegawai di UPBJJ-UT Surabaya, karena jumlahnya hanya sedikit.

Anda bisa memandingkan, dengan penelitian berikut. Rektor ingin mengetahui pendapat mahasiswa UT tentang pemanfaatan facebok sebagai media interaksi dalam raangka proses belajar mengajar. Sebagaimana kita tahu bahwa mahasiswa UT berjumlah ratusan ribu dan tersebar di seluruh Indonesia, bahkan hingga di luar negeri. Tentunya untuk melakukan penelitian terhadap seluruh mahasiswa UT tidak semudah melakukan penelitian terhadap seluruh pegawai di UPBJJ-UT Surabaya. Salah satu cara yang dilakukan adalah menarik sebagian dari populasi yang ada untuk mewakili seluruh elemen yang tersedia.

Dengan demikian, dapat kita simpulkan bahwa alasan perlunya dilakukan penentuan sampel dalam suatu penelitian adalah; (1) adanya keterbatasan yang dimiliki oleh peneliti, jika meneliti seluruh populasi apalagi dalam bentuk yang banyak, (2) untuk menjamin kualitas data yang diperoleh, dan (3) menghemat waktu, tenaga, dan biaya. Sekarang pertanyaannya adalah bagaimana teknik penarikan sampel dilakukan.

Dalam modul 5 KB 2, kita sudah mempelajari bahwa dalam penelitian sosial terdapat dua macam teknik penarikan sampel, yakni (1) teknik penarikan sampel probabilita, dan (2) teknik penarikan sampel non-probabilita. Teknik penarikan sampel probabilita adalah teknik penarikan sampel yang mendasarkan pada prinsip bahwa setiap elemen di dalam populasi memiliki kesempatan yang sama untuk terpilih sebagai sampel. Sementara itu, teknik penarikan sampel non-probabilita adalah tidak adanya kesempatan yang sama bagi elemen di dalam populasi untuk terpilih sebagai sampel.

Perlu kita pahami bersama teknik penarikan sampel ini dapat menentukan mutu atau hasil akhir penelitian yang kita lakukan. Jika teknik yang digunakan tidak tepat, maka penelitian tersebut dapat dipertanyakan dan kebermaknaannya akan hilang. Oleh karena itu, pengetahuan tentang teknik penarikan sampel sangat diperlukan oleh peneliti. Berikut ini akan dijelaskan prosedur atau langkah-langkah penarikan sampel secara probabilita dan non-probabilita.


A. Teknik Penarikan Sampel Secara Probabilita
Terdapat empat cara yang bisa digunakan di dalam teknik penarikan sampel secara probabilita, yaitu simpel random sampling, sistematis, stratifikasi, dan cluster.

1.     Teknik pengambilan sampel acak sederhana (Simpel Random Sampling)
Sampel acak sederhana adalah sampel yang diambil dari suatu populasi dengan cara tidak memilih-milih individu yang dijadikan anggota sampel. Artinya, semua anggota populasi diberi kesempatan atau peluang yang sama untuk dijadikan sampel. Untuk memahaminya Anda bisa melihat Gambar 1.

Gambar 1
Penarikan Sampel Acak Sederhana




Prosedur atau langkah-langkah penentuan sampel secara acak sederhana ini adalah sebagai berikut:
1.    Tentukan populasi yang akan diteliti
2.    Tentukan ukuran sampel yang akan digunakan
3.    Memberikan nomor pada semua anggota populasi
4.    mengambil nomor tersebut secara acak sebanyak sampel yang telah ditentukan pada langkah 2.

Ada dua cara untuk melakukan langkah-langkah tersebut:
(1)   Kita bisa menuliskan nomor-nomor tersebut dalam potongan-potongan kecil kertas dan menggulungnya. Potongan-potongan kertas yang tergulung tersebut kita masukkan ke kotak dan kita cocok sehingga kita tidak mampu lagi mengenali nomor-nomornya. Potongan-potongan tersebut kita ambil secara acak, misalnya dengan cara mengocok sebanyak jumlah sampel yang kita tetapkan. Nomor-nomor yang terpilih itulah yang merupakan nomor individu anggota sampel, dan
(2)   menggunakan tabel bilangan random

2. Teknik penerikan sampel Sistematis (Systematical Sampling)
Teknik penarikan sampel dipilih berdasarkan nomor tertentu dari populasi yang telah diberi nomor urut. Nomor tertentu disini berarti nomor yang telah didisain atau ditetapkan secara sistematis oleh peneliti sehingga selisih atau perbedaan nomor antara setiap dua individu yang diambil selalu tetap. Misalnya, jika peneliti menetapkan bahwa selisih antar dua anggota sampel adalah 6, maka peneliti akan memilih individu yang bernomor 1, 7, 13, 19, dst.

 









                                                                         



Gambar 2
Penarikan Sampel Sistematis

Prosedur penentuan sampel sistematis
  1. Tentukan populasi yang akan diteliti
  2. tentukan ukuran sampelnya
  3. Buat daftar nama atau nomor anggota populasi
  4. Tentukan besarnya interval antara 2 anggota sampel yang berurutan Interval dapat ditentukan dengan cara membagi jumlah anggota populasi dengan jumlah sampel yang dikehendaki.
  5. Tentukan satu anggota sampel yang pertama dari deretan teratas daftar nama/nomor populasi
  6. Sampel kedua, ketiga, dan sterusnya ditentukan dengan menambah besar angka interval.


3. Teknik penerikan sampel secara stratifikasi (Stratified Sampling)
Teknik penarikan sampel stratifikasi digunakan apabila peneliti beranggapan bahwa populasinya bersifat sangat heterogen. Misalnya, peneliti akan melakukan penelitian tentang motivasi mahasiswa UT menggunakan facebook. Peneliti menduga bahwa ada perbedaan motivasi  antara laki-laki dan perempuan, atau antara fakultas ekonomi dengan FISIP. Untu itu peneliti membagi populasi mahasiswa UT ke dalam starata atau subpopulasi berdasarkan jenis kelamin atau berdasarkan fakultas.

Dalam penarikan sampel dengan menggunakan stratifikasi, ada dua cara yang bisa dilakukan oleh peneliti untuk menarik sampel dari masing-masing subpopulasi, berdasarkan pengambilan proporsional dan non-proporsional.

a. penarikan sampel proporsional
Proporsional berarti jumlah masing-masing strata dalam sampel sebanding dengan jumlah masing-masing strata dalam populasinya. Misalnya, kita akan meneliti tentang pemanfaatan facebook pada mahasiswa FISIP UT berdasarkan jurusan. Kita akan menarik sampel sebanyak 100 orang dari populasi dengan karakteristik berikut:

Jurusan sosiologi                            =  25 orang
Jurusan administrasi negara         =  50 orang
Jurusan komunikasi                                  =  75 orang
Jurusan pemerintahan                   =  20 orang
                                                              _________
                                                                170 orang



Dengan demikian, jumlah sampel yang akan diambil dari masing-masing strata adalah:

Jurusan administrasi negara         50/170 x 100 = 29,4             29
Jurusan komunikasi                                   75/170 x 100 = 44,1             44
Jurusan pemerintahan                   20/170 x 100 = 11,7             12
                                                                         ______________
                                                                         Total sampel  100


b. penarikan sampel secara non-proporsional
Teknik ini digunakan untuk menghindari bias yang muncul akibat adanya perbedaan jumlah anggota strata yang terlalu jauh antara masing-masing strata. Jika kita kembali pada contoh di atas, namun dengan sedikit perbedaan. Misalnya dalam jumlah strata jurusan pemerintahan jumlahnya sangat ekstrim, sepeti berikut:

Jurusan sosiologi                            =  25 orang
Jurusan administrasi negara         =  40 orang
Jurusan komunikasi                                   =  75 orang
Jurusan pemerintahan                   =    2 orang
                                                             _________
                                                               142 orang

Jika kita menggunakan cara yang proporsional, maka kita akan mendapatkan hasil sebagai berikut:

Jurusan sosiologi                            25/142 x 100 = 17,6             18
Jurusan administrasi negara         50/142 x 100 = 28,2             28
Jurusan komunikasi                                   75/142 x 100 = 52,8             53
Jurusan pemerintahan                   2/142 x 100 = 1,4                    1
                                                                         ______________
                                                                         Total sampel  100


Dengan cara proporsional, maka jurusan pemerinthn hanya ada 1 orang, sehingga sulit untuk dijadikan perbandingan. Pada kondisi demikian, maka cara non-proporsional sebaiknya digunakan, yaitu dengan cara peneliti mengambil seluruh jurusan pemerintahan yang ada, dan mengurangi strata yang lain.



4. Teknik penarikan sampel cluster (Cluster Sampling)
Teknik penarikan sampel ini digunkan jika kita memiliki keterbatasan dalam menyusun kerangka sampel, mengingat populasi yang ada sangat besar dan tersebar dalam wilayah yang luas. Untuk mengatasi ini peneliti dapat menggunakan beberapa kerangka sampel atau beberapa tahapan penarikan sampel, sampai peneliti dapat menarik sampel yang diinginkan. Hal ini dilakukan dengan cara membagi populasi ke dalam beberpa cluster atau tingkatan.


B. Teknik Penarikan Sampel Secara Non-Probabilita
Teknik penarikan sampel secara non-probabilita dibagi kedalam 4 cara, yaitu; penarikan sampel aksidental, purposive, secara kuota,  dan snowball.

1.    Teknik penarikan sampel aksidental
Teknik penarikan ini digunakan jika populasi penelitian relatif homogen dan peneliti sulit untuk menyusun kerangka sampel. Misalnya, peneliti ingin mengtehaui tentang pendat mahasiswa UT terhadap pelayanan registrasi. Dengan memakai teknik ini, maka peneliti menunggu mahasiswa di bagian pelayanan mahasiswa. Setiap mahasiswa yang datang ke bagian pelayanan mahasiswa akan dijadikan sebagai sampel, sampai sejumlah yang diinginkan.

2.    Teknik penarikan sampel purposive
Teknik ini digunakan dengan menentukan kriteria khusus terhadap sampel, dan dilakukan berdasar pilihan langsung peneliti. Misalnya, peneliti ingin mengetahui efektivitas pembelian bahan ajar melalui Toko Buku Online. Populasi penelitiannya adalah seluruh mahasiswa UT program non pendas yang ada di UPBJJ-UT Surabaya. Penentuan mahasiswa non pendas sebagai populasi penelitian adalah karena saat ini TBO-UT hanya diperuntukkan bagi mahasiswa program non pendas. Teknik penentuan sampel dilakukan dengan cara purposive sampling, yaitu  pembatasan sampel dengan hanya mengambil unit sampel yang sesuai dengan tujuan penelitian. Artinya, responden dipilih atas kriteria atau pertimbangan yang telah ditetapkan oleh peneliti. Adapun kriteria sampel yang ditetapkan adalah:
a.    mahasiswa UT program non pendas,
b.    pernah membali bahan ajar melalui TBO-UT.

Untuk memperoleh sampel tersebut, peneliti memperolehnya  dari pegawai Toko Karunika UT. Berdasarkan laporan pemesanan dan penjualan bahan ajar dari bulan Januari – Juni 2009, diketahui bahwa jumlah mahasiswa UT yang telah melakukan pembelian bahan ajar dan yang berasal dari UPBJJ-UT Surabaya adalah sekitar 170 orang. Karena jumlahnya relatif sedikit maka semuanya dijadikan sebagai sampel.

3.    Teknik penarikan samepel secara kuota
Teknik ini digunakan oleh peneliti jika populasinya cenderung heterogen dan tersebar luas. Prinsip penarikan sampelnya sama dengan prinsip penarikan sampel di dalam cluster, hanya jika dalam penarikan sampel secara cluster, pemilihan wilayahnya dilakukan secara acak dengan menggunakan undian, maka dalam penarikan sampel dengan menggunakan kuota pemilihan wilayahnya dilakukan dengan cara sengaja.

4.    teknik penarikan sampel snowball
Teknik ini dilakukan jika peneliti ingin mendalami suatu kasus yang sifatnya sensitif sehingga peneliti sulit untuk membuat kerangka sampel. Dalam teknik ini maka peneliti harus membuat suatu jaringan dalam bentuk sosiogram yang melibatkan seluruh objek penelitian. Sesuai dengan namanya, maka peneliti memulai dengan mencari responden dalam kelompok yang kecil, kemudian dari kelompok kecil tersebut, peneliti mendapatkan informasi tentang calon responden berikutnya. Begitu seterusnya sehingga peneliti mendapatkan jumlah responden sesuai dengan yang diinginkan.

Nah, untuk memperdalam pemahaman Anda tentang teknik penarikan sampel, sekarang coba Anda berlatih menentukan sampel dari contoh-contoh berikut:

1.    Cobalah Anda menarik sampel berdasar tabel angka random yang ada pada modul hal : 5.21, jika diketahui jumlah populasi sebanyak 350, dan peneliti akan mengambil sampel sebanyak 35.
2.    Cobalah Anda mengambil sampel dengan menggunakan teknik penarikan sampel sistematis, jika diketahui jumlah populasi sebanyak 1450 dan peneliti akan mengambil sampel sebanyak 450 orang.
3.    Cobalah Anda mengambil sampel dengan menggunakan teknik stratifikasi, jika peneliti ingin meneliti tentang sikap mahasiswa UT terhadap pemanfaatan facebook yang didasarkan pada fakultas, dimana mahasiswa FISIP sebanyak 250 orang, mahasiswa FEKON sebanyak 450 orang, mahasiswa FMIPA sebanyak 112 orang, dan mahasiswa FKIP sebanyak 350. Sampel yang akan diambil sebanyak 150 orang.


Silakan Anda mencoba, ingat lebih baik salah dalam menjawab dan menanggapi pada tuton ini dari pada melakukan kecurangan pada saat UAS. 



MATERI TAMBAHAN

POPULASI DAN SAMPEL

PENGERTIAN POPULASI

Populasi adalah kumpulan keseluruhan item    ( misalnya, orang, perokok, alamat ) sampel yang dipilih. Selain itu, populasi merupakan kumpulan dari individu dengan kualitas dan ciri-ciri yang telah ditetapkan. Kami mendefinisikan populasi sebagai sekelompok subyek yang minimal memiliki satu kesamaan karakteristik yang akan dikenai generalisasi pada suatu hasil penelitian.

Karakteristik tersebut akan membedakannya populasi dengan kelompok subjek yang lain. Sebagai contoh, populasi dapat dibatasi cirinya dengan menunjuk pada lokasi seperti “penduduk di kelurahan  Jembatan Besi”, yang berarti semua penduduk pada lokasi kelurahan tersebut akan dikenai generalisasi hasil penelitian. Masing masing dari individu pada populasi tersebut memiliki minimal satu kesamaan yaitu tinggal di kelurahan Jembatan Besi. Namun agar lebih spesifik, populasi dapat dibatasi dengan memberikan lebih banyak karakteristik, seperti “penduduk kelurahan Jembatan Besi, berjenis kelamin laki-laki, sudah menikah”. Dengan demikian, tidak semua penduduk kelurahan Jembatan Besi menjadi populasi penelitian melainkan hanya penduduk yang memenuhi ciri-ciri tersebut.

Semakin sedikit karakteristik populasi yang diidentifikasikan maka populasi akan semakin heterogen dikarenakan berbagai ciri subjek akan terdapat dalam populasi. Sebaliknya, semakin banyak ciri subjek yang disyaratkan sebagai populasi, yaitu semakin spesifik karakteristik populasinya maka populasi itu akan menjadi semakin homogen.

Sebelum menentukan cara-cara pengambilan sampelnya, Peneliti perlu menentukan lebih dahulu karakteristik populasinya secara jelas. Dengan tujuan peneliti akan mengetahui apakah populasinya homogen atau heterogen, mengetahui siapa saja yang memenuhi syarat sebagai anggota populasi, dapat memperkirakan besarnya sampel yang harus diambil, dan tahu persis kepada siapa generalisasi kesimpulan penelitiannya nanti akan dikenakan.

Populasi dengan jumlah individu tertentu disebut populasi finit, sedangkan populasi dengan jumlah yang tidak tetap disebut populasi infinit. Contoh dari populasi finit adalah jumlah siswa dalam suatu sekolah, jumlah penduduk dalam satu kelurahan, dan sebagainya. Sedangkan contoh dari populasi infinit adalah jumlah individu di suatu terminal, jumlah pengunjuk suatu tempat hiburan, dan sebagainya.
  
Pengertian Sampel

Sampel adalah bagian dari populasi, yang ciri-ciri dan karakteristiknya benar-benar diselidiki dalam suatu penelitian.

Pada dasarnya penggunaan sampel dalam penelitian didasari oleh pertimbangan efisiensi sumber daya. Sumber daya penelitian adalah waktu, tenaga, dan dana. Sering kali populasi yang menjadi target dalam penelitian demikian besarnya, hal ini tentunya akan membutuhkan tenaga dan dana yang besar, atau seringkali terbentur dengan keterbatasan waktu pelaksanaan penelitian.

Karenanya dengan pertimbangan-pertimbangan dan prosedur-prosedur tertentu peneliti dimungkinkan untuk tidak meneliti semua anggota populasi melainkan hanya sebagian dari anggota populasi yang disebut sampel.

Seperti yang telah dijelaskan diatas, idealnya peneliti harus menyelidiki selurung anggota populasi. Bila sampel terlalu besar peneliti dapat mengambil sampel yang representatif, yaitu mewakili populasinya.  Karena sampel merupakan bagian dari populasi, tentu harus memiliki ciri-ciri yang sama yang dimiliki oleh populasinya. Kerepresentatifan sampel sangat tergantung pada sejauhmana karakteristik sampel itu sama dengan karakteristik populasinya. 

Terdapat dua kepentingan yang bertolak belakang yang dihadapi peneliti. Di satu sisi karena pertimbangan sumber daya, waktu, dan biaya tadi peneliti ingin mengambil sampel sedikit mungkin. Namun disisi lain sampel yang diambil harus representatif. Sampel yang semakin besar (mendekati jumlah populasi) maka sampel tersebut akan semakin representatif.  Karenanya untuk menjembatani kedua kepentingan tersebut diperlukan sampel yang representatif dengan jumlah minimum, artinya peneliti harus mencari batas jumlah sampel terkecil namun tetap mewakili populasinya.

Selain itu, kerepresentatifan diusahakan dengan teknik-teknik pengambilan sampel. Pada dasarnya teknik-teknik pengambilan sampel terdiri atas cara probabilitas   (probability sampling) dan cara nonprobabilitas (nonprobability sampling). Dengan probability sampling  setiap subjek dalam populasi harus memiliki peluang yang sama untuk dipilih menjadi sampel, hal demikian tidak terjadi pada non-probability sampling.

Ukuran Sampel

Ukuran sampel menjadi sedemikian penting dan memerlukan pengetahuan dan perhatian khusus mengingat ukuran sampel merupakan salah satu upaya mendapatkan sampel yang representatif. Sering timbul pertanyaan, seberapa besar ukuran sampel yang diambil agar mendapatkan data yang representatif ?, beberapa literatur menyatakan bahwa besarnya sampel tidak boleh kurang dari 10%, tetapi ada pula yang menyebutkan ukuran sampel minimal adalah 5% dari populasinya.

Sebenarnya penentuan besar kecilnya ukuran sampel sangat bergantung kepada heterogenitas-homogenitas populasi, tingkat presisi yang diinginkan peneliti, rancangan analisis, dan efesiensi dari biaya, waktu dan tenaga.

Semakin homogen populasi maka sampel yang diambil juga semakin kecil, sebaliknya apabila populasi amat beragam / heterogen, maka ukuran sampel yang dibutuhkan akan semakin besar.

Semakin tinggi tingkat presisi yang dikehendaki peneliti, maka akan semakin besar ukuran sampel yang dibutuhkan. Jadi semakin besar sampel atau semakin mendekati ukuran populasi maka penduga akan mendekati nilai yang sebenarnya.

Seringkali besarnya sampel yang diduga sudah mencukupi sesuai dengan presisi yang dikehendaki misalnya 100 orang, tetapi apabila peneliti kaitkan dengan kebituhan analisis misalnya akan dihubungkan jenjang kepangkatan (gol. II, gol III, gol. IV) dengan kepuasan kerja mungkin saja jumlah sampel tidak akan mencukupi karena kebayakan karyawan adalah karyawan kontrak atau golongan I dan II.

Sebagai konsekuensi dari penentuan presisi yang tinggi adalah jumlah sampel yang besar, tentu ini akan memakan banyak waktu, biaya dan tenaga. Hendaknya peneliti juga mempertimbangkan ketiga aspek tersebut dalam menentukan sampel penelitian.

Berikut akan disajikan ilustrasi mengenai keterkaitan ukuran sampel dengan kerepresentatifan data.


 
Sebagai ilustrasi perhatikan sekelompok data dari nilai psikometri berikut :

Dari populasi yang terdiri dari sepuluh orang diperoleh rata-rata prestasi belajar psikometri 6,9. Setelah diambil empat orang responden secara acak ( pada sampel I ) diperoleh rata-rata 5,5. Sedangkan pada sampel II jumlah responden sedikit diperbanyak dengan menambah dua orang responden D dan G, diperoleh rata-rata sebesar 6,5.

Dari ilustrasi tersebut didapat perbedaan mean yang besar antara populasi dengan sampel I dengan empat orang responden. Perbadaan ini akan semakin kecil apabila jumlah sampel ditambah seperti pada sampel II. Ilustrasi tersebut merupakan salah satu pembuktian bahwa semakin besar sampel maka akan semakin representatif.

Penentuan ukuran sampel dapat ditempuh dengan berbagai cara, diantaranya dengan tabel dan rumus. Dalam buku ini akan diuraiakan tabel penentuan jumlah sampel menurut tabel Morgan dan Harry King selain perhitungan menggunakan rumus.


Tabel Morgan mensyaratkan peneliti untuk mengetahui jumlah dari populasi yang akan diteliti. Tabel ini memuat dua kolom yakni N sebagai ukuran populasi dan S sebagai ukuran sampel minimum yang harus diambil.

Misalnya : diketahui jumlah populasi yang akan di selidiki berjumlah 500 orang, maka peneliti tinggal melihat angka 500 pada kolom N dan kemudian lihat kolom S sejajar dengan angka 500 tadi, maka didapat angka 217. Angka 217 ini merupakan jumlah sampel minimum yang harus diambil oleh peneliti untuk menjalankan penelitiannya.

Setelah jumlah sampel diketahui yaitu sebesar 217, kemudian peneliti memilih siapa-siapa saja subyek yang akan dijadikan sampel tersebut, dengan kata lain peneliti harus memilih 217 dari 500 orang yang ada. Untuk keperluan ini peneliti memerlukan teknik sampling yang sesuai. 

Tugas1

TUGAS I
MATA KULIAH METODE PENELITIAN SOSIAL

Dewasa ini, perkembangan media massa elektronik, khususnya televisi di Indonesia cukup pesat. Hal ini ditandai dengan munculnya berbagai stasiun televisi swasta seperti TPI, RCTI, SCTV, Indosiar, Metro TV, Trans TV, LatiVi, TV-7, Global TV, JTV, TV education, dan lain-lain. Teknologi komunikasi ini telah menjadi komponen yang tidak terpisahkan dalam kehidupan sehari-hari. Selama 24 jam stasiun televisi saling berpacu menyajikan acara dan siarannya, seperti berita, kriminalitas, kekerasan, drama, dan sinetron yang paling banyak digemari masyarakat. Pengaruh tayangan televisi tersebut menyebabkan banyak anak-anak yang lalai mengerjakan pekerjaan rumah dengan alasan sibuk menonton televisi. Bahkan banyak yang terlambat masuk sekolah gara-gara terlambat bangun tidur karena semalaman menonton televisi. Data siswa SD Negeri 1 Mulyorejo – Surabaya menunjukkan bahwa siswa yang terlambat masuk sekolah mencapai 60% perhari. Akibatnya, prestasi belajar siswa mengalami penurunan, dengan indikator banyak siswa yang tinggal kelas.
Banyaknya jumlah siswa yang tinggal kelas di SD Negeri 1 Mulyorejo – Surabaya, maka Kepala Sekolah berencana meneliti seluruh siswa yang berjumlah 500 orang, dengan perincian siswa kelas I sebanyak 75 orang, siswa kelas II sebanyak 110 orang, siswa kelas III sebanyak 85 orang, siswa kelas IV sebanyak 50 orang, siswa kelasV sebanyak 65 orang, dan siswa kelas VI sebanyak 115 orang. Kepala sekolah menatapkan sampel sebanyak 300 orang dari populasi. 
Bacalah contoh kasus di atas, kemudian jawablah pertanyaan-pertanyaan di bawah ini.
1.Cobalah Anda rumuskan judul penelitian yang paling cocok untuk dijadikan sebagai suatu penelitian sosial.
2.Tentukan mana variabel dependent (variabel tergantung/terikat) dan variabelindependent (variabel bebas) yang dapat Anda identifikasi dari masalah di atas.
3.Coba tentukan jenis penelitian yang paling tepat. Jelaskan alasan anda. 
4. Uraikan desain penelitian yang seharusnya dipilih bagi penelitian ini. 



INISIASI 4

TEKNIK PENGUMPULAN DATA


Saudara mahasiswa, minggu yang lalu kita sudah mendiskusikan tentang materi populasi, sampel, dan teknik pengambilan sampel. Kita juga sudah mengetahui bahwa langkah selanjutnya setelah menentukan populasi dan menentukan sampel, kegiatan berikutnya adalah pengumpulan data. Langkah awal dari pengumpulan data adalah penyusunan instrument penelitian.
Pada minggu ini kita akan mencoba mendiskusikan materi tentang teknik pengumpulan data yang dapat digolongkan menjadi dua macam, yaitu  teknik pengumpulan data penelitian kualitatif dan teknik pengumpulan data penelitian kuantitatif.


Namun, sebelum kita membahas lebih lanjut tentang bagaimana teknik pengumpulan data, ada baiknya kita ketahui terlebih dahulu perbedaan antara penelitian kualitatif dengan penelitian kuantitatif. Penelitian kualitatif merupakan suatu proses penelitian, yang mirip dengan pekerjaan detektif. Dari sebuah penelitian akan dihimpun data-data utama dan sekaligus data tambahannya. Sumber data utama dalam penelitian kualitatif adalah kata-kata dan tindakan. Sedangkan data tertulis, foto, dan statistik adalah data tambahan. Dengan demikian biasanya data penelitian kualitatif, adalah data yang tidak bisa diukur atau dinilai dengan angka secara langsung.


Sedangkan, penelitian kuantitatif adalah penelitian ilmiah yang dilakukan secara sistematis terhadap bagian-bagian dan fenomena serta untuk mengukur hubungan-hubungan yang terjadi. Dengan demikian, proses pengukuran adalah bagian yang sentral dalam penelitian kuantitatif karena hal ini memberikan hubungan yang fundamental antara pengamatan emperis dan ekspresi matematis dari hubungan-hubungan kuantitatif. Untuk memudahkan membedakan penelitian kualitatif dengan penelitian kuantitatif dapat Anda lihat pada tabel 1.
Tabel 1. Perbedaan Penelitian Kuantitatif dengan Penelitian Kualitatif
Penelitian Kualitatif
Penelitian Kuantitatif

Desain tidak terinci, fleksibel, timbul "emergent" serta  berkembang sambil jalan antara lain mengenai tujuan, subjek, sampel, dan sumber data.
Desain terinci dan mantap.

Desain sebenarnya baru diketahui dengan jelas setelah penelitian
selesai (retrospektif).
Desain direncanakan sebelumnya pada tahapan persiapan (projektif)

Tidak mengemukakan hipotesis sebelumnya, hipotesis lahir sewaktu penelitian dilakukan; hipotesis berupa "hunches", petunjuk yang bersifat sementara dan dapat berubah; hipotesis berupa pertanyaan yang mengarahkan pengumpulan data.
Mengemukakan hipotesis sebelumnya, yang akan diuji kebenarannya.

Hasil penelitian terbuka, tidak diketahui sebelumnya karena jumlah variabel penelitian tidak terbatas

Hipotesis menentukan hasil yang diharapkan; hasil telah diramalkan (apriori); hasil penelitian telah terkandung di dalam hipotesis, jumlah variabel terbatas
Desain fleksibel, langkah-langkah tidak dapat dipastikan sebelumnya dan hasil penelitian tidak dapat diketahui atau diramalkan sebelumnya
Dalam desain jelas langkah-langkah penelitian serta hasil yang diharapkan

Analisis data dilakukan sejak mula penelitian dan dilakukan bersamaan dengan pengumpulan data, walaupun analisis akan lebih banyak pada tahap-tahap selanjutnya.
Analisis data dilakukan setelah semua data terkumpul pada tahap akhir.
     Sumber : diadaptasi dari berbagai sumber
                            
Teknik Pengumpulan Data Penelitian Kualitatif

Dibandingkan dengan penelitian kuantitatif, penelitian kualitatif memliki sifat fleksibel. Fleksibel diartikan sebagai peneliti bisa saja memulai mengumpulkan data di lapangan terlebih dahulu, baru setelah itu peneliti menyusun proposal. Jika dalam penelitian kuantitatif instrumen penelitian (teknik pengumpul data) yang digunakan umumnya dalam bentuk kuesioner, tetapi di dalam penelitian kualitatif selalu mengandalkan pada peneliti sebagai instrumen penelitian, karena itu dalam pengumpulan data sebaiknya peneliti sendirilah yang harus turun ke lapangan.

Untuk dapat melakukan pengumpulan data dengan baik ada beberapa tahapan yang harus dilakukan, yaitu; melakukan persiapan, menentukan site penelitian, menentukan strategi yang dilakukan, mendapatkan akses, membangun rapport, serta mengumpulkan data.

Teknik Pengumpulan Data Penelitian Kuantitatif

Terdapat beberapa teknik dalam pengumpulan data, dan yang paling utama adalah  menggunakan teknik angket atau kuesioer. Angket atau kuesioner merupakan suatu teknik pengumpulan data secara tidak langsung (peneliti tidak langsung bertanya jawab dengan responden). Instrumen atau alat pengumpulan datanya juga disebut angket berisi sejumlah pertanyaan-pertanyaan yang harus dijawab atau direspon oleh responden. Responden mempunyai kebebasan untuk memberikan jawaban atau respon sesuai dengan presepsinya.

Instrumen penelitian merupakan alat bantu peneliti melakukan pengumpulan data. Mutu instrumen akan menentukan mutu dari data yang dikumpulkan, sehingga hubungan instrumen dengan data adalah sebagai jantungnya penelitian yang saling terkait antara; latar belakang, permasalahan, tujuan, manfaat, kerangka pemikiran, asumsi dan hipotesis penelitian.
Terkait dengan validitas dan reabilitas yang sudah kita jelaskan minggu lalu, maka penyusunan pertanyaan yang akan diajukan di dalam instrumen penelitian juga harus diperhatikan oleh peneliti. Langkah awal yang perlu dilakukan adalah menyusun operasionalisasi konsep dengan baik. Operasionalisasi konsep ini merupakan upaya peneliti untuk menjabarkan konsep ke dalam indikator yang sifatnya emperik, sehingga dengan berbekal pada operasionalisasi konsep peneliti bisa menyusun instrumen penelitian.


Langkah-langkah dalam menyusun instrumen penelitian
1.      menentukan konsep-konsep
2.      mengidentifikasi variabel
3.      menentukan kategori
4.      menjabarkan variabel menjadi sub-variabel (dimensi)
5.      mencari indikator/aspek setiap sub variabel
6.      merumuskan setiap deskriptor menjadi butir-butir instrumen

Kita coba melihat operasionalisasi konsep dari tingkat kesejahteraan yang didefenisikan sebagai terpenuhinya kebutuhan sandang, panangan, dan papan.
Konsep
Variabel
Kategori
Dimensi
Indikator
No Pertanyaan
Kesejahteraan
Tingkat Kesejahteraan
·        Tinggi
·        Rendah
Pangan
-       makan tiga kali sehari
-       pola empat sehat lima sempurna
1,2,3,4



Sandang
-       Frekuensi membeli pakaian dalam sebulan
5



Papan
-       Status kepemilikan rumah
-       Tipe bangunan rumah
6, 7

Dengan dibuatnya operasionalisasi konsep tentang kesejahteraan, maka peneliti dengan mudah menyusun instrumen penelitian. Caranya, peneliti tinggal memindahkan indikator yang sudah dibuatnya menjadi pertanyaan yang ada dalam kuesioner. Contoh instrumen yang bisa dibuat oleh peneliti adalah sebagai berikut.
1. Berapa kali dalam sehari Anda mengkonsumsi makanan utama?
    1. 1 kali
    2. 2 kali
    3. 3 kali
    4. > 3 kali

2. Apakah dalam menu makanan utama setiap hari Anda mengonsumsi daging?
    1. Ya
    2. Tidak

3. Apakah dalam menu makana utama setiap hari Anda mengonsumsi nasi?
    1. Ya
    2. Tidak

4. pakah dalam menu makana utama setiap hari Anda mengonsumsi buah?
    1. Ya
    2. Tidak

5. Berapa kali Anda membeli pakaian baru dalam sebulan?
    1.  Tidak pernah
    2.  1 kali
    3.  2 kali
    4.  3 kali
    5.  > 3 kali

6. Apakah Anda sudah memiliki rumah?
    1. Ya
    2. Tidak

7. Bagaimana tipe bangunan rumah Anda?
    1. semi permanen
    2. permanen
   
Untuk menyusun pertanyaan-pertanyaan yang ada dalam kuesioner ada beberapa hal yang perlu diperhatikan, yaitu antara lain:
1.        Jangan membuat pertanyaan yang double barelled, atau pertanyaan yang mengandung lebih dari satu pertanyaan
2.        Jangan membuat pertanyaan yang me-leading atau mengarahkan jawaban responden
3.        Jangan membuat pertanyaan yang kategori jawabannya tidak muttualy exclusive, atau kategori jawaban yang ada saling tumpang tindih
4.        Jangan membuat pertanyaan yang kategori jawabannya tidak exhaustive atau tidak tuntas.
Nah, sekarang, coba Anda buat pertanyaan-pertanyaan sesuai dengan 4 (empat) ketentuan yang ada di atas. Akan lebih baik jika Anda bisa membuat lebih dari satu contoh untuk masing-masing ketentuan tersebut.

POPULASI, SAMPEL, DAN TEKNIK PENARIKAN SAMPEL


Saudara mahasiswa, materi inisiasi ini diambil dari modul. Jadi, kaitkan materi ini dengan materi lengkap yang ada dalam BMP ISIP4216. Untuk menambah pemahaman Anda tentang materi ini, Anda dapat juga mempelajari dan memanfaatkan “Program Komputer Penuntun Buku Materi Pokok CD ROM, yang telah Anda terima pada saat memperoleh Buku Materi Pokok  (BMP) ISIP4216.

Sebagaimana telah kita pelajari pada modul 5 KB 1, sebenarnya dalam suatu penelitian kondisi yang ideal adalah peneliti harus meneliti seluruh populasi atau yang kita sebut dengan “total sampling”. Kondisi seperti ini dapat dilakukan jika jumlah populasi yang akan diteliti terbatas atau sedikit.

Ambil saja contoh berikut: Rektor UT ingin mengetahui bagaimana tanggapan pegawai Kantor UPBJJ-UT Surabaya terhadap rencana perubahan Organisasi dan Pengelolaan UT menjadi BLU. Di UPBJJ-UT Surabaya terdapat 50 orang pegawai. Dalam hal ini, Rektor bisa melakukan penelitian terhadap seluruh pegawai di UPBJJ-UT Surabaya, karena jumlahnya hanya sedikit.

Anda bisa memandingkan, dengan penelitian berikut. Rektor ingin mengetahui pendapat mahasiswa UT tentang pemanfaatan facebook sebagai media interaksi dalam rangka proses belajar mengajar. Sebagaimana kita tahu, mahasiswa UT berjumlah ratusan ribu dan tersebar di seluruh Indonesia, bahkan hingga di luar negeri. Tentunya untuk melakukan penelitian terhadap seluruh mahasiswa UT tidak semudah melakukan penelitian terhadap seluruh pegawai di UPBJJ-UT Surabaya. Salah satu cara yang dilakukan adalah menarik sebagian dari populasi yang ada untuk mewakili seluruh elemen yang tersedia. Sebagian dari pipulasi itulah yang disebut sampel.Kegiatan untuk menentukan sampel disebut teknik penarikan sampel atau sampling.

Jadi, dapat kita simpulkan bahwa alasan dilakukan penentuan sampel dalam suatu penelitian adalah; (1) adanya keterbatasan yang dimiliki oleh peneliti, jika meneliti seluruh populasi apalagi dalam bentuk yang banyak, (2) untuk menjamin kualitas data yang diperoleh, dan (3) menghemat waktu, tenaga, dan biaya. Sekarang pertanyaannya adalah bagaimana teknik penarikan sampel dilakukan.

Dalam modul 5 KB 2, kita sudah mempelajari bahwa dalam penelitian sosial terdapat dua macam teknik penarikan sampel, yakni (1) teknik penarikan sampel probabilita, dan (2) teknik penarikan sampel non-probabilita. Teknik penarikan sampel probabilita adalah teknik penarikan sampel yang mendasarkan pada prinsip bahwa setiap elemen di dalam populasi memiliki kesempatan yang sama untuk terpilih sebagai sampel. Sementara itu, teknik penarikan sampel non-probabilita adalah tidak adanya kesempatan yang sama bagi elemen di dalam populasi untuk terpilih sebagai sampel.

Perlu kita pahami bersama teknik penarikan sampel ini dapat menentukan mutu atau hasil akhir penelitian yang kita lakukan. Jika teknik yang digunakan tidak tepat, maka penelitian tersebut dapat dipertanyakan dan kebermaknaannya akan hilang. Oleh karena itu, pengetahuan tentang teknik penarikan sampel sangat diperlukan oleh peneliti. Berikut ini akan dijelaskan prosedur atau langkah-langkah penarikan sampel secara probabilita dan non-probabilita.


A. Teknik Penarikan Sampel Secara Probabilita
Terdapat empat cara yang bisa digunakan di dalam teknik penarikan sampel secara probabilita, yaitu simple random sampling, sistematis, stratifikasi, dan cluster.

1.     Teknik pengambilan sampel acak sederhana (Simpel Random Sampling)
Sampel acak sederhana adalah sampel yang diambil dari suatu populasi dengan cara tidak memilih-milih individu yang dijadikan anggota sampel. Artinya, semua anggota populasi diberi kesempatan atau peluang yang sama untuk dijadikan sampel. Untuk memahaminya Anda bisa melihat Gambar 1.


 













Gambar 1
Penarikan Sampel Acak Sederhana




Prosedur atau langkah-langkah penentuan sampel secara acak sederhana ini adalah sebagai berikut:
1.    Tentukan populasi yang akan diteliti
2.    Tentukan ukuran sampel yang akan digunakan
3.    Memberikan nomor pada semua anggota populasi
4.    mengambil nomor tersebut secara acak sebanyak sampel yang telah ditentukan pada langkah 2.

Ada dua cara untuk melakukan langkah-langkah tersebut:
(1)   Kita bisa menuliskan nomor-nomor tersebut dalam potongan-potongan kecil kertas dan menggulungnya. Potongan-potongan kertas yang tergulung tersebut kita masukkan ke kotak dan kita cocok sehingga kita tidak mampu lagi mengenali nomor-nomornya. Potongan-potongan tersebut kita ambil secara acak, misalnya dengan cara mengocok sebanyak jumlah sampel yang kita tetapkan. Nomor-nomor yang terpilih itulah yang merupakan nomor individu anggota sampel, dan
(2)   menggunakan tabel bilangan random

2. Teknik penerikan sampel Sistematis (Systematical Sampling)
Teknik penarikan sampel dipilih berdasarkan nomor tertentu dari populasi yang telah diberi nomor urut. Nomor tertentu disini berarti nomor yang telah didisain atau ditetapkan secara sistematis oleh peneliti sehingga selisih atau perbedaan nomor antara setiap dua individu yang diambil selalu tetap. Misalnya, jika peneliti menetapkan bahwa selisih antar dua anggota sampel adalah 6, maka peneliti akan memilih individu yang bernomor 1, 7, 13, 19, dst.

 








                                                                           




Gambar 2
Penarikan Sampel Sistematis

Prosedur penentuan sampel sistematis
  1. Tentukan populasi yang akan diteliti
  2. tentukan ukuran sampelnya
  3. Buat daftar nama atau nomor anggota populasi
  4. Tentukan besarnya interval antara 2 anggota sampel yang berurutan Interval dapat ditentukan dengan cara membagi jumlah anggota populasi dengan jumlah sampel yang dikehendaki.
  5. Tentukan satu anggota sampel yang pertama dari deretan teratas daftar nama/nomor populasi
  6. Sampel kedua, ketiga, dan sterusnya ditentukan dengan menambah besar angka interval.


3. Teknik penerikan sampel secara stratifikasi (Stratified Sampling)
Teknik penarikan sampel stratifikasi digunakan apabila peneliti beranggapan bahwa populasinya bersifat sangat heterogen. Misalnya, peneliti akan melakukan penelitian tentang motivasi mahasiswa UT menggunakan facebook. Peneliti menduga bahwa ada perbedaan motivasi  antara laki-laki dan perempuan, atau antara fakultas ekonomi dengan FISIP. Untu itu peneliti membagi populasi mahasiswa UT ke dalam starata atau subpopulasi berdasarkan jenis kelamin atau berdasarkan fakultas.

Dalam penarikan sampel dengan menggunakan stratifikasi, ada dua cara yang bisa dilakukan oleh peneliti untuk menarik sampel dari masing-masing subpopulasi, berdasarkan pengambilan proporsional dan non-proporsional.

a. penarikan sampel proporsional
Proporsional berarti jumlah masing-masing strata dalam sampel sebanding dengan jumlah masing-masing strata dalam populasinya. Misalnya, kita akan meneliti tentang pemanfaatan facebook pada mahasiswa FISIP UT berdasarkan jurusan. Kita akan menarik sampel sebanyak 100 orang dari populasi dengan karakteristik berikut:

Jurusan sosiologi                            =  25 orang
Jurusan administrasi negara         =  50 orang
Jurusan komunikasi                                   =  75 orang
Jurusan pemerintahan                   =  20 orang
                                                              _________
                                                                170 orang



Dengan demikian, jumlah sampel yang akan diambil dari masing-masing strata adalah:

Jurusan administrasi negara         50/170 x 100 = 29,4             29
Jurusan komunikasi                                   75/170 x 100 = 44,1             44
Jurusan pemerintahan                   20/170 x 100 = 11,7             12
                                                                         ______________
                                                                         Total sampel  100


b. penarikan sampel secara non-proporsional
Teknik ini digunakan untuk menghindari bias yang muncul akibat adanya perbedaan jumlah anggota strata yang terlalu jauh antara masing-masing strata. Jika kita kembali pada contoh di atas, namun dengan sedikit perbedaan. Misalnya dalam jumlah strata jurusan pemerintahan jumlahnya sangat ekstrim, sepeti berikut:

Jurusan sosiologi                            =  25 orang
Jurusan administrasi negara         =  40 orang
Jurusan komunikasi                                   =  75 orang
Jurusan pemerintahan                   =    2 orang
                                                             _________
                                                               142 orang

Jika kita menggunakan cara yang proporsional, maka kita akan mendapatkan hasil sebagai berikut:

Jurusan sosiologi                            25/142 x 100 = 17,6             18
Jurusan administrasi negara         50/142 x 100 = 28,2             28
Jurusan komunikasi                                   75/142 x 100 = 52,8             53
Jurusan pemerintahan                   2/142 x 100 = 1,4                    1
                                                                         ______________
                                                                         Total sampel  100


Dengan cara proporsional, maka jurusan pemerinthn hanya ada 1 orang, sehingga sulit untuk dijadikan perbandingan. Pada kondisi demikian, maka cara non-proporsional sebaiknya digunakan, yaitu dengan cara peneliti mengambil seluruh jurusan pemerintahan yang ada, dan mengurangi strata yang lain.



4. Teknik penarikan sampel cluster (Cluster Sampling)
Teknik penarikan sampel ini digunkan jika kita memiliki keterbatasan dalam menyusun kerangka sampel, mengingat populasi yang ada sangat besar dan tersebar dalam wilayah yang luas. Untuk mengatasi ini peneliti dapat menggunakan beberapa kerangka sampel atau beberapa tahapan penarikan sampel, sampai peneliti dapat menarik sampel yang diinginkan. Hal ini dilakukan dengan cara membagi populasi ke dalam beberpa cluster atau tingkatan.


B. Teknik Penarikan Sampel Secara Non-Probabilita
Teknik penarikan sampel secara non-probabilita dibagi kedalam 4 cara, yaitu; penarikan sampel aksidental, purposive, secara kuota,  dan snowball.

1.    Teknik penarikan sampel aksidental
Teknik penarikan ini digunakan jika populasi penelitian relatif homogen dan peneliti sulit untuk menyusun kerangka sampel. Misalnya, peneliti ingin mengtehaui tentang pendat mahasiswa UT terhadap pelayanan registrasi. Dengan memakai teknik ini, maka peneliti menunggu mahasiswa di bagian pelayanan mahasiswa. Setiap mahasiswa yang datang ke bagian pelayanan mahasiswa akan dijadikan sebagai sampel, sampai sejumlah yang diinginkan.

2.    Teknik penarikan sampel purposive
Teknik ini digunakan dengan menentukan kriteria khusus terhadap sampel, dan dilakukan berdasar pilihan langsung peneliti. Misalnya, peneliti ingin mengetahui efektivitas pembelian bahan ajar melalui Toko Buku Online. Populasi penelitiannya adalah seluruh mahasiswa UT program non pendas yang ada di UPBJJ-UT Surabaya. Penentuan mahasiswa non pendas sebagai populasi penelitian adalah karena saat ini TBO-UT hanya diperuntukkan bagi mahasiswa program non pendas. Teknik penentuan sampel dilakukan dengan cara purposive sampling, yaitu  pembatasan sampel dengan hanya mengambil unit sampel yang sesuai dengan tujuan penelitian. Artinya, responden dipilih atas kriteria atau pertimbangan yang telah ditetapkan oleh peneliti. Adapun kriteria sampel yang ditetapkan adalah:
a.    mahasiswa UT program non pendas,
b.    pernah membali bahan ajar melalui TBO-UT.

Untuk memperoleh sampel tersebut, peneliti memperolehnya  dari pegawai Toko Karunika UT. Berdasarkan laporan pemesanan dan penjualan bahan ajar dari bulan Januari – Juni 2009, diketahui bahwa jumlah mahasiswa UT yang telah melakukan pembelian bahan ajar dan yang berasal dari UPBJJ-UT Surabaya adalah sekitar 170 orang. Karena jumlahnya relatif sedikit maka semuanya dijadikan sebagai sampel.

3.    Teknik penarikan samepel secara kuota
Teknik ini digunakan oleh peneliti jika populasinya cenderung heterogen dan tersebar luas. Prinsip penarikan sampelnya sama dengan prinsip penarikan sampel di dalam cluster, hanya jika dalam penarikan sampel secara cluster, pemilihan wilayahnya dilakukan secara acak dengan menggunakan undian, maka dalam penarikan sampel dengan menggunakan kuota pemilihan wilayahnya dilakukan dengan cara sengaja.

4.    teknik penarikan sampel snowball
Teknik ini dilakukan jika peneliti ingin mendalami suatu kasus yang sifatnya sensitif sehingga peneliti sulit untuk membuat kerangka sampel. Dalam teknik ini maka peneliti harus membuat suatu jaringan dalam bentuk sosiogram yang melibatkan seluruh objek penelitian. Sesuai dengan namanya, maka peneliti memulai dengan mencari responden dalam kelompok yang kecil, kemudian dari kelompok kecil tersebut, peneliti mendapatkan informasi tentang calon responden berikutnya. Begitu seterusnya sehingga peneliti mendapatkan jumlah responden sesuai dengan yang diinginkan.


VALIDITAS DAN REABILITAS
Saudara mahasiswa pada inisiasi yang lalu kita telah mendiskusikan tentang materi populasi dan teknik penentuan sampel. Dalam minggu ini kita akan mendiskusikan tentang pengumpulan data yang sangat penting peranannya dalam menentukan keberhasilan kegiatan penelitian. Mengapa? Jika data yang dikumpulkan dilakukan dengan alat yang salah, maka bisa dipastikan hasil penelitian yang diperoleh akan salah. Oleh karena itu, bagaimana memperoleh alat untuk mengumpulkan data yang benar akan kita diskusikan dalam materi validitas dan reliabilitas.

A. Validitas
Vailiditas berasal dari bahasa Inggris ”validity” yang berarti keabsahan. Validitas dapat juga diartikan sebagai kesesuaian antara indikator dengan konsep. Dalam penelitian, keabsahan sering dikaitkan dengan instrumen atau alat ukur. Suatu alat ukur dikatakan mempunyai nilai validitas tinggi apabila alat ukur tersebut benar-benar dapat mengukur apa yang hendak diukur. Misalnya, jika kita ingin mengukur tinggi badan, maka alat ukur yang digunakan adalah meteran; jika ingin mengukur berat badan, maka alat ukur yang digunakan adalah timbangan. Pengukuran semacam ini relatif mudah dilakukan karena obyeknya konkrit.

Namun, berbeda dengan obyek penelitian sosial yang biasanya berwujud abstrak dan seringkali memiliki makna yang luas, sehingga pengukuran lebih sulit dilakukan. Misalnya pengukuran sikap politik perempuan perkotaan di Indonesia. Untuk bisa mengukutnya dengan tepat, maka kita harus menyusun instrumen atau alat ukur sedemikian rupa sehingga dapat mengukur sikap politik perempuan perkotaan di Indonesia.

Caranya, pertama-tama kita harus merumuskan siapakah yang dimaksud dengan perempuan perkotaan. Atau dengan kata lain kita harus terlebih dahulu membuat defenisi operasional tentang konsep ”perempuan perkotaan”. Misalnya, apakah perempuan yang sudah berkeluarga, yang masih lajang, yang bekerja, atau yang tidak bekerja? Jika misalnya kita menentukan bahwa yang dimaksud perempuan perkotaan yang sudah berkeluarga dan bekerja, maka berarti kita telah mengubah konsep yang abstrak menjadi konkret dengan memberikan pembatasan pengertian konsep ”perempuan perkotaan”. Dengan demikian, secara teoritik alat ukur yang digunakan dapat dikatakan valid apabila didesain untuk mengukur sikap politik perempuan perkotaan yang sudah berkeluarga dan bekerja (sesuai defenisi operasional kita tentang perempuan perkotaan).

Kemudian, kita harus membuat defenisi tentang pengertian ”sikap politik” yaitu tentang apa yang kita maksud dengan sikap politik.

Setelah konsep kita buat, barulah kita menyusun alat ukur atau instrumen penelitian, yang bisa berbentuk kuesioner, panduan wawancara, dan atau pedoman observasi.

Ada dua aspek yang perlu diperhatikan dalam melakukan validitas, yaitu ketetapatan dan ketelitian. Alat ukur penelitian dikatakan tepat apabila benar-benar mengukur konsep konkrit yang ditetapkan, dan dikatakan teliti jika dapat menampilkan fakta sebenarnya yang ada di lapangan.

Validitas dibagi tiga jenis, yaitu; Pertama, validitas permukaan (face validity) adalah validitas yang dibuat berdasarkan kesan ilmiah peneliti terhadap alat ukurnya, yakni apakah kelihatannya alat ukur tersebut benar-benar mengukur apa yang hendak diukur. Validitas ini biasanya digunakan untuk mengukur konsep sederhana yang dapat langsung dirujuk dengan indikator emperik di lapangan. Misalnya, dengan berkunjung ke rumah seseorang maka kita akan tahu tingkat kepeduliannya terhadap kebersihan. Jika pemilik rumah memiliki kamar mandi yang bersih, maka hal itu bisa dijadikan dasar perkiraan tingkat kepedulian terhadap kebersihan.

Kedua, validitas kriteria (criterion validity), adalah validitas yang diperoleh dengan cara membandingkan alat ukur yang kita buat dengan alat ukur lain yang menggunakan konsep atau kriteria sana. Suatu alat ukur dikatakan valid jika dalam mengukur konsep yang sama menghasilkan hasil yang sama dengan yang diperoleh oleh alat ukur yang dijadikan pembanding. Misalnya, untuk mengetahui pandangan remaja terhadap narkoba, bisa saja peneliti menggunakan kriteria pengetyahuan remaja tentang narkoba, dan pandangan remaja di kota besar dan kota kecil. Untuk alat ukur yang digunakan, bisa dilakukan dengan cara melakukan uji coba pengkuran dengan alat lain yang menggunakan kriteria yang sama.

Ketiga, validitas konstrak (Construct validity), sering dikatakan sebagai prosedur validasi yang paling kuat, sehingga tingkat validitasnya juga jauh lebih tinggi dibanding dengan jenis validitas lainnya. Validitas ini digunakan jika konsep yang hendak diukur lebih rumit (dibandingkan dengan konsep yang diukur oleh validitas lainnya) dan terdiri dari banyak dimensi, sehingga diperlukan indikator yang lebih lengkap. Misalnya, dalam penelitian tentang pandangan remaja terhadap narkoba, peneliti memiliki hipotesis bahwa makin negatif pandangan remaja terhadap narkoba (sebagai obat terlarang, bisa merusak syaraf, dan sebagainya) makin kecil kemungkinan remaja tersebut menjadi pengguna narkoba. Dengan alat ukur A, hasil penelitian ternyata mendukung hipotesis, artinya memang ada hubungan antara pandangan remaja dengan kecenderungan menjadi pengguna narkoba. Kemudian peneliti mengembangkan lagi alat ukur B untuk mengukur hal yang sama. Jika hasil penelitiannya menunjukkan hasil yang sama, maka berarti alat ukur memiliki validitas konstruk.

B. Reliabilitas
Reliabilitas berasal dari bahasa Inggris reliability yang berarti kemantapan. Suatu alat ukur dikatakan reliabel jika alat tersebut dipergunakan secvara berulang ternyata hasil pengukurannya relatif sama. Reliabilitas alat ukur sangat penting karena menunjukkan ketepatan dan kemantapan suatu hasil penelitian.
Aspek-aspek penting yang perlu diperhatikan dalam melakukan reabilitas adalah; dapat diandalkan (dependable), dapat diramalkan (predictable), menunjukkan ketepatan (precisely).
Ada tiga cara mengukur realibilitas, yaitu; Pertama, metode ulang adalah alat ukur yang sama diberikan atau diujikan kembali pada responden yang sama teta[i pada waktu yang berbeda. Suatu alat ukur dikatakan memiliki reliabilitas yang tinggi jika hasil dari pengukuran pertama relatif sama dengan hasil pengukuran berikutnya. Jika ada perbedaan hasil pengukuran, maka alat ukur tersebut berarti tidak reliabel.
Kedua, metode paralel, pengujian realibilitas dilakukan dengan dua cara. Cara pertama, pengukuran dilakukan oleh dua orang peneliti dengan menggunakan alat ukur yang sama. Cara kedua, pengukuran dilakukan oleh satu orang peneliti, namun menggunakan alat ukur yang berbeda. Masing-masing cara tersebut mengukur konsep yang sama menggunakan kelompok responden yang sama, dan dilaksanakan pada waktu yang sama. Pada cara pertama, alat ukur dikatakan memiliki reliabilitas yang tingi jika hasil yang diperoleh oleh kedua peneliti sama. Pada cara kedua, alat ukur dikatakan memiliki reliabilitas yang tinggi jika hasil pengukuran keduanya sama.
Tiga, metode belah dua, alat ukur dibagi menjadi beberapa bagian yang berbeda, umumnya dibagi menjadi dua bagian. Bagian-bagian alat ukur tersebut berfungsi untuk mengukur konsep yang sama, artinya setiap bagian harus terdiri dari pertanyaan yang homogen di mana seluruh pertanyaan mengukur faktor atau konsep yang sama. Masing-masing alat ukur tersebut diberi skor dan kemudian dijumlahkan. Hasil kedua skor total bagian tersebut dibandingkan. Jika hasil perbandingan menunjukkan korelasi yang tinggi, maka alat ukur tersebut memiliki reliabilitas yang tinggi. Sebaliknya, jika hasil perbandingan menunjukkan korelasi yang rendah, maka alat ukur tersebut memiliki reabilitas yang rendah.

Daftar Pustaka Tambahan
Aslichati, lilik, 2003. Validitas dan Reabilitas Pengukuran, di muat pada Komunika, terbitan Universitas Terbuka, Nomor 31/Tahun 2003.


DISKUSI 4

LATIHAN 1
Untuk memperdalam pemahaman Anda tentang populasi, sample, dan teknik penarikan sampel, sekarang coba Anda berlatih menentukan sampel dari contoh-contoh berikut:
1.Cobalah Anda menarik sampel berdasar tabel angka random yang ada pada BMP ISIP4216, modul 5 hal : 5.21, jika diketahui jumlah populasi sebanyak 350, dan peneliti akan mengambil sampel sebanyak 35.
2.Cobalah Anda mengambil sampel dengan menggunakan teknik penarikan sampel sistematis, jika diketahui jumlah populasi sebanyak 1450 dan peneliti akan mengambil sampel sebanyak 450 orang.
3.Cobalah Anda mengambil sampel dengan menggunakan teknik stratifikasi, jika peneliti ingin meneliti tentang sikap mahasiswa UT terhadap pemanfaatan facebook. Unit analisis didasarkan pada fakultas, dimana mahasiswa FISIP sebanyak 250 orang, mahasiswa FEKON sebanyak 450 orang, mahasiswa FMIPA sebanyak 112 orang, dan mahasiswa FKIP sebanyak 350. Sampel yang akan diambil sebanyak 150 orang.
Silakan Anda berlatih, teman lain boleh megireksi atau menanggapi jika ada jawaban yang salah. Ingat lebih baik salah dalam menjawab dan menanggapi pada tuton ini dari pada melakukan kecurangan pada saat UAS. 


INISIASI 5

PENGEMBANGAN TES NON-KOGNITIF  ( Dr. KUNCONO )


TUGAS 2

TUGAS 2
1.Seorang peneliti ingin melakukan penelitian tentang “Tingkat Partisipasi Mahasiswa UT dalam Pemanfaatan Toko Buku Online (TBO-UT)”. Untuk memudahkan penyusunan instrumen penelitian, maka peneliti telah menentukan operasionalisasi konsep dari partisipasi mahasiswa adalah "kesediaan mahasiswa untuk memanfaatkan TBO", yang diukur dari usaha untuk mencari informasi tentang TBO-UT, aksebilitas terhadap TBO-UT, dan proses pemesanan bahan ajar. Disamping itu, peneliti juga telah menentukan indikator apa saja yang perlu diukur dalam penyusunan instrumen penelitian, sebagai berikut:
Konsep
Variabel
Kategori
Dimensi
Indikator
partisipasi
Tingkat partisipasi mahasiswa
·Tinggi
·Rendah
Mencari informasi TBO
-Sumber informasi TBO
-Memiliki panduan TBO
Pemesanan bahan ajar
-Sudah pernah memesan
-Berapakali memesan
-Jumlah pemesanan
Aksebilitas
-Akses membuka TBO
-Lama pemesanan
-Kesulitan pemesanan
-Cara mengatasi
Berdasarkan operasionalisasi konsep tentang partisipasi sebagaimana terlihat pada tabel di atas, buatlah instrumen penelitian dengan mempertimbangkan validitas dan reabilitas yang baik. Sebutkan pula tingkat signifikanasi validitas dan reliabilitas instrumen yang Anda buat itu. 

2. Di bawah ini ada beberapa contoh pertanyaan dalam instrumen penelitian. Cobalah Anda tentukan, apakah pertanyaan berikut ini sudah benar atau belum. Jika belum, cobalah perbaiki dan berikan alasannya. Jadi jawaban Anda tidak boleh hanya sekedar jawaban Ya atau Tidak.
1.Apakah Anda setuju jika pelaksanaan kenaikan BBM bersubsidi ditunda?
a. Ya
b. Tidak 
Alasannya..............................................................................................
2.Jika Anda setuju, berapa lama penundaan yang menurut Anda layak?
a. 1 bulan
b. 6 bulan
c. 1 tahun
3. Apakah menurut Anda sistem subsidi BBM yang ada saat ini sebaiknyadiperbaiki?”
a. Ya
b. Tidak 
c. Alasannya...............................................................................

3. Cobalah Anda membuat sebuah instrumen penelitian untuk mengukur variabel-variabel yang ada didalam contoh kasus berikut ini.
Seorang karyawan baru di sebuah perusahaan swasta terkemuka di Jakarta berencana akan menabungkan setengah dari gaji yang diterimanya per bulan di Bank Mandiri. Berbekal pengetahuan yang didapatnya selama kuliah MPS di Universitas Terbuka, maka ia mencoba melakukan penelitian untuk mengetahui ”bagaimana tingkat kepuasan nasabah Bank Mandiri”. Menurutnya pelayanan yang diterima nasabah dengan harapan yang dimiliki dapat menentukan tingkat kepuasan nasabah. Kepuasan diartikan sebagai terpenuhinya harapan menjadi kenyataan yang ada. Harapan nasabah antara lain adanya kemudahan proses pendaftaran, tersedianya ATM, bunga bank yang ditawarkan tinggi, serta jaminan keamanan tabungan nasabah. Tingkat kepuasan ini muncul akibat adanya pelayanan yang diberikan oleh Bank Mandiri. Dengan demikian, semakin baik pelayanan yang diberikan bank, semakin tinggi pula tingkat kepuasan nasabah.


INISIASI 6

Pengolahan Data

Saudara mahasiswa dalam inisiasi 5 kita telah mendiskusikan tentang teknik pengumpulan data, baik melalui kuesioner, wawancara, dan observasi. Nah, setelah pengumpulan data, tahapan selanjutnya yang harus dilalui peneliti adalah melakukan pengolahan data. Tahapan pengolahan data juga tidak kalah pentingnya dengan tahapan yang lain, karena apabila terjadi kesalahan dalam pengolahan data akan berakibat kesimpulan penelitian yang diambil salah, sehingga tujuan penelitian yang diharapkan tidak akan tercapai. Oleh karena itu, dalam inisiasi 6 ini kita akan mendiskusikan teknik pengolahan data kualitatif dan kuantitatif.

Pengolahan Data Kualitatif
Pengolahan data kualitatif sedikit berbeda dengan pengolahan data kuantitatif. Jika pada pengolahan data kuantitatif dilakukan setelah seluruh kuesioner (angket) terkumpul, tetapi pengolahan data kualitatif dapat dilakukan bersamaan dengan tahap pengumpulan data. Pengolahan data kualitatif didasarkan pada catatan lapangan yang sudah dibuat oleh peneliti saat mengumpulkan data.
Seperti halnya dalam pengolahan data kuantitatif, dalam penelitian kualitatif peneliti juga melakukan proses pemberian kode-kode. Proses pemberian kode pada catatan lapangan bisa dilakukan dengan melakukan kategorisasi data. Peneliti juga bisa membedakannya ke dalam bentuk-bentuk pengamatan yang ada, yaitu pengamatan berstruktur dan pengamatan tidak berstruktur.
           
Pengolahan Data Kuantitatif
              Pengolahan data di dalam penelitian kuantitatif menggunakan angka-angka yang berfungsi sebagai kode. Untuk pengeolahan data kuantitatif, saat ini dapat digunakan melalui bantuan  komputer  yangh sering dikenal dengan program SPSS (Statistic Program for Social Sciences). Program ini aikan mengolah data yang sudah diubah ke dalam bentuk angka-angka dan kemudian tinggal memberikan perintah. Sekalipun mengolah data dengan menggunakan program kumputer terlihat mudah, tetapi dibutuhkan juga pengetahuan peneliti tentang statitistik.              
              Ada beberapa langkah yang perlu dilakukan dalam pengolahan data  kuantitatif, yaitu :
  1. Koding data
Menyusun data mentah (jawaban yang ada di dalam kuesioner) ke dalam bentuk yang mudah dibaca. Koding data juga dapat diartikan mengubah format pertanyaan yang ada di dalam kuesioner menjadi pernyataan.  Jawaban-jawaban responden yang berbentuk hurup atau tulisan diubah dalam bentuk angka. Untuk membantu melakukan koding, peneliti dapat menggunakan buku kode. Buku kode adalah sebuah buku yang berisi panduan tentang variabel-variabel yang ada di dalam kuesioner.

  1. Entry Data
Entry data adalah memindahkan data yang telah diubah menjadi kode-kode berupa angka sesuai dengan yang ada di dalam buku kode. Dengan menggunakan program SPSS, maka peneliti tinggal memasukkan data-data tersebut ke dalam program.

  1. Cleaning Data
Cleaning data adalah proses pemeriksaan kembali data yang telah dientry apakah sudah sesuai dengan data yang sebenarnya. Untuk melakukan data entry dapat dilakukan dengan dua cara, yaitu : passible code cleaning adalah upaya peneliti untuk membersihkan data dari berbagai angka yang tidak mungkin ada di dalam program. Sedangkan contingency code cleaning adalah upaya prnrliti untuk melihat keterkaitan antara satu variabel dengan variabel lainnya.           
DISKUSI 6

Jenis pengolahan data yang seperti apasajakah yang terdapat dalam penelitian normatif maupun empiris dalam penelitian ilmu hukum?


INISIASI 7
DISKUSI 7


INISIASI 8
DISKUSI 8


MODUL SEMESTER SATU

More »

MODUL SEMESTER DUA

More »

MODUL SEMESTER TIGA

More »

MODUL SEMESTER EMPAT

More »

MODUL SEMESTER LIMA

More »

MODUL SEMESTER ENAM

More »

MODUL SEMESTER TUJUH

More »

MODUL SEMESTER DELAPAN

More »

ILMU ADMINISTRASI BISNIS

More »

PROFESI ADVOKAT

More »

NGOMPOL

More »

OPINI

More »