PENGANTAR SOSIOLOGI - 02

DAFTAR ISI

MODUL 1 : RUANG LINGKUP SOSIOLOGI
MODUL 2 : PERSPEKTIF SOSIOLOGI
MODUL 3 : INTERAKSI SOSIAL
MODUL 4 : SOSIALISASI
MODUL 5 : STRATIFIKASI SOSIAL
MODUL 6 : KELOMPOK SOSIAL
MODUL 7 : PERILAKU SOSIAL DAN KONTROL SOSIAL
MODUL 8 : TATANAN SOSIAL
MODUL 9 : PERUBAHAN SOSIAL


MODUL 1 : RUANG LINGKUP SOSIOLOGI

KB 1 : PENGERTIAN SOSIOLOGI
Ruang Lingkup Sosiologi berisi bahasan Pengertian Sosiologi, Sejarah Perkmbangan Sosiologi, Bidang Kajian Sosiologi, dan Hubungan Sosiologi dengan ilmu-ilmu sosial lainnya.

Ilustrasi :
" Pada hari-hari yang dianggap penting biasanya masyarakat menyelenggarakan karnaval. Salah satu karnaval yang populer pada masyarakat Jawa adalah karnaval "Satu Suro". Pada karnaval ini pusaka-pusaka keraton dibersihkan dan diarak keliling Kota Solo oleh para kerabat dan punggawa Keraton Kasunanan Solo. Para kerabat dan punggawa memakai pakaian tradisional Jawa. Hal yang tidak pernah dilupakan masyarakat dalam karnaval tersebut adalah ikut diaraknya kerbau albino (kebo bule) keturunan dari kerbau yang diberi nama Kiai Slamet (kerbau yang dikeramatkan oleh sebagian masyarakat Solo). Hampir seluruh warga Kota Solo keluar rumah untuk melihat karnaval, bahkan sebagian orang memuliakan kerbau albino tersebut. Warga dari beberapa kota tetangga, seperti Klaten dan Yogyakarta juga datang untuk menyaksikan karnaval tersebut. Selain Karnaval pusaka Keraton Solo, pada saat yang sama sebagian masyarakat berarak-arakan mengelilingi Keraton Mangkunegaraan Solo dengan harapan akan mendapatkan berkah dari keraton. Bagi anak-anak muda saat tersebut merupakan waktu yang tepat untuk mencari pasangan, menjalin kasih atau sekedar bersenang-senang dengan teman-temannya. Sementara, bagi para pedagang kecil, saat-saat tersebut merupakan waktu yang menguntungkan untuk mengais rezeki.

Pemahaman Ilustrasi; Fenomena karnaval dalam ilustrasi merupakan bidang kajian dari ilmu-ilmu sosial, termasuk diantaranya sosiologi; Fenomena yang bagi seorang sosiolog merupakan suatu gambaran dari atribut-atribut sosial yang ada di masyarakat. 
Sosiolog akan mengkaji fenomena tersebut dari hasil kajiannya dapat memunculkan berbagai teori dengan berbagai sudut pandang; Sosiolog akan mengobservasi tingkah laku orang-orang yang terlibat dalam karnaval dan menganalisisnya untuk menemukan pola hubungan sosial yang ada pada masyarakat Kota Solo.

A. APA ITU SOSIOLOGI
1. Definisi dan Pengertian Sosiologi
Sosiologi; bahasa latin; Socius berarti kawan/teman,  dan logos berarti ilmu pengetahuan/pikiran. dilihat dari akar katanya Sosiologi didefinisikan; "ilmu pengetahuan yang mempelajari tentang pergaulan hidup socius dengan socius atau teman dengan teman, yaitu hubungan antara seorang dengan seorang, perseorangan dengan golongan, atau golongan dengan golongan".
Pergaulan hidup manusia dimaknai juga sebagai masyarakat, sehingga sosiologi diartikan juga sebagai "Ilmu yang mempelajari tentang masyarakat manusia dan tingkah laku manusia di beberapa kelompok yang membentuk masyarakat"

Pengertian Sosiologi; Yaitu Sosiologi merupakan; 1). hidup bermasyarakat dalam arti yang luas, 2). perkembangan masyarakat dalam segala aspeknya, dan 3). hubungan antar manusia dengan manusia lainnya dalam segala aspeknya.
Dua Unsur Pokok Sosiologi; 1). adanya manusia, dan 2). adanya hubungan di dalam suatu wadah hubungan yang disebut dengan masyarakat.

Beberapa contoh tentang fenomena yang menjadi kajian sosiologi :
a. tingkah laku religius individual maupun kelompok yang salah satunya nampak dalam bentuk praktek-praktek peribadatan
b. interaksi mandor dengan pekerja di perusahaan rokok
c. kampanye pemilu sebagai aktivitas dari partai politik
d. perubahan hubungan antara laki-laki dan perempuan, yang terlihat dari adanya pergeseran nilai ketaatan isteri terhadap suami sebagai akibat dari kemandirian sosial ekonomi perempuan
e. hubungan bertetangga dalam bentuk kegiatan gotong royong
f. aktivitas organisasi kriminal, misalnya aktivitas kejahatan dari "Geng Motor"
g. perbedaan tingkah laku berdasarkan kelas sosial, misalnya perbedaan gaya hidup kelompok wanita kelas atas dengan kelas bawah, dan lain-lain.

Terpenting yang harus dilakukan sosiologi adalah meyakinkan audience atau pembaca bahwa informasi yang digunakan sebagai dasar kajian bersifat reliabel dan akurat, dikarenakan informasi yang digunakan sebagai dasar kajian tersebut memiliki peran penting dalam membangun teori tentang kohesi dan perubahan sosial.
Kajian sosiologi juga mendapat kritikan, yaitu :1) sosiologi dianggap sebagai ilmu yang tidak mudah, 2) bahwa sosiologi hanya meruapakan kumpulan dari hasil kajian ilmu-ilmu sosial lainnya, da 3) bahwa sosiologi tidak memiliki lapangan kajian khusus karena obyeknya telah dibagi-bagi oleh ilmu-ilmu sosial lainnya.

Sosiologi dianggap sebagai ilmu yang tidak mudah karena obyeknya yang berupa masyarakat (dalam arti kata berupa hubungan-hubungan sosial atau jaringan-jaringan sosial) dianggap bersifat abstrak, tidak mudah dilihat dan dipahami.
Tidak mudah merumuskan maslah sosiologi, karena dalam sosiologi sering kali tidak dijumpai adanya kata-kata 'ada' dan 'pasti', Hal ini dikarenakan dalam melakukan kajian sosiologi maka berbagai "aspek kemungkinan" harus dipertimbangkan.

Sangat sulit untuk bisa menjaga objektivitas kajian sosiologi, karena peneliti/pengamat berada didalam subjek kajiannya. Bias-bias subjektivitas peneliti dalam melakukan pengamatan, penafsiran, dan analisis atas suatu fenomena sosial sangat mungkin sekali terjadi. 
Misalnya anda sebagai sosiolog yang sejak kecil disosialisasi tentang nilai-nilai perilaku sesksual sesuai ajaran agama sedang melakukan penelitian tentang perilaku seksual kelompok elit metropolitan sangat mungkin akan memiliki bias subjektivitas. 
Hal ini dikarenakan ketika anda melakukan pengamatan dan mengkaji hasil pengamatan tersebut maka tanpa sadar dapat saja anda memasukkan opini negatif pribadi anda terhadap perilaku seksual tersebut karena tidak sesuai dengan prinsip-prinsip yang anda yakini. Tindakan anda ini tentu saja sangat mengganggu tingkat objektivitas hasil penelitian.

Kritik lainnya sosiologi adalah ilmu yang tidak mudah adalah dari sisi obyek kajiannya; yaitu masyarakat modern yang bersifat masyarakat kompleks.  Kajian terhadap masyarakat kompleks ini dianggap tidak mudah dilakukan karena dimensi masyarakat kompleks ini bervariasi sangat tinggi. Untuk menjawab semua kritikan tersebut maka terdapat beberapa hal yang harus sangat diperhatikan oleh sosiolog, yaitu bahwa seorang peneliti/pengamat harus dapat bersikap tidak memihak, tidak terburu-buru dalam mencari bukti/informasi, dan mengembangkan sikap curiga terhadap informasi-informasi yang bukti-buktinya tidak begitu jelas.

Kritikan yang menyatakan bahwa tidak ada lapangan khusus dari sosiologi karena obyeknya telah dibagi-bagi oleh ilmu-ilmu sosial lainya ditanggapi para sosiolog sebagai pernyataan yang tidak benar.
Walaupun objek kajiannya sama dengan ilmu sosial lainnya yaitu masyarakat, tetapi sosiologi mempunyai sudut pandang yang berbeda. Sosiologi tidak mempelajari manusia secara keseluruhan, melainkan sosiologi menaruh minat pada kajian tentang hubungan-hubungan sosial untuk menemukan pola-polanya. Dengan demikian sosiologi tetap mempunyai lapangan kajian yang sifatnya spesifik (khusus).


2. Individu dan Masyarakat
Unsur pokok kajian sosiologi adalah masyarakat; yang merupakan sekumpulan dari individu-individu yang memiliki karakteristik tertentu. Berikut uraian bagaimana sosiologi menempatkan individu dan masyarakat dalam kajiannya.

a. Individu
Berasal dari bahasa Latin individuum yang mempunyai arti yang terbagi atau suatu kesatuan yang terkecil dan terbatas;
Individu : "orang, seorang atau manusia perseorangan". Individu bukan berarti manusia sebagai suatu keseluruhan yang tidak dapat dibagi, melainkan sebagai kesatuan yang terbatas, yaitu sebagai manusia perseorangan.
Individu dibangun oleh tiga aspek : 1) organis jasmaniah. 2) psikis rohaniah, dan 3) sosial. Aspek sosial dari individu inilah yang menjadi bahasan sosiologi.

Dalam kajian sosiologi, individu berstatus sebagai anggota masyarakat, karena masyarakat merupakan bentukan dari kumpulan sejumlah individu yang mengadakan hubungan sosial. Antara individu yang satu dengan lainnya terdapat perbedaan, perbedaan watak dan karakter, merupakan kodrat manusia yang dibawa sejak lahir dan berkembang setelah terjadi pergaulan diantara mereka.
Individu sebagai makhluk sosial tidak bisa dilepaskan dari lingkungan sosialnya, Aristoteles : man is by nature a political animal (manusia pada kodratnya adalah makhluk yang selalu berkumpul).

b. Masyarakat
Ralph Linton ; "Setiap kelompok manusia yang telah cukup lama hidup dan bekerja sama sehingga mereka dapat mengorganisasikan dirinya dan berpikir tentang dirinya sebagai satu kesatuan sosial dengan batas-batas tertentu"
JL Gillin dan JP Gillin ; "Kelompok manusia terbesar yang mempunyai kebiasaan, tradisi, sikap, dan perasaan persatuan yang sama"
Masyarakat memiliki empat karakteristik : 1) terdiri dari beberapa individu, 2) saling berinteraksi, 3) dalam jangka waktu yang relatif lama, dan 4) menimbulkan perasaan kebersamaan.
Faktor yang mendorong sekumpulan individu membentuk masyarakat : 1) dorongan seksual (reproduksi) untuk mengembangkan keturunannya, 2) kesadaran bahwa individu itu lemah sehingga dia akan selalu mencari kekuatan bersama, 3) perasaan diuntungkan ketika bergabung dengan individu lainnya, dan 4) kesamaan keturunan, kebudayaan, teritorial, nasib, dan kesamaan-kesamaan lainnya.

3. Hubungan Individu dan Masyarakat
Inti dari pemikiran sosiologi adalah kepercayaan bahwa pilihan individu tidak pernah sepenuhnya bebas tetapi selalu dibatasi oleh lingkungannya. Lingkungan mengacu pada harapan dan insentif yang ditetapkan oleh orang lain di dalam dunia sosial seseorang. Lingkungan berupa serangkaian orang, kelompk, dan organisasi, yang disebut masyarakat. Individu memang mempunyai pilihan untuk mengatur hidupnya, tetapi masyarakat dimana individu berada telah menentukan apa yang diperbolehkan dan apa yang tidak diperbolehkan.

Kajian sosial tentang individu tidak menyentuh aspek individu secara keseluruhan, yaitu aspek fisik, psikis, dan sosialnya, melainkan hanya pada aspek sosialnya saja.
Aspek sosial individu adalah tingkah laku individu, yang memegang peranan penting dalam kehidupan sosial manusia. Individu tidak bisa berkembang hanya dengan mengandalkan keindividuannya, melainkan harus melalui pergaulan dengan individu-individu yang lain (anggota masyarakat).
Dalam bermasyarakat individu harus belajar memakai bahasa, norma-norma dan nilai-nilai yang terdapat dimasyarakat tersebut; Individu tetap ada dibawah kendali masyarakatnya tetapi salah bila berpikir bahwa individu semata-mata hanya akan mengikuti masyarakatnya; Individu tetap mempunyai kekuatan tertentu sebagai senjata untuk melawan pengaruh-pengaruh dari masyarakatnya.

Sehubungan dengan kajian tentang hubungan individu dan masyarakat, tiga kelompok besar pemikiran yaitu :
a. Spencer, Pareto, dan Ward ; berpendapat bahwa individu mempunyai kedudukan yang lebih dominan daripada masyarakat.
b. Comte dan Durkheim ; masyarakat mempunyai kedudukan yang lebih dominan daripada individu.
c. Sumner dan Weber ; terdapat saling ketergantungan antara individu dan masyarakat.

Spencer; perkembangan masyarakat sangat bergantung pada perkembangan individu; contohnya perkembangan masyarakat subsistem menjadi masyarakat komersial sebagai implikasi dari perubahan individu yang sbelumnya hanya mengenal pemenuhan kebutuhan subsistem menjadi individu yang sudah mengenal uang, perdagangan, dan surplus.
Pareto; masyarakat adalah suatu sistemyang rumit yang didalamnya terkandung tingkah laku individu yang sudah terpola; pola-pola apa yang terbentuk dalam masyarakat ditentukan oleh kemauan (dorongan alamiah) dari individu.

Comte; individu sebagai sesuatu yang lemah yang mana keberadaannya sangat bergantung pada pergaulannya dengan individu lain; kekuatan individu ada dalam kekuatan lingkungan sosialnya (masyarakat).
Durkheim; peranan individu sangat kecil; lingkungan sosial yang sebenarnya mengatur kebutuhan individu, artinya apa yang menjadi kebutuhan individu itu dibatasi oleh masyarakat; misalnya larangan penggunaan obat-obatan terlarang secara bebas merupakan pembatas bagi individu untuk memperoleh kebutuhan atau keinginannya.

Sumner dan Weber; mengambil posisi tengah; anatara individu dan masyarakat terjadi saling ketergantungan; terdapat proses yang saling mempengaruhi antara kebutuhan pribadi dengan unsur-unsur kehidupan bersama (masyarakat); anatara individu dan masyarakat terjadi hubungan saling mempengaruhi.

Unit analisis Sosiologi adalah masyarakat atau individu dalam kedudukannya sebagai anggota masyarakat; Kajian tentang individu yang terlepas masyarakatnya merupakan Kajian Psikologi; Pokok dari Kajian Sosiologi adalah tingkah laku manusia baik secara individu maupun dalam hubungannya dengan masyarakat.


B. SEJARAH PERKEMBANGAN SOSIOLOGI
Periodisasi perkembangan sosiologi dan tokoh-tokoh pemikir sosiologi :

1. Periodisasi Perkembangan Sosiologi
Awalnya Semua cabang ilmu pengetahuan bermuara pada filsafat; Filsafat sebagai induknya ilmu; Persoalan yang dikaji secara filsafat banyak hal, antara lain Persoalan Ketuhanan, Astrologi, Astronomi, Politik, Hukum, Ekonomi, Ketatanegaraan dan lain-lain.
Perkembangan selanjutnya setiap cabang pengetahuan berusaha melepaskan diri dari filsafat dikarenakan bidang kajian dari setiap cabang pengetahuan semakin luas; Sosiologi memisahkan diri dari filsafat akhir abad-18 dan awal abad-19.

Revolusi politik diwakili oleh Revolusi Perancis (1789) berlanjut sampai abad ke-19 memunculkan perubahan tatanan sosial, menghadapkan masyarakat eropa pada kondisi serba chaos dan disorder. Disamping mereka juga berharap kedamaian dan tatanan sosial bisa kembali lagi. Para pemikir berpendapat sudah saatnya mencari fondasi baru bagi tatanan sosial baru yang ada.

Para pemikir eropa abad ke-18 mengidentifikasi peristiwa sebagi faktor penyebab munculnya sosiologi;
Peter L. Berger; disintegrasi dalam agama Kristen sebagai peristiwa yang menjadi latar belakang kemunculan sosiologi.
L. Layendecker; sejumlah faktor yang memicu kelahiran sosiologi : a). kapitalisme yang tumbuh pada sekitar akhir abad ke-18, b). perubahan dibidang sosial dan politik, c). perubahan sebagai akibat dari reformasi yang dibawa oleh Martin Luther, d). paham individualisme yang semakin meningkat, e). kelahiran ilmu pengetahuan modern, f). kepercayaan pada diri sendiri yang semakin meningkat, g). peristiwa yang berkaitan dengan revolusi industri, dan h). peristiwa revolusi Perancis.
Rizer; kelahiran sosiologi berhubungan erat dengan peristiwa yang berkaitan dengan : a). revolusi politik, b). revolusi industri dan kemunculan paham kapitalisme, c). kemunculan paham sosialisme, d). merebaknya urbanisasi, e).perubahan yang terjadi dibidang keagamaan, f). perubahan dalam bidang ilmu pengetahuan.

Persitiwa lepasnya Sosiologi dari filsafat; periodesisasi perkembangan sosiologi; a). pra-sosiologi; b). peralihan










MODUL 2 : PERSPEKTIF SOSIOLOGI

KB 1 : PENGERTIAN DAN KEGUNAAN PERSPEKTIF SOSIOLOGI

A. PENGERTIAN

Perspektif Sosiologi pada awalnya tumbuh dan berkembang di dalam konteks 2 transformasi sosial yang revollusioner di Eropa, yaitu : revolusi industri (pada abad 18-19) dan revolusi Prancis (1789) sebagai salah satu dampak dari proses pencerahan yang telah dimulai sebelumnya.






1. Seeing the General in the Particular

Melihat keumuman dalam kekhususan ; dimana individu pada derajat tertentu memiliki keseragaman 


2. Seeing the Strange in Familiar

3. Seeing Personal Choise in Social Context


B. KEGUNAAN

Perspektif Sosiologi pada awalnya tumbuh dan berkembang di dalam konteks 2 transformasi sosial



KB 2 : TIGA PERSPEKTIF UTAMA DALAM SOSIOLOGI

Perspektif Sosiologi adalah; Cara pandang sosiologis yang digunakan dalam melihat berbagai permasalahan yang terjadi didalam masyarakat dengan kerangka berpikir yang selalu melihat keumuman di dalam hal-hal yang khusus, melihat kekuatan dalam hal yang terlihat biasa-biasa saja, dan selalu melihat pilihan dan keputusan pribadi seseorang dalan konteks sosialnya.

A. PERSPEKTIF STRUKTURAL FUNGSIONAL

Perspektif Struktural Fungsional adalah; Suatu kerangka berpikir untuk membangun teori yang melihat masyarakat sebagai suatu sistem yang kompleks yang mana tiap-tiap unsur didalamnya bekerja secara bersama-sama untuk meningkatkan stabilitas dan solidaritas.

Dua Komponen dasar dari Perspektif Struktural Fungsional : 
- Struktur Sosial; Pola perilaku yang relatif stabil
contohnya; kesehatan, media massa, rekreasi, olahraga, agama, sosialisasi, penyimpangan, dll.
- Fungsi Sosial; Konsekuensi dari beberapa pola sosial bagi bekerjanya suatu sistem secara keseluruhan.
Semua Struktur Sosial mempunya Fungsi Sosial masing-masing untuk kelangsungan suatu sistem (Mempengaruhi keberlangsungan hidup suatu masyarakat); misalnya fungsi sosial dari media massa, fungsi sosial dari rekreasi, dll.










Perspektif Sosiologi pada awalnya tumbuh dan berkembang di dalam konteks 2 transformasi sosial yang revollusioner di Eropa, yaitu : revolusi industri (pada abad 18-19) dan revolusi Prancis (1789) sebagai salah satu dampak dari proses pencerahan yang telah dimulai sebelumnya.






1. August Comte

2. Emile Durkeim

3. Herbert Spencer

4. Talcott Persons

3. Robert K. Merton



B. PERSPEKTIF KONFLIK

Perspektif Konflik adalah; Suatu kerangka berpikir yang digunakan untuk membangun teori yang melihat masyarakat sebagai suatu ketidaksamaan yang menyebabkan konflik dan perubahan.

1. Karl Marx

2. Max Weber

3. Lewis Coser

4. Ralf Dahrendorf



C. PERSPEKTIF SIMBOLIK INTERAKSIONISME

Perspektif Simbolik Interaksionisme adalah; Suatu kerangka berpikir untuk membangun teori dengan cara melihat masyarakat sebagai hasil dari interaksi keseharian individu-individu.

1. Max Weber 

2. William James

3. Charles Horton Cooley

4. John Dewey

5. George Herbert Mead 

6. W. I. Thomas

7. Herbert Blumer

8. Erving Goffman

9. Peter L. Berger







MODUL 2 : DEMOKRASI

KB 1 : PENGERTIAN DAN SEJARAH AWAL PERKEMBANGAN DEMOKRASI

A. PENGERTIAN DEMOKRASI

Demokrasi berasal dari bahasa Yunani kuno demos = rakyat dan kratos atau kratein berarti kekuasaan/berkuasa.





B. SEJARAH AWAL PERKEMBANGAN DEMOKRASI

Demokrasi berasal dari Yunanai dan merupakan warisan dari kebudayaan Yunani Kuno. Abad ke-6 sampai ke-3 SM, demokrasi telah digunakan di negara-kota (city-state) Yunani Kuno.





KB 2 : SEJARAH DAN PERKEMBANGAN DEMOKRASI ABAD KE-19 DAN KE-20

Demokrasi dalam wujud konkret sebagai program dan sistem politik pada akhir abad ke-19 merupakan perwujudan dari pemikiran keberadaan hak-hak politik rakyat.






MODUL 3 : INTERAKSI SOSIAL

KB 1 : PENGERTIAN INTERAKSI SOSIAL

A. PENGERTIAN

Konsep Interaksi Sosial tidak terlepas dari Konsep Tindakan Sosial.




B. PENDEKATAN INTERAKSIONISME SIMBOLIK DALAM ANALISIS INTERAKSI SOSIAL

Dalam Sosiologi terdapat 3 (tiga) pendekatan utama, yaitu pendektan interaksionisme simbolik, struktural dan konflik.




C. SYARAT TERJADINYA INTERAKSI SOSIAL

Interaksi Sosial tidak akan terjadi apabila tidak ada kontak sosial dan komunikasi. Kontak Sosial dan Komunikasi adalah dua syarat penting terjadinya interaksi sosial.




D. ATURAN DALAM INTERAKSI SOSIAL

Dalam kehidupan sosial kita diatur berbagai aturan yang berlaku dalam masyarakat, seperti halnya kehidupan harian kita. Dalam melakukan interaksi sosial dihadapkan pada aturan interaksi.
David A. Karp dan W.C. Yoels; Symbols, Selves and Society: Understanding Interaction; Tiga jenis aturan dalam interaksi sosial; Aturan mengenai ruang, mengenai waktu, dan mengenai gerak dan sikap tubuh.

Pertama; adalah aturan tentang ruang. Dalam studi sosiologi pengamatan tentang penggunaan ruang beserta teori-teorinya oleh Hall disebut proxemics.
Hall; membagi ruang interaksi atas 4 jarak; jarak intim (intimate distance), jarak pribadi (personal distance), jarak sosial (social distance), dan jarak publik (publik distance)

1. Jarak Intim
Pada Jarak Intim (berkisar 0-18 inci atau 0-45 cm) keterlibatan dengan tubuh orang lain 


2. Jarak Pribadi
Pada Jarak Pribadi (berkisar antara 4-12 kaki atau 



3. Jarak Sosial
Pada Jarak Sosial (berkisar 



4. Jarak Publik
Pada Jarak Publik



5. Faktor-Faktor yang mempengaruhi Interaksi Sosial
Interaksi Sosial yang terjadi antara dua orang/kelompok atau lebih dapat dipengaruhi oleh banyak dan sedikitnya informasi yang kita miliki mengenai seseorang.

Karp dan Yoels; Ketiadaan atau kekurangan informasi mengenai orang yang tidak di kenal yang kita jumpai mungkin menimbulkan masalah, oleh karenanya harus mencari informasi tentang orang tersebut, diantaranya adalah; jenis kelamin, usia, ras, penampilan fisik, bentuk tubuh, pakaian dan wacana (apa yang diucapkannya).

Pertama; Jenis Kelamin; Pada saat berinteraksi, penyebutan seseorang disesuaikan dengan jenis kelaminnya .
Misalnya; Mbak, Mas, Bang, Uda, Uni, Pak, Bu.
Selain itu topik pembicaraan yang diminati laki-laki dan perempuan sering kali berbeda. Perempuan kurang berminat membicarakan otomotif, kekerasan, thnis, dan seks. Sementara Laki-laki enggan membicarakan kecantikan, fashion, dan ramalan bintang. 

Kedua; Usia; Menjadi faktor penting dalam berinteraksi karena ada batasan-batasan dan norma-norma yang berlaku secara sosial budaya yang mengatur hubungan antara kita dengan orang lain yang lebih tua dari segi usia

Ketiga; Ras atau Warna Kulit; Menjadi penting terutama masyarakat yang mengenal diskriminasi ras. Misalnya; Orang Kulit Putih akan memperlakukan orang kulit hitam secara berbeda dibandingkan bila mereka berinteraksi dengan orang-orang dari warna kulit atau ras yang sama.

Keempat; Penampilan Fisik; Ada kecendrungan seseorang akan berinteraksi secara positif dengan orang-orang yang berpenampilan fisik lebih menarik dibandingkan sebaliknya. 
Misalnya; Seorang dosen yang sedang mengajar didalam kelas yang lebih sering mengarahkan pandangannya ke arah mahasiswi/mahasiswa yang lebih rapih dan bersih, demikian sebaliknya.

Kelima; Bentuk Tubuh; Karp dan Yoels melaporkan penemuan penelitian Wells dan Siegel bahwa orang cenderung menganggap adanya keterkaitan antara bentuk tubuh dan watak manusia. 
Misalnya; Orang yang memiliki tubuh bulat dan gemuk (endomorph) dianggap memiliki watak yang tenang, santai dan pemaaf; orang yang memiliki tubuh atletis dan berotot (mesomorph) dianggap memiliki watak yang dominan, yakin dan aktif; orang yang memiliki tubuh tinggi dan kurus (ectomorph) dianggap memiliki watak yang tegang dan pemalu.

Keenam; Pakaian; dianggap dapat mempengaruhi interaksi. Seseorang lebih ramah pada yang berpakaian lebih rapi dan bersih dibandingkan sebaliknya; Pakaian indikator status sosial seseorang, ikut mempengaruhi tindakan seseorang terhadap pemakainya.
Misalnya; Laki-laki berbicara sangat hati-hati kepada perempuan berjilbab. Pegawai Bank sangat hormat pada nasabah yang berjas dan berdasi.

Ketujuh; Wacana; adalah isi dari apa yang diucapkan seseorang yang menunjukkan status sosialnya. saat berinteraksi seseorang menunjukkan status sosialnya melalui apa yang dibicarakannya dengan kita baik disengaja maupun tidak.
Misalnya; Suatu hari di taman kota, Tiba-tiba seorang ibu yang duduk disebelah anda. Anda menggeser posisi duduk untuk memberi ruang kepada sang Ibu, Tiba-tiba ia berkata, "Maaf, Saya lelah sekali karena baru pulang dari Singapura untuk membeli keperluan kami".
Setelah awal percakapan ini dilontarkan Si Ibu, mungkin anda akan berbicara lebih sopan dan penuh senyum. Tanggapan anda tentu akan berbeda bila si Ibu berkata "Maaf, Saya lelah sekali karena harus menyapu jalan di taman ini sejak pagi".

Banyak pertanyaan dapat digunakan untuk mengetahui informasi tentang status seseorang. seperti tentang tempat tinggal, pekerjaan, pekerjaan suami/isteri, jumlah anak, dsb. sehingga kita dapat mengetahui dengan siapa kita berinteraksi dan memberi kita petunjuk interaksi apa yang dapat kita kembangkan pada orang tersebut.

Proses penyimpulan atas berbagai informasi dari berbagai faktor penentu interaksi sosial ini tidak selalu lancar, bahkan kadang kala keliru dan terjadi salah piham. Misalnya ketika seorang ibu meminta seorang gadis di sebelahnya untuk membantunya mengambil barang yang terletak di rak atas sebuah supermarket. Hal ini dilakukannya karena gadis tersebut memakai pakaian hitam putih selayaknya pegawai supermarket.
Sayangnya sang gadis lalu berkata, "Maaf ibu, sebaiknya ibu minta pada pegawai supermarket ini saja". Yah, ternyata gadis itu bukanlah salah satu pegawai supermarket tersebut. Si Ibu tentu akan meminta maaf pada gadis tersebut karena telah salah menyangka gadis itu sebagai pegawai supermarket karena pakaian yang dikenakannya.

Untuk itu sebaiknya melihat beberapa informasi dari orang yang akan kita ajak berinteraksi agar kita tidak salah mengambil tindakan dalam berinteraksi.

Agar dapat melakukan interaksi yang baik dengan orang lain, tentunya kita perlu mengetahui apa-apa yang harus kita lakukan, untuk menjaga agar interaksi yang akan kita lakukan atau yang sedang kita lakukan dapat berjalan dengan baik, sesuai dengan apa yang kita harapkan. 






MODUL 3 : SOSIALISASI

KB 1 : PENGERTIAN SOSIALISASI

A. MAKNA SOSIALISASI

Setiap individu akan mengalami proses sosialisasi dari lingkungannya, bagaimana hasil dari proses sosialisasi itu  karena setiap lingkungan sosial atau





B. KONSEP DALAM PROSES SOSIALISASI

Beberapa konsep yang berkaitan dengan sosialisasi  memberikan sumbangan yang berarti dalam diri seorang individu yang mengalami proses sosialisasi, karena produk penting dari proses sosialisasi adalah self / personality / diri.
Dalam rangka interaksi dengan orang lain seseorang akan mengembangkan suatu keunikan dalam hal perilaku, pemikiran dan perasaan yang secara bersama-sama akan membentuk self.

1. Looking Glass Self
Berangkat dari pemikiran bagaimana seseorang dapat mengerti dan memahami dirinya sendiri, maka terjadilah suatu proses yang berlangsung secara terus menerus dalam diri individu seumur hidupnya, yang pada akhirnya terbentuk konsep diri yang merupakan gambaran diri yang terbentuk dengan bantuan individu lain.

Anda merasa memang cantik, tampan, pandai atau bodoh, ketika ada orang lain atau lingkungan anda yang menyatakan demikian, meskipun sebenarnya pada awalnya anda tidak merasa cantik atau pandai.
Contoh lainnya seorang anak gadis yang cantik, tetapi karena menurut orang tuanya dia kalah cantik dari kakaknya sehingga mereka memperlakukannya sebagai anak yang tidak cantik. Pada akhirnya gadis itu merasa dirinya tidak secantik kakaknya. 
Jadi dalam hal ini gambaran diri seseorang tidak perlu berkaitan dengan fakta-fakta yang objektif, artinya melalui tanggapan orang lainlah seseorang akan menentukan apakah dirinya itu cantik, jelek, pandai atau bodoh. 
Konsep "diri" yang ditemukan melalui tanggapan dari orang lain inilah yang oleh Charles H. Cooley dinamakan sebagai "diri cerminan orang lain" atau looking glass self.
seperti kata-kata dalam sandiwara Vanity Fair bahwa " ..... dunia adalah sebuah cermin dan memberikan kepada setiap orang bayangan dari mukanya sendiri ..... ". Sebagaimana cermin memberikan bayangan tentang fisik individu, demikian pula tanggapan dari individu lain memberikan gambaran sosial tentang diri kita . Jadi dalam hal ini persepsi penilaian individu lainlah yang menjadi faktor penting dalam proses pembentukan gambaran diri seseorang.

Dalam pembentukan proses diri melalui tanggapan dari individu lain ada tiga langkah yang terlibat didalamnya, yaitu :
a. Kita membayangkan bagaimana penampilan kita dihadapkan orang lain. Misalnya kita percaya bahwa berat badan bertambah dan terlihat gemuk.
b. Kita membayangkan bagaimana orang lain menilai penampilan kita. Karena kita gemuk maka kita sadar bahwa orang lain berpikir berat badan yang berlebih itu tidak indah.
c. Kita mengalami perasaan seperti bangga atau bahkan malu atas dasar penilaian dari orang lain yang telah kita prediksi. Kita jadi malu karena kita gemuk.


2. Role Taking : the significant Others dan the Generalized Other.








MODUL 5 : STRATIFIKASI SOSIAL

KB 1 : PENGERTIAN STRATIFIKASI SOSIAL

1. Pengertian Stratifikasi Sosial
Stratifikasi Sosial dalam Sosiologi diartikan sebagai pembedaan anggota masyarakat berdasarkan status yang dimilikinya .




2. Pengertian Stratifikasi Sosial
Bentuk Stratifikasi Sosial yang didasarkan atas status yang diraih biasanya didasarkan atas pendidikan, pekerjaan dan penguasaan atas kepemilikan materi.




3. Mobilitas Sosial
Seseorang yang awalnya tinggal disuatu perumahan padat kemudian pindah ke sebuah rumah di kawasan real estate mewah.




4. Sistem Stratifikasi Terbuka dan Tertutup
Pembahasan tentang Stratifikasi ; apakah sistem stratifikasi yang ada dalam masyarakat memungkinkan ada atau tidaknya perpindahan status anggota masyarakat di dalam hierarki sosialnya.

Stratifikasi Terbuka adalah Apabila suatu sitem stratifikasi memungkinkan adanya seorang anggota masyarakat berpindah dari satu status dalam strata tertentu ke status lain dalam strata yang lebih tinggi dari strata sebelumnya. Keterbukaan  suatu sistem stratifikasi tersebut diukur dari mudah tidaknya dan sering tidaknya anggota masyarakat mengalami perpindahan strata dalam hierarki sosial. 

Stratifikasi Tertutup adalah berkebalikan dari definisi Stratifikasi Terbuka dimana bila tidak ada kemungkinan peluang bagi anggota masyarakat untuk pindah ke strata yang lebih tinggi atau lebih rendah dari strata yang yang dimiliki orangtuanya.

Yinger; pada kenyataannya tidak ada suatu masyarakat yang stratifikasinya terbuka sama sekali atau tertutup sama sekali; dalam masyarakat yang paling terbuka sekalipun yaitu masyarakat modern, hanya sepertiga anggota yang statusnya lebih tinggi atau lebih rendah daripada status orang tuanya; dalam masyarakat modern yang menganut sistem stratifikasi yang paling terbuka, tetap banyak dari anggota masyarakat yang tidak mengalami perbedaan starata sosial dengan orang tuanya.


5. Sistem Kasta dan Sistem Kelas dalam Stratifikasi Sosial
Sistem Stratifikasi Tertutup umumnya terdapat pada masyarakat yang menganut sistem kasta, sementara sistem stratifikasi terbuka umumnya terdapat pada masyarakat yang menganut sistem kelas.

Sistem Kasta adalah Stratifikasi Sosial yang didasarkan atas kelahiran dan endogami; merupakan sistem stratifikasi tertutup karena kelahiran adalah satu-satunya faktor yang menentukan hidup seseorang di masa yang akan datang. 
Seseorang yang hidup dalam masyarakat yang menganut sistem kasta tidak akan mungkin atau sedikit kemungkinan untuk mengalami mobilitas sosial secara vertikal yang didasarkan atas usaha-usahanya; seseorang akan tetap berada dalam kasta tertentu mulai dari lahir sampai meninggal dunia.
Dalam masyarakat yang menganut sistem kasta, perkawinan antar kasta tidak dimungkinkan, dikarenakan adanya satu kepercayaan karena akan timbul berbagai masalah yang bersumber dari dresta (tradisi) yang menyimpang dari Weda.

Sistem kasata dalam stratifikasi sosial misalnya dianut oleh Masyarakat India. Di India sistem kasta memiliki ciri-ciri tertentu, yaitu :
a. Keanggotaan pada kasta diperoleh karena kewarisan/kelahiran. Anak yang lahir memperoleh kedudukan orang tuanya.
b. Keanggotaan yang diwariskan berlaku untuk seumur hidup, oleh karena seseorang tidak mungkin mengubah kedudukannya, kecuali bila ia dikeluarkan dari kastanya
c. Perkawinan bersifat endogam; artinya harus dipilih dari orang yang sekasta
d. Hubungan dengan kelompok-kelompok sosial lainnya bersifat terbatas
e. Kesadaran akan keanggotaan pada suatu kasta yang tertentu, terutama dari nama kasta, identifikasi anggota pada kastanya, penyesuaian diri yang ketat terhadap norma-norma kasta yang dimilikinya, dan lain-lain.
f. Kasta terikat oleh kedudukan-kedudukan, yang secara tradisional , telah ditetapkan
g. Prestise suatu kasta benar-benar diperhatikan.

Akan tetapi, sistem kasta secara murni nampaknya sulit kita temukan saat ini, bahkan di India sekalipun. Meskipun demikian, sistem kasta tetap hanya memberi sedikit kemungkinan bagi anggotanya untuk mengalami perubahan kasta.

Sistem Kasta juga terdapat di Bali, Dalam Kitab Suci orang Bali masyarakat terbagi dalam empat Kasta: Brahmana, Satria, Vesia dan Sudra. Ketiga lapisan pertama disebut "triwangsa", sedangkan lapisan terakhir "jaba" merupakan lapisan dengan jumlah warga terbanyak masyarakat Bali. Keempat lapisan/strata tersebut terbagi lagi atas lapisan-lapisan khusus.
Biasanya orang mengetahui kasta seseorang dari gelar yang melekat pada namanya, dimana: Ida Bagus adalah gelar dari kasta Brahmana; Tjokorda, Dewa, Ngahan, dan Bagus adalah gelar dari kasta Satria; I Gusti dam Gusti adalah gelar dari kasta Vesia; dan orang-orang dari kasta Sudra juga memakai gelar-gelar seperti Pande, Kbon, Pasek, dan selanjutnya.
Walaupun gelar-gelar tersebut tidak memisahkan golongan-golongan masyarakat secara ketat, akan tetapi sangat penting bagi sopan santun pergaulan.
Selain itu, hukum adat juga menetapkan hak-hak bagi si pemakai gelar, misalnya dalam memakai tanda-tanda, perhiasan, pakaian tertentu dan lain-lain. Kehidupan kasta di Bali tersebut umumnya tanpa jelas dalam hubungan perkawinan; terutama seorang gadis dari kasta tertentu, yang pada umumnya dilarang bersuamikan seseorang dari kasta yang lebih rendah.

Berbeda dengan Sistem Kasta yang baru saja kita bahas, Sistem Kelas memungkinkan seseorang mengalami mobilitas vertikal. Mobilitas vertikal ini dimungkinkan karena Sistem Kelas adalah sistem stratifikasi yang didasarkan atas kelahiran dan prestasi seseorang.
Seseorang yang berpendidikan tinggi dan memiliki kemampuan lebih baik dibanding yang lain akan memiliki kemungkinan untuk mengalami mobilitas sosial ke strata sosial yang lebih tinggi. Dalam  Sistem Kelas, perubahan kelas sosial karena perkawinan juga dimungkinkan, walaupun kadang tidak mudah.




Diskusi 5

Saudara mahasiswa, setelah Anda memahami artikel diatas berikan analisis Anda dengan contoh tentang

  • Stratifikasi tertutup
  • Stratifikasi terbuka
  • Sistem kelas dalam stratifikasi sosial




Tugas.2

Kerjakanlah Tugas 2 berikut ini

1. Saudara mahasiswa cermatilah artikel di bawah ini.

Jelaskan mengapa pendidikan bagi anak perempuan masih kurang mendapat perhatian, kaitkan dengan pembahasan tentang sosialisasi gender

 

Pendidikan Anak Perempuan

 Oleh A. Fatih Syuhud

Ditulis untuk Buletin El-Ukhuwah Ponpes Al-Khoirot Putri Malang

Apabila pendidikan anak secara umum harus mendapat perhatian penuh dari orang tua sejak lahir, maka pendidikan anak perempuan harus mendapat perhatian yang lebih khusus lagi. Hal itu karena anak perempuan adalah calon ibu. Banyak orang yang salah dan meremehkan peran ibu. Hal ini terjadi terutama di kalangan masyarakat pedesaan. Mereka menganggap pendidikan anak perempuan, baik formal atau nonformal, adalah tidak atau kurang penting. ٍMereka berfikir, setinggi apapun pendidikan seorang anak perempuan nantinya akan berakhir menjadi ibu rumah tangga.

 

Anggapan meremehkan seperti itu menunjukkan dua hal. Yaitu, bahwa pekerjaan sebagai ibu rumah tangga dinilai sebagai sesuatu yang tidak penting. Dan bahwa segala sesuatu yang dilakukan di dalam rumah seakan bukanlah pekerjaan. Suatu pekerjaan baru dianggap terhormat kalau dilakukan di luar rumah, keluar pagi pulang sore dan mendapat gaji bulanan.

Itulah sebabnya, banyak orang tua lebih memprioritaskan pendidikan anak laki-lakinya. Sementara pendidikan untuk anak perempuan dilakukan secara sambil lalu sambil menunggu ada yang meminang. Dan begitu ada lelaki yang melamar, pendidikannya pun ditinggalkan. Walaupun saat itu sekolahnya baru tingkat SLTP atau baru masuk jenjang SLTA. Orang tua ingin cepat melihat anak perempuannya mentas alias cepat menikah agar beban orang tua segera lepas. Keadaan ini semakin diperparah dengan adanya mitos di sebagian daerah bahwa menolak lamaran pertama adalah pantangan karena akan berakibat nasib sial akan menimpa sang anak seperti akan kesulitan mendapat jodoh.

Semua anggapan yang salah kaprah di atas berasal dari satu hal: kurangnya pendidikan orang tua. Terutama, minimnya pendidikan ibu. Lemahnya level pendidikan atau minusnya wawasan keilmuan seorang ibu akan berdampak sangat besar pada sukses dan gagalnya pendidikan seorang anak. Padahal kesuksesan seorang pemuda adalah cermin dari kesuksesan pendidikan waktu kecil di rumah yang notabene sebagian besar berada di tangan ibu. Kalau kita membaca buku biografi tokoh-tokoh sukses tingkat nasional maupun dunia, umumnya kesuksesan mereka tidak lepas dari peran sang ibu. Presiden RI ke-3 B.J Habibie dan Presiden RI ke-4 menjadi orang besar karena hasil didikan ibu mereka masing-masing karena ayah mereka meninggal saat masih anak-anak. Presiden Amerika Serikat ke-44 Barack Hussein Obama dalam buku otobiografinya Dreams from My Father menjelaskan panjang lebar betapa besar peran ibu dan neneknya yang tak kenal lelah dalam mendidik dan membentuk kepribadian dan kesuksesan hidupnya sejak balita sampai dewasa.

Apabila Anda yang membaca tulisan ini adalah seorang ibu yang menikah di usia muda dan berpendidikan minim, tidaklah perlu sedih dan berputus asa. Karena kesuksesan mendidik anak tidak hanya terletak pada tingginya level pendidikan, tapi yang utama adalah tingginya level wawasan keilmuan. Khususnya, wawasan dalam bidang parenting (ilmu mendidik dan mengasuh anak). Selain itu, hal-hal berikut perlu dilakukan secara terus menerus:

Pertama, selalu banyak belajar dari siapa saja yang lebih berpengalaman. Mulai dari masalah mendidik anak, kesehatan, kepribadian, dan lain-lain.

Kedua, banyak membaca apa saja yang berguna. Termasuk membaca biografi tokoh-tokoh nasional dan dunia dan kisah-kisah sukses yang lain.

Ketiga, ibadah yang rajin baik fardhu maupun yang sunnah. Terutama shalat tahajud untuk mendoakan diri sendiri dan keluarga. Usaha dzahir yang maksimum baru sempurna apabila dilengkapi dengan usaha batin yang optimal pula. Sekaligus ini sebagai pendidikan keteladanan bagi anak.

 

https://www.fatihsyuhud.net/pendidikan-anak-perempuan/

 2. Perilaku kolektif mengandung makna bahwa ada penyimpangan perilaku yang dilakukan oleh suatu kelompok, dan ada beberapa faktor yang menunjang tersebarnya suatu perilaku kolektif di masyarakat

a.   Carilah contoh perilaku kolektif yang sudah tersebar di masyarakat 

b.        Berdasarkan jawaban di atas, jelaskan faktor-faktor yang menyebabkan perilaku kolektif tersebut bisa tersebar.

Selamat mengerjakan