PENDIDIKAN AGAMA ISLAM (MKDU4221)




DAFTAR ISI

MODUL 1 : TUHAN YANG MAHA ESA DAN KETUHANAN
MODUL 2 : HAKIKAT, MARTABAT, DAN TANGGUNG JAWAB MANUSIA
MODUL 3 : MASYARAKAT BERADAB, PERAN UMAT BERAGAMA, HAK ASASI MANUSIA DAN DEMOKRASI
MODUL 4 : HUKUM
MODUL 5 : AGAMA SEBAGAI SUMBER MORAL DAN AKHLAK MULIA DALAM KEHIDUPAN
MODUL 6 : ILMU PENGETAHUAN, TEKNOLOGI DAN SENI
MODUL 7 : BUDAYA AKADEMIK DAN BUDAYA KERJA (ETOS) DALAM ISLAM
MODUL 8 : POLITIK
MODUL 9 : KERUKUNAN ANTAR UMAT BERAGAMA 


MODUL 1 : TUHAN YANG MAHA ESA DAN KETUHANAN

KB 1 : KEIMANAN DAN KETAKWAAN
Keimanan merupakan asas penentu dalam kehidupan manusia. Dalam perspektif Islam manusia dikelompokkan keimanannya yaitu (1) Kelompok Kafir dan (2) Kelompok Mukmin.

A. KEIMANAN
Keimanan berasal dari kata dasar "Iman". Memahami pengertian Iman dalam ajaran Islam strateginya yaitu mengumpulkan ayat-ayat Al Qur'an atau Hadits yang redaksionalnya terdapat kata Iman, atau yang terbentuk dari kata "aamana" (fi'il madhi/bentuk telah), "yu'minu" (fi'il mudhari/bentuk sedang atau akan), dan mukminun (pelaku/orang yang beriman).

Dalam Al Qur'an terdapat sejumlah ayat, yang berbicara tentang iman diantaranya QS Al Baqarah (2) : 165.
وَمِنَ النَّاسِ مَنْ يَتَّخِذُ مِنْ دُونِ اللَّهِ أَنْدَادًا يُحِبُّونَهُمْ كَحُبِّ اللَّهِ ۖ وَالَّذِينَ آمَنُوا أَشَدُّ حُبًّا لِلَّهِ ۗ وَلَوْ يَرَى الَّذِينَ ظَلَمُوا إِذْ يَرَوْنَ الْعَذَابَ أَنَّ الْقُوَّةَ لِلَّهِ جَمِيعًا وَأَنَّ اللَّهَ شَدِيدُ الْعَذَابِ
" Dan ada diantara manusia mengambil dari selain Allah sebagai tandingan, mereka mencintainya sebagaimana mencintai Allah. Dan orang yang beriman, bersangatan cintanya kepada Allah, Dan jika sekiranya orang-orang yang berbuat zalim itu mengetahui ketika mereka melihat azab (tahulah mereka) bahwa sesungguhnya seluruh kekuatan itu kepunyaan Allah dan sesungguhnya Allah itu sangat keras azab-Nya (pasti mereka menyesal) "

Iman identik dengan asyaddu hubban lillah. Hub artinya kecintaan atau kerinduan, Asyaddu adalah kata superlatif syadiid  (sangat). Asyaddu hubban berarti sikap yang menunjukkan kecintaan atau kerinduan luar biasa. Lillah artinya kepada atau terhadap Allah.
Iman adalah sikap (atitude), yaitu kondisi mental yang menunjukkan kecendrungan atau keinginan luar biasa terhadap Allah. Orang-orang yang beriman kepada Allah berarti orang yang rela mengorbankan jiwa dan raganya untuk mewujudkan harapan atau kemauan yang dituntut Allah kepadanya.

Ibnu Majah dalam Sunnannya meriwayatkan bahwa nabi pernah bersabda sebagai berikut :
" Iman adalah keterikatan antara kalbu, ucapan dan perilaku ". (Menurut Al-Sakawy dalam, Al-Maqasid. Al-Hasanah, hlm 140, kesahihan hadits tersebut dapat dipertanggungjawabkan)

Aqdun artinya ikatan, keterpaduan, kekompakkan. Qalbu adalah potensi psikis yang berfungsi untuk memahami informasi. Ini berarti identik dengan pikiran atau akal. Kesimpulan ini berdasarkan QS. Al-A'raaf (7) : 179

وَلَقَدْ ذَرَأْنَا لِجَهَنَّمَ كَثِيرًا مِنَ الْجِنِّ وَالْإِنْسِ ۖ لَهُمْ قُلُوبٌ لَا يَفْقَهُونَ بِهَا وَلَهُمْ أَعْيُنٌ لَا يُبْصِرُونَ بِهَا وَلَهُمْ آذَانٌ لَا يَسْمَعُونَ بِهَا ۚ أُولَٰئِكَ كَالْأَنْعَامِ بَلْ هُمْ أَضَلُّ ۚ أُولَٰئِكَ هُمُ الْغَافِلُونَ
" Dan sungguh Kami telah sediakan untuk (isi) neraka jahanam kebanyakan dari jin dan manusia; mereka mempunyai hati (tetapi) tidak mau memahami dengannya, mereka mempunyai mempunyai mata mereka tidak melihat dengannya tetapi mereka mempunyai telinga (tetapi) tidak mendengar dengannya. Mereka itu seperti binatang ternak bahkan mereka lebih sesat. Mereka itulah orang-orang yang lalai "

Iqrar artinya pernyataan atau ucapan. Iqrar bil lisaan dapat diartikan dengan menyatakan dengan bahasa, baik lisan maupun tulisan. Amal bil Arkan artinya perilaku gerakan perangkat anggota tubuh. Perbuatan dalam kehidupan keseharian.

Rukun (Struktur) Iman ada tiga aspek yaitu : kalbu, lisan dan perbuatan. Tepatlah jika Iman didefinisikan dengan pendirian yang diwujudkan dalam bentuk bahasa dan perilaku. Iman identik dengan kepribadian manusia seutuhnya, atau pendirian yang konsisten. Orang yang beriman berarti orang yang memiliki kecerdasan, kemauan dan ketrampilan.

Kata Iman didalam Al Qur'an umumnya dirangkaian dengan kata lain yang memberikan nilai tentang sesuatu yang diimaninya.Dirangkai dengan kata-kata negatif berarti iman tersebut negatif. Iman yang negatif disebut kufur , pelakunya disebut kafir. dalam QS An-Nisa' (4) : 51

أَلَمْ تَرَ إِلَى الَّذِينَ أُوتُوا نَصِيبًا مِنَ الْكِتَابِ يُؤْمِنُونَ بِالْجِبْتِ وَالطَّاغُوتِ وَيَقُولُونَ لِلَّذِينَ كَفَرُوا هَٰؤُلَاءِ أَهْدَىٰ مِنَ الَّذِينَ آمَنُوا سَبِيلًا

" Apakah engkau tidak memperhatikan orang-orang yang diberi bahagian dari Alkitab, mereka percaya kepada jibt (sesembahan selain Allah) dan thagut (berhala) dan mereka berkata kepada orang-orang kafir bahwa mereka lebih benar jalannya daripada orang-orang yang beriman "

Kata iman pada ayat tersebut dirangkaikan dengan kata jibti dan thagut, syaithan dan apa saja yang disembah selain Allah. Kata iman dikaitkan dengan kata batil (yang tidak benar menurut Allah). QS. Al-Ankabut (29) : 51
 
أَوَلَمْ يَكْفِهِمْ أَنَّا أَنْزَلْنَا عَلَيْكَ الْكِتَابَ يُتْلَىٰ عَلَيْهِمْ ۚ إِنَّ فِي ذَٰلِكَ لَرَحْمَةً وَذِكْرَىٰ لِقَوْمٍ يُؤْمِنُو

" Dan apakah tidak cukup bagi mereka bahwa Kami telah menurunkan Kitab kepadamu yang dibacakan kepada mereka? Sesungguhnya pada yang demikian itu adalah rahmat dan peringatan bagi kaum yang beriman " 

Adapun kata iman yang dirangkaikan dengan yang positif antara lain QS Al-Baqarah (2) : 4

وَالَّذِينَ يُؤْمِنُونَ بِمَا أُنْزِلَ إِلَيْكَ وَمَا أُنْزِلَ مِنْ قَبْلِكَ وَبِالْآخِرَةِ هُمْ يُوقِنُونَ
 
" Orang-orang yang beriman kepada (Al Qur'an) yang diturunkan kepadamu, juga beriman kepada (kitab-kitab Allah) yang diturunkan sebelummu serta mereka yakin akan adanya akhirat "

QS. Al Baqarah (2) : 285

آمَنَ الرَّسُولُ بِمَا أُنْزِلَ إِلَيْهِ مِنْ رَبِّهِ وَالْمُؤْمِنُونَ ۚ كُلٌّ آمَنَ بِاللَّهِ وَمَلَائِكَتِهِ وَكُتُبِهِ وَرُسُلِهِ لَا نُفَرِّقُ بَيْنَ أَحَدٍ مِنْ رُسُلِهِ ۚ وَقَالُوا سَمِعْنَا وَأَطَعْنَا ۖ غُفْرَانَكَ رَبَّنَا وَإِلَيْكَ الْمَصِيرُ

" Rasul (Muhammad) telah beriman kepada apa yang diturunkan kepadanya dari Tuhannya, dan (demikian pula) orang-orang yang beriman. Semuanya beriman kepada Allah, malaikat-malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya, dan rasul-rasul-Nya, (Seraya mereka berkata), "Kami tidak membeda-bedakan antara seseorang (dengan lain) daripada rasul-rasul-Nya." Dan mereka berkata, "Kami dengar dan kami taat. Ampunilah kami wahai Tuhan kami dan kepada Engkaulah tempat kembali "

Sementara itu ada kata iman yang tidak dirangkaikan dengan kata-kata lain, misalnya QS. Al Baqarah (2) : 165.


B. IMPLIKASI KEIMANAN
Jika Iman diartikan percaya, maka ciri-ciri orang yang beriman tidak ada yang mengetahuinya kecuali hanya Allah saja, karena yang tahu isi hati seseorang hanyalah Allah. Karena pengertian iman yang sesungguhnya adalah meliputi aspek kalbu, ucapan dan perilaku, maka ciri-ciri orang yang beriman akan diketahui, antara lain :

1. Tawakal
Apabila dibacakan ayat-ayat Allah (Al-Quran), Kalbunya terangsang untuk melaksanakannnya seperti dinyatakan antara lain QS. Al-Anfaal (8) : 2

إِنَّمَا الْمُؤْمِنُونَ الَّذِينَ إِذَا ذُكِرَ اللَّهُ وَجِلَتْ قُلُوبُهُمْ وَإِذَا تُلِيَتْ عَلَيْهِمْ آيَاتُهُ زَادَتْهُمْ إِيمَانًا وَعَلَىٰ رَبِّهِمْ يَتَوَكَّلُونَ

" Sesungguhnya orang-orang yang beriman adalah apabila disebut (nama) Allah, gemetarlah hati mereka, dan apabiladibacakan kepada mereka ayat-ayat-Nya, bertambahlah iman mereka dan mereka bertawakal kepada Tuhannya " 

Tawakkal, yaitu senantiasa hanya mengabdi (hidup) menurut apa yang diperintahkan Allah. Dengan kata lain, orang yang bertawakal adalah orang yang menyandarkan berbagai aktivitasnya atas perintah Allah. Seorang mukmin, makan bukan didorong oleh perutnya yang lapar akan tetapi karena sadar akan perintah Allah. QS. Al-Baqarah (2) : 172

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا كُلُوا مِنْ طَيِّبَاتِ مَا رَزَقْنَاكُمْ وَاشْكُرُوا لِلَّهِ إِنْ كُنْتُمْ إِيَّاهُ تَعْبُدُونَ

" Hai sekalian orang-orang yang beriman, makanlah dari yang baik-baik yang Kami rezekikan kepada kamu dan bersyukurlah kepada Allah jika hanya kepada-Nya kamu menyembah " 

QS. Al Baqarah (2) ayat 187 menjelaskan bahwa seseorang yang makan dan minum karena didorong oleh perasaan lapar atau haus, maka mukminnya adalah mukmin batil, karena perasaanlah yang menjadi penggeraknya. Dalam konteks Islam bila makan pada hakikatnya melaksanakan perintah Allah supaya fisik kuat untuk ibadah (dalam arti luas) kepada-Nya.


2. Mawas Diri dan Bersikap Ilmiah.
Dimaksudkan agar seseorang tidak terpengaruh oleh berbagai kasus darimana pun datangnya, baik dari kalangan jin dan manusia, bahkan mungkin juga datang dari dirinya sendiri. QS. An-Naas (114) : 1-3

قُلْ أَعُوذُ بِرَبِّ النَّاسِ
مَلِكِ النَّاسِ
إِلَٰهِ النَّاسِ

" Katakanlah, Aku berlindung kepada Tuhan yang memelihara manusia (1), Yang menguasai manusia (2), Tuhan bagi manusia (3) "

Mawas diri yang berhubungan dengan alam pikiran, yaitu bersikap kritis dalam menerima informasi, terutamadalam memahami nilai-nilai daar keislaman. Hal ini diperlukan, agar terhindar dari berbagai fitnah. QS. Ali Imran (3) : 7

هُوَ الَّذِي أَنْزَلَ عَلَيْكَ الْكِتَابَ مِنْهُ آيَاتٌ مُحْكَمَاتٌ هُنَّ أُمُّ الْكِتَابِ وَأُخَرُ مُتَشَابِهَاتٌ ۖ فَأَمَّا الَّذِينَ فِي قُلُوبِهِمْ زَيْغٌ فَيَتَّبِعُونَ مَا تَشَابَهَ مِنْهُ ابْتِغَاءَ الْفِتْنَةِ وَابْتِغَاءَ تَأْوِيلِهِ ۗ وَمَا يَعْلَمُ تَأْوِيلَهُ إِلَّا اللَّهُ ۗ وَالرَّاسِخُونَ فِي الْعِلْمِ يَقُولُونَ آمَنَّا بِهِ كُلٌّ مِنْ عِنْدِ رَبِّنَا ۗ وَمَا يَذَّكَّرُ إِلَّا أُولُو الْأَلْبَابِ

" Dialah yang menurunkan Kitab (Al-Qur'an) kepadamu; diantaranya ada ayat-ayat yang muhkamat (terang maknanya), itulah ibu (pokok) Kitab; dan yang lain mutasyabihat (tidak terang maknanya). Maka adapun orang-orang yang hatinya cenderung kepada kesesatan, maka mereka mengikuti ayat-ayat yang mutasyabihat untuk menimbulkan fitnah dan mencari-cari takwilnya (menurut kemauannya), padahal tidak ada yang mengetahui takwilnya kecuali Allah. Dan orang-orang yang mendalam ilmunya berkata, "Kami beriman dengannya (kepada ayat-ayat yang mutasyabihat); semuanya itu dari sisi Tuhan kami " dan tidak dapat mengambil pelajaran melainkan orang-orang yang mempunyai pikiran "

Atas dasar pemikiran tersebut hendaknya seseorang tidak dibenarkan menyatakan sesuatu sikap, sebelum mengetahui terlebih dahulu permasalahannya, sebagaimana dinyatakan didalam Al Quran antara lain QS. Al-Israa' (17) : 36

وَلَا تَقْفُ مَا لَيْسَ لَكَ بِهِ عِلْمٌ ۚ إِنَّ السَّمْعَ وَالْبَصَرَ وَالْفُؤَادَ كُلُّ أُولَٰئِكَ كَانَ عَنْهُ مَسْئُولًا

" Dan janganlah engkau turut apa-apa yang engkau tidak ada ilmu padanya, sesungguhnya pendengaran, penglihatan dan hati, semuanya kan ditanya "


3. Optimis dalam Menghadapi Masa Depan
Perjalanan hidup manusia tidak seluruhnya mulus, akan tetapi kadang-kadang mengalami berbagai rintangan dan tantangan yang memerlukan pemecahan jalan ke luar.
Jika suatu tantangan atau permasalahan tidak dapat diselesaikan segera, tantangan tersebut akan semakin menumpuk. Jika seseorang tidak dapat menghadapi dan menyelesaikan suatu permasalahan, maka orang tersebut dihinggapi penyakit psikis, yang lazim disebut penyakit kejiwaan, antara lain frustasi, nervous, depresi, dsb.
Al Quran memberikan petunjuk kepada umat manusia untuk selalu bersikap optimis karena pada hakikatnya tantangan, merupakan pelajaran bagi setiap manusia; QS Al-Insyirah (94) : 5-6. Jika seseorang telah merasa melaksanakan suatu perbuatan dengan penuh perhitungan, tidaklah perlu memikirkan bagaimana hasilnya nanti, karena hasil adalah akibat dari suatu perbuatan.
Nabi Muhammad menyatakan bahwa orang yang hidupnya hari ini lebih jelek dari hari kemarin berarti tertipu, dan yang bahagia adalah orang yang hidupnya hari ini lebih baik dari hari kemarin.
Jika Optimisme merupakan suatu sikap yang terpuji, maka sebaliknya pesimisme merupakan suatu sikap yang tercela. Sikap ini seharusnya tidak tercermin pada dirinya mukmin. Hal ini seperti dinyatakan dalam QS. Yusuf (12) ayat 87, sedangkan sikap putus asa atau yang searti dengan kata tersebut hanya dimiliki oleh orang-orang kafir.

يَا بَنِيَّ اذْهَبُوا فَتَحَسَّسُوا مِنْ يُوسُفَ وَأَخِيهِ وَلَا تَيْأَسُوا مِنْ رَوْحِ اللَّهِ ۖ إِنَّهُ لَا يَيْأَسُ مِنْ رَوْحِ اللَّهِ إِلَّا الْقَوْمُ الْكَافِرُونَ


" Hai anak-anakku, pergilah kam, maka carilah berita tentang Yusuf dan saudara-saudaranya dan janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya tiada berputus asa dari rahmat Allah melainkan kaum yang kafir "


4. Konsisten dan Menepati Janji
Janji adalah hutang. Menepati janji berarti membayar utang. Sebaliknya ingkar janji adalah suatu pengkhianatan. QS. Al-Maidah (5) : 1

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا أَوْفُوا بِالْعُقُودِ ۚ أُحِلَّتْ لَكُمْ بَهِيمَةُ الْأَنْعَامِ إِلَّا مَا يُتْلَىٰ عَلَيْكُمْ غَيْرَ مُحِلِّي الصَّيْدِ وَأَنْتُمْ حُرُمٌ ۗ إِنَّ اللَّهَ يَحْكُمُ مَا يُرِيدُ


" Hai orang-orang yang beriman, sempurnakanlah segala janji. Dihalalkan bagimu binatang ternak, kecuali yang akan dibacakan kepadamu (larangan-Nya). Tidak diperbolehkan berburu ketika kamu sedang ihram. Sesungguhnya Allah menetapkan hukum terhadap apa yang dikehendaki-Nya.  "

Seseorang mukmin senantiasa akan menepati janji, dengan Allah, sesama manusia dan dengan ekologinya (lingkungannya). Seseorang mukmin adalah seseorang yang telah berjanji untuk berpandangan dan bersikapdengan yang dikehendaki Allah.
Seorang suami misalnya, ia telah berjanji untuk bertanggungjawab terhadap istri dan anak-anaknya. Sebaliknya isteri pun demikian.
Seorang mahasiswa, ia telah berjanji untuk mengikuti ketentuan-ketentuan yang berlaku di lembaga pendidikan tempat ia studi, baik yang bersifat administratif maupun akademis. 
Seorang pemimpin berjanji untuk mengayomi masyarakat yang dipimpinnya. 
Janji terhadap ekologi berarti memenuhi dan memelihara apa yang dibutuhkan oleh lingkungannya, agar tetap berdaya guna dan berhasil guna.


5. Tidak Sombong
Kesombongan merupakan suatu sifat dan sikap yang tercela yang membahayakan diri maupun orang lain dan lingkungan hidupnya. Seorang yang telah merasa dirinya pandai, karena kesombongannya akan berbalik menjadi bodoh lantaran malas belajar, tidak mau bertanya kepada orang lain yang dianggapnya bodoh.
Karena Ilmu Pengetahuan itu amat luas dan berkembang terus, maka orang yang merasa telah pandai, jelas akan menjadi bodoh. Qur'an menyatakan suatu larangan terhadap sifat dan sikap yang sombong. QS Luqman (31) : 18


وَلَا تُصَعِّرْ خَدَّكَ لِلنَّاسِ وَلَا تَمْشِ فِي الْأَرْضِ مَرَحًا ۖ إِنَّ اللَّهَ لَا يُحِبُّ كُلَّ مُخْتَالٍ فَخُورٍ


" Dan janganlah engkau palingkan pipimu kepada manusia, dan janganlah berjalan dengan sombong di  muka bumi. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang sombong lagi congkak.  "



C. PEMBINAAN IMAN
Kata pembinaan menurut etimologi berasal dari kata bana yang berarti membangun, sedangkan kata binaan berarti pembangunan. Membangun sesuatu dari yang sama sekali belum ada menjadi ada, atau dari yang telah ada, dibongkar kemudian dibangun ulang, atau mengembangkan dari yang telah ada. Apabila Iman diartikan sebagai pandangan dan sikap hidup, maka pembinaan iman berarti membina manusia seutuhnya.

Seperti halnya cinta timbul melalui proses, diawali dari saling mengenal, kemudian meningkat menjadi senang, rindu yang diikuti oleh berbagai konsekuensi , demikian pula halnya dengan iman. Iman itu terbentuk melalui proses. Seluruh faktor yang mempengaruhi kehidupan manusia sejak ia masih dalam kandungan sampai saat dimana seseorang berada, akan berpengaruh kepada keimanannya.

Manusia lahir melalui tahapan. Proses kelahiran manusia diawali dengan nutfah (Spermatozoid) yang diproduksi oleh organ laki-laki. Setelah bertemu dengan buwaidlah (ovum) dalam rahim wanita, nutfah tersebut kemungkinan meningkat menjadi 'alaqah (semacam darah yang menggumpal) selanjutnya menjadi mudghah (semacam gumpalan daging).
Selanjutnya dilengkapi dengan tulang belulang dengan berbagai organ. Setelah organ biologisnya lengkap, roh dimasukkan ke dalamnya, pada saat sang bayi lahir. Kelahiran bayi tersebut akan sempurna apabila proses demi proses dilalui dengan baik. Proses tersebut bukan saja hanya menyangkut organ biologis semata, akan tetapi juga menyangkut fisik dan psikis.







KB 2 : FILSAFAT KETUHANAN
Filsafat dalam bahasa Yunani Philosophia yang berarti kecintaan kepada kebenaran (wisdom) atau dalam bahasa Arab adalah falsafah. Pengertian falsafah adalah memahami sesuatu yang tidak diketahui dari hal yang sudah diketahui 
Istinbatul majhul minal ma'lum


A. PEMIKIRAN MANUSIA TENTANG TUHAN
Pandangan manusia memungkinkan berubah dan mengubah. Sifat utama pemikiran manusia adalah berkembang sesuai dengan perkembangan zaman. Pemikiran manusia tentang Tuhan dan ketuhanan berubah sejalan dengan perubahan daya nalarnya. Sebab itu kesimpulan yang dihasilkan antara satu masyarakat pada situasi dan kondisi tertentu tentang Tuhan dan ketuhanan, mungkin berbeda dengan kesimpulan masyarakat yang hidup pada situasi dan kondisi lainnya. Cepat atau lambat perubahan pemikiran manusia sangat tergantung pada situasi dan kondisi manusia.

1. Animisme / Dinamisme, Politeisme, dan Henoteisme
Pemikiran manusia tentang Tuhan dan ketuhanan pada masyarakat primitif berbeda dengan pemikiran masyarakat modern. Ciri khas masyarakat primitif adalah sifatnya yang sederhana. Sebaliknya, masyarakat modern yang mempunyai ciri khas multi dimensional (ragam dimensi), walaupun pada akhirnya, masyarakat yang primitif dikatakan modern, dan yang modern sesungguhnya adalah primitif.
Sesuai dengan kesederhanaannya, masyarakat primitif memandang bahwa kehidupannya ditentukan oleh keyakinan pada kekuatan suatu benda, yang dipandangnya mempunyai kekuatan.





MODUL 2 : HAKIKAT, MARTABAT, DAN TANGGUNG JAWAB MANUSIA
KB 1 : HAKIKAT MANUSIA
KB 2 : MARTABAT MANUSIA
KB 3 : TANGGUNG JAWAB MANUSIA

MODUL 3 : MASYARAKAT BERADAB, PERAN UMAT BERAGAMA, HAK ASASI MANUSIA DAN DEMOKRASI
KB 1 : MASYARAKAT BERADAB DAN SEJAHTERA 
KB 2 : PERAN UMAT BERAGAMA DALAM MEWUJUDKAN MASYARAKAT BERADAB
KB 3 : HAK ASASI MANUSIA DAN DEMOKRASI

MODUL 4 : HUKUM
KB 1 : MENUMBUHKAN KESADARAN UNTUK TAAT TERHADAP HUKUM ALLAH SWT
KB 2 : FUNGSI PROFETIK AGAMA (KERASULAN NABI MUHAMMAD SAW DALAM HUKUM ISLAM

MODUL 5 : AGAMA SEBAGAI SUMBER MORAL DAN AKHLAK MULIA DALAM KEHIDUPAN
KB 1 : AGAMA SEBAGAI SUMBER MORAL
KB 2 : AKHLAK MULIA DALAM KEHIDUPAN

MODUL 6 : ILMU PENGETAHUAN, TEKNOLOGI DAN SENI
KB 1 : IMAN, IPTEKS, DAN AMAL SEBAGAI KESATUAN
KB 2 : KEWAJIBAN MENUNTUT DAN MENGAMALKAN ILMU
KB 3 : TANGGUNG JAWAB ILMUWAN DAN SENIMAN

MODUL 7 : BUDAYA AKADEMIK DAN BUDAYA KERJA (ETOS) DALAM ISLAM
KB 1 : MEMAHAMI MAKNA BUDAYA AKADEMIK DALAM ISLAM
KB 2 : ETOS KERJA, SIKAP TERBUKA, DAN KEADILAN DALAM ISLAM

MODUL 8 : POLITIK
KB 1 : KONTRIBUSI AGAMA DALAM KEHIDUPAN POLITIK
KB 2 : PERANAN AGAMA DALAM MEWUJUDKAN PERSATUAN DAN KESATUAN 

MODUL 9 : KERUKUNAN ANTAR UMAT BERAGAMA
KB 1 : AGAMA ADALAH RAHMAT DARI ALLAH SWT BAGI SELURUH HAMBA-NYA
KB 2 : KERUKUNAN ANTAR UMAT BERAGAMA